Celine selalu menyukai Ares. Dia mengabadikan seluruh momen laki-laki itu di sebuah buku kecil. Ratusan foto. Lalu kini buku itu hilang, menyisakan perasaan khawatir yang menghantui Celine setiap malam.
Celine hanya tidak tahu, buku itu berada di tangan Ares. Di simpan baik-baik, menunggu waktu yang tepat untuk membuka kedok Celine.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suziehloranda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengekspresikan Perasaan
Beneran ada yang dia suka?
Celine murung, dia putar-putar pulpen di atas meja. Iris matanya terpaku pada interaksi dua sejoli di depan sana. Matahari baru terbit dan Jasmine sudah duduk manis, di bangku samping tempat Ares duduk. Jarak mereka terlampau dekat.
Jasmine secantik itu, apa mungkin dia enggak kecantol? Kalo sebenarnya Ares suka Jasmine, apa yang akan aku lakukan?
"Kak," Jasmine menunjuk suku kata yang membuatnya bingung. Hari ini mereka sedang belajar bahasa inggris. "artinya ini apa kak Ares, aku kurang ngerti. Mirip-mirip gitu gak sih sama quite? Kosakataku masih sangat kurang. Hehe."
"Quiet, artinya sunyi." kata Ares memberitahu.
Jasmine mengangguk paham, dia menopang dagunya dengan pulpen yang mengetuk pelipisnya.
"Kakak pintar dalam segala hal ya, aku jadi suka," Dia melotot begitu menyadari ucapannya. Perempuan itu menoleh lantas klarifikasi. "Eh maksudku suka karena kagum! Jangan salah paham kak."
"Kamu juga pintar, mudah bagimu untuk mengerti materi yang kita pelajari," kata Ares apa adanya. Dia tidak berniat untuk membuat Jasmine tersipu, perempuan itu menggigit bibir bawahnya. Menyampirkan helai rambut ke belakang telinga.
"Makasih kak, berkat kakak juga."
"Kita lanjut belajarnya lagi?"
Jasmine bersemangat menjawab, "Iya!"
Mata Celine memanas, dugaannya mungkin benar. Ia memalingkan wajah sepersekian detik ketika tak sengaja bersitatap dengan Ares.
"Kalau sejak awal dia suka aku, yakali dibiarin gitu aja," gumamnya. "Jelas dia tahu aku suka dia. Ares, benar kah kamu hanya ingin menyakiti perasaanku?"
Dia menenggelamkan kepalanya yang terasa berat di lipatan tangan, Celine menutup mata. Masih ada sekitar tiga puluh menit sebelum jam pertama dimulai, pikirnya.
Celine benar-benar tertidur. Ruang kelas masih sepi saat Ares beranjak dari bangkunya, ia berhenti tepat di depan meja Celine. Tidak ada kata yang terucap dari mulutnya, tapi tangannya meraih helai rambut Celine yang jatuh menutupi wajahnya. Dia membenarkan anak rambut itu.
Ares maju satu langkah, tanpa berpikir panjang menyentuh hidung perempuan itu.
"Apa yang kulakukan," gumamnya, ia tarik kembali jemarinya. "tapi ... pipinya sangat lucu."
Ares menatap Celine lama sekali, ia teringat pesan yang dikirim si Pengagum semalam. Tentang siapa sebenarnya orang yang disukai Ares. Dia juga bingung, tapi jemarinya saat itu memilih untuk mengakuinya.
...***...
Jasmine tidak berhenti tersenyum, hari ini membuatnya salah tingkah. Ekspresi Ares ketika memuji dia pintar terukir di pikirannya. Di tikungan koridor sampai-sampai dia tidak melihat jalan, Jasmine menabrak seseorang.
"Aduh maaf!" katanya segera menunduk. "aku tidak bermaksud untuk menabrakmu, aku yang lalai karena tidak melihat jalan. Sekali lagi maaf."
Jasmine hendak memungut bukunya yang berjatuhan, tetapi laki-laki itu sudah lebih dulu mengambilnya. "Ini, lain kali hati-hati." Tatapan mereka bertemu.
"Ah iya, maaf kakak senior," katanya canggung begitu melihat atribut yang berbeda. Ia membaca name tag pria itu dalam hati, Gabriel.
"Kau Jasmine perwakilan olimpiade dari sekolah kita, kan?"
Jasmine mengulas senyum. "Iya Kak."
"Oh," Gabriel mengamati Jasmine dari atas ke bawah. Ia ingat satu hal, tempo hari perempuan ini dengan berani menjumpai Ares di lapangan basket. Sepertinya perkiraannya benar.
