Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.
Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.
Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.
Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Azalia
Satu minggu sejak aku menandatangani surat perceraian, Mama menelponku, dengan segala amarahnya.
"Apa-apaan kamu Azalia? Diam-diam kau bercerai dengan Gavin! Mau lari dari tanggungjawab? Menjadi kewajibanmu membantu kami yang lagi kesulitan. Mau jadi anak durhaka, kamu..haa!?"
Kueratkan genggaman tanganku pada ponsel di telinga. Berusaha menahan napas yang mulai berat. Aku baru pulang bekerja dari toko kelontong di desa ini demi membayar uang sewa kos kamar dan makan sehari-hari. Tapi tentu saja, itu bukan sesuatu yang penting bagi Mama.
"Aku sudah berusaha, Ma." Jawabku lirih, hampir tak terdengar dibandingkan nada tinggi yang Mama gunakan.
"Diam!" Bentaknya, Mama tak sudi mendengar kata-kataku. "Aku sudah datang pada Gavin, dan dia menolak membantu karena kalian sedang proses cerai, kau bodoh sekali!" Makinya lagi tak perduli dengan mentalku.
Tanganku bergetar, tidak hanya karena kelelahan, karena sedari pagi aku menimbang tepung dan gula di toko kelontong, tetapi juga karena kata-kata Mama yang selalu seperti pisau tajam, menguliti perasaan dan meninggalkan luka yang tidak akan pernah sembuh.
Aku menatap langit-langit kamar ini, mengabaikan kegelapan yang mulai hadir sebab sore akan menjelang malam.
"Mama..." Aku mencoba bicara lagi, tapi Mama sama sekali tidak memberi kesempatan.
"Kau pikir setelah diceraikan Gavin, kau bisa bebas begitu saja?!" Selanjutnya, suaranya penuh kebencian. "Dengar baik-baik, Azalia! Aku sudah mengatur pernikahanmu dengan Tuan Rafi pemilik perkebunan sawit di Kalimantan, setelah resmi bercerai dengan Gavin aku akan segera mengirimmu ke sana."
Jantungku berhenti berdetak sejenak.
"Ma..." Suaraku bahkan tidak sanggup untuk keluar.
"Dengar, Azalia! Kau tidak boleh menolak! Ingat. Aku sudah bersusah payah membesarkan mu, jangan jadi orang yang tidak berguna."
Air mataku meleleh tanpa ku minta. Aku kehilangan kata-kata, sejak kecil aku tidak pernah dianggap lebih dari sekedar aset bagi keluarga Sanjaya. Tapi tetap saja, hati kecilku selalu berharap Mama menyayangiku. Walaupun aku tahu itu sia-sia.
Napasku terputus, suaraku sama sekali tidak keluar. Aku tidak mau melakukan apa yang Mama katakan.
Demi apa pun, aku tidak mau seolah-olah dijual lagi dan lagi demi keuntungan keluarga Sanjaya. Mengapa Mama begitu tega.
Air mataku menetes, jatuh ke punggung tanganku yang pucat. Aku tahu aku tidak punya tempat untuk meminta pertolongan. Tidak ada siapapun yang bisa membantuku.
Aku lelah, sangat lelah.
Tubuhku sudah tidak kuat bekerja, kesehatanku semakin buruk. Aku sering melupakan sesuatu, bahkan pagi tadi, aku tidak ingat apakah aku sudah makan atau belum. Tapi sekarang, bukan hanya tubuhku yang kelelahan. Hatiku pun begitu.
"Ma.." napasku bergetar. "Aku tidak mau."
"Kau berani membangkang? Pulang sekarang, Azalia!" Suara Mama terdengar semakin marah. "Dengar Azalia! Aku adalah orang yang melahirkanmu! Kau berhutang nyawa padaku! Apa yang kau pernah berikan tidak sebanding sama sekali!"
Dadaku bergetar hebat, sakit yang kurasakan tidak bisa ku gambarkan dengan kata-kata.
"Jika aku kembalikan nyawa ini, apa hutang kepadamu akan lunas?"
"Jangan picik, Azalia. Setiap anak berusaha membahagiakan orang tuanya, itu imbal balik karena kami tidak hanya berkorban nyawa, tapi juga menghabiskan waktu dan uang tidak sedikit untuk membesarkan anak."
Aku memukul dada, berusaha menghilangkan sesak yang menyiksa. Tak ada pilihan, akhirnya aku pun harus setuju.
"Ya, aku akan menikah dengan orang pilihan Mama. Akhir bulan nanti adalah batas selesainya masa tunggu, setelah perceraianku dengan Gavin sah. Di hari itu, jemput-lah aku di makam nenek. Mama bisa membawaku pulang, dan terserah mau Mama apakan aku nanti."
"Kau tidak membohongiku, kan?" Mama bertanya ragu.
"Ma, aku tidak akan berbohong. Aku sudah lelah lari dari orang-orang di sekitarku. Percayalah padaku, Mama pasti mendapatkanku di sana nanti."
Aku menutup sambungan telepon, detik berikutnya aku buru-buru menulis semuanya di buku catatan, tidak lupa memberi tanggal agar aku tidak melupakan percakapan tadi.
Setelah aku melupakan banyak hal, aku mulai terbiasa mencatat apa yang harus aku lakukan setiap hari, dan janji apa yang harus aku tepati. Hanya ini satu-satunya cara untuk membantuku mengingat. Bahkan aku juga menulis alamat kos ku ini, jika sewaktu-waktu aku lupa jalan pulang dan membawa catatan ini kemana-mana.
Setelah aku mencatat semuanya, aku melangkah keluar, menuju dapur untuk masak makan siang yang sudah sangat terlambat. Ternyata aku tidak beruntung, karena di dapurku sama sekali tidak ada bahan makanan.
Maka mau tidak mau aku keluar untuk mencari makanan yang sekiranya bisa mengganjal perutku malam ini.
Tidak tahu dari mana, tiba-tiba sebuah mobil datang dengan kecepatan tinggi dari arah belakang, membuat genangan air menyembur dan mengguyur seluruh tubuhku.
Mobil itu berhenti, kupikir pengemudinya ingin meminta maaf. Tapi yang keluar malah pria yang aku kenali. Alvin.
Pria itu mendekat, seringai di wajahnya seperti sedang mengolok-ngolok diriku.
"Jadi disini kau sembunyi, Azalia?"
Aku tidak bersembunyi, aku memang tidak memiliki tempat tinggal.
"Azalia ….Azalia. Tidak kusangka kau menyusun skema yang luar biasa seperti ini. Kau berakting seolah-olah menerima semuanya begitu saja, tapi yang sebenarnya kau inginkan adalah agar kakakku mencari mu, kan? Apa kau pikir Gavin akan merasa simpati padamu dan mencabut gugatannya?"
Sungguh, aku tidak ingin berdebat dengannya. Aku sudah lelah dengan prasangka mereka padaku.
"Alvin, jika tidak ada hal penting yang kau sampaikan, biarkan aku pergi."
Aku berbalik untuk meninggalkannya, tapi dia tiba-tiba mencekal lenganku. Aku yang tak siap, kehilangan keseimbangan dan jatuh ke atas aspal basah.
Alvin tertawa melihatku. "Azalia, apa kau tidak lelah pura-pura lemah? Kau hanya membuat dirimu semakin menjijikkan! Aku hanya memegang lenganmu, tapi kau sudah menjatuhkan dirimu sampai seperti itu. Kenapa? Ingin mencari simpati dari orang-orang di sini?"
Aku berusaha berdiri, tapi sakit di kepalaku semakin berdenyut-denyut.
"Alvin, aku tidak tahu kenapa kau begitu membenciku. Tapi percayalah aku tidak pernah menyesal atas apa yang sudah kulakukan padamu di masa lalu."
Alvin mendengus. "Kau ingin tahu kenapa aku membencimu? Itu karena keluargamu telah menipu keluargaku habis-habisan."
Alvin mendekat, matanya menusuk langsung padaku. "Dengar, Azalia! Kemanapun kau pergi, kau tidak akan lepas dariku. Keluargamu akan bangkrut, aku pastikan kalian akan menderita tanpa ada satupun yang mau membantu kalian."
Setelah berhasil berdiri aku mengulas senyum tipis dan mengangguk. "Jika itu bisa memuaskan rasa dendam mu, maka lakukan apa yang ingin kau lakukan, Alvin. Jangan khawatir, aku tidak akan kemana-mana. Aku juga tidak memiliki banyak uang untuk kabur, jadi kau tidak akan susah mencariku. Aku juga pasti datang untuk membuat perceraianku dengan Gavin menjadi sah."
Setelah mengatakan itu, aku berbalik untuk menghindarinya lagi. Tapi.. bumi terasa berputar. Kakiku seperti sedang berpijak di atas pecahan kaca. Pandangan buram.
Aku berusaha menggapai apapun di sana, tapi tidak ada yang dapat ku raih.
Aku kesulitan bernapas, dan saat aku menyentuh hidung, aku melihat cairan kental keluar dari sana. Darah.
Pandanganku semakin buram, semakin lama semakin tidak jelas, sampai akhirnya....aku di telan kegelapan.
#######
Pokoknya dikomen ya....
Biar aku semangat updatenya...
Jadi Gedeg sama dua laki laki kakak beradik ini.
seabaiknya km kmbalikn ginjal azalea dech....
mulut laki" sampah kau alvin🙄🙄
punya org tua nyatanya hidupmu layaknya yatim piatu....
punya suami... tpi km seolah janda... bhkn km harus merasakn kbencian dri suami & keluarga besarnya...
smoga kelak ada keajaiban untukmu hidup bahagia azalea...