Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.
Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Hari demi hari pun berlalu.
Arin mulai terbiasa dengan ritme rutinitas barunya di ibu kota. Pagi-pagi sekali ia berangkat bekerja, siang hari menyempatkan diri pulang ke mes demi menemui Zayyan, lalu kembali memeras keringat di restoran hingga malam menjelang.
Namun, ada satu hal yang paling disyukurinya, sejak insiden kain pel di kamar mandi beberapa waktu lalu, Regan tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi. Hal itu membuat Arin bisa bernapas sedikit lebih lega. Ia terus berdoa dan berharap bahwa pertemuan malam itu hanyalah sebuah kebetulan sekilas yang tidak akan pernah terulang kembali.
Pagi itu, suasana di dalam kamar mes terasa jauh lebih sibuk dan tegang dari biasanya. Hari ini adalah hari pertama Zayyan mulai bersekolah di Jakarta.
Semalam, Arin sudah mencuci dan menyetrika seragam merah-putih milik putranya, menata buku-buku baru, serta merapikan seluruh perlengkapan sekolah ke dalam tas. Beruntung, sekolah dasar yang dipilih Arin letaknya tidak terlalu jauh dari restoran tempatnya bekerja, dan biaya bulanannya pun masih sanggup tertutupi oleh gajinya nanti.
Kini, keduanya sudah berdiri di depan gerbang mes untuk menunggu ojek online yang baru saja dipesan melalui ponsel.
Zayyan berdiri tegap mengenakan seragam barunya yang masih terasa kaku. Tas punggung hitam bertengger rapi di pundak kecilnya, sementara kedua tangan bocah itu menggenggam erat-erat tali tasnya.
Namun, ada yang aneh dengan ekspresi Zayyan. Wajah bocah laki-laki itu tampak murung. Pandangannya lurus menatap aspal jalanan di depannya tanpa ada binar semangat sama sekali.
Arin yang menyadari perubahan sikap putranya segera berjongkok di hadapan Zayyan agar tinggi mereka sejajar.
"Kenapa, Sayang? Kok lemes banget?" tanya Arin lembut sambil membenarkan letak tali tas Zayyan.
Zayyan menggeleng pelan, kepalanya tetap tertunduk. "Gak apa-apa, Ibu."
Arin tersenyum tipis, lalu mencolek dagu putranya agar bocah itu mau menatapnya. "Kalau gak apa-apa, kok mukanya ditekuk cemberut begitu? Hmm?"
Zayyan terdiam cukup lama, meremas tali tasnya semakin kuat sebelum akhirnya berani mengangkat wajah menatap sang ibu.
"Ibu..." panggil Zayyan lirih.
"Iya, Sayang? Kenapa?"
"Zayyan... Zayyan takut," akunya jujur dengan suara yang bergetar.
Arin mengusap lembut kedua pipi putranya, mencoba menyalurkan ketenangan. "Takut kenapa? Takut gak punya teman ya?"
Zayyan kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Takut kalau... takut kalau nanti di sekolah baru ini, ada yang bilang Zayyan anak haram lagi kayak waktu di kampung."
Deg.
Mendengar penuturan jujur itu, senyuman di bibir Arin perlahan-lahan luruh. Dadanya mendadak terasa dihantam godam besar, menyisakan rasa sesak yang teramat perih. Air matanya hampir saja menetes saat menyadari bahwa kalimat kejam dari orang-orang di kampung halaman ternyata telah menggoreskan luka yang begitu dalam di hati bersih putranya.
Arin segera menggenggam kedua tangan kecil Zayyan yang terasa dingin, lalu meremasnya pelan.
"Zayyan, lihat Ibu." pinta Arin dengan nada selembut mungkin.
Begitu Zayyan kembali menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Arin tersenyum hangat.
"Jakarta ini tempat yang baru buat kita. Teman-teman di sekolah nanti belum ada yang kenal sama Zayyan, dan mereka juga gak tahu apa yang pernah terjadi di kampung dulu. Jadi, Zayyan jangan takut dulu sebelum mencobanya, ya?"
Arin mengusap lembut rambut putranya, menyisir poni bocah itu dengan jarinya.
"Kalau nanti ada yang ajak kenalan, Zayyan harus ramah dan senyum. Kalau Bapak atau Ibu Guru tanya di kelas, jawabnya yang sopan. Dan yang paling penting dari semuanya..." Arin menatap lekat sepasang mata putranya, "...jadilah anak baik yang mandiri, seperti yang selalu Ibu ajarkan selama ini. Bisa?"
Zayyan menatap ibunya lumat-lumat, lalu mengangguk pelan. "Kalau Zayyan jadi anak baik... Allah pasti jagain Zayyan terus, kan, Bu?"
"Iya, sayang. Allah pasti jaga Zayyan, dan Ibu juga bakal selalu ada di samping Zayyan, apa pun yang terjadi," jawab Arin mantap, berusaha menguatkan hati putranya sekaligus hatinya sendiri.
Perlahan tapi pasti, gumpalan mendung di wajah Zayyan mulai mencair. Garis bibirnya perlahan membentuk senyuman tipis.
"Iya, Ibu. Zayyan gak takut lagi."
Tepat pada saat itu, suara klakson motor terdengar dari arah luar gerbang bersamaan dengan bunyi notifikasi di ponsel Arin. Ojek online yang mereka tunggu akhirnya tiba.
Arin segera berdiri, merapikan kerah baju serta topi merah-putih yang bertengger di kepala Zayyan. Ia kemudian menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukan singkat, lalu mendaratkan kecupan lama di keningnya.
"Semangat ya hari pertama sekolahnya. Gak boleh nangis."
"Iya, bu. Zayyan berangkat sekolah dulu ya. Asalamualaikum," pamit Zayyan sambil menyalimi dan mencium punggung tangan ibunya dengan khidmat.
"Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan ya, Pak," pesan Arin pada sang driver ojek yang dibalas dengan anggukan ramah. Arin terus berdiri di depan gerbang, melambaikan tangannya hingga motor yang membawa putranya lenyap di telan tikungan jalan.
Sementara itu di seberang jalan, sebuah mobil hitam tampak terparkir dengan mesin yang masih menyala halus.
Di balik kaca jendela yang sengaja diturunkan sedikit, Regan duduk diam. Sepasang matanya bergerak statis, memperhatikan interaksi antara Arin dan Zayyan di depan gerbang mes. Sejak beberapa menit yang lalu, ia memang sudah berjaga di sana.
Tatapannya sama sekali tidak beralih dari bocah kecil yang kini mengenakan seragam merah-putih tersebut.
Saat melihat Arin berjongkok untuk merapikan kerah baju Zayyan, mengusap rambutnya, lalu mengecup kening putranya dengan penuh kasih sayang sebelum berangkat, dada Regan mendadak terasa sesak hancur lebur.
Ia memang belum memegang bukti hitam di atas putih. Belum ada tes DNA yang memastikan kalau Zayyan adalah darah dagingnya. Namun, semakin lama ia memandangi wajah bocah itu dari kejauhan, entah mengapa keyakinan di dalam hatinya justru tumbuh makin kuat dan mengakar.
Cara Zayyan mengernyitkan dahi saat berbicara. Sorot mata bulatnya. Bahkan lekukan tipis saat bocah itu tersenyum... semuanya terasa begitu familier di mata Regan.
Tak lama kemudian, ojek online yang dipesan Arin tiba. Setelah memastikan Zayyan duduk dengan aman di jok belakang, Arin melambaikan tangan mengiringi motor yang mulai melaju menjauh.
Regan menunggu selama beberapa saat sampai Arin kembali masuk ke dalam mes. Setelah situasinya aman, ia langsung menginjak pedal gas, melajukan mobilnya untuk mengikuti motor ojek tersebut dari jarak jauh.
Sekitar lima belas menit membelah jalanan, motor ojek itu akhirnya menepi di depan sebuah sekolah dasar swasta yang tampak sederhana. Regan pun ikut memarkirkan mobilnya di seberang jalan, tepat di bawah pohon rindang.
Ia menurunkan kaca mobilnya penuh, lalu memperhatikan bangunan sekolah di depannya dengan saksama. Cat temboknya sudah mulai memudar di beberapa sudut. Halamannya tidak terlalu luas, dan bangunannya pun jauh dari kata mewah jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah elite di Jakarta pusat.
Regan mendecakkan lidahnya pelan, ada rasa tidak puas yang bergejolak di dadanya.
"Ck. Arin... Arin," gumamnya tak habis pikir.
"Apa sih yang ada di otak lu? Kenapa malah milih sekolah yang kayak gini buat anak?"
Ia menyandarkan punggungnya ke jok mobil sambil mengembuskan napas kasar, matanya tetap mengawasi gerbang sekolah.
"Gue tahu SPP di sini pasti murah dan ramah kantong lu... tapi fasilitasnya seadanya banget begini."
Regan menggelengkan kepalanya pelan, hatinya mendadak mencelos miris. "Kalau memang anak itu beneran..."
Kalimatnya menggantung di udara. Ia segera mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba mengusir rasa bersalah yang tiba-tiba datang menyerang.
"Ah, sudahlah."
Tatapannya kembali bergerak, mengikuti langkah kaki mungil Zayyan yang mulai berjalan masuk melewati gerbang sekolah.
Sempat terlintas keinginan kuat di benak Regan untuk turun dari mobil, berlari menyeberang jalan, dan langsung menghampiri bocah itu. Namun, akal sehatnya dengan cepat meredam ego tersebut.
"Jangan sekarang, Reg. Jangan gegabah," bisiknya menenangkan diri sendiri.
"Nanti bocah itu malah ketakutan dan mikir gue orang jahat yang mau nyulik dia."
Regan akhirnya hanya bisa duduk diam di balik kemudi. Ia terus memandangi punggung kecil Zayyan dengan sorot mata sendu yang begitu dalam, sampai sosok bocah berseragam merah-putih itu benar-benar hilang di balik koridor kelas.
"Belum waktunya, Nak..." gumam Regan sangat lirih pada keheningan di dalam mobilnya. "Sabar ya... belum sekarang."