NovelToon NovelToon
Jangan Menyesal Setelah Aku Pergi

Jangan Menyesal Setelah Aku Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:246.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jalur Langit

Disa ingin memberi kejutan berupa kehamilan yang telah lama dinanti-nanti, tetapi dia malah mendapatkan kejutan lebih dulu dari Cakra. Cakra membawa pulang Risa yang sedang hamil anaknya.

Dari pada menerima Cakra, yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya, dan harus menerima Risa sebagai madunya, Disa memilih pergi dengan membawa anak Cakra yang dia sembunyikan.

"Jangan menyesal setelah aku pergi."

***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Sudah pasti Disa mendapatkan banyak pertanyaan setelah memposting story pernyataan itu.

Mengapa ia dan Cakra bercerai?

Mungkin, Cakra pun sama, diteror oleh netizen yang penasaran. Namun, baik Disa maupun Cakra masih sama-sama diam. Tidak memberikan keterangan apa pun.

Setelah Cakra melihat story yang Disa unggah, pria itu langsung mengirim pesan kepada Disa.

"Disa, kenapa kamu bikin story seperti itu? Hapus, Dis!"

"Disa, hapus story itu sebelum banyak orang yang liat."

"Disaaaa!"

Disa terkekeh kecil. Lihat mantan suaminya itu. Begitu takut namanya akan tercoreng, tetapi berani-beraninya dia bermain api di belakang Disa. Apa Cakra tidak memikirkan risikonya akan seperti ini? Bukan Disa yang akan merugi, tetapi Cakra.

Disa membalas pesan Cakra sebelum ia memblokir nomor pria itu.

Disa : "Kenapa takut, Mas? Toh, aku nggak beberkan alasan kita pisah."

Cakra : "Tetap aja. Nanti kalau ada yang tau alasannya gimana? Mau ditaruh di mana muka aku?"

Disa : "Itu urusan kamu, bukan urusanku!"

Sudah. Setelah itu, Disa langsung memblokir nomer Cakra. Dia tidak mau Cakra terus-terusan mengganggunya. Akan lebih baik jika Cakra benar-benar menghilang dari hidup Disa.

Tak usah dia tahu dengan adanya janin di rahim Disa. Biar Disa rawat dan besarkan anak ini sendirian. Jika nanti Tuhan memberi jalan untuk Cakra tahu kehadiran anak ini, maka itu adalah kesempatan untuk Disa menonton penyesalan pria itu.

"Dis ... Kamu udah periksakan kandungan kamu ke dokter?" Rahmi bertanya, menghampiri Disa yang sedang duduk di depan televisi.

"Belum, Buk. Disa belum sempat cek kandungan ke dokter," sahut Disa.

"Kamu harus periksa ke dokter kandungan, Dis," ucap Rahmi seraya membelai rambut Disa. "Mau ibu antar?"

Disa menggeleng sambil tersenyum, "Gak usah, Buk, Disa udah janjian kok sama Vina. Vina yang mau nganterin Disa."

"Yakin?"

"Iya, ntar ibu nemenin Disa periksa di bulan ke dua deh."

"Oh, yaudah." Rahmi mengangguk, sama sekali tidak keberatan jika Disa ingin cek kandungan bersama Vina.

Perlahan-lahan, Disa sedang mencoba bangkit dari keterpurukannya. Dia juga sudah berencana untuk aktif kembali menjadi content creator. Pengikutnya di media sosial sudah ada ratusan ribu, bahkan Disa dan Cakra sudah mendapatkan edorsement dari beberapa produk. Sangat disayangkan jika Disa tidak memanfaatkan akunnya.

Jika dulu konten yang ia bagikan adalah kehidupan lucu selama berumah tangga dengan Cakra, mungkin sekarang Disa harus memikirkan ide konten lain. Yang pastinya bukan tentang kehidupan rumah tangga lagi.

Mungkin ... Konten memasak? Siapa tahu ada produk peralatan memasak yang mau meng-endorse Disa.

Disa sedang melihat-lihat lagi konten-konten yang ia buat bersama Cakra. Hatinya terasa sesak dalam sekedap. Dulu, seringnya mereka membuat konten di malam hari saat Cakra tidak berada di kantor dengan harapan akan sukses bersama di kemudian hari.

