Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Waktu yang Tak Pernah Cukup
Bunyi detak jam digital di dinding aula tidak sekadar menandakan berjalannya waktu, melainkan terdengar seperti ketukan palu hakim yang siap mengeksekusi mimpi. Di layar transparan setiap peserta, angka 01:15:00 terus menyusut. Suasana makin mencekam ketika satu per satu kursi di barisan tengah dan belakang mulai mengeluarkan bunyi mekanis tanda bahwa sistem telah mengunci akses peserta yang salah menjawab tiga soal berturut-turut pada blok jebakan.
Bagi sebagian besar orang, sembilan puluh menit untuk seratus dua puluh soal logika fraktal dan analisis sandi adalah sebuah kemustahilan. Namun bagi beberapa orang di ruangan itu, tekanan ini justru memeras keluar insting bertahan hidup mereka yang paling murni.
Di barisan tengah, Gavin Arsenio Mahardika menggerakkan jemarinya dengan ritme yang konstan, hampir seperti robot. Juara olimpiade fisika itu sama sekali tidak melihat ke papan skor digital. Fokusnya mutlak. Ketika menghadapi soal nomor 65 sebuah teka-teki mekanika fluida teoritis yang disamarkan dalam bentuk teka-teki logika Gavin hanya butuh tiga detik untuk mengenali variabel distorsi yang sengaja dimasukkan pembuat soal untuk mengecoh peserta. Tanpa ekspresi, ia mengetuk opsi C dan langsung beralih ke soal berikutnya. Dingin, efisien, dan tanpa keraguan.
Dua baris di sebelah kanan Gavin, situasinya jauh lebih berisik secara visual. Nareswara Adrian Kusumah, si ahli komputer, sedang bertopang dagu dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya mengetuk-ngetuk layar dengan kecepatan tinggi. Bukannya tegang, Nareswara justru menahan senyum. Matanya yang jeli tidak membaca soal sebagai narasi, melainkan sebagai baris kode.
"Tipuan logika yang payah," gumam Nareswara lirih, mengenali pola pengulangan algoritma pada soal nomor 72. Bagi peretas berbakat seperti dirinya, membaca struktur pemikiran di balik pembuat program ujian ini justru menjadi hiburan tersendiri di tengah kepanikan massal.
Sementara itu, di zona beasiswa yang terletak di sisi barat aula, Nabila Cendana Adiwijaya merasakan punggungnya basah oleh keringat dingin. Berbeda dari Gavin atau Nareswara yang membawa reputasi mentereng, Nabila hanya membawa harapan besar keluarganya yang sederhana. Jemarinya agak gemetar saat membaca soal analisis peluang ekonomi. Ia tahu, satu kesalahan kecil bisa melemparnya kembali ke realitas miskin yang ingin ia ubah. Nabila memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah kedua orang tuanya, lalu menggigit bibir bawahnya. Ia memaksakan otaknya berpikir lebih keras, mengabaikan rasa pening yang mulai menyerang pelipisnya.
Ketegangan yang sama, namun dengan respons berbeda, terlihat pada Dimas Arvant Nugraha. Pemuda humoris itu kini kehilangan senyum jenakanya. Ia menatap layar dengan tatapan frustrasi, sesekali meremas rambutnya yang acak-acakan. Setiap kali melihat namanya berada di batas bawah zona aman, bayangan tentang kakaknya yang selalu dipuji-puji oleh sang ayah langsung melintas di benaknya. “Jangan bikin malu keluarga lagi, Dim,” gema suara itu membuat jemarinya justru salah menekan opsi jawaban pada soal nomor 40. Dimas mengumpat pelan dalam hati, mencoba menguasai diri sebelum terlambat.
Di sudut lain yang lebih tenang, Celine Valencia Danendra menghadapi ujian ini layaknya sebuah pertandingan anggar. Sebagai atlet nasional, Celine dilatih untuk menjaga ritme jantungnya tetap stabil di bawah tekanan ekstrem. Ketika peserta di sekitarnya mulai terisak atau bernapas memburu, Celine justru menarik napas dalam-dalam melalui hidung dan mengembuskannya perlahan. Ketenangan emosional ini membuatnya mampu melihat celah-celah logika pada soal penalaran analitis dengan sangat jernih.
