NovelToon NovelToon
Sembilan Tahun Pelarian

Sembilan Tahun Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Lari Saat Hamil
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.

Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Sore harinya, Regan langsung mengarahkan mobilnya membelah kemacetan.

Tanpa mengetuk lebih dulu, Regan langsung memutar gagang pintu dan masuk.

David yang saat itu sedang fokus menulis laporan pasien di balik meja kerjanya seketika mendongak. Dahinya berkerut heran. "Lho, tumben banget. Angin apa nih yang bawa bos besar ke ruangan gue?"

Regan tidak membalas basa-basi itu. Ia menutup pintu rapat-rapat, lalu merogoh saku jasnya untuk mengeluarkan sebuah plastik klip kecil bersegel.

"Dave, tolong bantu gue," ucap Regan to the point sambil menggeser plastik itu ke atas meja David.

David mengambil plastik tersebut, mengangkatnya setinggi mata, dan mengamatinya dengan saksama.

"Ini apaan? rambut?"

"Iya, rambut."

"Punya siapa?" David mengernyit bingung.

"Punya anak laki-laki," jawab Regan, sepasang matanya menatap lekat sang sahabat. "Gue mau lo tes DNA rambut itu sama sampel gue."

David langsung menegakkan posisi duduknya, nyaris melompat dari kursi. "Hah?! Tes DNA? Kagak salah denger gue?"

"Iya, tes DNA. Budek lo?" cibir Regan ketus.

David kembali menatap kantong plastik di tangannya, lalu beralih menatap wajah Regan dengan saksama, mencari tanda-tanda kalau sahabatnya ini sedang bercanda.

"Bentar, bentar. Seingat gue, lo belum nikah lagi setelah... Eh, kapan lo nikahnya, Malik? Kok tiba-tiba ada sampel anak?"

Regan memutar bola matanya malas, lalu menarik kursi di depan meja David dan mendudukinya. "Gak usah banyak tanya deh."

David malah semakin penasaran. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menyilangkan tangan di dada, menatap Regan dengan pandangan penuh selidik.

"Jangan bilang... lo selama ini main belakang? Ini anak di luar nikah lo, ya?"

"Ngaco lo! Otak lo jangan miring deh," dengus Regan kesal.

"Buruan lo proses aja kenapa sih."

"Ya sabar, elah. Hasilnya mau kapan?"

"Secepatnya. Kalau bisa besok."

David seketika tertawa renyah, menganggap permintaan sahabatnya luar biasa konyol. "Ya gak bisa lah, Malih! Lo pikir ini bikin mi instan apa? Butuh proses ekstraksi, amplifikasi, macam-macam. Paling cepat seminggu, itu juga udah gue prioritasin karena lo pemilik saham di sini."

Regan mengembuskan napas panjang, meraup wajahnya dengan gusar. "Ya udah, seminggu. Janji ya?"

David meletakkan kembali plastik kecil itu dengan hati-hati.

"Tapi, seriously, Gan. Ini anak siapa sebenarnya? Lo gak pernah cerita apa-apa sama gue belakangan ini."

Regan terdiam selama beberapa detik. Ia menatap lurus pada dinding di belakang David sebelum akhirnya menjawab dengan suara rendah.

"Itu anaknya Arin."

Mata David seketika membelalak sempurna. "Arin? Maksud lo, mantan istri lo yang dulu itu?"

Regan mengangguk pelan. "Iya."

"Perempuan yang kabur dan hilang bak ditelan bumi sembilan tahun lalu?" desak David memastikan.

Tatapan Regan mendadak berubah tajam dan dingin. "Dia gak kabur, Dave."

David langsung mengangkat kedua tangannya ke udara, tanda menyerah. "Oke, oke, sori. Salah pilihan kata. Intinya dia yang hilang tanpa kabar sembilan tahun lalu, dan sekarang tiba-tiba muncul lagi sambil bawa anak? Gitu?"

Ruangan itu sejenak dilingkupi keheningan yang kentara. David memutar-mutar pulpen di jarinya, tampak sedang menimbang sesuatu.

"Orang tua lo... udah tahu soal ini?"

Regan menggeleng lemah. "Papa cuma tahu kalau dulu gue pernah nikah. Tapi kalau Mama... sampai detik ini dia belum tahu apa-apa soal masa lalu gue sama Arin."

David menghela napas panjang, menyayangkan keputusan sahabatnya. "Ya lagian salah lo sendiri juga sih, Gan. Dulu lagian main nikah diam-diam. Mana waktu itu kalian berdua masih bocah banget lagi."

