Darah Pewaris Dewa
Atlas dan Oliver menjalani hidup sebagai manusia biasa, hingga kematian ibu mereka membangkitkan kekuatan kuno yang tersembunyi dalam darah mereka.
Mereka ternyata adalah pewaris terakhir dari pendekar legendaris yang pernah melindungi Alam Dewa dari kegelapan.
Namun saat rahasia masa lalu mulai terbuka, mereka menemukan bahwa para dewa menyimpan pengkhianatan besar yang mengubah sejarah.
Dengan ancaman yang semakin dekat, Atlas dan Oliver harus mencari kebenaran tentang warisan mereka...
sebelum kekuatan dalam darah mereka menjadi penyebab kehancuran dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANAK DARI CAHAYA PERTAMA
Setelah kembali dari Sumber Darah Pertama...
Alam Dewa tidak lagi terasa sama.
Para pewaris telah mendapatkan jawaban yang selama ini mereka cari.
Mereka memahami asal mula darah Aurelian.
Mereka memahami alasan Aurelian membagi kekuatannya.
Mereka bahkan memahami luka yang membuat Seraphion memilih jalannya.
Namun satu pertanyaan masih tersisa.
Apa sebenarnya kekuatan baru yang muncul di luar seluruh aturan dunia?
TANDA YANG TIDAK DIKENAL
Di langit Alam Dewa, simbol asing masih terlihat.
Tidak memiliki bentuk seperti energi dewa.
Tidak memiliki aura kehampaan.
Tidak memiliki hubungan dengan darah Aurelian.
Sesuatu yang benar-benar baru.
Sang Pengamat berdiri memandangi simbol tersebut.
Untuk waktu yang lama...
ia tidak mengatakan apa pun.
Atlas akhirnya bertanya:
"Apa kau mengenal tanda itu?"
Sang Pengamat menggeleng.
"Tidak."
Jawaban itu membuat semua terkejut.
Karena jika Sang Pengamat tidak mengenalnya...
berarti sesuatu yang baru benar-benar telah muncul.
KECEMASAN SANG PENGAMAT
Oliver menatap langit.
Aliran waktu di sekitarnya bergerak tidak stabil.
"Aku tidak bisa melihat masa depannya."
Aeron langsung menoleh.
"Mustahil."
Oliver mengangguk.
"Semua kemungkinan berhenti ketika mencoba melihatnya."
Elyon memperhatikan simbol itu.
"Berarti makhluk itu tidak terikat oleh jalur waktu."
Seraphion menyipitkan mata.
"Atau..."
"...dia berasal dari tempat sebelum waktu dimulai."
RAHASIA CAHAYA PERTAMA
Mendengar kata-kata itu...
Penjaga Sumber yang sebelumnya diam akhirnya berbicara.
"Ada satu legenda yang bahkan Aurelian tidak pernah ceritakan."
Semua menatapnya.
"Legenda tentang Cahaya Pertama."
Atlas bertanya:
"Apa itu?"
Penjaga Sumber menjawab:
"Sebelum ada kegelapan."
"Sebelum ada cahaya."
"Sebelum ada penciptaan."
"Ada sebuah kesadaran pertama."
ANAK DARI CAHAYA
Oliver terdiam.
"Kesadaran?"
Penjaga Sumber mengangguk.
"Dia bukan pencipta."
"Bukan penghancur."
"Dia hanya keberadaan pertama yang mampu memahami dunia."
Kael bertanya:
"Lalu kenapa dia tidak pernah disebut dalam sejarah?"
Penjaga Sumber menjawab:
"Karena dia memilih pergi."
KEMUNCULAN ANAK CAHAYA
Di tempat yang jauh...
di luar batas seluruh dunia...
sebuah ruang kosong berubah.
Sebuah cahaya kecil muncul.
Dari cahaya itu perlahan terbentuk sosok seseorang.
Seorang pemuda.
Wajahnya tenang.
Tatapannya kosong.
Ia melihat ribuan dunia di depannya.
"Jadi..."
"warisan itu masih bertahan."
Di tangannya muncul simbol yang sama dengan yang ada di langit Alam Dewa.