Bersama-sama, mereka membangun nama bukan lagi dari nol, tetapi dari minus. Kini, terpaksa Disa harus menghapus beberapa konten dan foto yang bersangkutan dengan Cakra. Tidak semuanya memang, tetapi itu cukup menyesakkan.

Teringat masa-masa sulit yang sudah dilewati bersama-sama. Kini, semua hanya tinggal kenangan.

Rencana indah apa, Tuhan, yang akan terjadi padaku nanti sehingga Engkau membuat hidupku sehancur ini?

*

"Assalamualaikum, Ibu!"

"Waalaikumsalam, Vina."

"Disanya ada?"

"Ada di dalam, masuk aja sana. Mau nganter Disa cek ke kandungan, ya?"

"Iya, Bu. Seratus buat ibunya Disa yang pecelnya selalu juara, heheheh."

Vina, setelah turun dari motor kemudian berbasa-basi dengan rahmi, langsung masuk ke dalam rumah. Ia menuju kamar Disa. Dilihatnya sahabatnya itu sedang merias wajahnya di depan cermin.

"Belum siap?" tanya Vina.

"Bentar lagi, ya," sahut Disa.

Vina duduk di tepi tempat tidur, menunggu Disa sambil memperhatikan wanita itu merias dirinya. Jika Disa suka berdandan dan lebih cenderung feminim, maka Vina agak sedikit tomboy.

Rambut Disa tergerai panjang, sementara rambut Vina pendek mirip potongan laki-laki. Disa hari itu memilih membalut tubuhnya dengan dress selutut berwarna merah muda, sementara Vina memakai celana jeans dipadukan dengan kemeja kotak-kotak.

Sangat kontras sekali penampilan kedua perempuan itu.

"Udah, Dis, udah cantik banget elaaahhh," cibir Vina pada Disa yang kini sedang memoleskan lipstik di bibirnya.

"Diem deh."

"Lagian kenapa sih cewek tuh harus pake bedak sama lipstik segala? Aku nggak pernah pake tapi biasa-biasa aja tuh," cibir Vina.

Disa melirik Vina malas, "kodratnya cewek ya gini, Vin. Kamunya aja yang males dandan."

Tetapi, meskipun Vina jarang bahkan hampir tidak pernah dandan (paling hanya memakai sunscreen), wajah Vina tetap terlihat imut. Tidak berjerawat dan tidak berminyak.

"Bukan males, tapi gak suka," bela Vina.

Vina merasa geram dengan Disa yang tidak kunjung selesai dalam merias dirinya. Setelah selesai mengaplikasikan lipstik di bibir, kini Disa sedang menyisir rambutnya. Terdiam lama, seolah sedang berpikir, bagusnya rambutnya ia diikat atau dibiarkan tergerai saja?

"Ayo dong, Dis, keburu lumutan aku nungguinnya," omel Vina yang mulai merasa kesal. Lama-lama, ia seret juga si Disa.

"Iya, sabar! Ini bentar lagi selesai kok."

Disa akhirnya memilih untuk memasang jepit rambut. Sebagian rambutnya ia jepit, sebagian lagi ia biarkan tergerai.

"Udah yuk berangkat," ajak Disa.

Mereka pergi ke rumah sakit menggunakan motor Vina. Vina juga yang menyetir, sementara Disa hanya duduk manis di belakangnya.

Setelah sampai di rumah sakit dan mendapat nomor antrean, Disa dan Vina segera menuju ke poli kandungan. Di depan ruangan itu, sudah ada beberapa pasangan suami istri yang sedang duduk di kursi tunggu.

Hati Disa teriris melihatnya. Wanita lain ditemani oleh suami mereka, sementara Disa? Bukan ditemani oleh laki-laki yang membuatnya hamil, ia malah ditemani oleh sahabatnya.

"Pasti kamu lagi mikir, kan? Orang lain ditemenin sama suaminya, sementara kamu enggak. Pasti mikir gitu, iya kan?" tebak Vina berbisik pelan di dekat telinga Disa.

"Ngga tuh," sangkal Disa. Meksipun semua yang dikatakan Vina adalah benar.

Pintu ruangan akhirnya terbuka. Orang-orang yang baru saja melakukan pemeriksaan di dalam bersama dokter kandungan, akhirnya keluar. Entah suatu kebetulan macam apa, ternyata yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan itu adalah Cakra, bersama dengan Risa dan mamanya.

Disa langsung menegang ketika tatapan mereka saling bersinggungan.

"Disa?" gumam Yuni memanggil. Wanita yang pernah menjadi ibu mertua Disa, namun juga yang tidak pernah menyukai Disa itu, bertanya, "Sedang apa kamu di sini, Dis?"

"Antri sembako," ceplos Vina menjawab.

Disa langsung menyenggol lengan Vina dengan sikunya. "Hush!"

Vina lalu berkata, "Ya lagian pake nanya. Udah tau ada di sini ya pastinya mau—"

"Nemenin temen aku cek kandungnya," sambar Disa cepat memotong ucapan Vina sebelum Vina memberitahukan jika ia tengah hamil.

Vina melotot tidak terima, namun Disa segera memberi kode lewat matanya.

Belum waktunya Cakra dan mamanya tahu tentang kehamilannya.

Yuni tersenyum mengejek, "Jangan tersinggung ya, Dis, tapi saya sama Cakra baru saja nemenin Risa periksa kehamilannya."

"Siapa juga yang tersinggung," tandas Vina sambil memutar bola matanya. Disa tersenyum tipis.

Cakra hanya diam, namun matanya berkali-kali melirik ke arah Disa. Setahu Cakra, teman Disa yang bernama Vina ini belum menikah.

Masa iya, dia belum menikah tapi sudah hamil?

Cakra jadi curiga. Benarkah Vina yang akan periksa kehamilan atau malah ... Disa?

...****************...

1
Yunita Sophi
Alhamdulillah Andre datang untuk menikahi Risa... Rayyan dan Andre nikah bareng aja biar seru...
Diny Julianti (Dy)
bukanny panggil ibu kenapa tadi manggil ma
Ma Em
Semoga Disa secepatnya menikah dgn Rayyan agar tdk ada orang yg bisa memisahkan Disa dgn Rayyan , begitu juga Risa secepatnya menikah dgn Andre agar Zara bisa merasakan kasih sayang dari papanya .
weewwww ky nya papa terigu main tikungan tajam lagi niihhh😒
walllaaahhh.. pantesan risa jahat ke disa😒
syaitoonn emang si mama nya nih, bukan nya insyaf, tobat.. malah makin gila aja akal nya😒
Untung bapak baik bgt sama disa, sejak mereka bercerai, hamil dan sampe melahirkan.. maka nya bpk setiap saat, setiap waktu masih ada kesempatan jumpa si kembar🤭
lagian othor kasih nama bini sah vs valak dgn nama yg hampir mirip.. jadi typo mulu kan🤭
Sky: lah iya yak? 🤣🤣🤣 maap ya kak
total 1 replies
yazelin
lama amat nunggu updatenya thor😭
Sky: maaf kak 😭
total 1 replies
wkwkkk.. lo kira barang hasil rampasan bakal selama nya ada dlm genggaman lo utk lo nikmati 🤭🤣🤣🤣
lo boleh curiga gitu ya mantan mamer.. nanti lo yg bakal menyesal saat tau anak Risa ternyata bukan darah daging anak lo si terigu Cakra😒
Luar biasa
Vivi Zenidar
Alhamdulillah... kehidupan Risa membaik. Dan Andre mau menikahi Risa
wkwkkk kasian Risa, udah capek2 rebut suami temen nya sendiri.. tetap aja ga bisa go publik.. tetap disembunyikan wujud nya🤭🤣🤣🤣
Retno Harningsih
up
Oma Gavin
semua akan bahagia dgn jodoh masing"
Yunita Sophi
siapa itu yah yg membayar orang untuk menghasut... apa si Cakra atau siapa
Yunita Sophi
jangan mau Disa nikah lg sama Cakra... apaan mau sama dia lg gak penting banget..
Retno Harningsih
up
Soraya
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!