Regan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, memejamkan mata erat-erat. Kenangan lama yang pahit itu mendadak berputar kembali di kepalanya.

Dulu, mereka berdua memang terlampau nekat. Arin yang saat itu baru saja lulus SMA dan sebatang kara karena tumbuh di panti asuhan, bertemu dengan Regan yang baru menginjak usia 23 tahun dan sedang dalam masa pemberontakan terhadap keluarganya.

"Iya, gue tahu. Dulu kita berdua emang sama-sama nekat," gumam Regan lirih.

"Masih egois, belum punya kehidupan ekonomi yang mapan atau mental yang matang, tapi udah berani-beraninya mutusin buat nikah karena ngerasa dunia cuma milik berdua."

Regan membuka matanya, tersenyum hambar pada nasibnya sendiri. "Kalau gue bisa mutar balik waktu, Dave... mungkin gue gak akan se egois dulu. Gue bakal lakuin banyak hal dengan cara yang jauh lebih benar."

Melihat gurat penyesalan yang begitu dalam di wajah sahabatnya, David melangkah memutari meja lalu menepuk pelan bahu tegap Regan.

"Gue bakal bantu proses tes DNA ini secepat yang gue bisa, tenang aja," ucap David hangat, mengalihkan mode bercandanya menjadi seorang sahabat sejati.

"Tapi satu pesan gue, Gan... siapin mental lo dari sekarang."

Regan mendongak, menatap David.

"Karena apa pun hasil yang keluar dari laboratorium seminggu lagi," sambung David dengan nada memperingatkan, "hidup lo, Arin, dan anak itu... gak akan pernah sama lagi seperti sebelumnya."

Malam harinya, Regan tidak langsung pulang ke rumah orang tuanya. Mobil hitamnya justru melaju membelah jalanan kota, menuju kompleks apartemen tempat Fahri dan Rania tinggal.

Sesampainya di area parkir basemen, Regan mematikan mesin mobil. Ia merogoh saku jas, mengeluarkan ponselnya, lalu segera menghubungi nomor Fahri. Beberapa kali nada sambung terdengar sebelum akhirnya panggilan itu diangkat.

"Apaan?" sahut Fahri di seberang telepon, suaranya terdengar datar.

"Gue udah di bawah," kata Regan *to the point*.

"Terus? Mau ngapain?"

"Ada hal penting yang mau gue omongin sama lo."

Fahri mengembuskan napas panjang di ujung telepon. "Mau ngapain lagi sih, Gan? Gak tahu waktu banget lo."

"Cuma mau ngobrol bentar. Plis."

Suasana sempat hening beberapa detik sebelum Fahri akhirnya menyerah. "Ya udah. Tunggu di lobi, jangan naik."

*Pip.* Panggilan pun berakhir sepihak.

Di dalam unit apartemennya, Fahri memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana pendeknya. Rania yang kebetulan sedang sibuk melipat pakaian di ruang tengah langsung menoleh.

"Mas, mau ke mana?" tanya Rania heran melihat suaminya bersiap memakai alas kaki.

"Ke lobi bawah sebentar, Sayang. Regan datang tuh," jawab Fahri.

Rania langsung menghela napas panjang, sudah hafal betul tabiat sahabat suaminya itu. "Jangan lama-lama ya, Mas. Udah malam."

"Iya, bentar doang kok," ucap Fahri sambil mengecup kening istrinya sebelum melangkah keluar.

Tak lama kemudian, Fahri turun menggunakan lift menuju area lobi utama. Begitu pintu lift terbuka, pandangannya langsung menangkap sosok Regan. Pria itu sudah duduk menyendiri di salah satu kursi kafe kecil yang berada di sudut lobi, tampak melamun sambil mengetuk-ngetukkan jari ke gelas kopinya.

Fahri melangkah mendekat, menarik kursi tepat di hadapan Regan, lalu mendudukinya.

"Nah, buruan. Mau ngomong apa lo?" tembak Fahri tanpa basa-basi.

Regan tidak langsung menjawab. Ia mengaduk kopinya perlahan, menciptakan riak kecil di permukaan cairan hitam itu, sebelum akhirnya menatap Fahri lurus-lurus.

"Gue... mau bantu Arin."

Fahri mengangkat sebelah alisnya. "Bantu? Bantu gimana maksud lo?"