TUJUAN YANG TIDAK DIKETAHUI
Makhluk itu berjalan melewati ruang.
Tidak membuka portal.
Tidak menggunakan kekuatan.
Ruanglah yang membuka jalan untuknya.
"Aku ingin melihat..."
"apakah dunia yang diciptakan dari pilihan..."
"...lebih baik daripada dunia yang diciptakan dari kesempurnaan."
KEMBALI KE ALAM DEWA
Para pewaris mempersiapkan diri.
Atlas berkata:
"Kita tidak tahu apa yang akan datang."
"Tapi kita tahu satu hal."
Oliver menatapnya.
"Apa?"
Atlas menjawab:
"Kita tidak boleh mengulangi kesalahan masa lalu."
Elyon tersenyum kecil.
"Kalimat itu..."
"...adalah alasan Aurelian memilih kalian."
SESEORANG MUNCUL
Tiba-tiba...
seluruh Alam Dewa menjadi sunyi.
Tidak ada angin.
Tidak ada suara.
Bahkan waktu berhenti sesaat.
Oliver membeku.
"Aku tidak bisa melihat apa pun."
Kemudian...
sebuah suara terdengar dari belakang mereka.
"Menarik."
Semua berbalik.
Seseorang berdiri di sana.
Sosok yang membawa aura cahaya pertama.
Ia menatap para pewaris.
"Lima darah Aurelian."
"Lama sekali aku menunggu untuk melihat kalian."
Seluruh Alam Dewa terdiam.
Sosok yang muncul di hadapan mereka tidak menunjukkan permusuhan.
Namun keberadaannya membuat seluruh hukum dunia terasa berubah.
Waktu berhenti.
Ruang menjadi sunyi.
Bahkan energi para dewa tidak berani bergerak mendekatinya.
NAMA YANG TIDAK TERCATAT
Atlas berdiri paling depan.
Tangannya berada dekat dengan senjatanya.
"Siapa kau?"
Sosok itu menatap Atlas.
Tatapannya tidak dingin.
Tidak juga hangat.
"Aku sudah memiliki banyak nama."
"Namun tidak satu pun dari nama itu tercatat dalam sejarah kalian."
Oliver memperhatikan sosok itu.
"Kau bukan dari masa lalu."
Sosok itu tersenyum kecil.
"Benar."
"Aku bukan bagian dari masa lalu."
"Aku adalah sesuatu yang ada sebelum masa lalu dimulai."
ANAK CAHAYA PERTAMA
Penjaga Sumber muncul di belakang mereka.
Untuk pertama kalinya...
ia menundukkan kepala.
Semua terkejut.
Karena Penjaga Sumber tidak pernah menghormati siapa pun sebelumnya.
Elyon bertanya:
"Siapa dia?"
Penjaga Sumber menjawab:
"Dia adalah keturunan dari Cahaya Pertama."
"Anak yang lahir sebelum aturan dunia tercipta."
NAMA SANG ANAK
Sosok itu melihat mereka.
"Namaku..."
Ia berhenti sejenak.
"Arkan."
Nama itu membuat seluruh ruang bergetar.
Sang Pengamat langsung berubah serius.
"Arkan..."
Seraphion menatapnya.
"Kau mengenalnya?"
Sang Pengamat menjawab pelan:
"Tidak."
"Tapi aku pernah melihat jejaknya."
JEJAK CAHAYA PERTAMA
Sang Pengamat menjelaskan.
"Jauh sebelum aku mengawasi dunia..."
"ada catatan tentang sebuah cahaya yang muncul sendiri."
"Bukan diciptakan."
"Bukan dipanggil."
"Cahaya yang memilih untuk ada."
Dan dari cahaya itu...
lahirlah Arkan.
ALASAN ARKAN DATANG
Atlas menatap Arkan.
"Jika kau berasal dari awal penciptaan..."
"...kenapa baru muncul sekarang?"
Arkan melihat ke arah langit.
"Karena sekarang adalah pertama kalinya dunia mencapai titik ini."
"Titik di mana pewaris Aurelian..."
"...dan sumber awal keberadaan bertemu."
