Bagaimana jadinya jika Ninja Elit hidup di bawah kekuasaan Singasari.
Hattori, Di eksekusi oleh Klan nya sendiri karena tahu terlalu banyak informasi. Jiwanya terbangun di tubuh Sena, pemuda 15 tahun yang tewas pada detik yang sama dengannya di Lembah Harau, pada masa Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.
Awalnya Hattori hanya ingin membalaskan dendam sederhana Sena, membunuh Purwa dan Jeliteng. setelah itu ia ingin hidup damai dan membagun keluarga, tapi takdir malah menyeretnya dalam konflik lebih besar.
Ia jadi buronan Singasari dan juga jadi incaran para gerilyawan Sumatera, Pasukan Harimau yang tengah berjuang mengusir Singasari dari tanah Sumatera.
Hingga sebuah penghianatan memaksanya ke tanah Jawa, di jantung Singasari. Mencabut akar semua masalah...meruntuhkan ke
Singasari.
Ini memang bukan kisah Gajah Mada.
Tapi ini kisah dari mana sang legenda berasal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zamo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hantu Harau
Malam di Puncak Harau diselimuti oleh kabut putih yang merayap turun dari tebing-tebing granit. Di tepi jurang yang terjal, sebuah api unggun besar berkobar, menjilat kegelapan dengan lidah apinya yang merah. Itu adalah sinyal, sebuah mercusuar maut yang berhasil memandu regu pasukan Jeliteng menembus rimba Harau yang menyesatkan.
Jeliteng tiba dengan deru napas yang berat. Di belakangnya, sembilan prajurit Singasari bergerak dengan disiplin yang tinggi. Begitu mereka bertemu dengan lima orang tim pengintai, Jeliteng tidak membiarkan pasukannya beristirahat dengan sembarangan.
"Bentuk formasi melingkar! Punggung bertemu punggung!" perintah Jeliteng dengan suara rendah namun menggelegar. "Kalang, jaga sisi kiri. Sulung, ambil sisi kanan. Jangan biarkan satu celah pun terbuka. Kita tidak tahu apa yang ada di balik pepohonan ini."
Prajurit-prajurit itu patuh. Mereka adalah mesin perang Singasari yang terlatih. Dalam hitungan detik, sebuah lingkaran pertahanan terbentuk dengan tombak-tombak yang menghadap ke luar, menciptakan hutan besi yang mustahil ditembus dari kegelapan.
Mereka adalah lambang disiplin militer yang kaku, sebuah kontras yang tajam dengan hutan yang liar dan tidak beraturan di sekeliling mereka.
Jeliteng mengatur waktu pergantian jaga, para pasukan tidur dalam formasi melingkar, dua orang siaga, menjaga rekan mereka yang tidur.
Ia juga berdiskusi dengan Daka, pimpinan tim pengintai, di iringi suara jangkrik dan angin malam menambah suasana kian mencekam.
Namun, di tengah kesunyian itu, suara gemeresak pelan terdengar dari arah semak-semak lebat di luar jangkauan api obor.
Srak... Srak...
Sulung, salah seorang prajurit muda yang berjaga di sisi kanan menajamkan matanya. Di antara celah dahan, sebuah siluet ramping muncul.
Itu adalah Sena. Ia membawa seikat kayu bakar di punggungnya dan seekor ayam hutan yang terikat di pinggangnya, akting yang sempurna sebagai seorang pemburu yang baru saja pulang.
"Itu dia! Dia ada di sana!" teriak Sulung sambil menunjuk dengan tombaknya.
Jeliteng sontak berdiri, para prajurit yang tengah tertidur tersentak kaget, Balun yang sedari tadi memejamkan mata tapi tak kunjung tertidur menelan ludah, rasa takut semakin merayap di punggungnya.
Sena mendongak. Di bawah cahaya api obor yang remang, wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut yang sangat meyakinkan.
Matanya membelalak, mulutnya sedikit terbuka seolah-olah ia tidak menyangka akan menemukan pasukan bersenjata di depan persembunyiannya. Ia menjatuhkan kayu bakarnya ke tanah, menciptakan suara debum yang memecah keheningan.
"Tangkap dia! Jangan biarkan lolos!" perintah Jeliteng.
Sena berbalik dan berlari. Namun, ia tidak lari ke arah tebing yang buntu. Ia berlari masuk ke sebuah jalur yang terlihat sangat jelas.
Sebuah jalur yang tampak seperti bekas jalan setapak yang sering dilalui. Di mata para prajurit, itu adalah jalur pelarian yang logis. Mereka melihat punggung Sena menghilang di balik kerimbunan dedaunan.
"Jangan sampai dia lolos!" teriak Jeliteng memimpin pengejaran.
Disiplin mereka yang tadi kokoh mulai mencair oleh adrenalin pengejaran. Bagi mereka, Sena hanyalah seorang bocah yang ketakutan.
Tanpa mereka sadari, jalur yang tampak mudah itu adalah pintu masuk menuju Titik Kematian (Killing Zone) yang telah dirancang khusus untuk mereka.
Sena berlari dengan kecepatan tinggi, namun saat ia melewati sebuah pohon besar, ia melakukan gerakan yang hampir mustahil dilakukan manusia biasa.
Ia melompat, kakinya menjejak batang pohon, lalu tangannya menyambar sulur rotan yang tergantung.
Tap–!
Dalam satu ayunan akrobatik, Sena menghilang ke atas, masuk ke "jalur tikus" di antara dahan-dahan tinggi.
Dengan jalur tikus ini, ia tidak lagi berlari. Ia kini menjadi pengintai dari ketinggian, melihat dari atas bagaimana pasukan Singasari itu masuk satu per satu ke dalam perangkapnya.
"Mana dia?! Barusan masih terlihat di sini!" Sulung, prajurit paling depan, berhenti mendadak saat jalur itu menyempit di antara dua dinding granit.
Mereka kini berada tepat di jalur yang telah dipetakan Sena. Tanpa perlindungan formasi melingkar, mereka kini berbaris memanjang di lorong yang sempit.
"Terus cari! Dia pasti bersembunyi di sekitar sini!" teriak Jeliteng dari belakang.
Sulung melangkah maju dengan terburu-buru. Ia tidak melihat seutas tali rotan setipis lidi yang melintang setinggi mata kaki, tersamarkan oleh lumut basah. Kakinya secara tak sengaja memutus tali itu.
Klik!
Bunyi pasak pemicu yang terlepas bergema di lorong sempit itu.
Wush—!
Dari celah dinding granit di sisi kanan, Take-otoshi—pegas bambu kuning yang telah ditarik maksimal melesat. Empat batang bambu runcing yang ujungnya telah dikeraskan dengan api menghantam barisan samping.
Sulung tidak sempat berteriak; bambu itu menembus dadanya dan memakukannya ke pohon meranti di seberangnya. Darah muncrat seketika, membasahi prajurit di belakangnya.
Bukan hanya Sulung, tiga prajurit yang berada didekatnya tak luput dari bambu yang melesat bagai kilat di kegelapan, menyeret tubuh mereka beberapa meter dan tersungkur ke tanah yang basah dan lembab.
Tatapan Sena datar dan dingin dalam kegelapan, ‘Empat’ bisiknya dalam hati.
"Jebakan! Mundur!" teriak Jeliteng.
Barisan mereka pecah dalam satu tarikan napas, semuanya mundur menjaga jarak aman dari jebakan. Namun, kepanikan yang muncul setelahnya jauh lebih mematikan.
Prajurit di baris tengah mundur tergesa-gesa, menginjak hamparan tanah yang tampak padat namun sebenarnya adalah penutup tipis dari, Ranjau Lubang dengan bambu runcing yang di pasang miring.
