Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.
Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.
Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.
Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Penelusuran Danu
Sebelum fajar menyentuh langit Jakarta, Danu akhirnya memutuskan untuk bergerak sendirian. Meninggalkan Aryo yang terjaga menjaga tubuh Maya di rumah tua Jakarta Timur, Danu memilih untuk tidak langsung pergi ke kantor Aryo, atau naik ke lereng Gunung Salak.
Insting investigasinya mendikte bahwa untuk menghancurkan sebuah algoritma kutukan yang begitu presisi, ia harus membedah hulu energinya terlebih dahulu.
Melalui sisa jaringan informan lamanya, Danu mengambil penerbangan paling pertama menuju ujung timur Pulau Jawa.
Siang itu, langit di atas Desa Kemiren, Banyuwangi, tampak benderang namun kaku. Udara pesisir yang panas beradu dengan embusan angin pegunungan dari arah Ijen, menciptakan sensasi gerah yang ganjil.
Danu melangkah menyusuri jalanan desa yang sepi. Berbeda dengan turis yang mencari sisa-sisa eksotisme budaya suku Osing, pandangan sepasang mata hitam Danu melacak hal lain: anomali tata letak vegetasi dan struktur bangunan.
Danu berhenti di depan sebuah kedai kopi kayu tua yang terletak beberapa ratus meter sebelum rumah milik Sekar.
Di sana, seorang lelaki tua dengan baret hitam lusuh dan garis wajah sedalam guratan kayu jati sedang duduk mengisap rokok lintingan. Namanya Mbah Sukri, mantan pencatat komunal desa yang tahu setiap jengkal silsilah tanah dan darah di Kemiren.
Danu duduk di bangku panjang seberang Mbah Sukri, memesan secangkir kopi hitam pahit, lalu meletakkan pemantik kuningan tuanya di atas meja tegel dengan bunyi klik yang disengaja.
"Bau kota selalu membawa pulang masalah, Anak Muda," ucap Mbah Sukri tanpa menoleh, suaranya serak seperti gesekan batu kali. "Masnya datang bukan untuk beli kopi, tapi untuk mencari sisa-sisa akar yang sengaja dipotong."
Danu tersenyum tipis, mengembuskan asap rokoknya pelan.
"Saya mencari riwayat tentang Ki Buyut Somo, Mbah. Dan tentang sumpah pertama yang menghidupkan Pring Sedapur di bawah joglo keluarga Ki Demang."
Mendengar nama Ki Buyut Somo, gerakan tangan Mbah Sukri yang hendak menyulut rokok baru mendadak berhenti. Sepasang mata tuanya yang keruh beralih menatap Danu, menguliti penampilan pria bermantel cokelat itu dengan kewaspadaan yang mendalam.
"Jangan sebut nama itu sembarangan di sini," bisik Mbah Sukri, suaranya merendah hingga nyaris tenggelam oleh desau angin siang. "Somo itu bukan manusia biasa di zaman Belanda. Dia yang membuka pembatas antara tanah hidup dan tanah mati di Alas Purwo demi melindungi anak cucunya dari keserakahan orang luar."
Danu merogoh mantelnya, mengeluarkan sebuah gawai perekam frekuensi audio portabel yang ia letakkan secara samar di samping cangkir kopi.
"Saya tau tentang pembantaian para mandor Belanda tahun 1923, Mbah. Tapi yang saya selidiki sekarang adalah mekanismenya. Mengapa ilmu itu hanya diwariskan pada garis perempuan, dan apa yang terjadi jika ikatan sumpahnya dikhianati oleh seorang lelaki yang membawa tanahnya ke kota?"
Mbah Sukri diam cukup lama. Ia menatap kopi hitamnya yang mulai mendingin, seolah sedang melihat bayangan masa lalu yang kelam di dalam cairan pekat tersebut.
"Ilmu Pring Sedapur itu ibarat anyaman rahim, Anak Muda," jelas Mbah Sukri dengan nada kaku. "Bambu itu tumbuh berumpun, tidak bisa berdiri sendiri. Dan yang menjaga inti dari rumpun itu adalah perempuan. Itulah kenapa garis darah murninya jatuh pada Sekar, bukan pada sepupu-sepupunya yang lelaki. Ketika Ki Demang menyerahkan Sekar pada Aryo belasan tahun lalu, Aryo tidak hanya menikahi seorang perempuan; dia mengikatkan lehernya pada seluruh rumpun gaib Alas Purwo."
Mbah Sukri mendekatkan wajahnya, matanya menatap Danu dengan kilat memperingatkan.
"Aryo itu bodoh. Dia mengira kesuksesan bisnisnya di Jakarta adalah hasil keringatnya sendiri. Dia lupa, empat sudut proyek pertamanya dibangun di atas tanah sajen yang diambil langsung dari bawah rumpun bambu keramat di pekarangan belakang rumah Sekar. Tanah itu adalah 'kontrak sewa' nyawa. Begitu kertas siri di Jakarta ditandatangani dan Sekar dicampakkan ... kontrak itu berubah menjadi surat eksekusi mati."