TUJUAN ARKAN
Kael bertanya:
"Apakah kau datang sebagai musuh?"
Arkan menggeleng.
"Tidak."
"Aku datang untuk melihat."
Aeron mengerutkan kening.
"Melihat apa?"
Arkan menjawab:
"Apakah makhluk yang lahir dari pilihan..."
"...mampu bertahan tanpa seseorang yang mengatur mereka."
UJIAN BARU
Seraphion menatap Arkan.
"Kau juga mempertanyakan pilihan dunia?"
Arkan melihatnya.
"Berbeda denganmu."
"Aku tidak ingin mengendalikan dunia."
"Aku hanya ingin mengetahui apakah kebebasan benar-benar memiliki arti."
Seraphion terdiam.
Karena pertanyaan itu sama dengan yang selama ini ia pikirkan.
KEKUATAN ARKAN
Oliver mencoba melihat aliran waktu Arkan.
Namun hasilnya membuatnya mundur.
"Aku tidak bisa membaca apa pun."
Arkan bertanya:
"Kenapa kau mencoba?"
Oliver menjawab:
"Karena semua makhluk memiliki masa lalu."
Arkan tersenyum.
"Aku tidak memiliki masa lalu."
"Aku adalah bagian dari awal."
PERINGATAN ARKAN
Arkan berjalan melewati mereka.
Tidak ada yang mampu menghentikannya.
Namun sebelum pergi...
ia berhenti di depan Atlas.
"Kau pemimpin mereka."
Atlas menatapnya.
"Dan?"
Arkan berkata:
"Jangan menjadi seperti Aurelian."
Atlas terdiam.
Lalu Arkan melanjutkan:
"Jangan juga menjadi seperti Seraphion."
"Jadilah seseorang yang mampu menerima bahwa dunia tidak membutuhkan penyelamat yang sempurna."
CAHAYA YANG TERTINGGAL
Setelah Arkan menghilang...
sebuah simbol tertinggal di langit.
Bukan tanda ancaman.
Melainkan undangan.
Sang Pengamat melihat simbol itu.
"Dia sedang memanggil kita."
Atlas bertanya:
"Ke mana?"
Sang Pengamat menjawab:
"Ke tempat asal Cahaya Pertama."
Semua terdiam.
Karena tempat itu...
bahkan belum pernah dijangkau oleh Aurelian.
Simbol cahaya yang ditinggalkan Arkan masih melayang di langit Alam Dewa.
Tidak memancarkan ancaman.
Tidak membawa kehancuran.
Namun semua makhluk yang melihatnya merasakan hal yang sama.
Sebuah panggilan.
Sebuah jalan menuju sesuatu yang bahkan para dewa tidak pernah ketahui.
TEMPAT ASAL CAHAYA
Sang Pengamat berdiri memandangi simbol itu.
"Selama ini aku mengawasi ribuan dunia."
"Tapi tempat itu..."
Ia berhenti.
"Tempat itu berada di luar pengamatanku."
Atlas menatapnya.
"Kalau begitu, bagaimana kita bisa sampai ke sana?"
Sang Pengamat menjawab:
"Karena Arkan tidak memberikan jalan."
"Ia memberikan pilihan."
PILIHAN PARA PEWARIS
Di hadapan mereka muncul dua jalan.
Jalan pertama dipenuhi cahaya.
Terlihat aman.
Tidak ada bahaya.
Jalan kedua gelap.
Tidak terlihat ujungnya.
Namun dari jalan gelap itu terasa sesuatu.
Sebuah kemungkinan.
Penjaga Sumber berbicara:
"Cahaya pertama tidak menerima mereka yang hanya mencari jawaban."
"Ia menerima mereka yang siap menghadapi pertanyaan."
JALAN ATLAS
Atlas memilih jalan gelap.
Oliver menatapnya.
"Kau yakin?"
Atlas mengangguk.
"Jalan yang terlihat mudah belum tentu jalan yang benar."
Ketika Atlas melangkah...
jalan itu berubah.
Ia melihat bayangan dirinya sendiri.
Bukan dirinya sebagai pewaris.
Tetapi sebagai seorang pemimpin.
Sebuah suara bertanya:
"Jika semua orang bergantung padamu..."
"siapa yang akan menyelamatkanmu ketika kau jatuh?"
Atlas terdiam.
Karena selama ini...
ia selalu memikirkan cara melindungi orang lain.
Namun jarang memikirkan dirinya sendiri.
JALAN OLIVER
Oliver memasuki jalannya sendiri.
Ia melihat ribuan kemungkinan.
Di setiap kemungkinan...
ada pilihan berbeda.
Namun semuanya memiliki satu kesamaan.
Tidak ada jalan yang sempurna.
Suara itu bertanya:
"Jika kau tidak bisa menyelamatkan semua orang..."
"apakah kau masih akan memilih melangkah?"
Oliver menutup mata.
"Ya."
"Karena menyelamatkan seseorang tetap berarti..."
"...meskipun aku tidak bisa menyelamatkan semuanya."
JALAN AERON DAN KAEL
Aeron melihat kehampaan.
Namun kali ini...
kehampaan tidak mencoba menelannya.
Ia justru mendengar suara.
"Kau takut pada bagian dirimu yang kosong."
Aeron menjawab:
"Karena dulu aku pikir kosong berarti tidak memiliki nilai."
"Tapi sekarang aku tahu..."
"bahkan ruang kosong bisa menjadi tempat sesuatu yang baru tumbuh."
Kael melihat masa depan.
Ia melihat dirinya sendiri berdiri sendirian.
Namun kemudian...
ia melihat semua orang yang pernah berjalan bersamanya.
Ia tersenyum.
"Aku tidak pernah benar-benar sendiri."
JALAN ELYON
Berbeda dengan yang lain...
Elyon tidak menemukan jalan.
Ia hanya berdiri dalam kegelapan.
Karena ujian terbesarnya bukan tentang apa yang akan ia lakukan.
Tetapi tentang apa yang telah ia lakukan.
Ia melihat semua dunia yang pernah ia ubah.
Semua keputusan yang pernah ia buat.
Sebuah suara bertanya:
"Apakah kau pantas mendapatkan kesempatan kedua?"
Elyon diam lama.
Lalu menjawab:
"Aku tidak tahu."
"Tapi aku akan menggunakan kesempatan itu untuk menjadi lebih baik."
Untuk pertama kalinya...
jalan di depannya terbuka.
SERAPHION MEMILIH
Semua mata tertuju pada Seraphion.
Karena ujian terbesarnya belum selesai.
Ia berdiri di antara dua jalan.
Satu jalan menuju dunia sempurna.
Satu jalan menuju dunia penuh ketidakpastian.
Dulu...
ia pasti memilih dunia sempurna.
Namun sekarang...
ia memilih jalan kedua.
"Aku terlalu lama percaya bahwa aku tahu apa yang terbaik."
"Aku ingin belajar mendengar."
PERTEMUAN DENGAN ARKAN
Setelah melewati jalan masing-masing...
mereka kembali bertemu.
Di depan mereka berdiri Arkan.
Namun kali ini...
tidak ada jarak antara mereka.
Arkan tersenyum.
"Kalian berhasil."
Atlas bertanya:
"Apa yang sebenarnya kau cari dari kami?"
Arkan melihat mereka satu per satu.
"Aku mencari jawaban."
"Apakah makhluk yang memiliki pilihan..."
"...akan tetap memilih kebaikan ketika tidak ada yang mengawasi?"
RAHASIA BARU TERUNGKAP
Arkan mengangkat tangannya.
Sebuah bayangan muncul.
Mereka melihat sesuatu yang mengejutkan.
Cahaya Pertama tidak hanya melahirkan Arkan.
Ia juga melahirkan sesuatu yang lain.
Sebuah keberadaan yang berlawanan.
Sebuah kegelapan pertama.
Dan sekarang...
kegelapan itu mulai bangkit.
Arkan menatap mereka.
"Selama ini kalian mengira ancaman terbesar berasal dari masa lalu."
"Tapi kalian salah."
"Ancaman sebenarnya..."
"...baru saja lahir."