Asisten Duda CEO Tajir Melintir
Grizella Madeline Dealova, seorang anak magang yang ambisius dan berani, tidak pernah menyangka akan terlibat dengan Galaxy Adelion Wesley, CEO kaya raya yang dingin dan terluka karena pengkhianatan masa lalu.
Pertemuan mereka dipenuhi pertengkaran, tetapi perlahan rasa benci berubah menjadi ketertarikan. Saat Galaxy memintanya menjadi asisten pribadi dan tinggal bersamanya, keduanya mulai menghadapi perasaan yang tidak bisa mereka hindari.
Namun, ketika cinta mulai tumbuh, mantan istri Galaxy kembali membawa rahasia lama yang mengancam hubungan mereka.
Akankah Grizella menjadi alasan Galaxy kembali percaya pada cinta, atau justru menjadi luka baru dalam hidup sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
arsip rahasia London
Mentari pagi menyinari Kota London dengan cahaya keemasan.
Namun suasana di dalam Hotel Wesley jauh dari kata tenang.
Galaxy telah bersiap sejak pukul enam pagi.
Di atas meja tergeletak jam saku antik, kunci bergambar burung gagak, serta kartu memori emas.
Hari ini...
Mereka akan memasuki ruang arsip rahasia keluarga Wesley.
"Apa semua sudah siap?"
tanya Galaxy.
Aaron mengangguk.
"Tim keamanan sudah memeriksa jalur menuju lokasi."
Komandan Ethan Ward menambahkan,
"Pasukanku akan mengamankan area luar."
Alexander menatap Galaxy.
"Kalau memang ini jebakan..."
"Kita masih bisa mundur."
Galaxy menggeleng.
"Sudah terlalu jauh."
"Kita akan menyelesaikannya."
Grizella menghampiri Galaxy.
Ia merapikan dasi pria itu seperti yang biasa ia lakukan sebelum rapat penting.
Galaxy tersenyum kecil.
"Kau masih sempat memperhatikan hal seperti ini?"
Grizella ikut tersenyum.
"CEO Wesley harus selalu terlihat sempurna."
Aaron dan Vanessa saling berpandangan sambil tersenyum tipis.
Di tengah semua tekanan...
Hubungan Galaxy dan Grizella justru semakin kuat.
Iring-iringan mobil akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan tua bergaya Victoria.
Di bagian depan terpasang papan bertuliskan:
Wesley Historical Archive
Bangunan itu tampak seperti museum biasa.
Namun Ethan berkata pelan,
"Tempat ini sudah ditutup untuk umum lebih dari dua puluh tahun."
Galaxy memperhatikan setiap sudut bangunan.
"Aneh."
"Kenapa masih ada listrik?"
Mereka memasuki aula utama.
Rak-rak kayu tua dipenuhi ribuan dokumen.
Jam antik berdetak pelan.
Suasana sunyi.
Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar.
Vanessa membuka denah bangunan.
"Menurut catatan..."
"Ruang arsip rahasia berada di bawah tanah."
Mereka menemukan sebuah pintu besi tersembunyi di balik rak buku besar.
Galaxy memasukkan kunci bergambar burung gagak.
Klik...
Pintu terbuka perlahan.
Tangga batu tua memanjang menuju lorong bawah tanah.
Udara dingin langsung menyambut mereka.
Grizella tanpa sadar menggenggam tangan Galaxy.
Galaxy membalas genggaman itu.
"Jangan takut."
"Kita masuk bersama."
Di ujung tangga terdapat sebuah ruangan bundar.
Di tengahnya berdiri mesin tua dengan lubang berbentuk jam saku.
Galaxy memasukkan jam saku antik.
Mesin langsung bergetar.
Grrrr...
Dinding batu bergeser ke samping.
Membuka ruang arsip yang selama puluhan tahun tersembunyi.
Semua orang terdiam.
Di dalam ruangan itu tersusun ratusan kotak besi.
Masing-masing diberi nama keluarga besar yang pernah bekerja sama dengan Wesley.
Namun perhatian Galaxy tertuju pada satu kotak.
Kotak bertuliskan:
PROJECT RAVEN
Saat ia hendak mendekat...
Lampu ruangan tiba-tiba padam.
Brak!
Pintu batu di belakang mereka menutup sendiri.
Ruangan langsung gelap gulita.
Lalu terdengar suara seorang pria melalui pengeras suara.
"Selamat datang..."
"Galaxy Wesley."
"Aku sudah menunggu kedatanganmu."
Suara itu...
Bukan suara Victor.
Melainkan suara yang sama seperti di rekaman video.
