Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
David sangat kaget melihat istrinya jatuh pingsan. Ia berusaha membangunkannya namun tidak berhasil. Segera ia mengangkat tubuh Fitri kembali ke mobil dan melaju cepat ke rumah sakit terdekat.
David sangat takut melihat keadaan istrinya. Ini pertama kalinya Fitri pingsan sejak mereka menikah. Ia khawatir jika ada penyakit serius yang belum diketahui, sehingga rasa cemas dan takut terus muncul.
Sesampainya di rumah sakit terdekat, Fitri langsung ditangani tim medis. David menunggu di luar ruangan dengan hati gelisah, ia tidak bisa tenang sampai dokter menyampaikan hasil pemeriksaan.
Tak lama kemudian dokter keluar dengan senyum tipis di wajahnya.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" tanya David dengan tidak sabar.
"Bapak tidak perlu terlalu khawatir. Kondisi istri Bapak baik‑baik saja. Pingsan seperti ini memang sering terjadi pada ibu hamil di awal kehamilan," jawab dokter.
"Hamil? Apakah istri saya benar‑benar hamil, Dokter?" tanya David kembali untuk memastikan, karena sebelumnya pernah dikatakan sulit mengandung.
"Benar, istri Bapak sedang mengandung. Selamat atas kehamilan ini. Saran saya, jangan biarkan istri anda banyak pikiran karena bisa memengaruhi janinnya. Berikan makanan bergizi dan pastikan istirahat cukup, karena di awal kehamilan kondisi masih rentan dan mudah keguguran. Sekarang Bapak boleh masuk menjenguknya," ujar dokter lalu pergi.
Bagi David, kabar ini adalah anugerah terindah yang didapatnya. Kehadiran janin dalam rahim Fitri membuatnya yakin bahwa masalah akan teratasi dan Fitri akan membatalkan rencana perceraian. Ia juga segera berniat mengakhiri hubungan dengan Rara, karena sekarang ia tidak lagi membutuhkan anak dari wanita lain.
Tuhan memang baik, jawaban atas segala harapan yang tertunda akhirnya datang lewat kehamilan Fitri.
David masuk ke ruang rawat. Ia melihat Fitri duduk sambil memegang kepala yang masih terasa pusing. Segera ia mendekat.
"Kamu mau duduk dulu? Jangan bergerak terlalu cepat kalau masih pening," ujarnya lembut.
"Kenapa aku ada di sini?" tanya Fitri bingung.
"Tadi kamu pingsan, jadi aku bawa ke rumah sakit. Dan ada kabar yang menyenangkan untukmu," jawab David.
"Kabar apa? Apakah kamu mau bilang simpananmu sudah berhasil hamil?" tanya Fitri dengan nada dingin dan sinis.
David tidak marah, malah tersenyum tenang. Ia duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan istrinya, lalu mengecupnya perlahan.
"Jangan terlalu emosi, tidak baik untuk bayi kita. Bukan Rara yang mengandung, tapi kamu. Kita akan segera punya anak," ujarnya dengan senyum bahagia.
"Jangan bercanda, itu tidak lucu. Bagaimana mungkin aku hamil? Dokter dulu bilang aku sulit mengandung," tolak Fitri karena tidak percaya.
"Sulit bukan berarti tidak mungkin, sayang. Ingat saran dan doa kita. Sekarang aku sangat bahagia karena akhirnya anak itu tumbuh dari rahimmu sendiri," ujar David sambil mengusap lembut perut istrinya.
Fitri hanya diam mendengarnya, lalu air mata mulai menetes perlahan karena rasa haru yang tak bisa ditahan lagi.
Fitri baru menyadari dirinya sedang mengandung. Keajaiban itu terjadi, Tuhan menitipkan anugerah terindah yang sudah lama ia impikan.
Ia sangat bahagia, namun juga teringat betul hancur hatinya dulu saat dokter menyampaikan vonis sulit hamil. Saat itu rasanya seperti hal paling menyakitkan bagi seorang wanita. Akhirnya ia belajar mengikhlaskan dan bahkan bersedia mengizinkan suaminya menikah lagi.
Namun kenangan itu tercampur rasa pahit saat teringat Rara, wanita yang dijadikan simpanan suaminya. Suasana hatinya langsung berubah karena ingat bahwa David telah berbohong. Dengan cepat ia menepis tangan David dari perutnya.
"Kenapa, sayang? Ada yang terasa sakit?" tanya David, mengira istrinya sedang kesakitan.
"Jangan sentuh aku, pergilah. Aku ingin sendiri," usir Fitri dengan dingin.
David tidak menyangka istrinya akan menolak begitu keras. Ia melihat wajah Fitri seperti singa betina yang sedang marah besar.
"Kenapa kamu tidak mau ku sentuh?" tanyanya dengan hati‑hati.
"Karena aku benci padamu. Pergi urus saja simpananmu itu. Bukankah kamu ingin membuatnya hamil? Silahkan temui dia sekarang, sepertinya dia sudah tidak sabar menunggu," jawab Fitri tajam.
"Maafkan aku, sayang. Aku janji akan mengakhiri hubungan itu. Hanya ada kita berdua dan anak ini," bujuk David.
"Aku butuh bukti nyata, bukan sekadar kata‑kata manis saja. Akhiri hubungan itu sekarang juga, keluarkan dia dari apartemen itu. Jika tidak, bersiaplah kehilangan aku dan anak kita," ancam Fitri tegas.
"Baik, aku akan menuruti semua permintaanmu. Aku tidak mau kehilangan kalian berdua," jawab David sambil mencoba memeluknya.
Fitri berontak dan menjauhkan diri. Entah mengapa, hatinya menolak dekat dengan suami saat ini.