Krak—!
Suara anyaman ranting yang patah disusul oleh pekikan memilukan. Tiga prajurit terperosok ke dalam lubang yang dipenuhi pasak bambu runcing. Pasak-pasak itu menembus paha dan perut mereka saat mereka jatuh karena berat tubuh mereka sendiri.
Tiga orang jadi korban lagi, satu orang tewas karena tusukan di perut dan dua orang lainnya hanya bisa menjerit kesakitan, tusukan pasak bambu di paha mereka, membuat mereka tak bisa bergerak kemana-mana.
‘Tujuh’ hitung Sena lagi dalam hati.
Di tengah jeritan dan kekacauan itu, para prajurit seakan tak di beri waktu untuk berpikir.
Sena tak mau kehilangan momentum kepanikan mereka, ia melompat turun dari dahan nyaris tak bersuara, gerakannya bagaikan hantu.
Melalui jalur tikus bawah. Sena muncul di belakang prajurit terakhir yang sedang kebingungan mencari arah. Dengan satu gerakan memutar yang dingin, ia menghujamkan Sembilu Maut ke tengkuk prajurit tersebut, tepat di titik pertemuan saraf tulang belakang dengan otak.
Jleb—!
Dengan sekali sentakan, sembilu itu menusuk semakin dalam hingga tembus ke krongkongan. Senyap, tak ada teriakan.
‘Delapan’
Prajurit itu ambruk seketika, lumpuh total bahkan sebelum ia bisa merasakan sakit.
Tak ingin kehilangan kesempatan di dekatnya, Sena tidak berhenti. Ia merayap di antara semak menuju ke prajurit berikutnya yang berdiri mematung dengan tangan gemetaran dan Sena tiba-tiba muncul dari arah bawahnya.
Jleb—!
Sembilu Mautnya sudah merobek jakun prajurit itu. Sena mendorong kepala Prajurit malang itu dan mencabut kembali sembilu maut nya yang penuh darah.
‘Sembilan’
Sena bagikan malaikat maut di barisan belakang pasukan Singasari.
Jeliteng, yang berada di barisan tengah dan selamat dari jebakan pegas bambu, berbalik dan hanya melihat kegelapan yang menelan anak buahnya satu per satu dalam waktu sekejap.
Ia melihat siluet ramping Sena berdiri di antara mayat prajuritnya, wajah remaja itu kini tidak lagi menunjukkan ketakutan, melainkan kedinginan seorang pembunuh yang telah melampaui usia raganya.
"Kau..." Jeliteng menggeram, pedang besar di tangannya gemetar. "Si..siapa kau sebenarnya."
Sena tak menjawab, dia melangkah kesamping dan tubuhnya perlahan menghilang di telan batang pohon yang besar.
Srak..srak..srak---!
Sena berjalan merunduk menyibakkan dedaunan, sengaja membuat suara gemeresak yang terdengar jelas di kesunyian.
Jeliteng dan kelima prajurit tersisa mengikuti pergerakan dedaunan yang tersibak. Napas mereka memburu, ketakutan sudah merambat naik di punggung mereka.
Sena mencabut pasak yang menahan boneka dari tengkorak monyet dengan rambut ijuk.
Srutt—!
Tiba-tiba di pandangan Jeliteng dan para prajurit, sosok bayangan makhluk dengan rambut acak-acakan bergoyang tak beraturan dengan suara gemeresak yang nyaring.
“HA..HANTUU..” Teriak para prajurit serempak.
Pedang Jeliteng bergoyang hebat, tangannya gemetar, kakinya seolah begitu berat untuk digerakkan.
Kelima prajurit yang tersisa tak mampu mengendalikan tubuh mereka, air seni sudah mengalir di celana, mereka hanya diam mematung dengan wajah pucat pasi.
Jleb–Jleb–Jleb—!
