Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.
Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 26: Janji Satu Bulan yang Tersisa
Cengkeraman Adrian di bahu Gisella terasa begitu nyata, menyalurkan kehangatan obsesif yang berbenturan keras dengan hawa dingin yang menjalar di sekujur tubuh Gisella.
Di bawah bayang-bayang mendung sore yang kian menggelap, ruang tengah kediaman Arthur terasa seperti sangkar emas yang perlahan-lahan mengunci pintunya sendiri.
Dokumen bersampul hitam di atas piano itu bukan lagi sekadar kertas hukum;
itu adalah rantai tak terlihat yang telah disiapkan Adrian dengan ketelitian seorang ilmuwan.
Gisella menatap lurus ke dalam manik mata elang di balik kacamata perak itu.
Napasnya memburu.
Sebagai seorang wanita yang terbiasa memegang kendali atas hidup dan kariernya di duniaku yang dulu, klaim sepihak Adrian—bahwa dia akan mengurungnya di sini selamanya atas nama
"perlindungan"—memicu gejolak perlawanan yang sengit.
"Lepaskan aku, Adrian,"
ucap Gisella. Suaranya tidak lagi meninggi seperti beberapa menit lalu, melainkan meluncur dalam nada yang sangat rendah, dingin, dan penuh penekanan.
Adrian memperhatikan perubahan dinamika emosi di mata Gisella.
Kilat kemarahan wanita itu kini telah digantikan oleh ketegasan kalkulatif yang murni.
Menyadari bahwa dia tidak bisa menjinakkan jiwa ini dengan intimidasi fisik, Adrian perlahan menurunkan kedua tangannya dari bahu Gisella, namun tetap berdiri kokoh, mengunci ruang gerak istrinya.
"Kau menyebut ini tindakan preventif untuk melindungiku,"
lanjut Gisella, melangkah mundur satu langkah hingga punggungnya menyentuh tepian piano hitam besar.
"Tapi mari kita bicara menggunakan bahasamu, Profesor. Bahasa data dan keadilan. Kau membuat dokumen perwalian ini secara sepihak, menggunakan celah medis amnesia untuk melucuti hak hukumku, dan mengancamku dengan rumah sakit jiwa jika aku tidak mematuhi alur skenariomu. Apakah menurutmu, hubungan yang dibangun di atas fondasi pemerasan legal seperti ini bisa menghasilkan 'output' yang stabil?"
Adrian bersedekap, rahangnya mengeras.
"Jika aku tidak melakukannya, hukum Aethelgard akan menyeretmu atas dokumen pencurian riset yang dipegang Julian, Gisella. Aku tidak sedang memerasmu. Aku sedang memotong semua variabel yang bisa menghancurkanmu."
"Kau bisa menghancurkan Julian tanpa harus merantai diriku, Adrian!" potong Gisella tajam.
"Kau adalah pria paling berpengaruh di universitas ini. Kau memiliki pengacara terbaik. Kau bisa dengan mudah memenjarakan bajingan itu atas kasus perjudian dan pemerasan tanpa perlu membuat draf perwalian gila ini. Tapi kau tetap membuatnya. Kenapa? Karena di lubuk hatimu yang paling dalam, kau tidak memercayai aku. Kau takut jika waktu tiga puluh hari itu habis, aku akan benar-benar melangkah keluar dari rumah ini dan kau tidak lagi memiliki kendali atas diriku."
Kata-kata Gisella menghantam ketegangan ego Adrian dengan telak.
Pria itu terdiam, sepasang matanya berkilat menahan badai emosi yang berkecamuk di balik ekspresi kaku wajahnya.
Logika Gisella terlalu tajam untuk dibantah; dia telah menelanjangi motif terdalam dari rasa takut kehilangan yang coba disembunyikan Adrian di balik jubah hukum medis.
Gisella mengambil dokumen tebal itu dari atas piano, memegangnya tepat di depan dada mereka.
"Pernikahan ini awalnya adalah kesepakatan dingin, sebuah kesalahan masa lalu yang ingin kita sudahi,"
kata Gisella, suaranya melunak, membawa getaran kerapuhan yang murni.
"Lalu kita membuat aturan baru. Kita mulai berbagi sup di pagi hari, kita berbagi melodi Chopin di sore hari, dan kau... kau membuatku percaya bahwa ada kehangatan yang nyata di rumah ini. Tapi hari ini, dokumen ini membuktikan bahwa semua itu hanyalah bagian dari sangkar yang sedang kau bangun di sekelilingku."
Gisella menatap mata Adrian dengan pandangan yang sarat akan kekecewaan yang mendalam.
"Aku tidak mau hidup sebagai burung hiasan di dalam rumah megahmu, Adrian. Aku lebih baik menghadapi hukum kota ini sendirian, atau membusuk di penjara karena kesalahan Gisella yang asli, daripada harus hidup bersamamu karena aku dipaksa oleh ancaman rumah sakit jiwa."
