NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI AURORA: JERAT GAIRAH LIAR SANG TIRAN KAELEN AZRAEL

TRANSMIGRASI AURORA: JERAT GAIRAH LIAR SANG TIRAN KAELEN AZRAEL

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia / Mengubah Takdir
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: namice

Aurora—seorang montir bar-bar dan hacker genius dunia bawah—tewas mengenaskan lalu bertransmigrasi ke raga Aletheia Elixir. Aletheia adalah istri figuran yang diabaikan dan ditakdirkan mati di tangan suaminya sendiri, Kaelen Azrael—Raja Mafia bermata merah, penguasa dunia, sekaligus pria tertampan yang dirumorkan impoten.

​Enggan mati konyol, Aurora langsung menghapus riasan menor buruk rupanya, mengungkap kecantikan aslinya yang secantik Dewita malam, lalu menyodorkan surat gugatan cerai tepat di depan wajah sang tiran!

​Namun, Aurora salah perhitungan. Sifat bar-barnya yang menolak tunduk justru menyulut ego sang tiran. Dan yang paling mengerikan... tepat saat mata merah Kaelen menatap pesona Aurora yang mencoba menolaknya, penyakit impoten sang tiran sembuh.​

Gairah Kaelen yang telah mati bertahun-tahun meledak dengan begitu liar dan haus darah.
​Bukannya bebas, Aurora justru ditarik paksa ke atas sofa. Surat cerai terhempas berantakan, digantikan kukungan penuh kuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMUAN BERDARAH DI BAWAH HUJAN ASAM

​DOR! BAM!

​Rentetan tembakan kaliber berat beradu dengan suara hantaman logam, memecah kesunyian kawasan pergudangan Sektor Tiga yang dingin. Di dalam kabin limosin mewah yang tertutup rapat, sepasang mata cokelat madu milik Aurora berkilat tajam. Mengabaikan titah panik dari kepala pengawal Azrael Corps lewat interkom yang memintanya untuk tetap diam, jari-jari lentik Rae bergerak secepat kilat menekan tombol darurat manual pada pintu mobil.

​Brak!

​Pintu berlapis baja itu terbuka kasar. Dengan gerakan taktis yang luar biasa anggun namun sebuas serigala jalanan, Rae melompat keluar ke atas aspal yang basah oleh gerimis tipis. Jiwa montirnya yang bar-bar mendadak mendidih, gatal melihat ketidakadilan yang terpampang jelas di depan matanya. Dia merenggut sebuah pipa besi tebal sepanjang satu meter yang tergeletak di dekat pembatas jalan, menimbangnya sebentar di tangan sebelum merangsek maju menembus kabut hujan.

​Di area halaman gudang logistik nomor empat, puluhan tentara bayaran bertopeng sedang mengepung sebuah sedan mewah yang telah hancur. Di balik puing-puing mobil tersebut, seorang pria asing bermantel abu-abu gelap terengah-engah menahan sakit. Bahu kirinya bersimbah darah pekat akibat luka tembak, namun sepasang netra kelabunya tetap memancarkan aura aristokrat yang sedingin badai salju. Pria asing itu—Regulus Vane—sudah pasrah menanti ajalnya di tangan para pengkhianat, bersiap menarik pelatuk pistolnya untuk peluru terakhir.

​Wush! BUK!

​Hantaman pipa besi tebal melesat membelah rintik hujan, mendarat dengan kekuatan penuh tepat di tengkuk tentara bayaran terdepan yang hendak menembak pria asing itu. Tubuh besar bertopeng itu langsung tersungkur pingsan ke atas tanah berlumpur hitam dengan tulang leher yang retak.

​Regulus Vane seketika membelalakkan matanya yang seputih porselen. Rasa syok yang luar biasa dahsyat menghantam dada sang penguasa Vane Oligarchy. Melalui pandangannya yang buram oleh cipratan air, dia melihat seorang wanita asing berambut hitam panjang yang diikat kuda berdiri tegak di hadapannya. Setelan blazer hitam formalnya tampak basah, namun ekspresi wajah murninya terlihat sangat dingin dan menantang.

​"Siapa kau...?" ratih pria asing itu dengan suara bariton yang parau, tak percaya ada seorang wanita yang nekat menerobos medan perang demi dirinya.

​"Diam dan simpan tenaga mu, Tuan Berdarah," cetus Rae bar-bar, bibirnya menyunggingkan senyuman miring yang meremehkan bahaya di sekeliling mereka.

​Dua tentara bayaran yang menyadari kehadiran Rae langsung memutar arah senjata mereka. Namun, otak genius Rae bergerak jauh lebih cepat daripada tarikan pelatuk. Dia merunduk taktis, membiarkan tinju lawan melesat di atas kepalanya, lalu menyabetkan pipa besi di tangannya ke arah pergelangan kaki musuh hingga terdengar bunyi krek yang mengerikan.

​Plak! Jleg!

​Gerakan bela diri jalanan Rae teramat efisien dan brutal. Dia memutar raga Aurora nya dengan kelenturan yang sempurna, menghindari sabetan pisau komando, lalu membalasnya dengan hantaman siku yang meremukkan rahang lawan kedua. Rae tidak hanya mengandalkan otot; matanya yang pintar memanfaatkan sudut-sudut tajam kontainer berkarat di sekitarnya untuk membenturkan kepala para penyerang bertubi-tubi hingga darah segar menciprati pipi murninya.