Kontras dengan Celine, Raka Elang Pranegara menggunakan pendekatan manipulatif bahkan terhadap teks soal. Sebagai kapten debat, Raka terbiasa mencari kelemahan dalam argumen lawan. Saat membaca soal-soal penalaran deduktif yang panjang dan berbelit-belit, Raka tidak mencari jawaban yang benar, melainkan mengeliminasi jawaban yang memiliki bias bahasa paling tinggi. "Kalian mencoba memanipulasi logika dengan retorika, ya?" bisik Raka dengan senyum sinis sebelum memilih jawaban yang paling objektif.
Di barisan depan, Kirana Safira Maheswari, sang ketua klub penelitian, menunjukkan ambisi yang menakutkan di balik wajahnya yang tampak lembut dan polos. Matanya bergerak cepat, membaca setiap premis sains dengan ketelitian tinggi. Tidak ada keraguan di wajahnya; yang ada hanya obsesi untuk menjadi yang terbaik. Di dekatnya, Farel Dwijaya Wicaksana, murid pindahan yang memiliki dasar bela diri kuat, menggunakan ketahanan fisiknya untuk melawan kelelahan mental. Postur tubuhnya tetap tegak sempurna, matanya tidak berkedip menatap layar, mempertahankan fokus penuh seperti seorang prajurit di medan laga.
Namun, perhatian para pengawas yang berada di ruang kontrol lantai atas tiba-tiba tersedot pada dua monitor utama.
"Profesor, Anda harus melihat ini," ujar salah satu operator sistem sambil memperbesar visual dari kamera pengawas nomor 104.
Profesor Adrian melangkah mendekat, menatap layar monitor. Di sana, Atharva Mahendra Prasetya tampak sudah menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket. Layar ujian di mejanya telah berubah warna menjadi hijau pekat dengan tulisan: SUBMITTED.
Waktu di jam digital masih menunjukkan pukul 09:10. Artinya, baru empat puluh menit berlalu dari total sembilan puluh menit yang disediakan.
"Dia menyelesaikan seratus dua puluh soal logika ekstrem dalam waktu empat puluh menit?" tanya sang pengawas dengan nada tidak percaya. "Dan akurasinya... seratus persen? Ini mustahil. Apakah ada kebocoran sistem?"
"Sistem Nexus tidak bisa dibocorkan dari luar," jawab Profesor Adrian dengan suara berat yang dingin. Matanya menyipit, menatap tajam ke arah Atharva melalui layar monitor. "Dia tidak meretas sistem. Dia meretas pola pikir pembuat soal."
Di bawah, di lantai aula, Keisya Aurellia Wibisono baru saja menyelesaikan soal nomor 110 ketika ia menyadari keheningan yang aneh dari arah belakang. Ia melirik di sudut layarnya. Nama Atharva sudah terkunci di posisi pertama dengan status selesai.
Keisya mengepalkan tangannya. Ego dan harga dirinya bergejolak. Sifatnya yang perfeksionis menolak untuk terburu-buru, namun melihat seseorang melesat begitu jauh di depannya memicu letupan kompetitif dalam dirinya. Keisya menarik napas, memaksa dirinya untuk tetap setia pada strateginya sendiri. Ia tidak mau sekadar cepat. Ia memeriksa kembali setiap jawabannya dari nomor satu, memastikan tidak ada satu pun jebakan halus dari Nexus yang lolos dari analisisnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu menang semudah itu," gumam Keisya, matanya menatap tajam ke arah soal terakhir.
Detik-detik terakhir ujian terasa seperti penyiksaan masal. Ketika waktu menunjukkan 00:01:00, kepanikan memuncak. Suara ketukan layar yang terburu-buru terdengar seperti hujan badai di dalam aula.
Tepat saat angka hitung mundur menyentuh 00:00:00, seluruh layar di meja peserta mati secara serentak. Jeritan frustrasi dan helaan napas lega yang berat terdengar bersahutan. Lebih dari setengah peserta di dalam aula langsung tertunduk lesu, menyadari bahwa perjalanan mereka telah berakhir bahkan sebelum sempat melihat gerbang dalam Nexus Academy.
Waktu yang tak pernah cukup telah menyaring mereka. Di puncak daftar yang menyala merah di layar utama aula, dua nama berdiri dengan kokoh, siap memulai perang yang sesungguhnya.