The Raven.
Ruangan arsip tenggelam dalam kegelapan.
Hanya cahaya senter dari ponsel Aaron dan Komandan Ethan yang menerangi lorong sempit di antara deretan kotak besi.
Suara pria misterius itu kembali terdengar melalui pengeras suara.
"Tenang saja."
"Aku tidak berniat membunuh kalian."
"Setidaknya... belum."
Galaxy menatap ke sekeliling.
"Tunjukkan dirimu."
Terdengar tawa pelan.
"Belum waktunya."
Lampu darurat perlahan menyala.
Cahaya redup berwarna kuning memperlihatkan seluruh isi ruang arsip.
Di dinding bagian depan tergantung sebuah layar raksasa.
Perlahan, layar itu menyala.
Sosok berjubah hitam muncul dengan wajah yang masih disembunyikan bayangan.
Di jari manisnya terpasang cincin bergambar burung gagak.
"Aku adalah The Raven."
"Aku membangun organisasi yang kini kalian kenal sebagai The Black Crown."
Grizella mengepalkan tangannya.
"Kenapa?"
"Kenapa menciptakan organisasi yang menghancurkan begitu banyak kehidupan?"
Sosok itu terdiam beberapa saat.
Lalu menjawab,
"Karena dunia tidak pernah adil."
Vanessa memperhatikan setiap gerakan dalam rekaman.
"Itu bukan siaran langsung."
bisiknya.
Aaron mengangguk.
"Video yang diprogram untuk diputar saat seseorang memasuki ruangan ini."
Galaxy tetap fokus.
"Apa tujuanmu?"
The Raven tersenyum samar.
"Tujuanku sederhana."
"Mencari penerus."
Semua orang saling berpandangan.
"Penerus?"
ulang Alexander.
The Raven mengangguk.
"Victor mengira dirinya pewaris pilihanku."
"Dia salah."
"Dia hanya alat."
"Dan sekarang..."
Tatapannya seolah menembus layar.
"...aku ingin melihat apakah Galaxy Wesley lebih pantas."
Galaxy menjawab tegas,
"Aku tidak tertarik."
The Raven tertawa kecil.
"Jangan terburu-buru menolak."
"Kau bahkan belum mengetahui seluruh kebenaran tentang ayahmu."
Mendengar nama ayahnya disebut, Galaxy membeku.
Elena menatap layar dengan wajah tegang.
The Raven melanjutkan,
"Ayahmu bukan hanya musuhku."
"Dia pernah menjadi sahabatku."
Ruangan mendadak sunyi.
Alexander menggeleng pelan.
"Itu tidak mungkin."
Ethan juga terlihat terkejut.
"Kalau itu benar..."
"Berarti semua sejarah yang kita ketahui selama ini salah."
Tiba-tiba salah satu kotak besi terbuka otomatis.
Di dalamnya terdapat sebuah map tua dan sebuah kaset video.
Pada sampul map tertulis:
Milik Adrian Wesley.
Adrian terdiam.
"Itu..."
"Itu tulisan tangan ayahku."
Galaxy menyerahkan map tersebut kepadanya.
"Buka."
Dengan tangan gemetar, Adrian membuka halaman pertama.
Matanya langsung membelalak.
"Tidak mungkin..."
Semua orang mendekat.
Di halaman pertama terdapat foto hitam putih.
Foto tiga orang pria muda yang sedang tersenyum bersama.
Mereka adalah:
Ayah Galaxy.
The Raven.
Dan Adrian Wesley saat masih muda.
Di bagian bawah foto tertulis sebuah kalimat:
"Persahabatan yang mengubah dunia."
Namun sebelum Adrian sempat membaca halaman berikutnya...
Suara ledakan keras mengguncang ruang arsip.
BOOM!
Debu berjatuhan dari langit-langit.
Komandan Ethan segera mengangkat senjatanya.
"Semua berlindung!"
Dari balik pintu batu yang hancur...
Puluhan orang bertopeng hitam memasuki ruangan.
Di dada mereka tersemat lambang burung gagak berwarna perak.
Ethan langsung mengenali simbol itu.
Wajahnya berubah pucat.
"Mereka..."
Pintu batu yang hancur masih mengeluarkan kepulan debu.
Puluhan anggota pasukan inti The Raven memasuki ruang arsip dengan langkah teratur.
Mereka mengenakan seragam hitam tanpa tanda pangkat, hanya lambang burung gagak perak di dada kiri.
Komandan Ethan langsung mengangkat tangannya.
"Formasi bertahan!"
Pasukannya segera membentuk barisan di depan Galaxy dan rombongan.
Pemimpin pasukan itu melangkah ke depan.
Ia melepas topengnya perlahan.
Wajahnya masih muda, mungkin sekitar tiga puluh tahun.
Namun sorot matanya dingin.
"Perkenalkan."
"Namaku Damian Cross."
"Aku Komandan Pasukan Raven."
Galaxy menatapnya tajam.
"Kalau kau datang untuk mengambil arsip ini..."
"Kau terlambat."
Damian tersenyum tipis.
"Aku datang bukan untuk arsip."
"Lalu?"
"Aku datang untuk menguji orang yang dipilih Tuan Raven."
Grizella mengernyit.
"Orang yang dipilih?"
Damian mengangguk.
"Galaxy Wesley."
"Selama bertahun-tahun kami mengawasinya."
"Setiap keputusan."
"Setiap kemenangan."
"Setiap kegagalan."
Galaxy mengepalkan tangan.
"Jadi semua ini hanya permainan?"
Damian menjawab tenang.
"Bagi Tuan Raven..."
"Hidup adalah ujian."
Aaron membuka map yang baru ditemukan.
Ia membaca cepat beberapa halaman.
"Tuan..."
"Dokumen ini menyebutkan sesuatu."
Galaxy menoleh.
"Apa?"
Aaron menarik napas panjang.
"Project Raven pada awalnya bukan organisasi kriminal."
Semua orang terdiam.
Aaron melanjutkan,
"Ini adalah proyek rahasia yang dibentuk oleh tiga sahabat."
Galaxy.
Adrian.
Dan Ethan langsung saling berpandangan.
"Tiga sahabat itu..."
gumam Adrian.
"Ayah Galaxy."
"Ayahku."
"Dan The Raven."
Elena menutup mulutnya.
Air matanya mulai mengalir.
"Jadi..."
"Mereka benar-benar pernah bekerja sama."
Aaron mengangguk.
"Tujuan awal mereka adalah membangun jaringan perlindungan internasional untuk menghentikan korupsi dan perdagangan ilegal."
Vanessa membuka halaman berikutnya.
"Namun proyek itu pecah."
"Karena salah satu dari mereka ingin mengendalikan dunia bisnis dengan cara apa pun."
Damian mengangguk pelan.
"Itulah awal lahirnya The Black Crown."
Galaxy memandang Damian.
"Kalau begitu..."
"Kenapa The Raven memanggilku?"
Damian tersenyum.
"Karena dia ingin mengetahui..."
"Apakah putra sahabatnya akan mengulangi kesalahan yang sama."
Tiba-tiba layar raksasa kembali menyala.
The Raven muncul sekali lagi.
Namun kali ini...
Ia perlahan melepas tudung hitam yang menutupi kepalanya.
Wajahnya mulai terlihat.
Pria paruh baya dengan rambut memutih dan bekas luka panjang di pipi kirinya.
Tatapannya tertuju langsung ke kamera.
"Galaxy..."
"Ayahmu pernah menyelamatkan nyawaku."
"Dan aku membalasnya dengan menghancurkan keluarganya."
Ruangan mendadak sunyi.
The Raven memejamkan mata sejenak.
"Itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku."
Grizella menatap layar dengan bingung.
"Kalau dia menyesal..."
"Kenapa semua ini masih berlanjut?"
Galaxy juga menunggu jawabannya.
The Raven membuka matanya.
Karena untuk pertama kalinya...
Sorot mata pria itu dipenuhi kesedihan.
"Aku sudah tidak mampu menghentikan organisasi yang kuciptakan."
"The Black Crown telah tumbuh di luar kendaliku."
"Lalu..."
"Siapa yang mengendalikannya sekarang?"
tanya Galaxy.
The Raven terdiam beberapa detik.
Kemudian menjawab dengan suara berat,
"Orang yang selama ini kalian anggap telah mati."
Sebelum sempat menyebut nama itu...
Layar tiba-tiba padam.
Seluruh ruang arsip kembali gelap.
Damian langsung mengangkat kepalanya.
Wajahnya berubah tegang.
"Bukan..."
"Dia datang."
Suara langkah kaki perlahan terdengar dari lorong paling ujung.
Tok... Tok... Tok...
Setiap langkah membuat seluruh ruangan terasa semakin mencekam.
Bahkan Damian, komandan pasukan Raven, tanpa sadar menundukkan kepalanya.
Galaxy menatap lurus ke arah lorong gelap itu.
Ia sadar...
Musuh yang sebenarnya akhirnya akan menampakkan diri.
"Pasukan inti The Raven."