"Lalu bagaimana dengan janin yang berpindah ke hulu hati?" tanya Danu, suaranya tetap datar, memburu detail forensik spiritualnya.
"Itu bukan janin yang berpindah," jawab Mbah Sukri, bibirnya bergetar samar. "Itu adalah proses penggantian. Tubuh perempuan muda yang berselingkuh dengan Aryo itu sedang dipaksa menjadi wadah baru untuk menumbuhkan tunas bambu hitam yang membusuk. Hukum Pring Sedapur tidak akan menyisakan satu pun benih pengkhianat. Anak itu akan mati, ibunya akan berubah menjadi kayu, dan rezeki Aryo di kota akan amblas ditelan lumpur hisap bawah tanah."
Setelah mendapatkan informasi silsilah dari Mbah Sukri, Danu bergerak menuju ke pekarangan belakang Desa Kemiren, mendekati batas luar hutan bambu yang memagari wilayah rumah Sekar secara rahasia. Ia tidak berniat menemui Sekar; investigator tidak pernah menemui tersangka sebelum seluruh bukti terkumpul.
Danu mengeluarkan Electromagnetic Field (EMF) Meter dari sakunya. Begitu ia melangkah mendekati pembatas rumpun bambu hitam (pring petung), jarum indikator pada alat digital itu melompat liar hingga menyentuh batas maksimal. Suara desisan frekuensi radio statis bergemuruh dari speakernya.
Bzzzzzzzz ... klik ... klik ....
Di bawah terik matahari siang, area di sekitar rumpun bambu itu terasa sangat dingin dan lembap. Bau wangi dupa kemenyan madu bercampur anyir bunga kantil terasa begitu pekat merajai udara.
Danu berlutut, mengorek permukaan tanah merah di bawah rumpun bambu menggunakan ujung pisau lipat taktis miliknya.
Hanya beberapa sentimeter di bawah permukaan tanah gembur itu, Danu menemukan ribuan serat akar halus berwarna hijau kehitaman yang bergerak-gerak halus seolah-olah mereka adalah urat nadi yang hidup. Akar-akar itu berdenyut dengan ritme yang lambat. Dug ... dug ... dug ....
Ritme itu sama persis dengan detak jantung asing yang didengar Danu di dada Maya di Jakarta.
"Satu ekosistem energi," gumam Danu. Ia mengambil sampel tanah merah tersebut menggunakan tabung kaca kecil, menyegelnya, lalu memasukkannya ke dalam tas kulit buayanya. "Jarak seribu kilometer bukan hambatan karena akarnya merambat melalui dimensi ruang yang dilipat oleh sumpah darah."
Tiba-tiba, dari arah balik rumpun bambu yang rapat, terdengar suara gesekan daun yang tak lagi asing di telinga Danu.
Angin siang yang semula berembus kencang mendadak mati total. Suasana di sekitar hutan pembatas desa itu pun seketika jatuh ke dalam keheningan yang nyata.
Dari sela-sela batang bambu hitam yang meliuk kaku, Danu melihat sesosok wanita berpakaian kebaya beludru hitam sedang berdiri diam menatapnya dari kejauhan.
Sosok itu memiliki sanggul konde besar tradisional Blambangan yang rapi, namun wajahnya tampak rata tanpa mata, hidung, atau mulut.
Permukaan kulit wajah yang rata itu perlahan bergetar, memancarkan gelombang ketakutan psikologis yang masif ke arah Danu.
Danu tidak mundur satu langkah pun. Ia justru memantik kembali korek kuningan tuanya, membiarkan api kecil menyala di antara mereka, bertindak sebagai tameng energi termal yang memotong distorsi gaib tersebut.
"Aku tahu kamu sedang menonton, Sekar," ucap Danu dengan suara baritonnya yang tenang dan mengancam. "Kontrak jangkarmu di brankas Sudirman akan kuhancurkan. Dan anyaman Pring Sedapur ini akan segera kupotong."
Mendengar ucapan Danu, sosok wanita rata berkonde di balik rumpun bambu itu mendadak membuka celah robekan vertikal di tengah wajahnya, mengeluarkan suara pekikan melengking tinggi yang memicu getaran hebat pada batang-batang bambu di sekeliling mereka sebelum akhirnya sosok itu menyibak kabut dan lenyap dalam sekejap mata.
Danu mematikan pemantiknya, memasukkannya kembali ke saku mantel bersama gawai perekamnya. Jejak asal-usul kutukan telah terpetakan dengan sempurna di dalam benaknya. Rahasia Desa Kemiren telah terbuka: ini bukan sekadar santet balas dendam, melainkan eksekusi hukum adat kuno yang tidak akan berhenti sebelum targetnya punah.
Dengan waktu yang kian menipis bagi keselamatan raga Maya di Jakarta, Danu berbalik arah, melangkah cepat menuju kendaraan sewaannya untuk segera terbang kembali ke Jakarta.
Seseorang yang bisa memutus santett Pring sedapur Ki demangkah ??
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
dasar laki laki tidak tau diri
Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.
Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .