Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Kanza berdiri perlahan, lalu menunjuk jari telunjuknya yang baru saja pensiun dari misi rahasia di lubang hidung itu tepat ke arah wajah Hanan.
"Ini adalah bukti pengorbanan Kanza demi keharmonisan rumah tangga kita, Mas," katanya dengan mimik wajah bangga yang tak tertandingi, seolah baru saja menyelamatkan dunia dari kiamat kecil.
Hanan memutar tubuhnya kembali ke arah kompor, berpura-pura sangat fokus mengaduk sayur asem yang sebenarnya sudah matang sejak lima menit lalu.
Padahal, bahunya naik-turun menahan tawa yang sudah di ujung tanduk. Menghadapi Kanza memang butuh stamina mental yang kuat.
"Masuk kamar. Cuci tangan pakai sabun sampai bersih. Sekarang, Kanza Arumi," ucap Hanan lembut namun tegas, nada yang biasa ia gunakan untuk menenangkan mahasiswa yang panik saat sidang skripsi.
Kanza manyun, bibirnya maju beberapa sentimeter, lalu ia melenggang pergi dengan gaya sombong yang dibuat-buat.
"Tapi Kanza bawa sisa-sisa cinta ini dulu ya!" teriaknya sebelum menghilang ke balik pintu kamar, meninggalkan jejak tawa kecil di udara.
Hanan akhirnya tertawa pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Hidupnya yang dulu sunyi, teratur, dan penuh rumus, kini berubah menjadi roller coaster absurd yang tidak bisa ditebak.
Tapi entah kenapa... ia jauh lebih bahagia sekarang.
Malam turun pelan-pelan, membungkus kediaman mereka dengan kedamaian.
Di atas meja, dua piring nasi sudah tersaji rapi, ditemani ikan goreng yang garing, semangkuk sayur asem yang segar, sambal terasi, dan kerupuk bintang utama malam itu.
Kanza keluar dari kamar dengan rambut dicepol asal-asalan yang terlihat seperti sarang burung, mengenakan kaus kebesaran bertuliskan: “AKU MAKAN, MAKA AKU ADA.”
"Kanza, sini duduk. Makan dulu selagi hangat," ajak Hanan.
Kanza menjatuhkan diri ke kursi dengan suara gedubrak kecil.
"Aku capek, Mas. Dunia ini terlalu berat untuk dihadapi dengan perut kosong. Tapi untungnya, semesta mengirimkan makanan ini," katanya dramatis, meraih sendok seolah sedang memegang tongkat kerajaan.
Hanan menyendokkan sayur ke piring Kanza.
"Tadi katanya ingin makan masakan yang ada bumbu ‘cinta suami’ di dalamnya."
"Iya. Tapi jangan terlalu banyak sayur hijauannya. Aku kan istri Mas, bukan kambing kurban," sahut Kanza sambil memisahkan beberapa helai daun dari kuahnya.
Hanan tertawa pelan.
"Itu sehat untuk nutrisimu. Jangan sampai baru nikah sudah drop hanya karena pola makan yang berantakan."
Tiba-tiba, Kanza berhenti mengunyah. Tatapannya jatuh pada Hanan yang masih tenang menikmati makanannya.
"Mas..." katanya pelan, suaranya mendadak serius.
"Hmm?"
"Kalau Kanza... ternyata bukan orang yang baik seperti yang Mas bayangkan, Mas bakal nyesel nggak sudah nikahin Kanza?"
Hanan mengangkat wajahnya, sedikit terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba itu.
Namun, sorot matanya tetap teduh. Ia meletakkan alat makannya, lalu menatap Kanza dalam-dalam.
"Kanza Arumi... wanita yang saya nikahi itu bukan seorang malaikat yang sempurna. Tapi dia adalah wanita yang membuat saya tidak bisa membayangkan bagaimana caranya bernapas jika harus hidup dengan orang lain."
Kanza terdiam. Tenggorokannya mendadak tercekat.
"Jadi... kalau suatu hari Kanza nakal banget atau nyebelin maksimal, Mas tetap mau sama Kanza?"
Hanan tersenyum tulus. Ia menjulurkan tangannya melintasi meja, lalu mengelus kepala istrinya dengan sangat lembut.
"Kalau kamu nakal, Mas yang akan menasihati. Kalau kamu menyebalkan, Mas yang akan belajar lebih sabar. Tapi kalau kamu berniat pergi... Mas yang akan mencari sampai ketemu. Karena bagi Mas, kamu bukan cuma sekadar istri. Kamu adalah rumah, tempat Mas pulang."
Kanza menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah.
"Tapi rumahnya sering berantakan, Mas, dan sering terdengar suara musik dangdut kencang-kencang."
Hanan tertawa lepas.
"Tidak apa-apa. Mas lebih suka rumah yang berisik karena kamu, daripada istana megah yang sunyi tanpa suara kamu. Lagipula, siapa lagi yang bakal ngingetin Mas soal ancaman poligami sama Zahira cuma gara-gara urusan ngupil kalau bukan kamu?"
