"Ahh!"
"Kamu harus melahirkan pewarisku, Amoera ... untuk menebus dosa ayahmu!"
Perang berdarah antar-organisasi memaksa Amoera, putri tunggal mafia Blood Dominion, jatuh ke tangan Leon D'Alterio. Pemimpin kejam Cosa Nero itu menuntut balas dendam atas kematian orang tuanya, dan Amoera harus melahirkan pewarisnya.
Namun takdir berjalan brutal. Amoera melahirkan bayi kembar laki-laki, tetapi Leon merebut bayi yang hidup dan mengusir Amoera bersama bayinya yang dianggap telah mati.
Empat setengah tahun berlalu. Amoera kembali sebagai pembunuh bayaran dingin dengan misi mutlak. menghabisi pewaris Cosa Nero, yang tak lain adalah putranya sendiri.
Saat laras pistol telah membidik target, kebenaran fatal terkuak. Leon tertegun melihat bocah di samping Amoera yang sangat mirip dengan putranya.
"Kamu mau membunuh putramu sendiri, Amoera?"
Ketika rahasia masa lalu terbongkar, siapakah yang akan hancur dalam lingkaran balas dendam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuju Lokasi
Leon D'Alterio berdiri tegak di depan cermin besar kamarnya, jemari tangannya bergerak dengan begitu tenang dan teratur membenarkan letak simpul dasi hitam yang melingkari lehernya. Tatapan matanya yang datar menatap pantulan dirinya sendiri di dalam cermin tanpa ekspresi, sedingin es yang membeku di puncak gunung.
Malam ini, pria itu dijadwalkan untuk menghadiri sebuah pesta mewah yang diadakan oleh salah satu rekan bisnisnya. Namun, di balik kemegahan gaun dan setelan jas para tamu nanti, kehadiran Leon sebenarnya hanyalah sebuah bentuk manipulasi taktis guna menutupi sebuah perjanjian gelap dunia bawah yang jauh lebih besar dan berbahaya.
"LEPACIIIIN LEPACIIIN! JANGAN CENTUUUUH PAKE TANGAN KACAAAAL KALIAN!"
Sebuah lengkingan suara cempreng bernada murka tiba-tiba saja memecah keheningan ruangan. Leon menolehkan kepalanya perlahan ke arah pintu masuk, di mana ia melihat putra kecilnya sedang digandeng secara paksa oleh dua orang pengawal berbadan kekar. Kedua pria dewasa itu mengangkat lengan Enzo sedemikian rupa hingga membuat tubuh mungil bocah itu melayang di udara, tidak menyentuh lantai.
Kaki-kaki kecil Enzo bergerak menendang-nendang udara dengan liar, seolah-olah dengan cara seperti itu ia bisa meloloskan diri dari cengkeraman kuat yang menahannya. Namun sayang, apa yang ia pijak dan tendang hanyalah angin kosong, sampai akhirnya kedua pengawal itu menurunkan tubuh mungil sang tuan muda tepat di hadapan Leon.
"Cakit tau nda!" desis Enzo dengan sangat kesal sembari memegangi pergelangan tangan kirinya yang tampak sedikit memerah.
Sepasang alis tipisnya menukik tajam, memancarkan binar amarah khas anak kecil yang merasa haknya telah direnggut. Kedua tangannya saling mengusap satu sama lain, berusaha meredakan rasa perih yang tertinggal akibat cengkeraman kuat para pengawal tadi.
Leon merendahkan tubuhnya, berlutut tepat di hadapan putra tunggalnya. Tangan kanannya terangkat memegang dagu mungil Enzo, memaksa bocah itu untuk menatap lurus ke dalam sepasang matanya yang kelam dan sarat akan penekanan.
"Mulai malam ini ... kamu harus tahu dan menyadari seperti apa rupa dunia yang sebenarnya, Enzo. Tempat di mana tidak ada ruang bagi anak manja yang lemah," bisik Leon dengan nada suara yang teramat rendah, menyuntikkan hawa dingin yang mengintimidasi.
Namun, Enzo justru membalas tatapan itu dengan kerutan di dahinya yang menggemaskan. "Daddy, Enzo kabul cebental aja. Nda campe becok coleeee!" pekik anak itu membela diri, menganggap pelarian gila yang dilakukannya siang tadi hanyalah sebuah permainan petak umpet biasa.
Leon tidak membalas ucapan putranya. Ia memilih untuk beranjak berdiri kembali, merapikan letak jasnya, lalu melemparkan pandangan mata yang dingin ke arah Black yang sejak tadi berdiri setia di dekat pintu.
"Gantikan pakaiannya sekarang juga, Black. Waktu kita sudah hampir terlambat untuk menghadiri acara," ucap Leon ketus sebelum akhirnya melangkah lebar keluar dari dalam kamar, meninggalkan Enzo yang hanya bisa berdiri mematung dengan raut wajah kebingungan.
"Kita mau kemana?" tanya Enzo bingung pada pria paruh baya di hadapannya.
Black tersenyum tipis, sebuah senyuman kebapakan yang jarang ia tunjukkan. "Kita akan pergi ke sebuah pesta makan besar, Tuan Kecil."
Mendengar kata 'makan besar', sepasang mata bulat Enzo seketika berbinar terang benderang. Sebuah senyuman lebar langsung mengembang di bibirnya. "Makan makaaaaan!" seru Enzo dengan penuh semangat, melupakan fakta bahwa beberapa menit yang lalu ia baru saja mengamuk hebat.
