NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Abadi

Kebangkitan Kaisar Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bagus Dwi

Tahun 2042.
Manusia hidup seperti biasa dengan teknologi modern. Tidak ada yang tahu bahwa energi spiritual di Bumi mulai bangkit kembali setelah menghilang selama ribuan tahun.
Arkana Wijaya, mahasiswa berusia 20 tahun, menjalani hidup biasa hingga menemukan cincin kuno peninggalan kakeknya. Saat darahnya menyentuh cincin itu, jiwa seorang kultivator legendaris dari ribuan tahun lalu terbangun.
Namun, alih-alih mengambil alih tubuh Arkana, jiwa itu justru menghilang setelah mewariskan seluruh ingatan dan teknik kultivasinya.
Arkana menjadi satu-satunya orang yang mengetahui cara kultivasi sejati.
Sementara dunia mulai berubah, organisasi rahasia, keluarga kuno, dan makhluk yang selama ini bersembunyi juga mulai bergerak.
Bumi ternyata hanyalah dunia tingkat terendah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Badai di Gunung Salak dan Penyaringan Darah Baru

​Suara dengung konstan dari proyektor holografik tiga dimensi di ruang kelas 302 Universitas Nusantara menggema pelan, membelah keheningan akademis pagi itu. Di depan podium, Pak Bambang, seorang dosen paruh baya dengan implan siber mekanis di pelipis kirinya, sedang sibuk menjelaskan teori integrasi jaringan kuantum global yang menjadi tren mutakhir di tahun 2042. Namun, bagi Arkana Wijaya, seluruh materi perkuliahan itu tak lebih dari sekadar susunan angka dan logika fana yang sangat dangkal jika dibandingkan dengan jalinan hukum alam semesta yang tersimpan di dalam memori Cincin Kaisar Abadi di jarinya.

​Arkana tetap duduk dengan posisi tegak di barisan paling belakang, menatap lurus ke papan tulis digital dengan ekspresi wajah yang tampak bosan dan mengantuk—sebuah akting yang sempurna untuk mengelabui siapa pun yang sedang mengamatinya. Di luar jendela kaca besar yang berada tepat di samping kirinya, atmosfer kampus telah berubah menjadi medan perang urat syaraf yang tak kasat mata.

​Dua ratus meter dari posisi Arkana, di puncak atap Gedung Rektorat yang menjulang tinggi, posisi penembak jitu elit Biro Keamanan Khusus masih lumpuh total. Teknik Pembalik Jarum Jiwa yang dilepaskan Arkana beberapa menit lalu telah bekerja dengan presisi yang mengerikan. Energi Qi Primordial yang ia salurkan secara senyap tidak menghancurkan tubuh sang penembak jitu secara fisik, melainkan membalikkan aliran energi listrik alami di dalam sistem saraf biologisnya, menyebabkan implan siber kuantum yang tertanam di otaknya mengalami korsleting massal.

​Di koridor lantai bawah, Dimas dan Reva, dua agen intelijen militer yang menyamar sebagai pengurus organisasi mahasiswa, berjalan dengan langkah tergesa-gesa. Wajah mereka yang semula tenang kini dipenuhi keringat dingin. Melalui perangkat komunikasi nirkabel yang tersembunyi di balik anting siber mereka, suara Kapten dari pusat kendali terdengar berteriak dengan nada panik yang tertahan.

​"Melapor, Kapten! Sinyal Penembak Jitu Satu benar-benar hilang dari jaringan satelit pusat!" bisik Dimas dengan suara bergetar, berpura-pura sedang membaca dokumen digital di gawainya saat berpapasan dengan mahasiswa lain. "Apakah kami harus melakukan evakuasi paksa terhadap target Arkana Wijaya sekarang juga?"

​"Jangan bodoh!" bentak Kapten di seberang jalur komunikasi, suaranya dipenuhi amarah dan kebingungan. "Tim medis siber sedang menuju ke atap rektorat. Hasil pemindaian diagnostik terakhir menunjukkan adanya kegagalan sistem neurologis mendadak pada penembak jitu kita, seolah-olah otaknya dihantam oleh gelombang elektromagnetik berdensitas tinggi dari jarak dekat. Namun, sensor keamanan kampus tidak mendeteksi adanya emisi senjata pulsa elektrik apa pun di sekitar area fakultas. Ini tidak masuk akal!"

​Kapten itu menghela napas berat, mencoba menstabilkan emosinya sebelum melanjutkan perintah. "Dimas, Reva, tetap berada di posisi kalian. Jangan ambil tindakan agresif yang bisa memicu perhatian publik. Universitas Nusantara adalah salah satu aset pendidikan terbesar di bawah perlindungan kementerian dalam negeri. Jika terjadi baku tembak terbuka di sini, posisi kita di Biro Keamanan Khusus akan tamat. Tunggu sampai jam kuliah selesai, lalu ikuti Arkana Wijaya begitu dia meninggalkan gerbang kampus."

​"Diterima, Kapten. Kami akan tetap mengunci pergerakannya," jawab Reva dingin, matanya melirik ke arah tangga menuju lantai tiga tempat ruang kelas Arkana berada.

