NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Pemuas Badboy Kampus

Terpaksa Menjadi Pemuas Badboy Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Gymora Sasami seorang mahasiswa yang terkenal akan kepintarannya, dia juga putri tunggal keluarga kaya.
Dia selalu dipuji dan dieluh-eluhkan di kampus.
Namun, citra yang sebelumnya sudah dibangun olehnya terancam dihancurkan oleh seorang Badboy kampus yang tidak sengaja memergoki dirinya digudang saat sedang memuaskan dirinya sendiri.
Pagi itu digudang, Draka Nilon mengambil alat yang ada ditangan Gymora, hal itu membuat Gymora yang akan mencapai titik kepuasannya terkejut.
"Aku tidak menyangka, seorang wanita cantik yang terkenal pintar dan jual mahal di kampus melakukan hal yang tidak terpuji seperti ini," sindir Draka.
Gymora langsung menutup tubuh bagian bawahnya.
"Draka aku mohon, jangan sebarkan video itu!" pinta Gymora.
Melihat Draka yang diam, Gymora terus memohon.
"Karena kamu terus memohon dan berlutut, baiklah kita buat kesepakatan. Kalau kamu ingin aku tidak menyebarkan videomu itu. Kamu harus melayaniku!"
Kedua bola mata Gymora membelalak, mengingat dia belum pernah melaku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10.

Draka menatap Gymora yang duduk di sudut ruangan dengan wajah yang masih bergetar dan mata yang sembab, seolah beban berat menekan seluruh tubuhnya.

Perlahan, ia mengumpulkan keberanian, lalu merangkul Gymora dengan pelukan hangat yang lembut, seakan ingin menyerap semua kegelisahan yang menghantui gadis itu.

Getaran pada tubuh Gymora mulai mereda, napasnya yang tadinya tercekat kini mulai teratur.

Dengan jari-jarinya yang penuh kelembutan, Draka mengelus punggung Gymora, berusaha menenangkan setiap ketegangan yang masih tersisa.

"Tidurlah lagi, aku akan di sini, menemanimu," bisiknya penuh keyakinan, suaranya seperti penawar di tengah badai yang melanda hati Gymora.

Mata Gymora perlahan terpejam, wajahnya yang sempat tegang kini berubah damai.

Draka mengangkat tubuhnya dengan penuh kehati-hatian, meletakkan Gymora di atas ranjang yang empuk.

Ia menutup selimut dengan lembut, memastikan gadis itu benar-benar nyaman.

Dalam keheningan kamar itu, Draka menatap sosok Gymora—primadona kampus yang selama ini dikenal cerdas dan kuat, kini terlihat rapuh dan manusiawi.

Rasa kasihan mengalir dalam dada Draka, membuatnya semakin yakin untuk selalu menjadi sandaran di saat Gymora paling membutuhkannya.

Ia menghembuskan napas kasar, lalu tatapannya melirik ke arah jarum jam.

"Kenapa cepat sekali sudah sore?" Desahnya, ia teringat dengan makan malam yang sudah diatur oleh ibunya dengan Sachi.

Saat Draka ingin bangkit berdiri dan pergi meninggalkan kamar.

Air mata tanpa henti mengalir dari sudut mata Gymora meski dirinya telah terlelap.

Wajahnya yang biasanya cerah kini tampak sendu, bibirnya bergetar pelan seperti berusaha menyampaikan sesuatu dalam tidur.

Di balik kelopak matanya yang tertutup rapat, gema suara lirih terdengar, “Ibu, jangan masukkan Gymora lagi ke rumah sakit jiwa. Mora sudah kapok, Mora akan menuruti semua perintah ibu.”

Suara kecil itu bergetar penuh ketakutan, diiringi bisikan lain yang menusuk hati,

“Mereka jahat... para dokter itu mesum, berniat melecehkan Mora...” Rasa cemas dan ketakutan seolah membelenggu jiwa Gymora, membuatnya terperangkap dalam mimpi buruk yang tak kunjung usai.

Draka yang duduk tak jauh dari sana menatap wajah Gymora dengan campuran kekhawatiran dan simpati.

Matanya menyipit, mencoba menangkap arti dari setiap bisikan yang keluar tanpa sadar itu. “Rumah sakit jiwa?” gumamnya pelan, disertai keraguan yang jelas terlihat di wajahnya.

Tatapannya beralih menelusuri garis wajah Gymora yang polos dan penuh kepolosan, lalu ia bergumam lagi, “Nggak mungkin orang sepolos dan secerdas kamu harus mengalami itu.”

Hatinya bergejolak, ada keinginan kuat untuk melindungi dan membebaskan Gymora dari bayang-bayang gelap masa lalunya.

Draka merasakan getirnya ketidakadilan yang menimpa gadis itu.

Dengan langkah hati-hati, ia merapat dan menggenggam tangan Gymora yang dingin, seolah ingin menyampaikan bahwa ia tidak sendiri—bahwa ada seseorang yang percaya dan siap menolongnya.

Setelah memastikan Gymora benar-benar tenang dan sudah tertidur pulas, Draka keluar dari apartemen.

Lalu pergi ke apartemen miliknya yang berada dilantai paling atas.

Setelah membersihkan diri dan berganti baju, Draka keluar dari pintu apartemen miliknya dengan penampilan yang sangat berbeda 360 derajat.

Dengan setelan tuksedo mewah, rambut yang tapi tanpa menggunakan anting.

Sungguh penampilan Draka benar-benar jauh berbeda.