​Regulus Vane yang menyaksikan pembantaian taktis itu dari jarak dekat merasakan jantungnya berdegup dalam ritme gila yang belum pernah dia rasakan seumur hidup. Ketakjuban yang luar biasa melelehkan hati dinginnya. Wanita barbar ini sangat indah, memikat, dan mematikan. Di detik itu juga, sebuah getaran obsesi baru yang teramat gila lahir di dalam dada Regulus. Dia tidak tahu siapa wanita ini, tapi satu hal yang pasti: dia harus memilikinya.

​Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, dibantu oleh pasukan bayangan Azrael Corps yang akhirnya ikut membantai sisa-sisa penyerang demi melindungi sang nyonya, medan pertempuran itu kembali sunyi. Tiga puluh tentara bayaran tumbang bersimbah darah.

​Rae berdiri terengah-engah di tengah gerimis, melemparkan pipa besinya yang telah bengkok ke atas tanah dengan ekspresi tawar-menawar yang tawar. Dia menyeka darah di pipinya dengan punggung tangan, lalu menatap pria asing bermantel abu-abu itu dengan pandangan dingin. "Bantuan mu akan segera tiba. Urus dirimu sendiri."

​Namun, saat Rae baru melangkah satu kali untuk kembali ke limosin-nya, sebuah desingan angin yang teramat besar dan pekat mendadak melesat dari arah jalan utama. Aura tirani level monster seketika menyelimuti tempat itu, mereduksi pasokan oksigen hingga terasa mencekam. Sebelum indra peraba Rae sempat menghindar, sepasang lengan kekar sekeras beton telah memeluk dan mengunci tubuh rampingnya dari belakang dengan cengkeraman dominan yang absolut.

​Aroma maskulin bercampur kayu cendana yang sangat familier langsung memenuhi indra penciuman Rae.

​Kaelen Azrael telah tiba di lokasi. Sang tiran yang mendeteksi pergerakan aneh pada kalung pelacak kuantum milik Rae langsung datang dengan helikopter militer pribadinya yang kini menderu mengerikan di atas kepala mereka.

​"Sudah selesai bersenang-senangnya di luar sangkar, Ratu Kecilku?" bisik Kaelen, suara bariton rendahnya yang berat bergetar hebat oleh keliaran amarah gila dan posesif yang menakutkan.

​Rae mencoba melakukan teknik patahan siku untuk lolos, namun di hadapan stamina monster milik Kaelen, gerakan pintar Rae tidak berarti apa-apa. Kaelen dengan sangat mudah membalikkan raga lemas Rae, mengunci kedua tangan lentik istrinya di balik punggung dengan satu tangan besarnya, sementara tangan lainnya mencengkeram rahang murni Rae hingga wanita itu mendongak pasrah di bawah kukungannya. Hanya Kaelen yang bisa melumpuhkan keliaran bar-bar Rae sepenuhnya.

​Di saat yang bersamaan, Regulus Vane yang masih terduduk di tanah langsung membeku saat melihat sosok Kaelen Azrael. Sepasang netra kelabu-nya melebar sempurna, dipenuhi riak syok yang luar biasa hebat saat menyadari Kaelen memeluk wanita barbar itu dengan begitu posesif.

​"Kaelen... Azrael..." desis Regulus parau, rahangnya mengeras hebat.

​Kaelen menyunggingkan senyuman predatornya yang paling kejam, menatap musuh bebuyutannya dari atas takhta kekuasaannya. Di hadapan Regulus yang menatap penuh dendam, Kaelen langsung menunduk, membungkam bibir mungil Rae dengan satu lulatan ciuman panas yang menuntut dan kasar—sebuah klaim kepemilikan mutlak atas wanita itu.

​"Sentuh milikku, Regulus," ancam Kaelen sedingin es tepat setelah melepaskan bibir bengkak Rae yang memerah, "dan aku sendiri yang akan memastikan seluruh dinasti Vane terkubur bersama bangkai-bangkai mu ini."

​Mendengar kata-kata Kaelen, Regulus Vane tersentak gila di tempatnya. Otak pintarnya langsung menyatukan potongan teka-teki yang mengejutkan. Wanita dewi perang yang baru saja menyelamatkan nyawanya dan membuat hatinya jatuh cinta dalam pandangan pertama... ternyata adalah Aletheia, istri dari tiran musuh bebuyutannya yang beberapa jam lalu ingin dia lenyap-kan.

​Sebelum Regulus sempat bersuara, Kaelen sudah mengangkat tubuh ramping Rae ke atas bahu kekarnya dengan kasar, membawanya masuk ke dalam limosin yang langsung melesat pergi meninggalkan Sektor Tiga, menyisakan Regulus yang terpaku di bawah hujan dengan dendam dan obsesi baru yang membakar jiwanya.

1
Nur Janah
suka ceritanya.....👍👍Rea tangguh n bar bar,,
namice: 😘😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku dan suka 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
namice
🤣🤣🤣🤣 terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
Sulati Cus
sekalinya hidup🤔
namice: 😘😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Sulati Cus
hukuman ranjang yg extrem🤣
namice: 🤣🤣🤣... terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Sulati Cus
astaga kebayang nggak sih 10ronde🤔 pertama melakukan alamat ...
namice: 🤣🤣🤣 terimakasih banyak ya kak baca novel ku 🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Sulati Cus
lanjut langsung tak favorit
namice: 😘😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku, aku sudah update satu bab lagi kak... 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!