Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.
Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.
Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.
Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 - Kebakaran
Kegelapan yang pekat mengunci kamar tidur utama setelah lilin merah besar itu padam secara gaib. Aroma kematian begitu padat, menyesakkan rongga dada Aryo hingga ia merasa paru-parunya seperti dipenuhi oleh serpihan kaca.
Senter dari ponsel di tangannya bergoyang hebat, memantulkan berkas cahaya putih yang patah-patah ke setiap sudut ruangan yang kini berantakan.
Cahaya itu menyenter tubuh Abah Kamdi yang terbujur kaku di atas lantai marmer. Darah hitam kental masih merembes dari lubang hidung, telinga, dan matanya yang melotot tak berkedip.
Sementara akar bambu kering yang menancap di dadanya tampak bergetar pelan, seolah-olah makhluk gaib di dalamnya baru saja selesai mengisap sisa hidup sang dukun.
"A-Abah ...?" bisik Aryo, suaranya parau, nyaris tak terdengar di antara deru badai yang masih mengamuk di luar jendela.
"Abah Kamdi ..., tidak, ini ...." Kepala Aryo menggeleng pelan.
Tidak ada jawaban. Tubuh ringkih yang beberapa menit lalu merapalkan mantra dengan penuh percaya diri itu kini hanyalah seonggok daging tak bernyawa.
Aryo mundur perlahan hingga betisnya membentur tepi ranjang. Di atas kasur, Maya terbaring diam. Napasnya pendek-pendek dan berat, sementara cairan merah kehitaman terus mengalir dari sudut bibirnya yang pecah.
Jeritan histeris dari suara bapak-bapak tua tadi telah lenyap, namun sisa-sisa energinya masih tertinggal, menggetarkan udara di dalam kamar.
Bersamaan dengan itu, suhu di dalam ruangan mendadak berubah secara drastis. Rasa dingin ekstrem yang semula menusuk tulang tiba-tiba menguap, digantikan oleh hawa panas yang menyengat kulit.
Aryo menunduk, dan matanya membelalak lebar saat melihat lingkaran garam krosok yang ditaburkan Abah Kamdi di sekeliling ranjang perlahan-lahan mulai membara.
Garam-garam itu memancarkan rona merah jingga, beralih menjadi butiran-butiran api kecil.
Blasss!
Tanpa ada pemantik, selimut sutra marun yang menutupi separuh tubuh Maya mendadak terbakar. Api berwarna kebiruan melesat cepat, melahap kain mahal itu dalam hitungan detik.
Jeritan gaib kembali pecah, kali ini datang dari seluruh penjuru ruangan—suara gesekan bambu (pring) yang terbakar, disusul oleh suara tawa cekikikan wanita tua yang melengking tinggi, memantul di antara dinding beton rumah mewah tersebut.
"A-api ...! Kebakaran!" Aryo tersentak. Otaknya belum siap menerima karena masih coba mencerna keadaan.
Meski begitu, ia menerjang maju, mencengkeram tubuh Maya yang lemas, lalu menariknya keluar dari atas kasur yang kian dilalap api kebiruan.
Begitu tubuh Maya berpindah ke lengannya, kulit wanita itu terasa sangat panas, seolah-olah lebam-lebam hitam di sekujur tubuhnya adalah arang yang sedang membara dari dalam.
Aryo memapah Maya dengan susah payah menuju pintu keluar. Ketika ia menoleh ke belakang, pemandangan di dalam kamar utama itu tampak seperti neraka pribadi yang sengaja diciptakan untuk mereka.
Api kebiruan pun tidak hanya membakar ranjang, tetapi merayap naik ke dinding, melalap gorden beludru, dan anehnya, asap yang dihasilkan tidak berwarna abu-abu, melainkan hitam pekat bagai jelaga batu bara yang membawa aroma anyir bunga kantil hangus.
Di tengah kobaran api yang kian membesar, bayangam siluet pohon-pohon bambu kering yang meliuk-liuk tampak tercetak jelas di atas dinding kamar yang terbakar.
Seolah-olah ruangan mewah itu telah sepenuhnya berubah menjadi sebidang tanah makam di tengah belantara Banyuwangi.
"Sekar ... kamu benar-benar ingin meratakan semuanya ...," raung Aryo di sela batuknya yang hebat karena terlalu banyak menghirup asap.
Dengan sisa kekuatan yang ada, Aryo menendang pintu kamar hingga terbuka lebar, membawa tubuh Maya yang pingsan keluar ke lorong lantai dua.
Di belakang mereka, pintu kamar utama itu mendadak tertutup sendiri dengan dentuman keras, mengunci jasad Abah Kamdi di dalam kamar yang bertransformasi menjadi tungku perapian gaib.
Setengah jam kemudian, suara sirine mobil pemadam kebakaran memecah keheningan kompleks elit Pondok Indah. Memicu rasa penasaran warga sekitar hingga sebagian berkerumun turut menyaksikan kejadian. Sebagian lain hanya menonton di depan rumah masing-masing.