Telepon diponselnya berdering, Draka awalanya malas mengangkatnya.

Namun, melihat nama yang tertera diponselnya adalah Dylan.

Draka langsung mengangkatnya dan bertanya, "Apakah kamu sudah mendapatkan informasinya?"

Dylan dari balik telepon menjawab, "Sudah Tuan Draka. Nona Gymora pernah dimasukkan ke rumah sakit jiwa milik keluarga Sasami. Tapi di catatan medis, tidak menyebutkan jika Nona Gymora memiliki penyakit mental atau sebagainya."

"Tapi, setelah keluar dari rumah sakit jiwa, Nona Gymora malah menderita depresi dan bebarapa penyakit mental lainnya."

Draka terkejut dengan penuturan Dylan. "Apakah ada informasi lebih lanjut, tentang beberapa dokter yang melecehkan Gymora?"

Dylan nampak terdiam, dia sedikit merasa ragu untuk mengatakannya. "Begini Tuan." Ia nampak menghembuskan napas berkali-kali.

Draka dengan suara tidak sabar berkata, "Cepat lanjutkan lah! Setelah ini aku ada urusan."

Dylan sebenarnya sedikit terkejut dengan fakta yang ada. "Beberapa dokter di rumah sakit milik keluarga Sasami ibunya Nona Gymora berani melakukan kekerasan dan pelecehan. Karena disuruh sekaligus dibayar."

Draka yang terus berjalan dan ingin membuka pintu mobilnya tercengang, "Apa?"

Ia sungguh tidak mempercayai apa yang barusan didengar olehnya.

"Apakah kamu yakin? Jika para dokter itu tidak berbohong!!"

Dylan dari balik telepon buru-buru berkata, "Saya yakin Tuan Draka. Bahkan mereka juga memberikan bukti pembayaran yang dikirimkan dari nomor rekening perusahaan milik Sasami Grup."

Sebenarnya bukan hanya Draka saja yang terkejut, bahkan Dylan pun sama.

Nama Gymora selama ini terkenal dihadapan publik, bahkan wajahnya yang sangat cantik sering tampil di beberapa berita dan majalah iklan.

Sebelumnya, Dylan juga ngefans dengan Gymora. Selain cantik, gadis itu juga sangat cerdas.

Tangan Draka yang memegang stir kemudi terkepal erat. "Oke kalau begitu, aku sudahi dulu teleponnya. Terimakasih."

Tanpa menunggu jawaban dari Dylan, Draka menutup telepon.

Pikiran Draka melayang, sungguh membayangkan kehidupan yang selama ini di alami oleh Gymora ia merasa tidak sanggup.

Bahkan perasaannya untk Gymora yang awalnya hanya ketertarikan, berubah menjadi cinta yang begitu dalam.

Sementara itu, mobil mewah Draka meluncur halus memasuki halaman restoran berkelas, pantulan lampu kristal dari dalam gedung menari-nari di kaca mobil hitam mengilap itu.

Sachi duduk di salah satu meja besar yang dihiasi taplak sutra berwarna emas, dadanya berdebar tak menentu sambil menatap sosok Draka yang baru saja melangkah masuk.

Matanya berbinar, penuh kekaguman yang tertanam sejak lama—mereka tumbuh bersama, melewati masa kecil yang penuh cerita, dan cintanya pada Draka telah menjadi bagian dari hidupnya yang tak terpisahkan.

Draka duduk di hadapannya dengan ekspresi dingin yang sulit terbaca.

Tanpa basa-basi, suaranya tajam menyayat suasana, "Bagaimana kalau kita membatalkan perjanjian pertunangan kita?"

Sachi yang tadinya menunduk dengan wajah memerah, terdiam sejenak.

Detik berikutnya, wajahnya mengeras, tangan yang menggenggam buku tangan kecilnya tiba-tiba mencengkeram erat seolah menahan hancurnya hati.

Air mata mulai mengalir pelan di pipinya, membasahi sudut bibir yang bergetar.

Dengan suara serak, ia menatap Draka dalam-dalam, "Kenapa? Apakah kamu sudah mencintai orang lain?" tanyanya, nadanya penuh luka dan harap yang nyaris patah.

Wajahnya memancarkan percampuran antara keputusasaan dan cinta yang terkhianati, menciptakan keheningan yang menusuk di antara mereka.

Draka tanpa menatap Sachi menjawab dengan tenang. "Iya aku sudah jatuh cinta pada orang lain."

Sachi menggeleng, "Siapa? Bukankah sebelumnya belum pernah ada orang yang kamu cintai. Dan kamu berjanji akan membuka hatimu untukku!!"

"Selama ini aku hanya menganggap mu sebagai adik, tapi karena desakan ibuku dan memang belum ada orang yang ada didalam hatiku. Makanya aku berjanji, tapi sekarang aku sudah menemukan orang yang aku cintai."

"Maafkan aku Sachi, aku nggak bisa bertunangan denganmu!!" Setelah mengatakan semua itu, Draka pergi begitu saja.

Sachi langsung menelpon kakeknya. "Kakek Timoty, Draka nggak mau bertunangan denganku!!"

Timoty dari balik telepon berkata dengan nada tenang. "Draka buat cucu kesayangan kakek sedih ya. Kakek akan kirim peringatan pada kedua orang tua Draka."

Sachi pun langsung tersenyum senang.

1
Mia Camelia
lanjut thor 😄
cerita nya seruuu👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!