Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Penolakan ke-99
Reno mematung di depan pilar beton berlumut Fakultas Kedokteran Hewan dengan kedua lutut yang bergetar sangat hebat.
Kedua tangannya memeluk erat sebuah boneka kelinci raksasa berwarna merah muda mencolok yang hampir menutupi separuh tubuhnya.
Ukurannya yang super besar membuat kepala pemuda berusia dua puluh satu tahun itu tenggelam sepenuhnya di balik telinga panjang boneka tersebut.
Ia sudah rela menabung selama tiga bulan penuh dari sisa uang sakunya hanya untuk membeli hadiah konyol yang dianggapnya paling romantis ini.
Mahasiswi berjas almamater hijau di hadapannya melipat tangan di dada dengan tatapan mata yang sangat tajam dan menghakimi.
Reno sudah menyusun ribuan kata puitis di dalam kepalanya sejak semalam suntuk saat berdiam diri di kamar kosnya yang sempit.
{Tarik napas panjang, kau pasti bisa menaklukkan hati gadis pencinta mamalia ini dengan pesonamu yang terpendam, Reno.}
Ia menelan ludah dengan susah payah, berusaha keras mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang mulai menipis secara drastis seiring berjalannya waktu.
Namun, kenyataan di lapangan selalu saja memiliki cara yang sangat kejam untuk menghancurkan ekspektasinya yang terlalu tinggi melambung.
"Maaf, tapi kita sama sekali tidak bisa jadian."
"Kenapa? Apa aku kurang baik atau kurang perhatian buatmu selama ini?"
"Bukan begitu, tapi boneka kelinci jelek yang kamu bawa ini benar-benar mirip dengan wajah mantan pacarku yang sangat aku benci."
Gadis berambut sebahu itu membalikkan badan dengan gerakan cepat, lalu melangkah pergi menjauh tanpa sudi menoleh lagi sedikit pun meninggalkan Reno sendirian.
Reno masih berdiri kaku di tempatnya, mencoba setengah mati mencerna alasan penolakan paling tidak masuk akal yang baru saja mampir ke telinganya.
{Mirip mantan dari mananya, ini kan cuma boneka kelinci berhidung pesek hasil jahitan pabrik murah, wajar saja kalau bentuk moncongnya begitu.}
Kedua lengannya perlahan melemas kehilangan seluruh tenaga penahannya, membuat boneka raksasa itu merosot jatuh ke atas aspal pelataran kampus dengan bunyi gedebuk pelan.
Angka yang menyakitkan ini resmi menjadi rekor penolakan kesembilan puluh sembilan yang ia terima sepanjang sejarah kelam hidupnya sebagai seorang pria yang selalu mencari cinta di tempat yang salah.
Ia pernah ditolak mentah-mentah oleh adik tingkatnya di jurusan sastra karena alasan rasi bintang mereka yang katanya akan mendatangkan malapetaka finansial secara terus-menerus jika dipaksa bersatu dalam sebuah hubungan asmara.
Ia juga pernah ditolak dengan kejam oleh teman sekelasnya dengan alasan hitungan weton Jawa mereka kalau digabung bisa memicu gempa bumi tektonik yang akan meruntuhkan seluruh fasilitas di area kampus megah ini.
Tidak ada satu pun wanita waras di Universitas Megantara yang mau menerima cinta seorang mahasiswa abadi berpenampilan cupu dan selalu mengenakan kemeja kotak-kotak pudar sepertinya.
Reno menunduk dalam-dalam, meratapi nasib sial yang seolah sudah terukir permanen di dahi sebagai nama tengahnya sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di dunia ini.
Ia menendang sebuah kerikil kecil di dekat ujung sepatunya, melampiaskan rasa frustrasi yang menumpuk menyesakkan di dalam dadanya akibat penolakan absurd barusan.
Kerikil itu melayang pelan menembus ruang pandangnya, lalu mendarat dengan sangat akurat tepat di atas hidung pesek boneka kelincinya sendiri.
Reno menghela napas panjang yang terdengar sangat putus asa, menyadari bahwa ia tidak bisa terus-terusan berdiri di sana dan menjadi tontonan gratis bagi para mahasiswa lain yang berlalu-lalang menuju kantin.
||||
Langkah gontai Reno menyusuri trotoar jalanan kota yang mulai sepi pada Senin sore yang terasa sangat kelabu dan menyedihkan bagi suasana hatinya.