Dengan penuh kepatuhan yang mendadak muncul, Enzo membiarkan Black membantunya mengganti pakaian santainya dengan pakaian formal. Setelah proses persiapan selesai, Enzo lekas berdiri tegak di depan cermin besar untuk melihat penampilannya sendiri. Tubuh mungilnya kini telah terbalut rapi oleh sebuah setelan jas hitam legam berkualitas tinggi, lengkap dengan sebuah dasi kupu-kupu hitam yang melingkar sempurna di lehernya. Bocah kecil itu terlihat teramat tampan, gagah, namun juga manis di saat yang bersamaan, sangat mirip dengan rupa sang ayah di masa mudanya. Enzo tersenyum bangga, memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri sebelum berpose sejenak di depan cermin.
"Ganteng kali dili ini," gumam Enzo memuji ketampanan dirinya sendiri dengan tingkat percaya diri yang tinggi.
"Ayo, Tuan Kecil. Kereta Anda sudah siap," ajak Black sembari mengulurkan tangannya, meraih lembut jemari mungil Enzo dan menuntun langkah kaki bocah itu menuju ke arah mobil antipeluru di mana Leon sudah menunggu di dalam kabin belakang.
Pintu mobil mewah itu segera dibuka lebar oleh sang sopir yang mengenakan sarung tangan putih. Enzo dengan gerakan lincah langsung naik ke atas jok kulit yang empuk, mengambil posisi duduk tepat di samping sang ayah. Bocah itu duduk dengan sangat manis, merapatkan kedua kaki mungilnya dengan kedua tangan diletakkan rapi di atas paha, sementara matanya bergerak melirik ke arah Leon yang sejak tadi rupanya tengah menatapnya dengan pandangan mata yang datar tanpa emosi.
"Besok pagi kita akan langsung kembali ke mansion utama, dan kamu ... kamu pasti akan mendapatkan hukuman yang teramat berat dari Daddy karena aksi nekatmu siang tadi, mengerti?" ucap Leon dengan nada suara yang sarat akan kekesalan yang tertahan.
Enzo mengerucutkan bibirnya sebal, membuang pandangannya ke arah langit-langit mobil mewah tersebut. "Ngeltiiiii! Bica nda ciiih nda ucaaaah di bilang teluuus! Iya Enzo calah, tapi nanti dulu malahnya. Enzo nda ada makan dali tadi kabul telus," keluh anak itu dengan nada merajuk yang kental.
"Siapa yang menyuruhmu untuk kabur dari penjagaan, huh? Rasakan sendiri akibatnya!" desis Leon tajam sembari membuang wajahnya ke arah jendela samping, enggan memberikan simpati.
Tindakan dingin sang ayah seketika membuat mulut Enzo menganga lebar dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa tidak percaya yang amat sangat. "Anaknya lapal looooh! Kok malah bilang lacakan ciiih!" pekik Enzo kesal sembari menghentakkan kaki kecilnya ke lantai mobil.
Mobil limosin itu pun perlahan melaju membelah jalanan kota yang padat, bergerak menuju lokasi gedung pertemuan. Menyadari protesnya tidak akan didengar, Enzo akhirnya memilih untuk diam dan menatap keluar jendela kaca yang gelap sembari menumpu dagunya dengan menggunakan kedua telapak tangan mungilnya. Pipinya yang gembil tertekan ke atas, membuat wajahnya terlihat berlipat-lipat kali lebih menggemaskan dari biasanya. Sepasang matanya menatap takjub ke arah kepadatan arus lalu lintas kota serta kerlip lampu-lampu neon dari gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, terlihat teramat indah di bawah langit malam.
"Cantik kali," gumam Enzo lirih dengan binar kekaguman yang tidak bisa disembunyikan.
"Daddy," panggil Enzo kemudian dengan nada suara yang mendadak melunak, memecah keheningan di dalam kabin mobil.
"Apa?" sahut Leon pendek dengan nada malas tanpa menolehkan kepalanya sedikit pun.
"Mommy cantik nda?" tanya Enzo tiba-tiba, sebuah pertanyaan polos yang seketika membuat tubuh Leon menegang kaku di tempat duduknya.
Pandangan mata pria itu lurus menembus kaca depan mobil, memori masa lalu mendadak berputar kembali di dalam benaknya. Bibir tipis pria itu bergerak perlahan, mengeluarkan suara yang teramat lirih.
"Ya ... dia sangat cantik," balas Leon pendek sebelum akhirnya kembali membuang pandangannya melemparkan tatapan keluar jendela samping, enggan melanjutkan rentetan kalimatnya yang terasa mencekik tenggorokan.
Mendengar konfirmasi dari sang ayah, Enzo membulatkan mulutnya membentuk huruf O yang sempurna. Ia tersenyum sangat senang di dalam hatinya. "Kalau mommy cantik kaliii, bial Enzo calikan pacal buat Mommy yang nda celam kayak Daddy," ucap Enzo polos tanpa dosa, yang seketika membuat Leon menolehkan kepalanya dengan cepat, memberikan sebuah lirikkan mata yang teramat tajam dan menusuk.
"Anak nakal," desis Leon kesal, menahan diri untuk tidak mencubit gemas pipi putranya yang terlalu serakah dalam berbicara.
"Cakiiit olang tuaaaa!"