Sena tiba-tiba muncul di tengah ketidakberdayaan mereka, menusukkan tiga sembilu tepat di tenggorokan ketiga prajurit yang ketakutan dengan cepat dan presisi.
Sena melirik dua orang di samping kanannya, satu orang terduduk dan pingsan di tempat, satu orang lagi dengan sekuat tenaga merangkak berbalik dan menggulingkan tubuhnya menuruni bukit.
Jeliteng melihat siluet Sena yang hanya berjarak sepuluh langkah didepannya, “Kau..”.
Lagi-lagi Sena tak menjawab, dia merendahkan tubuhnya dengan sangat perlahan dan menghilang di rapatnya dedauanan dan semak-semak.
Jeliteng tak berani melangkah maju, mentalnya sudah jatuh. Perlahan kakinya melangkah mundur dengan mata ketakutan mengawasi medan di depannya dengan pedang terhunus.
Hingga tiba-tiba, ia merasakan punggungnya seperti ada yang menahan, Jeliteng panik dan menebaskan pedangnya dengan membabibuta. “HAAHHH!” Teriaknya histeris.
Crak..crak..crak—!
“HH..HH..HH..” Dengan napas memburu tak beraturan, Jeliteng semakin terkejut, ternyata hanya batang pohon meranti yang ia tebas berkali-kali tadi.
Dia sudah benar-benar kalah, sebagai prajurit, mentalnya sudah runtuh oleh rasa takutnya sendiri.
JLEB—!
Mata Jeliteng membelalak, Sembilu Maut sudah menusuk tenggorokannya. Dunia seakan oleng, bersamaan dengan pandangannya yang mulai mengabur, terlihat bayangan samar seseorang yang berdiri tanpa ekspresi seolah hanya memandangnya bagai serangga yang tak penting.
Sena menyisipkan bilah bambu yang berlumuran darah ke kain yang mengikat pinggangnya.
Ia mengatur napas, tangannya sedikit gemetar, ini adalah respon alami tubuh Sena karena dendamnya terbalaskan.
Hattori melihat tangannya bergetar, “Tenanglah Sena.” Bisiknya, “Pembunuh ayahmu sudah tewas, sekarang hanya tinggal Purwa.” Perlahan tubuhnya kembali tenang, stabil dan terkontrol kembali.
Ia kemudian mengambil sulur rotan dan mengikat prajurit yang pingsan, membekap mulutnya dengan merobek kain dari celana prajurit itu, lalu berjalan tenang ke tempat persembunyiannya.
Tampak Balun sudah terengah-engah, ia sangat ketakutan melihat Sena yang kini jauh berbeda dengan Sena yang pernah ia kenal, yang dulu sering ia ejek dengan sebutan cungkring.
“Sena.. Maafkan aku, aku.. aku.. “ Ucap Balun terbata-bata. Ia sudah pasrah dan bersiap mati di tangan teman masa kecilnya dulu.
Ada rasa sesal dan takut akan kematian dari ekspresinya. Balun memejamkan mata rapat-rapat menunggu ajalnya.
Tapi tiba-tiba, ikatannya terasa longgar, Balun perlahan membuka mata dan Sena sudah berjongkok dihadapannya.
“Se.. “ Sebelum Balun selesai mengucapkan kalimatnya, Sena sudah memotong perkataannya.
“Pergi dari sini secepat yang kau bisa, sebelum kesabaran ku habis.”
Balun cepat-cepat mengangguk dan segera berlari, namun ia tiba-tiba berhenti setelah beberapa langkah.
Balun berbalik dan menatap Sena, “Terimakasih, Sena.” Balun segera berlari, tak berani lagi menengok ke belakang.
Di iringi teriakan dua Prajurit yang masih merintih kesakitan di lubang ranjau. Sena berdiri di tepi tebing, melihat tenda Purwa dari ketinggian.
"Datanglah Purwa, kita selesaikan semuanya di Puncak Harau.”