NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Mutha

Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.

Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 8

Gelak tawa masih terdengar di ruang keluarga. Raymond baru saja duduk di sofa ketika seorang pelayan datang membawakan secangkir kopi favoritnya.

"Terima kasih."

"Sama-sama Tuan Muda." Belum sempat Raymond menyentuh cangkirnya, Diana meletakkan sebuah album foto tebal di atas meja.

Brak!

Raymond mengangkat sebelah alis.

"Itu apa?"

"Album."

"Aku tahu itu album."

"Bagus." Raymond mengembuskan napas.

"Terus?" Diana membuka halaman pertama dengan semangat.

"Coba lihat." Raymond melirik sekilas.

"Itu foto waktu aku TK."

"Iya."

"Lanjut." Halaman berikutnya dibuka.

"Itu waktu SD."

"Iya."

"Lanjut." Halaman berikutnya lagi.

"Itu waktu SMP."

"Iya." Raymond mulai curiga.

"Ma..."

"Hm?"

"Mama lagi ngapain?" Diana tersenyum manis.

"Mau cari foto yang paling ganteng."

Richard yang duduk di sebelah Raina langsung nyengir.

"Terus difoto, dikirim ke kak Angela?"

Tiba-tiba, sebuah bantal kembali melayang tepat mengenai kepala Richard.

"Aduh!"

"Mulutmu itu lho!" Richard mengusap kepalanya sambil nyengir.

"Refleks, Mah." Edward tertawa pelan sambil menyeruput teh.

"Menurutku idenya lumayan."

Diana langsung menoleh cepat.

"Iya, kan?" Raymond memijat pelipis.

"Dad..."

"Apa?"

"Jangan ikut-ikutan." Kakek Surya terkekeh melihat ekspresi cucunya.

"Raymond."

"Iya, Kek?"

"Kamu tenang aja." Raymond menatap kakeknya penuh harap.

"Kakek pasti di pihak aku, kan?"

"Tentu." Raymond mengembuskan napas lega. Namun kalimat berikutnya langsung membuatnya kembali pasrah.

"Nggak usah kirim foto." Semua orang mengangguk.

"Nah, itu benar," gumam Raymond. Kakek melanjutkan dengan santai. "Langsung ajak makan malam di rumah."

"KEK!" Raymond menatap horor sang kakek.

Seruan Raymond menggema di seluruh ruangan. Richard sampai terguling di sofa karena tertawa.

"Hahaha! Kakek emang paling bahaya!"

Raina menepuk-nepuk meja.

"Aku dukung ide Kakek." Raymond menatap satu per satu anggota keluarganya.

"Kalian udah selesai?"

Diana menggeleng polos.

"Belum."

"Lagi?"

"Mama cuma penasaran."

"Apa lagi?

"Angela manggil kamu apa?"

Raymond terdiam, Richard langsung menyela.

"Jangan-jangan manggilnya 'Sayang'." Kali ini bukan bantal. Sebuah majalah digulung melayang tepat mengenai bahu Richard.

"Aduh!" Edward menahan tawa.

"Makanya jangan ngarang." Diana kembali menatap Raymond.

"Jadi?" Raymond menjawab datar.

"Ray."

"Oh..."Diana tampak sedikit kecewa.

"Cuma Ray?"

"Iya." Richard mengangkat tangan.

"Berarti masih aman."

"Kenapa aman?" tanya Raina.

"Kalau udah manggil 'Raymondku' baru bahaya." Satu ruangan kembali meledak oleh gelak tawa. Raymond sampai menutup wajahnya dengan telapak tangan.

"Ya Tuhan..." Edward yang melihat putra sulungnya begitu pasrah akhirnya tersenyum.

"Udah, udah."

"Kasihan Raymond." Diana mengangguk.

"Iya juga." Raymond baru saja bernapas lega.

"Kita ganti topik."

"Syukurlah," gumam Raymond. Diana tersenyum lebar.

"Besok Mama mau ke kampus." Raymond langsung mengangkat kepala.

"Nggak boleh." Jawabannya begitu cepat hingga semua orang terdiam. Diana mengedip beberapa kali, berharap Raymond mengiyakan.

"Kenapa?" Raymond meletakkan cangkir kopinya pelan.

"Angela nggak suka jadi pusat perhatian, nanti dia nggak nyaman." Nada bicaranya tetap tenang namun, terdengar begitu serius.

Ruangan yang tadi penuh tawa mendadak hening. Edward memperhatikan wajah putra sulungnya. Lalu tanpa sadar tersenyum tipis.

Ia akhirnya mengerti. Yang dijaga Raymond bukan sekadar hubungan yang baru tumbuh. Melainkan perasaan Angela. Edward menepuk pelan bahu istrinya.

"Mah."

"Hm?"

"Kita turutin Raymond." Diana menatap putranya beberapa detik. Lalu mengangguk pelan.

"Baik."

"Mama janji."

"Mama nggak akan datang ke kampus."

Raymond membalas dengan anggukan kecil.

"Terima kasih."

Melihat putra sulungnya mengucapkan terima kasih untuk kedua kalinya hari itu, Richard kembali menyenggol Raina.

"Ra."

"Hm?"

"Kayaknya, Kak Raymond udah masuk stadium akhir ." Richard menatap Raymond sambil tersenyum jahil. Raina mengangguk mantap.

"Iya."

"Diagnosisnya?"

"Kena virus Angela."

"Hahaha!"

Raymond menggeleng pelan sambil membawa tabletnya.

"Kalau begini terus ... Mending aku lembur di kantor." Ia melirik satu per satu anggota keluarganya yang masih sibuk tertawa.

"Hahaha!"

Bukannya merasa bersalah, Richard malah menepuk-nepuk sofa sambil tertawa sampai hampir jatuh.

"Nah, tuh!"

"Kak Raymond ngambek!"

"Richard." Suara Raymond terdengar datar.

"Iya, Kak?" Richard masih berusaha menahan tawanya.

"Besok pagi, Jam enam." Richard mengangguk polos.

"Iya."

"Lari sepuluh putaran." Seketika senyum Richard langsung lenyap.

"Hah, kenapa gue lagi?" Raymond memasukkan kedua tangan ke saku celana.

"Karena kamu paling berisik." Richard spontan menunjuk Raina. "Dia juga ketawa!"

Raina buru-buru menggeleng sambil mengangkat kedua tangan.

"Aku saksi, bukan pelaku."

"Pengkhianat!" pekik Richard dramatis.

Satu ruangan kembali dipenuhi gelak tawa.

Edward sampai harus melepas kacamatanya karena matanya berair akibat terlalu banyak tertawa.

"Kalian ini...rumah jadi kayak pasar malam."

Beliau menggeleng sambil tersenyum.

Diana berjalan menghampiri Raymond, lalu merapikan kerah kemeja putra sulungnya yang sedikit miring.

Tangannya bergerak pelan, penuh kasih sayang.

"Capek?" Raymond mengangguk tipis.

"Sedikit."Diana menatap wajah putranya beberapa saat.

"Kalau capek, jangan dipendem sendiri." Ia menepuk pelan dada Raymond. Raymond hanya mengangguk.

"Iya, Ma." Diana tersenyum lembut.

"Terus..." Raymond mengembuskan napas pelan.

"Ma..." Diana terkekeh.

"Iya, iya. Mama nggak nanya Angela lagi."

Raymond menatap ibunya dengan tatapan penuh curiga.

"Bener?"

"Bener."

"Janji?"

"Janji."

Baru saja Raymond hendak melangkah menuju tangga, Diana kembali bersuara.

"Eh, tapi terakhir deh." Raymond langsung memejamkan mata. Richard yang melihat ekspresi kakaknya spontan tertawa.

"Hahaha!"

"Udah ketebak." Raymond menoleh perlahan.

"Apa lagi, Ma?" Diana tersenyum selebar mungkin.

"Angela suka makanan pedas nggak?"

Raymond benar-benar kehilangan kata-kata. Beberapa detik ia hanya menatap ibunya tanpa berkedip.

"Aku nggak tahu." Jawabannya jujur.

"Lho?" Diana tampak heran. "Kamu belum pernah makan bareng?"

"Udah."

"Terus nggak tahu?" Raymond menggeleng.

"Waktu itu...aku lebih sibuk lihat dia makan."

Kalimat itu meluncur begitu saja. Begitu Raymond menyadari apa yang baru saja diucapkannya. Ia langsung membeku.

Ruangan pun ikut membeku. Richard perlahan menoleh ke arah Raina.

"Ra..."

"Hm?"

"Gue nggak salah dengar, kan?" Raina menggeleng pelan.

"Nggak."

"Kak Raymond...ngaku sendiri."

Diana menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Mas..."

Edward yang sedari tadi berusaha terlihat tenang akhirnya tak kuasa menahan tawa.

Beliau menepuk bahu Raymond pelan.

"Nak."

"Hm?"

"Kayaknya..." Edward tersenyum geli.

"...kamu memang sudah nggak bisa bohong lagi." Raymond mengusap wajahnya pelan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ia berharap bisa mengulang waktu lima detik yang lalu. Richard langsung mengeluarkan ponselnya.

"Wah, ini harus dicatat." Raymond melirik tajam.