Mendengar pernyataan ekstrem dari Gisella, runtuhlah seluruh wibawa kaku sang profesor.
Rasa takut yang sesungguhnya—ketakutan melihat wanita ini benar-benar membencinya dan memilih menjauh—mengambil alih akal sehat Adrian.
Adrian maju, merebut dokumen itu dari tangan Gisella, lalu dengan satu gerakan yang mengejutkan, dia merobek kertas tebal tersebut menjadi dua bagian, lalu merobeknya lagi hingga menjadi serpihan-serpihan kecil yang berhamburan di atas lantai marmer.
"Sret! Sret!"
Gisella terbelalak melihat serpihan kertas yang kini berserakan di bawah kaki mereka.
"Adrian... apa yang kau lakukan?"
"Aku menghancurkan variabel yang membuatmu memandangku sebagai monster,"
ucap Adrian, suaranya terdengar parau dan lelah. Dia menatap Gisella dengan mata yang sepenuhnya terbuka, menanggalkan seluruh otoritas hukum dan ilmiahnya.
"Kau benar. Aku takut. Aku takut jika waktu itu habis, kau akan pergi dan meninggalkanku kembali dalam keheningan rumah ini. Aku bertindak egois karena aku tidak tahu bagaimana cara menahan seseorang dengan benar... aku tidak pernah belajar bagaimana cara dicintai atau mencintai tanpa menggunakan rumus dan kontrol."
Adrian mengambil tangan kanan Gisella, meremas jemarinya yang dingin dengan kelembutan yang gemetar.
"Dokumen itu sudah hancur. Hak hukummu tetap milikmu sepenuhnya. Aku tidak akan pernah mengirimmu ke rumah sakit jiwa atau mengurungmu di sini."
Gisella menatap serpihan kertas di lantai, lalu beralih pada wajah Adrian yang kini tampak begitu rentan di hadapannya.
Rasa bersalah dan haru mendadak bergejolak di dalam dadanya, menekan rasa kemarahan yang sempat membakar jiwanya.
"Lalu... bagaimana dengan sisa waktu kita?" tanya Gisella lirih.
Adrian menarik napas panjang, mencoba menstabilkan gemuruh di dadanya.
Dia menatap lurus ke dalam sepasang mata cokelat jernih istrinya, memberikan sebuah kompromi terakhir yang lahir dari rasa hormat dan asmaranya yang mendalam.
"Satu bulan. Janji satu bulan yang tersisa dalam kontrak awal kita,"
ujar Adrian dengan nada suara yang tenang namun sarat akan keseriusan mutlak.
"Mari kita jalani sisa tiga minggu ini tanpa ada lagi dokumen terselubung, tanpa ancaman, dan tanpa sandiwara. Aku akan membantumu menyelesaikan semua masalah masa lalu dengan Julian secara bersih, sebagai suamimu."
Adrian memajukan wajahnya sedikit, mengunci pandangan Gisella.
"Dan sebagai gantinya... dalam sisa waktu tiga minggu ini, berikan aku kesempatan yang adil untuk membuktikan bahwa rumah ini bukan lagi neraka dingin atau sangkar emas bagimu. Berikan aku kesempatan untuk membuatmu memilih tinggal di sini... bukan karena hukum, bukan karena takdir novel, melainkan karena kau sendiri yang menginginkannya."
Gisella tertegun.
Tawaran Adrian adalah sebuah pertaruhan ego yang sangat adil bagi seorang manajer humas sepertinya.
Pria ini menyerahkan kembali kebebasannya, namun di saat yang sama, dia menantang hati Gisella untuk bertarung dalam sisa waktu dua puluh satu hari ke depan.
Melihat ketulusan yang teramat masif dan pengorbanan ego dari sang karakter utama, Gisella mengembuskan napas panjang.
Ketegangan di bahunya merosot sepenuhnya. Seulas senyuman tipis, yang paling tulus yang pernah dia miliki di dunia ini, terukir di sudut bibirnya.
Gisella membalas remasan tangan Adrian, mengunci kesepakatan baru di antara mereka.
"Baiklah, Profesor. Janji satu bulan yang tersisa. Mari kita lihat... apakah analisismu tentang hatiku kali ini akan terbukti akurat, atau kau harus merelakan aku berjalan keluar dari pintu itu saat waktu kita habis."
Malam itu, di bawah temaram ruang tengah kediaman Arthur, serpihan kertas perjanjian yang hancur menjadi saksi bahwa belenggu paksaan telah lenyap, berganti dengan sebuah kompetisi rasa yang jujur di antara sang profesor dan sang transmigran, di mana waktu yang terus menyusut justru akan menjadi saksi dari takdir baru yang kian tak terbendung.
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...