Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.
Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.
Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.
Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31.
Malam itu, suasana di dalam rumah panggung hunian Daniel dan Zeya begitu tenang dan sunyi. Hanya suara ketukan keyboard terdengar berirama dari laptop masing-masing yang memecah kesunyian. Berpadu dengan suara-suara binatang malam dari luar.
Daniel menatap layar dengan fokus penuh. Pemuda itu sibuk mencari informasi dan jadwal seminar tentang teknik pertanian yang efektif serta ramah lingkungan. Tujuannya adalah mempelajari cara mengolah lahan agar hasil panen lebih maksimal, sekaligus menemukan ide untuk mengembangkan usaha tani yang dapat meningkatkan kesejahteraan warga Desa Sekar.
Di sisi lain, Zeya pun larut dalam kesibukannya sendiri. Ia mencari inspirasi usaha rumahan yang dapat dikerjakan oleh para ibu rumah tangga dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Harapannya, usaha tersebut dapat menjadi sumber penghasilan tambahan sekaligus membuka peluang bagi para perempuan untuk lebih mandiri.
Sesekali, keduanya saling bertukar pandang sembari melempar senyum tipis, seolah saling menguatkan semangat. Meski mengerjakan hal berbeda, tetapi mereka memiliki tujuan sama, yakni membawa perubahan bermanfaat dan masa depan yang lebih baik bagi Desa Sekar.
Tak lama kemudian, Zeya menghentikan aktivitasnya sejenak dan menoleh ke arah suaminya.
"Niel, sudah ketemu informasi yang kamu inginkan, belum?" tanyanya pelan, memecah keheningan.
Daniel mengalihkan pandangannya dari layar laptop, lalu mengangguk.
"Sudah sih, Ze. Ternyata banyak teknik baru yang bisa diterapkan, mulai dari cara bercocok tanam yang lebih efisien sampai pengolahan hasil panen. Tinggal nanti aku sesuaikan dengan kondisi tanah di sini."
Zeya mengangguk puas. Senyumnya semakin lebar ketika kembali menatap layar laptopnya. Sorot matanya memancarkan antusiasme tinggi.
"Kalau begitu, aku juga akhirnya menemukan ide yang menarik, Niel."
Daniel menoleh dengan rasa penasaran. "Ide apa?"
"Hmm... Bagaimana kalau kita membentuk bank sampah?" cetus Zeya bersemangat. "Kita bisa ajarkan ibu-ibu memilah sampah, mulai dari plastik, limbah dapur, sampai daun-daun kering. Sampah organik bisa diolah menjadi kompos untuk pertanian, sedangkan plastik bekas bungkus deterjen atau kemasan lainnya bisa dijahit menjadi tas belanja yang cantik dan kuat. Jadi, sampah itu nggak hanya dibuang atau dijual murah, tapi bisa memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi."
Daniel mengangguk setuju, tetapi raut wajahnya tiba-tiba berubah sedikit serius.
"Itu memang ide yang bagus sekali, Ze. Tapi, kalau hanya mengandalkan tutorial dari internet, rasanya tidak cukup. Kita tetap butuh bimbingan serta praktik langsung supaya hasilnya benar-benar rapi dan layak dipasarkan."
Dia terdiam sesaat, lalu wajahnya seketika berbinar.
"Ah, aku ingat! Kamu tinggal minta bantuan Mami saja. Yayasan sosial milik Mami sudah sering mengadakan pelatihan keterampilan. Aku yakin, Mami punya banyak relasi yang bisa membantu, baik sebagai instruktur maupun pendamping pelatihan."
Wajah Zeya langsung cerah. "Aah... iya juga, ya. Kenapa aku nggak kepikiran?" Gadis itu menepuk jidatnya pelan. "Baiklah, besok aku akan menghubungi Mami."
Daniel tersenyum tipis, melihat semangat di mata istrinya. Tangannya terulur mengusap pucuk kepala gadis yang dikaguminya sejak kanak-kanak itu. Kini dia semakin yakin bahwa perlahan impian mereka untuk membawa perubahan bagi Desa Sekar bukan lagi sekadar angan.
...
Sementara itu, di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah besar yang tak jauh dari Desa Sekar, seorang pria paruh baya tampak berjalan tergesa-gesa menuju kediaman megah tersebut. Namun, baru saja hendak melangkah masuk, dua orang penjaga menghadangnya di depan pintu utama.
"Ada keperluan apa?" tanya salah seorang penjaga dengan nada datar.
"Maaf, saya ingin bertemu Juragan Bahar. Ada sesuatu yang harus saya sampaikan. Ini sangat penting," jawab pria paruh baya itu dengan sopan.
