BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!
Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Rumah itu terasa berbeda, bukan karena ukurannya berubah, tetapi karena isinya yang semakin berkurang. Kehangatan yang dulu memenuhi rumah itu hilang begitu saja, berganti dengan kesunyian yang terasa asing dan menyakitkan.
Tidak ada lagi suara ayam dari belakang, tidak ada lagi orang-orang yang keluar masuk membawa senyum atau basa-basi. Yang tersisa hanya perabot lama, dinding kusam, dan suasana yang menekan.
Aditya duduk di kursi kayu dengan punggung membungkuk. Tatapannya kosong mengarah ke meja, tapi pikirannya berantakan ke mana-mana. Di depannya ada ponsel, diam, seolah sudah lelah ikut jatuh bersamanya.
“Ibu enggak tahu lagi harus masak apa hari ini.”
Suara Bu Ratih terdengar dari arah dapur. Pelan, tapi cukup untuk membuat Aditya mengangkat kepala. Wanita itu muncul sambil membawa dompet kecil yang sudah tampak tipis. Ia membukanya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang yang sudah lecek.
“Tinggal segini uang kita, Adit,” kata Bu Ratih lirih. “Kalau dipakai beli beras, maka enggak ada buat beli lauknya.”
Aditya menatap uang itu tanpa bergerak. Rahangnya mengeras. Ia berdiri, mendekat, lalu mengambil uang tersebut tanpa banyak bicara.
“Aku mau keluar cari kerja lagi, Bu,” ucap Aditya bersiap-siap.
“Adit ...!” panggil Bu Ratih cepat, langkahnya ikut mendekat. “Dari kemarin kamu sudah keliling cari pekerjaan, tapi pulang tetap dengan tangan kosong.”
Aditya diam. Ia tahu jawabannya.
“Enggak ada yang nerima, kan?” Suara Bu Ratih melemah, tapi nadanya seperti menekan.
Aditya menghela napas kasar. “Aku tetap harus cari.”
Bu Ratih tertawa kecil, tetapi terdengar pahit. Ia menutup wajahnya sebentar, lalu mengusap mata dengan ujung bajunya.
“Ibu capek, Adit,” Suara Bu Ratih mulai bergetar. “Dulu kita enggak pernah mikirin makan. Sekarang tiap hari Ibu harus putar otak.”
Aditya memalingkan wajah. Ucapan itu seperti mengorek sesuatu yang tidak ingin ia sentuh.
“Semua berubah sejak perempuan itu datang!” lanjut Bu Ratih tiba-tiba, nada suaranya naik. “Lavanya! Enggak tahu diri! Dulu nempel terus, sekarang hilang begitu saja!”
Aditya langsung menatap tajam. “Iya! Dia cuma cari enaknya aja!” Ia mengepalkan tangan. “Waktu aku punya segalanya, dia dekat. Sekarang aku jatuh, dia kabur!”
“Dari awal Ibu sudah enggak suka!” sahut Bu Ratih cepat. “Perempuan seperti itu enggak mungkin tulus!”
Nama Lavanya terus disebut, diulang-ulang, seolah itu cukup untuk menjelaskan semua yang terjadi. Seolah semua kegagalan ini memang salahnya. Padahal ada satu nama yang tidak mereka berani sentuh, Kemuning. Nama itu seperti berdiri diam di sudut ruangan, tidak disebut, tetapi terasa.
Aditya menelan ludah. Wajah Kemuning muncul begitu saja di pikirannya. Senyum tenangnya, cara ia menyambut tanpa banyak tanya. Dan yang lebih penting dia selalu ada untuknya.
Pria itu menggeleng pelan, seperti ingin menghapus bayangan itu. “Sudah, enggak usah bahas dia lagi,” kata Aditya cepat, lebih seperti menghindar.
Bu Ratih mendengus, tetapi tidak melanjutkan pembicaraan mereka. Ia kembali ke dapur dengan langkah berat.