Tangan kanannya menyeret paksa sebelah telinga boneka kelinci merah muda yang kini sudah kotor terkena debu dan noda lumpur sisa genangan hujan di jalanan.
Kepalanya terus memutar ulang adegan memalukan di depan Fakultas Kedokteran Hewan tadi seperti sebuah kaset rusak yang diputar paksa dan tak bisa dihentikan tombolnya.
{Apa aku memang benar-benar ditakdirkan untuk melajang sampai hari kiamat tiba, atau minimal sampai bangunan kampus sialan ini runtuh dan rata dengan tanah?}
Beban pikirannya saat ini terasa jauh lebih berat daripada ransel butut berisi buku-buku pemrograman tebal yang menggantung miring di punggung kurusnya.
Reno tidak lagi memperhatikan langkahnya yang semakin lama semakin menyeret tanpa tenaga di atas susunan paving block trotoar yang permukaannya tidak terlalu rata.
Pikirannya melayang sangat jauh, memikirkan bagaimana caranya ia harus menjelaskan rentetan kegagalan memalukan ini kepada Radit nanti malam saat ia pulang ke kosan.
Sahabat karibnya yang berprofesi sebagai desainer grafis amatir itu pasti akan tertawa terbahak-bahak sambil menyemprotkan es teh manis dari mulutnya langsung ke wajah Reno.
Ujung sepatu kets Reno yang bagian depannya sudah mengelupas parah tiba-tiba menabrak sebuah benda keras tak terduga di jalur khusus pejalan kaki tersebut.
Tubuh kurusnya yang selalu kekurangan asupan gizi itu langsung kehilangan keseimbangan dalam hitungan detik yang entah mengapa terasa berputar begitu lambat.
Reno jatuh tersungkur dengan posisi yang sangat memalukan, mendarat tengkurap tepat di atas perut empuk boneka kelincinya sendiri sehingga wajahnya tidak langsung menghantam aspal.
{Aduh, sialan, sejak kapan pemerintah kota kurang kerjaan memasang polisi tidur yang tak terlihat di tengah trotoar pejalan kaki begini?}
Reno mengusap kedua lututnya yang berdenyut nyeri di balik kain celana jinsnya yang sudah pudar warnanya, lalu menoleh perlahan ke belakang untuk mencari tahu biang keladi jatuhnya barusan.
Benda yang menjadi sandungannya bukanlah batu bata atau patahan trotoar yang tidak rata, melainkan sebuah kotak hitam pekat berukuran kecil yang bentuknya sangat presisi di setiap sudutnya.
Kotak persegi panjang itu tergeletak begitu saja di atas paving block, seolah sengaja diletakkan di sana dengan perhitungan sudut yang matang khusus untuk membuat kakinya tersandung.
Reno mengernyitkan dahi, merasa penasaran dengan benda aneh yang sama sekali tidak memiliki label, tulisan, atau merek dagang apa pun di seluruh bagian permukaannya.
Ia merangkak mendekat dengan gerakan sangat hati-hati, lalu mengambil kotak misterius itu menggunakan tangan kanannya yang masih sedikit bergetar akibat efek jatuh tadi.
Bobot benda itu terasa cukup berat di telapak tangan, jauh lebih padat dan solid daripada sekadar kotak perhiasan kosong atau wadah plastik pada umumnya.
Permukaan luar kotak itu terasa sangat halus menyerupai logam berkualitas tinggi, namun juga memberikan sensasi dingin yang aneh saat bersentuhan langsung dengan kulit telapak tangannya yang berkeringat.
{Jangan-jangan ini barang selundupan berharga mahal milik mafia lokal, atau malah sebuah bom rakitan mini yang siap meledak menghancurkan wajahku kapan saja.}
Rasa penasaran khas mahasiswa abadi akhirnya mengalahkan semua ketakutan irasionalnya, membuat jari-jarinya perlahan mencari celah tersembunyi untuk sekadar membuka tutup kotak tebal tersebut.
Tutup kotak itu bergeser terbuka tanpa menimbulkan suara decitan sedikit pun, memperlihatkan sebuah ponsel pintar berwarna hitam metalik yang terbaring membisu di atas bantalan beludru merah.