"Mau ngapain?"

"Bikin pengingat." Richard pura-pura mengetik.

"'Hari bersejarah. Kak Raymond resmi tersenyum dan mulai salah tingkah gara-gara seorang cewek.'" Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Raymond melangkah mendekat. Richard langsung melompat berdiri.

"Eh, eh, damai!"

"Damai!"

Ia buru-buru bersembunyi di belakang Edward.

"Yah, selamatin!" Edward tertawa sambil menggeleng.

"Makanya jangan usil."

"Kan lucu."

"Lucu buat kamu."

"Kalau buat Kak Raymond?" Richard mengintip dari balik bahu ayahnya."nggak lucu ya, Kak?" Raymond menghela napas panjang.

Bukannya kesal, Ia justru menggeleng sambil tersenyum tipis.

"Dasar." Melihat senyum kecil itu, seluruh keluarga kembali saling berpandangan. Tidak ada yang menggodanya lagi. Mereka hanya tersenyum diam-diam. Karena mereka sadar

Senyum yang dulu terasa begitu langka

Kini mulai sering muncul. Dan semua itu, terjadi sejak Angela hadir dalam kehidupan Raymond.

Di sudut ruangan, Kakek Surya mengelus jenggotnya sambil tersenyum penuh makna.

"Sepertinya...Rumah ini tidak lama lagi akan semakin ramai," batinnya.

****

Pagi itu, ponsel Raymond kembali bergetar. Ia menghentikan langkahnya di tengah jogging.

Richard yang berlari beberapa meter di depan menoleh heran.

"Kak, kok berhenti?" Raymond mengangkat satu telunjuk.

"Tunggu." Richard mendengus pelan.

"Cih... pasti penting." Raymond membuka layar ponselnya. Sebuah pesan dari Angela muncul.

Angela: Ray, jangan lupa sarapan. Kemarin lo cuma minum kopi doang.

Hanya satu kalimat sederhana, namun tanpa sadar, sudut bibir Raymond terangkat. Richard yang diam-diam mengintip dari belakang langsung membelalakkan mata.

"Waduh..."

Raymond buru-buru mengunci layar ponselnya.

"Ngapain ngintip?" Richard nyengir lebar. mata Raymond menyipit menyelidik.

"Aku nggak ngintip, cuma kebetulan mataku sehat." Raymond menatap adiknya datar.

"Lari."

"Iya, iya."

 

Tiga puluh menit kemudian...

Raymond selesai mandi dan turun ke lantai dasar mengenakan kaus polo hitam yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan celana jogger abu-abu. Rambutnya yang masih sedikit basah tampak berantakan alami, membuat penampilannya terlihat jauh lebih santai dan jauh dari kesan dingin seorang direktur muda saat berada di kantor.

Begitu memasuki ruang makan, aroma sarapan hangat langsung menyambutnya.

"Ray! Sarapan dulu!" panggil Diana sambil melambaikan tangan.

Raymond mengangguk kecil.

"Iya, Ma."

Raymond mengangguk.

"Iya, Ma."

Ia baru saja menarik kursi.

Namun pandangannya berhenti pada beberapa kotak bekal kosong yang tersusun rapi di atas meja dapur.

Raymond mengernyit.

"Ma."

"Iya?"

"Kotak bekal itu buat siapa?" Diana tersenyum.

"Buat kamu." Raymond mengangkat sebelah alis.

"Aku?"

"Iya."

"Aku biasanya makan di kantor."

"Mulai hari ini beda."

"Lho?" Diana berjalan ke dapur sambil membuka lemari.

"Mama kepikiran, lebih sehat kalau bawa bekal."

Richard yang sedang minum susu langsung batuk.

"Mama."

"Apa?"

"Itu alasan buat Kak Raymond atau buat seseorang di kampus?" Diana pura-pura tidak dengar.

"Hmm..."

"Bekalnya isi ayam saus mentega enak nggak ya?" Raymond langsung memandang ibunya.

"Ma."

"Hm?"

"Aku cuma bawa bekal buat diriku." Diana mengangguk cepat.

"Iya." Richard langsung berbisik ke Raina,

"Percaya nggak?" Raina menggeleng.

"Nggak." Diana sudah sibuk menggoreng telur. Wangi mentega memenuhi dapur.

Sesekali ia mencicipi masakannya, lalu mengangguk puas.

"Nah, ini pas."

Raymond memperhatikan ibunya yang terlihat begitu bersemangat.

"Ma."

"Iya?"

"Nggak usah repot." Diana menoleh sambil tersenyum.

"Repot apanya? Mama senang masak buat anak." Raymond terdiam. Sudah lama sekali ia tidak sempat menikmati masakan rumah.