Aditya keluar rumah tanpa menoleh lagi. Langkahnya cepat, seolah penuh tujuan. Ia mendatangi satu tempat ke tempat lain. 8 guidang, kantor kecil, bahkan proyek bangunan.
“Maaf, kami belum butuh orang.”
“Kami cari yang lebih berpengalaman.”
“Lowongan sudah penuh.”
Kalimat itu terus berulang. Wajah orang-orang berbeda, tetapi jawabannya sama. Senyum yang tadi ia pakai perlahan hilang. Bahunya turun. Cara jalannya berubah, tidak secepat tadi.
Ia berhenti di pinggir jalan. Tangannya masuk ke saku, tapi kosong. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain berdiri dan melihat orang-orang lewat.
Ponselnya bergetar.
Aditya langsung membuka, berharap ada kabar baik. Akan tetapi yang muncul justru pesan dari salah satu kerabatnya.
[Maaf ya, Dit. Lagi enggak bisa bantu.]
Aditya membaca sekali. Lalu lagi dan lagi. Dadanya terasa panas.
Dulu, rumah itu tidak pernah sepi. Hampir setiap minggu selalu ada saja yang datang. Saudara jauh, kerabat dekat, bahkan orang yang jarang terlihat pun tiba-tiba muncul dengan wajah ramah. Mereka duduk santai di ruang tamu, tertawa, bercerita panjang lebar seolah hubungan mereka sangat dekat.
Namun sekarang, semua itu seperti tidak pernah ada. Tidak ada lagi suara tawa. Tidak ada tamu yang datang membawa cerita. Pintu rumah lebih sering tertutup, dan ponsel pun jarang berdering. Jika pun ada kabar, isinya hanya penolakan halus atau alasan yang terdengar dibuat-buat.
Kehangatan yang dulu memenuhi rumah itu hilang begitu saja, berganti dengan kesunyian yang terasa asing dan menyakitkan.
Aditya menghela napas panjang. Dadanya terasa penuh, seolah ada sesuatu yang mengganjal dan tidak bisa keluar. Ia menatap jalanan di depannya tanpa benar-benar melihat.
“Semua berubah cepat banget gaji” gumam Aditya pelan, suaranya hampir tidak terdengar.
Langkah pria itu terasa berat saat akhirnya pulang. Tubuhnya lelah, bukan karena bekerja, tapi karena terus berharap lalu dikecewakan. Seharian ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mendengar jawaban yang sama, mengulang penjelasan yang sama, dan pulang dengan hasil yang sama.
Saat masuk ke dalam rumah, Aditya melihat Bu Ratih sudah duduk di ruang tengah. Posisi tubuhnya sedikit membungkuk, tangannya saling menggenggam di pangkuan. Wajahnya tampak lebih pucat, garis-garis lelah semakin jelas terlihat. Ia mengangkat kepala saat Aditya masuk.
“Gimana?” tanya Bu Ratih singkat, tapi penuh harap.
Aditya tidak langsung menjawab. Ia hanya berjalan pelan, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi seperti orang yang kehabisan tenaga. “Enggak ada,” jawabnya akhirnya.
Hanya dua kata, tetapi cukup untuk menjelaskan semuanya. Tidak ada penjelasan lanjutan. Tidak ada usaha untuk terlihat kuat. Ia bahkan tidak menatap ibunya.
Bu Ratih menunduk pelan. Bahunya mulai bergerak, tanda ia kembali menangis. Kali ini tanpa suara keras, hanya isakan kecil yang tertahan, seolah ia sudah terlalu sering menangis sampai tidak punya tenaga lagi untuk meluapkannya.
“Apa hidup kita akan begini terus?” bisik wanita paruh baya itu lirih, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Aditya tidak langsung merespons. Tatapannya jatuh ke lantai. Ia diam cukup lama, seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat. Rahangnya mengeras, napasnya terdengar lebih dalam. Sampai akhirnya, ia berdiri tiba-tiba.
“Aku akan pergi,” kata Aditya bernada tegas.
rasain kmu Aditya 🤣
hhmmm lavanya, skrg kamu makin terjerumus