Syukurnya, hujan badai yang masih mengguyur Jakarta setidaknya membantu mencegah api merambat ke bagian rumah yang lain. Beberapa petugas dengan pakaian oranye sibuk mengarahkan selang air bertekanan tinggi ke arah jendela lantai dua yang telah pecah berantakan.
Aryo duduk di teras depan, bersandar pada pilar beton besar dengan kepala tertunduk. Tubuhnya kotor oleh jelaga hitam, kemejanya robek di beberapa bagian.
Di sampingnya, Maya dibaringkan di atas tandu darurat milik ambulans swasta yang sengaja dipanggil secara rahasia oleh Aryo. Seorang petugas medis sedang memasangkan masker oksigen baru ke wajah Maya yang kuyu.
Tak lama, seorang komandan regu pemadam kebakaran mendekati Aryo dengan membawa catatan kecil.
"Pak Aryo, api di lantai dua sudah berhasil kami lokalisir. Kamar utama hangus total. Namun ... ada satu hal yang ganjil, Pak."
Aryo mendongak perlahan, matanya kosong.
"Apa?"
"Kami menemukan jenazah di dalam kamar. Kondisinya ... sangat tidak biasa. Pakaian dan barang-barang di sekitarnya hangus, tetapi tubuh korban sama sekali tidak tersentuh api. Kulitnya utuh, tidak ada luka bakar sedikit pun. Namun, dokter ambulans tadi memeriksa bahwa jantungnya hancur seperti terkena hantaman benda tumpul dari dalam dada, dan ada ... semacam serat tumbuhan kering yang menyumbat tenggorokannya."
Petugas itu menggelengkan kepala, tampak bergidik ngeri saat membayangkannya kembali.
"Kami harus melaporkan kejadian ini sebagai kematian tidak wajar ke pihak kepolisian, Pak," putus sang petugas.
"Lakukan saja apa yang harus kalian lakukan," jawab Aryo datar, suaranya terdengar dingin dan hampa.
Ia tahu betul, tidak ada polisi di kota ini yang akan percaya pada ceritanya. Tidak ada pasal hukum modern yang bisa menjerat seorang wanita di ujung Jawa yang membunuh manusia menggunakan akar bambu kering dari jarak seribu kilometer.
Begitu petugas pemadam kebakaran itu menjauh, Aryo memandangi Maya yang sedang dimasukkan ke dalam mobil ambulans. Wanita muda yang dulu dipujanya karena kecantikan dan energinya yang meletup-letup, kini tak lebih dari seonggok wadah kosong yang sedang dihabisi oleh kutukan garis darah Ki Demang.
Aryo meraba saku celananya, mengambil ponsel yang layarnya sudah retak akibat insiden di dalam kamar tadi. Ia membuka aplikasi pesan singkat, menatap ruang obrolannya dengan Sekar yang tetap bersih tanpa ada balasan satu pun.
"Dukun yang kupanggil sudah mati, Sekar," bisik Aryo pada layar ponselnya yang dingin. "Kamar tempatku tidur dengan Maya sudah berubah jadi abu. Apa kamu puas?"
Hening. Tentu saja tidak ada jawaban dari seberang sana. Namun, saat Aryo menatap ke arah halaman depan rumahnya yang basah oleh sisa air hujan dan semprotan pemadam kebakaran, ia melihat sesuatu yang membuat bulu kuduknya kembali berdiri tegak.
Di bawah sorotan lampu jalan yang temaram, di sudut taman rumahnya yang semula hanya ditumbuhi pohon palem dan rumput gajah mini, kini tampak sebatang tunas bambu berwarna hitam pekat mencuat keluar dari dalam tanah pekarangan. Tunas itu kecil, namun ujungnya sangat tajam, menusuk permukaan tanah dengan kepastian yang mengerikan.
Kematian Abah Kamdi dan terbakarnya kamar utama bukanlah akhir dari ritual pembersihan yang gagal. Itu adalah tumbal pertama yang diminta oleh Pring Sedapur untuk memperkuat cengkeraman akarnya.
Sumpah darah yang dikhianati Aryo kini telah bermutasi menjadi entitas nyata yang tidak akan berhenti tumbuh sebelum seluruh rumpun barunya runtuh dan membusuk di bawah tanah.
Aryo menutup mukanya dengan kedua tangan, menangis tanpa suara di tengah hiruk-pikuk petugas yang merapikan selang air. Ia menyadari satu hal: pertempuran ini baru saja dimulai, dan ia sedang berjalan menuju kekalahan yang mutlak jika ia tidak segera menemukan cara lain untuk mencabut akar jahanam tersebut.
Seseorang yang bisa memutus santett Pring sedapur Ki demangkah ??
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
dasar laki laki tidak tau diri
Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.
Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .