Demi melunasi hutang sang ayah, Maureen terpaksa menggantikan kakak nya sebagai mempelai. la dinikahi oleh Alarick Carlson, pria yang digambarkan kejam dan buruk rupa, hingga keluarga nya enggan menyerahkan Maura putri kesayangan mereka.
Kini Maureen harus menghadapi pernikahan yang sarat misteri dan ketidakpastian dari suami nya. Mampukah ia menjalankan takdir yang dipaksakan kepada nya? Dan mampu kah Maureen bertahan dengan pernikahan yang dilandasi keterpaksaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ausilir Rahmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Suara lonceng terdengar nyaring saat terhembus angin, pertanda jika acara pemberkatan akan segera di mulai.
Jantung Maureen berdegup sangat kencang saat dia berjalan dengan balutan gaun pengantin putih mewah membalut tubuh indah nya.
Wajah manis bermake up natural nya tampak tegang di dalam birdcage veil yang menutupi nya saat ini. Rasa gugup semakin menguat ketika telinga Maureen mendengar jelas suara-suara teriak para tamu yang menyambut kedatangan dia yang di gandeng oleh sang ayah.
"Wah, akhir nya tuan muda pertama keluarga Carlson menikah juga. Penasaran sekali wanita seperti apa yang bersedia menjadi istri nya?" bisik salah satu tamu wanita yang hadir di sana yang menatap ke arah Maureen yang berjalan pelan mulai memasuki kastil megah itu.
"Sepert inya mempelai pengantin wanita tidak di perbolehkan melihat lebih dulu, aku tidak yakin dia bersedia apa lagi dengar-dengar tuan Alarick mempunyai tempramen yang cukup buruk," celetuk tamu lain nya.
"Hust! Jaga ucapan mu, jika terdengar sama orang nya bisa habis kamu."
Langkah kaki Maureen seketika terhenti, mengernyit saat ia tidak sengaja mendengar orang-orang berbisik kecil dari arah samping. Dan ingin bertanya apa maksud kata mereka.
Tuan Hermam yang melihat calon menantu nya sudah berdiri di depan, menunggu dengan balutan tuxedo hitam yang rapih. Membuat dia merasa tidak enak hati.
"Maureen, kenapa kamu berhenti? Cepat, jangan membuat tuan Alarick menunggu, "Bentak Tuan Herman berbisik sembari mencengkram erat lengan putri kedua nya.
Maureen tersentak, tak ingin menanggapi hal-hal yang tidak jelas yang baru saja terdengar oleh nya, membuat ia kembali melanjutkan langkah nya. "I-iya Pah, maafkan aku," sesal nya dengan nada suara lembut hampir tak terdengar.
Beberapa menit telah berlalu, setelah Tuan Herman mengandeng dan menghantarkan Maureen. Kedua mempelai pengantin berdiri sejajar.
Maureen terlihat sangat gugup dan tegang, sampai-sampai keringat dingin di seluruh tubuh nya semakin terasa, saat kedua pupil mata indah nya yang terhalang oleh penutup wajah tak sengaja melihat sepasang sepatu pria di bawah sana.
Mengingat perkataan nya sang ibu, yang melarang untuk membuka birdcage veil nya membuat ia tak berani melihat sosok pria yang sebentar lagi akan di nikahi.
Suara lantang lelaki bertubuh tinggi dan kekar, terdengar nyaring saat ia mengucapkan ikrar suci dan mengambil sumpah pernikahan atas nama Maureen Adisty. Dalam suka maupun duka akan tetap setia. Dengan ekspresi dingin di balik setengah topeng silver yang bertengger di wajah nya.
Suara tepuk tangan menggema di sana, bahkan para tamu undangan hadir berteriak antusias menyuruh sang pengantin pria, untuk segera mencium pengantin wanita yang telah sah menjadi menjadi pasangan.
Setelah kedua nya resmi bertukar cincin, karena sudah menjadi sebuah tradisi tanpa sungkan Alarick Carlson perlahan mulai meraih kain putih yang saat ini menutupi wajah wanita yang telah menjadi istri nya.
Hati Maureen berdebar-debar, saat ia merasakan sentuhan tangan hangat yang perlahan membuka, dan....
Kedua bola mata Alarick Carlson melebar, kedua alis tebal nya mengerut. Darah nya mendidih, hati nya bergemuruh kesal sampai gigi nya bergemulutuk, kedua tangan nya sampai terkepal kuat, karena begitu terkejut saat melihat sosok wanita yang ada di depan nya sangat berbeda dengan foto wanita yang dia pilih.
Maureen yang sangat penasaran, gadis itu memberanikan diri membuka kedua pelupuk mata dan...
"Tu-tuan kau..." Maureen tercengang, saat melihat sosok lelaki yang telah resmi menjadi suami nya, terlihat begitu menakutkan sampai tanpa sengaja berjalan mundur satu langkah.
Arik menyunggingkan senyum smrik, lengan kanan nya meraih dan menarik pinggang ramping Maureen, sampai tubuh mereka menempel tak menyisakan ruang.
Belum sempat Maureen menuntaskan perkataan nya, Arik terlebih dahulu menyambar bibir merah tipis Maureen dengan sangat kasar. Sampai kedua mata gadis itu membulat bahkan sesak untuk bernafas.
Beberapa kali tangan mungil Maureen berusaha mendorong, tetap saja tidak sebanding dengan pelukan Arik yang begitu erat dan mencengkram.
Kedua pihak keluarga bernafas lega, karena akhir nya acara pernikahan ini berjalan sangat lancar tanpa anda hambatan. Terlebih lagi nyonya Susan dan tuan Herman.
\*\*\*
Siang berlalu begitu cepat malam yang gelap pun mulai menyapa. Disebuah mansion pribadi mewah Arik.
BRUK!
"Tuan aku sudah menjadi istri mu, kenapa memperlakukan ku seperti ini? " ujar Maureen menatap nanar Arik, ia menggeleng-gelengkan kepala dan tak habis pikir sebenar nya kesalahan apa yang telah di perbuat oleh nya.
Arik mendengus kesal, senyuman devil kembali tersirat di wajah dingin nya. "Wanita yang ku pilih sendiri bukan kamu, katakan pada ku. Siapa yang menyuruh mu?" tanya Alarick murka. Dia melemparkan foto Maura yang mendarat tepat di wajah Maureen.
Maureen yang terjatuh di bawah lantai pun perlahan memberanikan diri untuk melihat selembar foto, jantung nya seperti berhenti berdetak saat melihat gambaran wajah Maura.
"Kakak," gumam nya kaget.
Sungguh Maura tidak mengerti sebenar nya kesepakatan apa yang telah di buat ayah dan ibu nya sejak awal, sampai-sampai Arik marah dan tidak terima atas diri nya saat ini.
Arik menggelengkan kepala, dia tidak ingin mudah tertipu lagi dengan sikap Maureen yang terlihat begitu polos, sampai tanpa ragu melontarkan satu ancaman. Jika Maureen tidak berterus terang, maka seluruh keluarga yang akan menanggung akibat nya.
Maureen kaget, mengingat sang ayah yang memiliki penyakit jantung bahkan ucapan sang dokter beberapa hari lalu yang masih mengiang di telinga nya, membuat ia enggan mengambil resiko besar jika dia hanya di suruh saja oleh kedua orang tua nya.
"Masih tidak ingin mengaku?" tanya Arik datar.
Tidak peduli keputusan yang Maureen ambil tepat atau tidak, yang jelas dia yang ingin melindungi ayah, ibu dan sang kakak. Meskipun terkadang dia tidak di pedulikan oleh mereka.
"Maafkan aku tuan, ini semua salah ku. Aku yang memaksa kakak dan kedua orang tua ku agar bisa menikahi mu." Ungkap Maureen berusaha berdiri, sampai tak berani menatap lawan bicara nya yang ada di depan.
Arik mengeram, mendengar pengakuan dari bibir Maureen yang begitu enteng. Tanpa memikirkan harga diri nya dan keluarga besar yang sudah di tipu habis-habisan dengan mengganti mempelai pengantin yang seharus nya Maura.
"Nyali mu sangat besar sekali ya gadis kecil." ucap Arik.
Maureen bergidik ngeri saat melihat tatapan tajam mata elang Arik, seperti hewan buas yang siap menerkam mangsa.
"A-apa yang ingin kamu lakukan tuan? Aku sudah minta maaf," Maureen meneteskan air mata, ia terus berjalan mundur sampai tak sengaja tersandar ke dinding.
Arik merasa kecewa, harga diri nya sebagai seorang pria, dia merasa terhina seperti di injak-injak oleh kolega bisnis sang ayah, membuat ia melampiaskan amarah yang menggebu pada Maureen.
"Karena kau begitu ingin menjadi pengantin ku. Jadi lakukan sampai tuntas tugas mu sebagai istri di atas ranjang ini," ucap Arik menyangkup dagu lancip Maureen.
Sampai tubuh Maureen terjatuh ke atas ranjang pengantin yang sudah di hiasi oleh ornamen-ornamen romantis kelopak bunga mawar merah yang bertaburan.
"Tidak! Tolong jangan mendekat," lirih Maureen menangis ketakutan saat melihat Arik, berjalan menghampiri sembari melepas jas formal serta melonggarkan dasi nya.
\*
Bersambung...............