​Pelarian Sempurna dari Lalat Militer

​Arkana, yang indra spiritualnya dari ranah Spirit Gathering Tingkat Tiga telah meluas hingga radius seratus meter tanpa celah, bisa mendengar setiap kata dari percakapan rahasia kedua agen tersebut dengan sangat jelas. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan cemoohan. Fase ini memang dirancang untuk menguji sejauh mana otoritas militer modern mampu mendeteksi keberadaan seorang kultivator sejati sebelum konflik berdarah skala besar pecah.

​Ketika bel penanda berakhirnya jam kuliah berbunyi nyaring, seluruh mahasiswa di dalam kelas 302 langsung bangkit dari kursi mereka, menciptakan hiruk-pikuk kedatangan dan kepergian yang biasa terjadi di koridor kampus. Arkana segera mengemas gawai digitalnya dan berjalan membaur di tengah kerumunan mahasiswa yang bergerak menuju tangga keluar.

​Dimas dan Reva sudah bersiap di ujung koridor bawah, mata mereka menyisir setiap wajah yang turun dari lantai tiga dengan ketajaman elang buruan. Namun, tepat ketika Arkana melangkah ke area tangga yang padat, ia mengaktifkan seuntai kecil Teknik Langkah Angin Kaisar.

​Wuuusss...

​Tanpa menimbulkan distorsi angin yang kasat mata, tubuh Arkana tampak mengabur selama sepersekian detik di mata manusia fana. Di bawah manipulasi energi spiritualnya, cahaya di sekitar tubuhnya sedikit dibelokkan, menciptakan ilusi optik sederhana yang membuat pandangan mata Dimas dan Reva meleset secara tidak sengaja saat sosoknya melintas tepat di depan hidung mereka.

​Ketika kedua agen itu berkedip, Arkana sudah berjalan melewati gerbang luar kampus, melangkah santai menuju gang sempit terisolasi di mana sebuah sepeda motor listrik tua tanpa plat nomor siber telah menunggunya di bawah bayang-bayang pohon rindang.

​Arkana memakai helm hitamnya, menyalakan mesin motor tanpa suara, dan langsung memacu kendaraannya membelah kemacetan jalanan Jakarta Barat, meninggalkan Universitas Nusantara dan seluruh jaringan pengawasan Biro Keamanan Khusus yang kini terpaksa menanggung rasa malu akibat kehilangan target utama mereka tanpa jejak.

​Menuju Lembah Gunung Salak

​Perjalanan dari Jakarta Barat menuju kawasan kaki Gunung Salak di wilayah Bogor memakan waktu sekitar dua jam menggunakan jalur tikus non-komersial yang bebas dari kamera pemindai retina milik pemerintah. Sepanjang perjalanan, pemandangan kota metropolitan yang penuh dengan gedung pencakar langit mekanis perlahan berubah menjadi deretan perbukitan hijau yang diselimuti kabut tebal.

​Di tahun 2042, setelah fenomena kebangkitan energi spiritual global dimulai, wilayah pegunungan seperti Gunung Salak mengalami perubahan ekologis yang sangat radikal. Tanaman liar tumbuh dengan ukuran raksasa, dan konsentrasi partikel Qi di udara terasa berkali-kali lipat lebih pekat dibandingkan dengan wilayah perkotaan yang telah tercemar oleh radiasi mesin siber.

​Arkana menghentikan motornya di depan sebuah celah tebing batu kapur yang curam, tersembunyi di balik jalinan akar pohon beringin purba yang lebat. Tempat ini adalah tanah terisolasi yang berhasil diakuisisi oleh Dani menggunakan dana taktis dari yayasan cangkang anonim mereka, Yayasan Lentera Nusantara.

​Begitu Arkana melangkah masuk melewati celah tebing, ia disambut oleh pemandangan sebuah lembah rahasia berbentuk mangkuk raksasa yang dikelilingi oleh dinding batu tegak setinggi ratusan meter. Di tengah lembah, sebuah aliran sungai bawah tanah yang sangat jernih mengalir deras, bermuara pada sebuah air terjun es yang memancarkan pendaran uap putih dingin akibat tingginya konsentrasi energi spiritual murni di tempat tersebut.

​Lisa berdiri di atas sebuah batu besar di tepi sungai, mengenakan pakaian latihan taktis berwarna hitam tanpa lengan yang memperlihatkan otot-otot lengannya yang kencang dan padat hasil dari penempaan ranah Body Tempering Tingkat Satu. Di hadapannya, tiga puluh anak muda berusia antara enam belas hingga dua puluh dua tahun berdiri dalam formasi barisan yang rapi namun tampak rapuh.

​Mereka adalah anak-anak yatim piatu dan pemuda pinggiran yang diselamatkan oleh Lisa dari berbagai sudut kota. Wajah mereka tampak pucat, tubuh mereka kurus, dan sebagian besar dari mereka memiliki bekas luka operasi di bagian kepala atau tulang belakang—sisa-sisa kegagalan prosedur medis fana yang mencoba memaksakan pemasangan implan siber ke dalam tubuh mereka yang menolak keras teknologi mekanis.