Bentuk bodi ponsel itu sangat asing bagi Reno, sama sekali tidak memiliki tombol fisik di bagian depan, dan layarnya terlihat seperti kaca pekat yang menelan segala bentuk pantulan di sekitarnya.
Reno mengangkat ponsel misterius itu secara perlahan, membolak-baliknya beberapa kali untuk mencari tahu logo perusahaan perakit atau nama merek yang mungkin sengaja disembunyikan di baliknya.
Tidak ada satu pun huruf atau angka yang tertera di panel belakangnya yang mulus, hanya terdapat sebuah susunan lubang kamera yang desain modulnya terlihat sangat rumit dan terlalu futuristik untuk teknologi zaman sekarang.
{Siapa juga orang gila super kaya yang ceroboh menjatuhkan barang elektronik berkelas tinggi ini di pinggir jalanan berdebu tanpa memberikan penjagaan sedikit pun?}
Reno menoleh ke arah kanan dan ke kiri dengan gerakan cepat, memastikan tidak ada sosok mencurigakan yang sedang sibuk mencari barang hilangnya di sekitar radius pandang jalanan tersebut.
Trotoar sore itu benar-benar sepi dari aktivitas pejalan kaki lainnya, hanya ada rentetan kendaraan roda empat yang melintas cepat dengan suara bising di jalur aspal sebelah kanannya.
Ibu jarinya secara otomatis meraba bagian tepi bingkai ponsel yang terasa dingin, mencari keberadaan celah tombol daya untuk sekadar memastikan apakah benda super canggih ini masih memiliki daya baterai.
Ia menemukan sedikit tonjolan memanjang yang nyaris rata dengan bodi di sisi kanan bingkai, lalu menekannya kuat-kuat dengan perasaan campur aduk antara ragu, takut, dan penasaran tingkat tinggi.
Satu detik pertama berlalu dengan sangat lambat, tidak terjadi reaksi perubahan visual apa-apa dari layar gelap yang dipegangnya erat-erat itu.
Reno baru saja akan mendengus kecewa dan berniat memasukkan ponsel mati itu ke dalam saku celana jinsnya ketika layar di tangannya mendadak hidup secara tiba-tiba.
Layar canggih itu tidak menampilkan logo animasi sistem operasi standar seperti gambar buah apel yang tergigit atau maskot robot hijau yang sering ia lihat di pasaran komersial.
Sebuah pancaran visual holografis mendadak muncul tajam keluar dari permukaan kaca ponsel, langsung mengarah lurus ke atas dengan kecepatan konstan.
Grafis digital tersebut berkumpul memadat secara geometris di ruang kosong, dengan cepat merangkai sebuah proyeksi tiga dimensi yang melayang stabil tepat di depan ujung hidung Reno.
Hologram canggih itu perlahan bergerak memindai secara vertikal dari ujung kepala hingga dada, lalu memunculkan sebuah struktur wajah manusia yang sangat ia kenali setiap lekuk dan cacat pori-porinya.
Itu adalah pantulan tiga dimensi dari wajahnya sendiri, direkam secara langsung saat itu juga dan dipetakan sempurna dalam bentuk jaring-jaring garis digital yang terus berkedip mengikuti detak nadinya.
Reno tersentak kaget bukan main melihat tiruan kepalanya sendiri melayang di ruang hampa, secara refleks ia melompat mundur beberapa langkah hingga pantatnya kembali menabrak kepala keras dari boneka kelinci raksasanya.
Sebuah suara mekanik yang terdengar sangat jernih layaknya vokal manusia nyata namun memiliki nada yang luar biasa sarkastis tiba-tiba mengalun memecah keheningan dari lubang speaker tak kasat mata di dalam bodi ponsel tersebut.
Reno menelan ludah kasarnya yang terasa sepahit obat flu, kedua matanya membelalak lebar tanpa berani berkedip menatap rentetan tulisan peringatan tebal yang kini muncul menggantikan proyeksi wajahnya di layar ponsel canggih itu.
Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari ritme normal saat otaknya berusaha keras mengeja deretan kalimat ancaman digital yang terus berkedip cepat di atas telapak tangannya yang mulai dingin.
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending