Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.
Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 3: Beri Aku Waktu Satu Bulan
Suasana dapur bersih yang bernuansa monokrom itu mendadak hening seketika. Seruan Gisella menggema di antara jajaran peralatan masak premium berbahan
stainless steel.
Adrian Arthur terpaku di tempatnya berdiri.
Tangannya yang memegang sepotong kue kering berlapis gula bubuk menggantung kaku di udara.
Di balik lensa kacamata peraknya, sepasang mata tajam milik sang profesor menyipit penuh selidik.
Dia menatap Gisella dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang melihat makhluk asing yang mendadak jatuh dari langit dan menyusup ke dalam rumahnya.
"Apa yang kau katakan?"
tanya Adrian, suaranya terdengar rendah, berat, dan sarat akan peringatan.
Gisella menelan ludah.
Dia baru menyadari bahwa tindakannya barusan terlalu impulsif.
Di dunia ini, dia masih berstatus sebagai
"Gisella yang labil dan suka mengamuk".
Intervensi mendadak terhadap kebiasaan makan seorang pria sedingin Adrian tentu saja akan memicu kecurigaan.
Namun, mengingat detail plot novel di mana Adrian akan menderita komplikasi kesehatan serius di masa depan akibat akumulasi stres dan konsumsi gula berlebih selama masa riset, Gisella tidak bisa tinggal diam.
Dia harus menyelamatkan pria ini, setidaknya sebagai bentuk sewa kamar implisit selama satu bulan ke depan.
Gisella menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai rasa gugupnya.
Dia melangkah mendekati konter marmer, memangkas jarak di antara mereka.
"Maksudku... kue kering itu terlalu manis, Adrian," kata Gisella, berusaha melembutkan nada suaranya sealami mungkin.
"Ini sudah jam tujuh malam. Kau baru saja meminum kopi hitam pekat, dan sekarang kau ingin menimbun gula bubuk sebanyak itu ke dalam tubuhmu? Metabolisme tubuhmu bisa terganggu jika kau terus-menerus mengonsumsi makanan manis saat stres bekerja."
Adrian menurunkan tangannya perlahan.
Dia meletakkan kembali kue kering itu ke dalam stoples kaca dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Tatapannya tidak lepas dari wajah Gisella.
"Sejak kapan kau peduli pada metabolisme tubuhku, Gisella?" Adrian bertanya, nadanya sarkastis.
"Bukankah biasanya kau tidak peduli apakah aku hidup atau mati? Kenapa sekarang kau tiba-tiba bertingkah seperti seorang ahli gizi di dapurku?"
Gisella meremas jemarinya di balik saku piyama rajutnya. "Ayo, otak modern, carilah alasan yang logis!"
"Aku tidak sedang bertingkah,"
jawab Gisella dengan ekspresi sewajah mungkin, menatap lurus ke dalam manik mata Adrian.
"Aku hanya berpikir secara realistis. Kita sudah sepakat untuk menunda perceraian ini selama satu bulan, bukan? Selama satu bulan ini, aku masih berstatus sebagai istrimu di atas kertas. Jika sesuatu terjadi pada kesehatanmu—seperti mendadak pingsan karena lonjakan gula darah atau kelelahan kronis—akulah yang akan disalahkan oleh orang tuamu. Aku tidak mau dituduh sebagai penyebab runtuhnya kesehatan seorang profesor jenius kebanggaan keluarga Arthur."
Adrian terdiam mendengarkan penjelasan panjang lebar itu.
Alisnya bertaut rapat.
Logika yang dilemparkan Gisella terdengar sangat egois—khas Gisella yang selalu memikirkan reputasinya sendiri—namun ada sesuatu yang aneh.
Gisella yang asli tidak akan pernah bisa menyusun kalimat seberadab dan setertata ini.
Biasanya, wanita itu hanya akan berteriak egois tanpa dasar, bukan membawa-bawa istilah medis atau memikirkan konsekuensi jangka panjang.
"Aku setiap hari berolahraga. Tubuhku baik-baik saja,"
ucap Adrian dingin, menepis kekhawatiran Gisella secara sepihak.
Dia berniat mengambil cangkir kopinya kembali.
"Olahraga tidak akan bisa mengejar kerusakan batin dan fisik jika pola makanmu sekacau ini, Profesor Adrian,"
potong Gisella cepat. Dia dengan berani melangkah maju dan menggeser stoples kue kering itu menjauh dari jangkauan tangan Adrian.
"Sebagai gantinya, jika kau lapar karena lembur, aku bisa membuatkan sesuatu yang lebih sehat. Beri aku waktu lima belas menit."
Adrian menatap stoples yang digeser menjauh, lalu menatap Gisella yang sudah mulai menyingsingkan lengan piyamanya.
Pria itu mendengus pelan, sebuah tawa hambar lolos dari bibirnya.
"Kau? Memasak?" Adrian menggelengkan kepala.
"Setahu saya, keterampilan terbaikmu di dapur adalah melempar piring keramik ke lantai saat pelayan menyajikan makanan yang tidak sesuai seleramu."
Sindiran telak itu membuat Gisella meringis dalam hati.
"Ah, rekam jejak Gisella asli benar-benar ampas."
"Manusia bisa berubah setelah kepalanya terbentur jendela kaca, Adrian,"
sahut Gisella santai, merujuk pada insiden kemarin tanpa beban.
"Anggap saja benturan kemarin mengaktifkan sel otakku yang selama ini tertidur. Duduklah di meja makan, atau kembali ke ruang kerjamu. Lima belas menit, aku akan membawakannya untukmu."
Melihat kilat tekad yang jernih di mata wanita itu, Adrian entah mengapa kehilangan kata-kata untuk mendebat.
Rasa penasaran yang asing mulai tumbuh di benaknya.
Dia ingin melihat sandiwara apa lagi yang sedang dimainkan oleh istrinya ini.
"Baik," kata Adrian pendek.
Dia membawa cangkir kopi hitamnya yang tanpa gula, lalu berjalan menuju meja makan panjang yang terletak tidak jauh dari konter dapur.
Dia duduk di sana, melipat tangannya di atas dada, dan mengawasi setiap gerak-gerik Gisella dengan mata elangnya.
Gisella mengembuskan napas lega setelah berhasil menjauhkan racun gula itu dari Adrian.
Kini, tantangan sebenarnya dimulai.
Dia membuka lemari pendingin besar dua pintu milik keluarga Arthur.
Isinya luar biasa lengkap—bahan-bahan segar berkualitas tinggi berjejer rapi.
Gisella memutuskan untuk membuat menu sederhana namun kaya nutrisi dan rendah indeks glikemik:
Oatmeal gurih dengan kaldu ayam asli, potongan dada ayam panggang, sedikit sayur bayam, dan taburan bawang putih goreng.
Menu ini sangat cocok untuk menghangatkan perut di malam hari tanpa memicu lonjakan insulin bagi seseorang yang sedang stres bekerja seperti Adrian.
Dengan gerakan yang luwes dan terlatih—sisa kemampuan dari kehidupan masa lalunya sebagai pekerja mandiri yang hobi memasak—Gisella mulai memotong dada ayam, menumisnya dengan sedikit minyak zaitun, dan merebus oatmeal dalam air kaldu.
Aroma gurih yang menenangkan perlahan mulai menyeruak, memenuhi seluruh penjuru dapur bersih.
Dari posisinya, Adrian memperhatikan Gisella tanpa berkedip.
Cara Gisella memegang pisau, ritme ketukannya di atas talenan, hingga bagaimana dia mengatur besar kecilnya api kompor induksi... semuanya terlihat sangat profesional.
Sama sekali tidak mencerminkan seorang nona muda manja yang tidak pernah menyentuh urusan dapur seumur hidupnya.
"Siapa sebenarnya wanita ini?" batin Adrian.
Kecurigaannya yang semula mengarah pada 'trik baru bersama Julian' kini bergeser ke arah yang lebih dalam.
Perubahan sifat mungkin bisa dipalsukan dengan akting yang hebat, tetapi keterampilan fisik dan bahasa tubuh yang terlatih seperti ini tidak bisa diubah hanya dalam waktu semalam.
"Selesai,"
ucap Gisella riang, membuyarkan lamunan Adrian.
Gisella berjalan mendekati meja makan sambil membawa sebuah mangkuk keramik putih yang mengepulkan uap hangat beraroma harum.
Dia meletakkannya dengan perlahan di hadapan Adrian, lengkap dengan sepasang sendok dan garpu.
"Apa ini?"
Adrian menatap makanan di dalam mangkuk dengan dahi berkerut.
Sebagai pria yang terbiasa dengan makanan barat formal atau makanan manis, tampilan oatmeal gurih ini terlihat asing baginya.
"Oatmeal gurih dengan dada ayam panggang dan bayam,"
jawab Gisella, mendudukkan dirinya di kursi seberang Adrian.
Dia menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Adrian dengan mata berbinar penuh antisipasi.
"Karbohidrat kompleks dari oatmeal akan memberimu energi yang stabil tanpa membuatmu mengantuk atau mengalami lonjakan gula darah. Cobalah. Aku jamin ini jauh lebih enak daripada kue kering penuh gula itu."
Adrian menatap mangkuk itu, lalu beralih menatap Gisella yang menatapnya seperti seekor anak anjing yang meminta pujian.
Sudut hati Adrian yang biasanya beku mendadak terasa sedikit hangat karena perhatian yang tidak biasa ini.
Dengan ragu, Adrian menyendok sedikit oatmeal gurih tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut.
Gisella menahan napas, memperhatikan ekspresi wajah Adrian.
Seketika, mata Adrian sedikit melebar.
Rasa gurih alami dari kaldu ayam berpadu sempurna dengan tekstur oatmeal yang lembut, ditambah dengan gurihnya dada ayam panggang yang renyah di luar namun berair di dalam. Ini tidak hambar sama sekali.