​"Dengar, kalian semua!" suara Lisa bergema nyaring di seluruh penjuru lembah, dipenuhi oleh aura ketegasan elemen kayu murni yang membuat udara di sekitar mereka terasa bergetar lembut. "Masyarakat di luar sana menganggap kalian sebagai sampah cacat yang tidak berguna karena tubuh kalian menolak modifikasi siber tahun 2042. Mereka membuang kalian ke jalanan seperti barang rongsokan. Tapi di tempat ini, di bawah naungan faksi baru kita, cacat yang mereka sebutkan itu sebenarnya adalah berkah tertinggi dari langit!"

​Lisa menunjuk ke arah air terjun es di belakangnya. "Tubuh kalian menolak mesin karena meridian di dalam dada kalian terlalu murni untuk dinodai oleh besi fana. Kalian dilahirkan untuk menjadi kultivator sejati! Namun, kekuatan tidak diberikan kepada orang lemah yang cengeng. Mulai detik ini, ujian penyaringan darah baru resmi dimulai!"

​Tiga Hari Ujian Ketahanan

​Tiga puluh pemuda itu menatap Lisa dengan mata yang menyala-nyala oleh kombinasi antara rasa takut dan harapan yang mendalam. Mereka tahu ini adalah satu-satunya kesempatan bagi mereka untuk bangkit dari kubangan penghinaan dunia modern.

​Sesuai dengan instruksi ketat yang diberikan oleh Arkana sebelum keberangkatannya dari Kota Tua, ujian yang dirancang untuk tiga puluh calon prajurit pertama ini tidak melibatkan penggunaan obat-obatan atau pil alkimia secara instan. Tahapan awal ini murni merupakan penyaringan terhadap aspek ketahanan mental dan keteguhan tekad spiritual mereka.

​"Ujian pertama: Naik ke atas puncak air terjun es itu menggunakan tangan kosong tanpa bantuan tali atau alat mekanis apa pun!" perintah Lisa, menunjuk ke dinding tebing licin yang dialiri air sedingin es di ujung lembah. "Setelah sampai di atas, kalian harus duduk bermeditasi di bawah guyuran air terjun selama dua belas jam penuh untuk membersihkan sisa-sisa racun duniawi dari pori-pori kulit kalian. Siapa pun yang menyerah atau jatuh sebelum waktu yang ditentukan, akan langsung dikeluarkan dari lembah ini dan memori mereka tentang tempat ini akan dihapus secara permanen!"

​Tanpa menunggu komando kedua, seorang pemuda bertubuh kurus dengan bekas luka implan di lehernya melangkah maju paling depan. Namanya Bintang, usianya baru tujuh belas tahun. Dengan gigi yang mengatup rapat menahan dingin, ia langsung melompat ke aliran sungai dan mulai merayap naik ke atas batu-batu tebing yang licin.

​Langkah Bintang segera diikuti oleh dua puluh sembilan pemuda lainnya. Mereka merangkak, terjatuh, kulit jemari mereka berdarah terkena tajamnya batu kapur, namun tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara keluhan atau teriakan menyerah. Tekanan spiritual alami dari lembah Gunung Salak yang pekat seolah-olah menjadi beban berat tak kasat mata yang menekan pundak mereka di setiap jengkal pendakian.

​Dari atas puncak tebing yang tersembunyi di balik kabut, sesosok bayangan hitam mengamati seluruh proses tersebut dengan tatapan mata yang dingin dan penuh perhitungan. Arkana Wijaya berdiri di sana, melipat kedua tangannya di depan dada, membiarkan jubah hitamnya berkibar hebat diterpa angin gunung yang kencang.

​Di dalam pusat kesadarannya, ingatan Kaisar Abadi memberikan analisis yang mendalam tentang potensi masing-masing dari ketiga puluh anak muda di bawah sana. Dari sudut pandang kultivasi sejati, penolakan tubuh mereka terhadap implan siber di tahun 2042 adalah bukti bahwa mereka memiliki Konstitusi Spiritual Laten yang sangat langka. Jika mereka berhasil melewati ujian penyaringan ini dan mengonsumsi Pil Pengumpul Bakat yang telah ia racik, faksi rahasia bentukannya akan langsung memiliki fondasi kekuatan militer batin yang mampu menggetarkan seluruh klan kuno di Asia Tenggara.

​"Tiga hari... waktu yang cukup untuk melihat siapa yang memiliki tulang sejati seorang pejuang, dan siapa yang hanya menjadi debu di tengah jalan," batin Arkana, memutar Cincin Kaisar Abadi di jarinya dengan perlahan.

​Ia melompat turun dari puncak tebing setinggi lima puluh meter dengan gerakan seringan sehelai bulu, mendarat tepat di samping Lisa tanpa menimbulkan riak air sedikit pun di permukaan sungai, siap memimpin secara langsung kelahiran angkatan pertama dari organisasi rahasia yang kelak akan mengubah jalannya sejarah peradaban manusia modern.

1
Jujun Adnin
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!