Biasanya ia berangkat terlalu pagi dan pulang terlalu malam. Diana membuka kotak bekal berwarna hitam elegan.

"Ray."

"Hm?"

"Menurutmu..."

Ia menunjuk sekotak stroberi yang baru dicuci.

"...buahnya cukup?" Raymond mengangguk.

"Cukup." Richard kembali nyeletuk.

"Mah."

"Apa?" "Jangan lupa bentuk hati."

PLAK!

Sendok kayu langsung mendarat pelan di kepala Richard.

"Aduh!"

"Mulutmu!" Raina tertawa sampai memegangi meja. Edward yang baru masuk ke ruang makan pun ikut tersenyum geli.

"Ribut lagi?" Richard langsung mengadu.

"Yah."

"Hm?"

"Mama mukul aku." Edward melirik sendok kayu di tangan Diana."Itu namanya disentil" Edward sengaja menggantung ucapannya menit kemudian dia pun berkata, "Bukan dipukul."

Richard langsung memasang wajah sedih.

"Nggak ada yang bela aku." Kakek Surya yang baru datang terkekeh pelan.

"Kakek bela." Richard langsung berbinar.

"Bener?"

"Iya." Beliau menunjuk Raymond.

"Bekalnya kurang satu." Semua menoleh.

"Kopi."

"Hahaha!" Ruangan kembali dipenuhi gelak tawa. Raymond menggeleng pasrah. Di tengah tawa itu, ia diam-diam mengambil celemek yang tadi digantung ibunya.

Diana langsung membelalak.

"Lho?"

"Ray..."

"Kamu mau apa?" Raymond mengenakan celemek itu dengan tenang.

"Bantu." Seketika dapur mendadak sunyi.

Richard sampai menjatuhkan sendoknya.

"Kak? bisa masak?" tanyanya ragu.

Raymond membuka kulkas, mengambil daun selada dan tomat.

"Sedikit." Diana tersenyum bangga.

"Nah, gitu dong." Raymond mulai menyusun isi bekalnya sendiri dengan rapi.

Nasi, Ayam saus mentega, Telur dadar, Sayuran, Buah. Tangannya bergerak teliti, hampir seperti sedang menyusun dokumen penting. Richard menyenggol pelan lengan Raina.

"Ra."

"Hm?"

"Menurutmu..."

Richard menyeringai jahil.

"...itu bekal buat Kak Raymond...atau nanti ujung-ujungnya dimakan Angela?"

Raina menutup mulutnya, menahan tawa.

"Kalau lihat wajah Kak Raymond sekarang...aku pilih jawaban kedua."

Raymond yang mendengar bisikan itu hanya melirik sekilas. Lalu, tanpa mengangkat kepala, ia berkata datar,

"Kalau kalian masih sempat gosip...berarti latihan larinya kurang." Richard langsung berdiri tegak.

"Oke! Aku salah!" Richard menghela nafas pasrah.

"Hahaha!"

Dapur keluarga Wijaya kembali dipenuhi tawa.

Sementara Raymond menutup kotak bekalnya perlahan.

Entah mengapa, di dalam benaknya muncul satu pikiran sederhana.

"Kira-kira... Angela sudah sarapan belum?" batinnya.

1
Lyvia
suwun thor crazy upnya
Rizky Mutha: sama-sama kak
total 1 replies
Miasell Tea
bagus banget menghibur para pem baca,,,
kalau bisa up nya di tambahin
Miasell Tea
lah kapan nikah nya thor,,,harus ada penjelasan nya ini mah, makin penasaran aj,, 💪💪💪
Rizky Mutha: aduh.. typo
total 1 replies
Lenny Utami
so sweet banget..
Lenny Utami
ihhh bisa ae ahh
Lenny Utami
ahhh masaa...
Lenny Utami
lucu bangett
Lyvia
thor km bikinQ senyum2 sendiri, jadi ingat masa2 sekolah dulu, suwun thor upnya, ttp semangat 💪💪💪😄
yaya
lucuu ih...😍
Lenny Utami
kode sekeras itu masa enggak ngeh sih Anggela
Lenny Utami
gemes🤭
Lenny Utami
Reymond kyk piyik ngintilin Angela Mulu...😌
Lenny Utami
kalo aku kabur. GK pede di liatin GT...😭
Lenny Utami
so sweettt nya.... bikin aku senyum² sendiri
Miasell Tea
di tunggu lanjutan nya
awal yang seru😍
Miasell Tea
manis banget,,,,,
padahal seru kenapa sepi komen nan y
Miasell Tea: oh pantesan,,, sama2 ka jangan lama2 y up ny penasaran di tunggu lanjutan ny
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!