Justru terasa sangat nyaman di lidah dan menghangatkan tenggorokannya yang kering akibat terlalu banyak minum kopi.
Tanpa sadar, Adrian menyendoknya untuk kedua kali, lalu ketiga kali.
Dia makan dalam keheningan, namun kecepatan sendoknya membuktikan bahwa makanan itu sangat sesuai dengan seleranya.
Gisella tersenyum puas melihat mangkuk itu perlahan mulai kosong.
"Bagaimana? Enak, kan?"
Adrian menelan suapan terakhirnya, lalu menyeka bibirnya dengan tisu dengan gerakan yang sangat elegan.
Dia berdeham pelan untuk menyembunyikan rasa kagumnya.
"Lumayan. Setidaknya ini bisa dimakan,"
jawab Adrian datar, gengsinya yang tinggi menolak untuk memberikan pujian berlebihan.
Dia menatap Gisella kembali dengan sorot mata yang serius.
"Gisella, mari kita bicara serius."
Gisella membetulkan posisi duduknya.
"Tentu. Katakan saja."
"Kau meminta waktu satu bulan untuk menunda perceraian ini," kata Adrian,
suaranya kembali formal bagai seorang profesor yang sedang menguji mahasiswanya.
"Dan kau berjanji tidak akan membuat keributan, tidak akan menuntut uang kompensasi, serta akan berperilaku baik di depan orang tuaku. Mengapa? Apa tujuan sebenarnya melakukan semua ini? Jangan katakan kau tiba-tiba jatuh cinta kepadaku, karena kita berdua tahu itu tidak mungkin."
Gisella tersenyum tipis, memaklumi skeptisisme Adrian.
Jika dia berada di posisi Adrian, dia juga pasti akan curiga setengah mati.
"Kau benar, Adrian. Aku tidak akan membohongimu dengan mengatakan aku tiba-tiba jatuh cinta kepadamu,"
kata Gisella dengan jujur.
"Tujuan utamaku murni untuk bertahan hidup."
"Bertahan hidup?"
Adrian menaikkan satu alisnya.
"Keluarga Arthur tidak pernah kekurangan uang untuk memberimu makan."
"Bukan bertahan hidup dalam artian fisik di rumah ini, tapi bertahan hidup dari kebodohanku sendiri di masa lalu,"
jelas Gisella misterius, tentu saja dia tidak bisa mengatakan bahwa dia sedang menghindari plot kematian tragis di jalanan.
"Aku menyadari bahwa jika aku keluar dari rumah ini sekarang dengan emosi yang tidak stabil dan uang satu juta dolar itu, aku hanya akan menjadi mangsa empuk bagi orang-orang jahat di luar sana yang ingin memanfaatkanku. Aku butuh waktu satu bulan untuk menenangkan pikiranku, memutus semua hubungan toksik dari masa laluku, dan belajar bagaimana caranya berdiri di atas kakiku sendiri sebelum aku benar-benar menyandang status sebagai janda."
Kata-kata 'memutus hubungan toksik' membuat Adrian langsung teringat pada Julian.
Apakah Gisella akhirnya menyadari bahwa pria itu hanya memanfaatkan uangnya saja?
"Jika kau benar-benar berniat seperti itu... aku akan memegang kata-katamu selama tiga puluh hari ke depan,"
ucap Adrian setelah keheningan yang cukup lama.
Dia berdiri dari kursinya, membawa mangkuk kosongnya sendiri ke wastafel dapur—sebuah kebiasaan mandiri yang jarang dilakukan oleh tuan muda kaya.
Sebelum melangkah keluar dari dapur, Adrian menghentikan langkahnya di dekat Gisella.
Dia menundukkan kepalanya sedikit, membuat jarak di antara wajah mereka mengikis, hingga Gisella bisa mencium aroma samar mint dan kayu cendana dari tubuh Adrian.
"Satu bulan, Gisella,"
bisik Adrian, suaranya bergetar rendah di dekat telinga Gisella.
"Tunjukkan padaku bahwa kau benar-benar berubah. Jangan biarkan aku menyesal karena telah memberimu kesempatan ini."
Setelah mengatakan hal itu, Adrian berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan dapur dengan langkah kaki yang tegas, menuju ruang kerjanya.
Gisella terpaku di tempatnya berdiri, memegangi dadanya yang mendadak berdegup dengan sangat kencang. Wajahnya terasa sedikit panas.
"Astaga... pesona profesor jenius ini benar-benar tidak main-main,"
gumam Gisella sambil mengipasi wajahnya dengan tangan.
"Fokus, Gisella! Kau di sini untuk bertahan hidup, bukan untuk jatuh cinta pada suami kontrakmu!"
Gisella menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir pikiran-pikiran aneh, lalu mulai membersihkan dapur dengan senyuman yang tak kunjung pudar dari bibirnya.
Malam pertama dari tiga puluh hari penundaannya telah berjalan dengan sangat baik.
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...