Kanza mendongak, akhirnya ikut tertawa sambil menyeka sudut matanya.
"Nah, itu dia! Mas jangan macam-macam ya. Kanza pantau terus lewat radar istri sah!"
Hanan menggelengkan kepala, kembali menyodorkan kerupuk ke arah Kanza.
"Iya, Komandan. Sekarang habiskan makannya, mas harus cuci piringnya."
"Yah, Mas! Merusak suasana romantis saja!" keluh Kanza, namun tangannya tetap bergerak lincah menyambar kerupuk terakhir.
Malam itu, di bawah pendar lampu ruang makan yang hangat, Hanan menyadari bahwa rumus paling akurat dalam hidupnya bukanlah matematika, melainkan kehadiran Kanza Arumi istri ajaibnya yang selalu punya cara unik untuk membuat dunianya terasa lebih utuh.
Keheningan menyelimuti ruang makan itu setelah tawa Hanan mereda, meninggalkan rasa hangat yang lebih nyaman daripada uap sayur asem di atas meja.
Kanza masih menunduk, memainkan butiran nasi terakhir di piringnya dengan ujung sendok, berusaha keras menetralkan detak jantungnya yang mendadak berantakan karena kata-kata puitis suaminya.
Hanan Arkan, pria yang biasanya hanya berkutat dengan teori dan logika kaku, baru saja melepaskan sebuah kalimat yang sanggup meruntuhkan tembok pertahanan Kanza yang paling tebal sekalipun.
"Sudah, jangan melamun," ujar Hanan sambil bangkit berdiri, tangannya masih menyempatkan diri mengacak pelan rambut Kanza sebelum ia membereskan piring-piring kotor.
"Nanti nasi kamu malah jadi dingin karena diajak mikir keras."
Kanza mendongak, matanya yang tadi berkaca-kaca kini kembali memancarkan binar jahil yang menjadi ciri khasnya.
"Mas, tadi itu beneran?" tanya Kanza sambil mengikuti langkah Hanan ke tempat cuci piring.
"Yang mana?"
"Yang soal Mas bakal nyari Kanza sampai ketemu kalau Kanza pergi?" Kanza menyandarkan punggungnya ke kabinet dapur, menatap suaminya yang mulai menyalakan keran air.
"Mas nggak takut encok? Kanza kan hobi lari ke tempat yang nggak terduga. Bisa saja Kanza sembunyi di konser dangdut koplo atau di pasar loak."
Hanan menghentikan gerakan tangannya sebentar, melirik Kanza dari balik kacamata dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
"Maka Mas akan beli tiket konser paling depan dan keliling pasar loak sampai kaki Mas pegal," jawab Hanan tenang.
"Asalkan tujuannya adalah membawa rumah Mas kembali, encok bukan masalah besar."
Kanza tertegun sejenak, lalu mendengus berusaha menahan tawa harunya.
"Duh, bapak dosen satu ini kalau lagi mode romantis emang bikin kadar gula darah Kanza naik drastis. Bahaya buat kesehatan!"
Hanan tertawa kecil, suara rendahnya menyatu dengan bunyi gemericik air. Ia menyodorkan piring yang sudah bersih ke rak pengering.
"Makanya, jangan pernah berpikir untuk pergi. Biar Mas tidak perlu jadi pelari maraton mendadak," goda Hanan.
Kanza tersenyum lebar, ia kemudian mendekat dan memeluk lengan Hanan yang masih sedikit basah, tidak peduli kausnya akan ikut terciprat air.
Baginya, rasa aman yang ditawarkan Hanan adalah sesuatu yang tidak akan ia temukan di buku teks manapun atau di lubang hidung manapun yang pernah ia "eksplorasi".
"Tenang aja, Mas. Mana mungkin Kanza pergi dari rumah yang koki-nya sekeren Mas Hanan," celetuk Kanza sambil menyeringai.
"Lagipula, Zahira pasti nggak bakalan kuat dengerin playlist lagu galau Kanza tiap malem. Cuma Mas doang yang lulus ujian kesabaran tingkat dewa."
Hanan hanya menggeleng-gelengkan kepala, menyadari bahwa seberapa dalam pun ia mencoba berbicara dari hati ke hati, Kanza Arumi akan selalu punya cara untuk mengembalikannya ke bumi dengan segala ke-absurd-annya.
Dan itulah tepatnya mengapa Hanan tidak pernah merasa sendirian.
Malam itu, di rumah yang mungkin terkadang berantakan dan bising oleh musik dangdut, Hanan tahu satu hal pasti: ia telah menemukan tempat terbaik untuk menetap.
Di sana, di antara tawa dan logika aneh istrinya, hidupnya terasa jauh lebih sempurna daripada rumus manapun yang pernah ia pecahkan.
~~~NEXT~~~