"Ya bantu kehidupannya," Regan mengembuskan napas panjang, menyandarkan punggungnya dengan lesu. "Bagaimanapun juga, gue ngerasa semua kesulitan yang dia alami sekarang itu karena kesalahan gue di masa lalu. Kalau dulu gue bisa jagain dia dengan bener, mungkin hidup Arin gak bakal seberat ini."

Fahri menatap lekat wajah sahabatnya itu selama beberapa saat. Seulas senyum geli tiba-tiba terbit di bibirnya, lalu ia terkekeh pelan. "Wah, masih punya hati juga ternyata lo, Gan."

Regan langsung mendelik ketus. "Gak usah bercanda deh. Gue lagi serius."

"Iya, iya, sori," Fahri menahan tawanya, lalu memasang wajah menyimak. "Lanjutin. Terus masalahnya di mana?"

Regan meraup wajahnya dengan kasar. "Masalahnya... gue bingung. Gue bener-bener gak tahu cara ngebantu dia sekarang. Gue kasih uang sekeranjang pun, dia pasti bakal nolak mentah-mentah. Tapi kalau gue terlalu dekat buat masuk ke hidupnya lagi, dia malah ketakutan dan bisa aja kabur lagi dari Jakarta. Sialnya, kalau gue cuma diem aja kayak gini, pikiran gue malah gak tenang."

Fahri menyandarkan tubuhnya santai ke sandaran kursi, lalu melipat kedua tangan di dada. "Ya elah, itu mah gampang solusinya."

Regan langsung mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Fahri penuh harap.

"Gimana caranya?"

"Nikahin lagi."

Mata Regan langsung membelalak sempurna mendengar dua kata laknat itu. "Heh! Enteng banget ya mulut lo kalau ngomong!"

Bukannya merasa bersalah, Fahri malah tertawa lepas. "Lah, emang gue salah? Logikanya, lo masih sayang sama dia. Dia juga statusnya belum nikah lagi sama orang lain. Kalau emang di hati lo berdua masih ada rasa, ya tinggal balikan, beres kan?"

Regan menggelengkan kepalanya sambil melempar tawa hambar yang sarat akan keputusasaan. "Lo pikir hidup ini se simple drama Korea, hah? Arin yang sekarang itu... jangankan diajak nikah, liat muka gue aja bawaannya udah pengen mukul."

Fahri kembali terkekeh geli, mendadak teringat cerita Regan yang wajah tampannya sempat ditampar kain pel basah beberapa hari lalu. "Ya wajar lah dia murka. Kalau posisi gue jadi Arin, mungkin bukan cuma kain pel yang mendarat di muka lo. Ember-embernya sekalian bakal gue kepruk ke kepala lo."

Regan mendesah panjang, menatap Fahri dengan tatapan pasrah. "Makasih banyak ya, Fahri. Bukannya ngasih solusi yang bener, lo malah makin nambahin beban pikiran gue."

Melihat Regan yang sudah tampak sangat frustrasi, Fahri akhirnya menyudahi candaannya. Ia menegakkan posisi duduknya, menatap Regan dengan sorot mata seorang sahabat sejati.

"Gan."

"Hm? Apa?"

"Kalau lo memang tulus mau bantu Arin... tolong jangan mulai semuanya dari uang atau materi," ucap Fahri pelan namun sarat penekanan.

"Mulailah dengan memperbaiki kesalahan lo yang dulu. Karena luka di hati seseorang itu gak akan pernah bisa sembuh cuma disumpal pakai harta."

Ucapan menohok dari Fahri seketika membungkam mulut Regan. Pria itu tertegun, kehilangan kata-kata. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap kosong sisa kopi yang mulai mendingin di dalam cangkirnya.

1
Anonim
ANJING PENGEN BUNUH REGAN ... DEMI TUHAN PENGEN BUNUH REGAN
Lina Asm
lanjut kak
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
🤣🤣 didikan mu jelek rin 🤣 pantes anak mu berontak harusnya klo ada yg nginjak lawan. bego bukan diem😒 di bully diem. ya bloon
falea sezi
lagian goblok nya harusnya pergi dr suami bawa uang banyak biar anak mu gk menderita bawa fto nikah di pajang gede biar orang kampung tau lu bersuamii😒 begooo MC nya menye
falea sezi
anak g tau diri😒 baru baca uda kesel anak gk pernah di didik. ya gini
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🌹
Mutaharotin Rotin
mampir thor 🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰😭😭
Mutaharotin Rotin
karya baru ya🥰🥰🥰 mampir ya 🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!