Kedua penjaga saling berpandangan sejenak. Setelah mempertimbangkannya sesaat, salah seorang dari mereka akhirnya memberi isyarat.
"Ikut saya," katanya tegas sambil berjalan menuju pintu utama.
Sesampainya di depan pintu, penjaga itu mengetuk beberapa kali. Tak lama kemudian, pintu dibuka dari dalam.
"Silakan duduk. Saya akan memanggil Juragan terlebih dahulu."
Usai berkata demikian, penjaga itu melangkah ke ruang kerja sang juragan dan mengetuk pintu.
"Masuk!" terdengar suara berat dari dalam.
Penjaga itu pun bergegas masuk sambil menundukkan kepala. "Maaf, Juragan. Ada seseorang yang ingin menemui Anda."
"Siapa? Apa dia datang untuk meminjam uang?" tanya Juragan Bahar sinis.
"Sepertinya bukan, Juragan. Katanya ada hal yang sangat penting untuk disampaikan," jawab penjaga
Juragan Bahar bangkit dari kursinya. Pria tua itu meraih tongkat yang selalu menjadi penopang langkahnya, lalu berjalan keluar dari ruang kerja.
Melihat kemunculan sang juragan, pria paruh baya yang sedari tadi menunggu segera berdiri. "Selamat malam, Juragan," ucapnya sambil menundukkan kepala hormat.
"Kamu, Ranto. Ada apa malam-malam datang ke sini?" tanya Juragan Bahar sembari duduk di kursi kayu jati berukir yang tampak begitu mewah. Wajahnya tetap dingin tak sedikit pun menunjukkan keramahan.
"Begini, Juragan. Menurut desas-desus yang beredar, ada seseorang berniat menyewa lahan kosong milik Pak Hadi," lapor Pak Ranto hati-hati.
Rupanya kabar mengenai Daniel yang berniat menyewa lahan milik Pak Hadi telah menyebar dari mulut ke mulut. Layaknya api yang menyambar ilalang kering, berita itu menjalar begitu cepat ke seluruh penjuru desa.
Brakkk!!!
Tongkat Juragan Bahar menghantam lantai keramik dengan keras. Suara benturannya menggema di dalam ruangan, menandakan amarah yang mulai meluap.
"Siapa orang yang berani menyaingiku untuk mendapatkan lahan si Hadi itu!" bentaknya.
Tatapannya tajam menusuk ke arah Pak Ranto hingga pria paruh baya itu menelan ludah gugup.
"Di-dia... pemuda kota yang beberapa minggu lalu ditemukan warga bersama seorang gadis di pondok ladang itu, Juragan," jawab Pak Ranto dengan suara gemetar.
"Kurang ajar!" geram Juragan Bahar sambil mengepalkan tangan.
Urat-urat di lehernya tampak menegang. "Anak ingusan itu benar-benar tidak tahu diri. Baru beberapa hari tinggal di desa ini, sudah berani mengusik apa yang kuinginkan!"
Pak Ranto hanya menundukkan kepala. Dia tak berani menimpali sepatah kata pun.
Juragan Bahar menarik napas panjang, berusaha meredam amarahnya. Namun, sorot matanya justru semakin dingin.
"Sudah sejauh mana pembicaraan mereka?"
Pak Ranto segera menjawab menurut yang dia tahu. "Kabarnya pemuda itu sudah menyampaikan niatnya kepada Pak RT. Kemudian Pak RT meneruskannya kepada Pak Kades dan para Tetua Adat. Bahkan katanya Abah Abdul sangat mendukung niat pemuda itu."
Mendengar penjelasan tersebut, Juragan Bahar menyipitkan mata. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis. Dia mengetukkan ujung tongkatnya ke lantai beberapa kali.
"Kalau begitu, jangan sampai Hadi menerima tawaran anak itu. Sebelum dia pulang, aku ingin semuanya sudah beres!"
Pak Ranto mengangguk cepat. "Baik, Juragan. Saya mengerti."
"Awasi setiap gerak-geriknya. Kalau ada perkembangan sedikit saja, laporkan kepadaku!" perintah sang juragan.
"Siap, Juragan." Pak Ranto pun berpamitan.
Setelah pintu tertutup, Juragan Bahar tetap duduk di kursinya sambil menggenggam erat kepala tongkat.
"Siapapun dirimu..." gumamnya lirih. "...jika kamu ingin bermain-main di Desa Sekar, berarti kamu sudah siap berhadapan denganku!"
.emaknya datang😁