"Kamu yang suka Ares itu, kan?" Pertanyaan itu membuat Jasmine salah tingkah, ia menolak mengakui.
"Enggak kok, aku cuman sebatas kagum aja sama Kak Ares,"
"Masa?" Gabriel tersenyum culas, menaikkan sebelah alisnya. Kedua tangannya berada di saku celana.
"Em ..." Jasmine tampak ragu, pipinya bersemu merah begitu bayangan Ares melintas di pikirannya. "kalau suka emangnya salah, ya?" Ucapannya pelan, tapi cukup untuk ditangkap telinga Gabriel, laki-laki itu berdehem.
"Cowok kayak Ares mah kayak patung dikasih nafas, tapi ..." Gabriel menjeda ucapannya, sengaja membuat Jasmine penasaran. "di jam kosong biasanya dia duduk menyendiri di taman belakang, tepatnya di depan kolam ikan."
Gotcha!
Jasmine dengan cepat menangkap umpan yang diberikan Gabriel. Laki-laki itu meringis dalam hati, merasa sedikit kejam dengan mendekatkan Jasmine pada tujuannya. Itu artinya akan membuat Celine sakit hati, namun kali ini dia ingin jadi egois. Mungkin saja dengan cara ini perempuan itu akan berhenti menatap Ares.
"Aduh kak, aku masih ada tugas yang harus dikerjakan. Duluan ya, Kak!"
Jasmine melenggang pergi.
...***...
Lagi-lagi Celine menghindar dari jangkauannya, Ares dibuat bingung dengan sikap perempuan itu. Tapi dia tidak cukup yakin untuk menemuinya, menanyakan tentang pesan tiba-tiba yang dia dapat, atau sekedar memastikan hoodie yang dipinjamkannya.
Laki-laki itu duduk termenung di pinggir kolam ikan, mengamati bagaimana mereka berenang di air yang mulai menghijau. Dia selalu menyempatkan waktu untuk datang ke sini, sekedar melepas penat dari pahitnya realita.
"Desainku sudah jatuh tempo, tapi aku belum benar-benar menyelesaikannya. Hanya karena satu hal yang membuatku kepikiran tiap malam," Ia memejamkan mata. Perasaanya memang labil.
Ketika ia membuka mata pemandangan hijau di depan, mampu meredakan beban pikiran yang selama ini Ares tanggung sendirian. Sejujurnya, laki-laki yang tampak kuat ini merindukan rumahnya. Tempat di mana dia tidak harus berkerja terlalu keras, di saat orang lain fokus untuk belajar saja.
"Kak Ares?"
Seseorang berdiri di sampingnya, ikut mengamati ikan-ikan di dalam kolam. "Kakak ngapain di sini, enggak masuk kelas?" tanya Jasmine, ia duduk di sebelah Ares.
"Jam kosong, kelas ribut banget. Lebih adem di sini," katanya.
"Kita punya hobi yang hampir mirip ya kak," Perempuan itu tertawa pendek. "aku juga bakal milih keluar dari radius yang menggangu pikiranku. Rasanya pepohonan bakal lebih enak dipandang. Kakak lagi banyak pikiran, ya, makanya datang ke sini?"
"Mungkin iya."
Jasmine mengambil kayu yang tergeletak di bawah pohon besar. Ia gunakan kayu itu untuk melukis pada tanah basah di pinggiran kolam.
"Kalau kakak ngerasa lagi suntuk coba cara aku ini, gambar hal random. Hehe. Kadang ekspresikan apa yang kita rasain tuh, buat hati jadi lega deh," ujarnya. "Kakak mau coba?" Jasmine menyodorkan kayu tersebut.
"Mengekspresikan?" gumam Ares, ia mengambil kayu tersebut kemudian terdiam sesaat. Bingung harus menggambar apa, di benaknya terlintas wajah seseorang.
"Apa pun?"
"Iya Kak, apa pun yang mengganjal pikiran kakak bisa curahkan lewat gambar."
Ares mengangguk paham, sesaat dia pandangi kayu itu. Lalu ia tarik garis dengan hati-hati, pelan, seolah takut apa yang akan dia ekspresikan dapat melukai hasilnya.
"Ini," Jasmine terdiam begitu Ares selesai menggambar, hasilnya seorang perempuan dengan rambut panjang yang diikat tinggi, wajahnya kosong.
"Kakak gambar siapa?" Dia tampak ragu, ada rasa kecewa yang menyelinap di relung hatinya.
Ares menggeleng memilih untuk tidak menjawab.
Salut banget sih author lucu gemes