NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Pemuas Badboy Kampus

Terpaksa Menjadi Pemuas Badboy Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Gymora Sasami seorang mahasiswa yang terkenal akan kepintarannya, dia juga putri tunggal keluarga kaya.
Dia selalu dipuji dan dieluh-eluhkan di kampus.
Namun, citra yang sebelumnya sudah dibangun olehnya terancam dihancurkan oleh seorang Badboy kampus yang tidak sengaja memergoki dirinya digudang saat sedang memuaskan dirinya sendiri.
Pagi itu digudang, Draka Nilon mengambil alat yang ada ditangan Gymora, hal itu membuat Gymora yang akan mencapai titik kepuasannya terkejut.
"Aku tidak menyangka, seorang wanita cantik yang terkenal pintar dan jual mahal di kampus melakukan hal yang tidak terpuji seperti ini," sindir Draka.
Gymora langsung menutup tubuh bagian bawahnya.
"Draka aku mohon, jangan sebarkan video itu!" pinta Gymora.
Melihat Draka yang diam, Gymora terus memohon.
"Karena kamu terus memohon dan berlutut, baiklah kita buat kesepakatan. Kalau kamu ingin aku tidak menyebarkan videomu itu. Kamu harus melayaniku!"
Kedua bola mata Gymora membelalak, mengingat dia belum pernah melaku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12.

"Aku janji nggak bakalan ingkar ... " Ucapan Draka terhenti, saat melihat tatapan Gymora yang penuh ketidakpastian.

"Baiklah, kalau sampai aku ingkar. Kamu boleh melakukan apapun yang kamu suka. Aku nggak akan pernah melarang!"

Gymora menatap Draka dengan tatapan dalam, bagaimana pun juga, ia tidak begitu saja bisa mempercayai hanya sebuah ucapan.

Draka mengerti, jika Gymora tidak membutuhkan janji palsu.

Draka bangkit, lalu mengambil kertas dari laci meja disamping ranjang.

"Aku tahu, ucapanku sulit dipercaya. Tapi sebenarnya aku tidak sebodoh yang dikatakan orang-orang, aku punya saham 20 persen di perusahaan teknologi kecerdasan RAKA. Kamu bisa memilikinya kalau sampai aku ingkar janji padamu," ucap Draka serius seraya menyerahkan lembar pengalihan saham.

"Tinggal kamu tanda tangani saja, besok setalah pulang dari upacara pemakaman ayahmu. Aku akan mengantarmu ke pengacara untuk mengesahkan surat ini!"

"Apakah kamu Raka, penemu teknologi inti perusahaan itu?" tanya Gymora dengan nada sedikit ragu.

Draka tidak ada pilihan lain, selain mengangguk ucapan Gymora.

Bagaimana pun juga, ia harus menyakinkan gadis itu, agar gadis itu tidak lagi memiliki niat bunuh diri.

"Aku yakin kematian ayahmu bukan sepenuhnya bunuh diri. Aku akan membantumu menyelidikinya, kalau aku berbohong dan meninggalkanmu. Kamu masih punya perusahaan Raka ini."

Gymora masih merasa ragu, tapi ia tetap mengambil kertas yang sekarang ini berada didepannya.

Ia membaca kertas itu dengan seksama. Setelah membacanya, Gymora yang pintar tahu, Draka serius dan tidak berbohong

"Draka, aku tahu ini sangat berharga untuk mu! Tapi ... Aku nggak mau bikin keluargamu nggak nyaman. Walaupun perusahaan Raka ini baru beberapa tahun, tapi perusahaan ini sudah memberikan profit yang besar."

"Aku ... Aku bukanya menghinamu. Dari pada aku, keluargamu lebih membutuhkan uang ini." Tolak Gymora halus.

Draka menatap Gymora dengan tatapan semu. "Gymora, aku anak yatim piatu."

Ucapan Draka langsung membuat suasana menjadi hening.

Sementara dalam hatinya, Draka berkata dengan nada tulus. "Ayah ... Ibu ... Tolong maafkan anakmu yang durhaka ini."

Kedua bola mata Gymora membelalak sempurna. "Draka maafkan aku!"

Gymora mencoba percaya, bagaimana pun sekarang ini ia ingin menanyakan alasan kenapa ibunya sangat membenci dirinya.

Bagaimana pun juga, bukankah dia lahir dari rahim ibunya.

Ia ingin berbicara empat mata, kalau Draka mau menampung dirinya dan juga membersihkan namanya.

Gymora dengan senang hati akan menerimanya.

Bagaimana pun juga, ayahnya juga tidak suka kalau dia memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Walaupun ayahnya sendiri melakukan hal itu.

Gymora terdiam. Bukankah ayahnya selama ini selalu bersemangat, nggak mungkin juga ayahnya beneran bunuh diri.

Sepertinya Gymora mulai memeprcayai ucapan Draka.

Draka lantas memilih bertanya untuk mengalihkan pembicaraan. "Apakah kamu lapar? Dari tadi pagi bukankah kamu belum makan?"

Gymora menatap Draka yang terlihat begitu peduli padanya, walaupun dalam hatinya ia masih belum mempercayai Draka.

Tapi ia mencoba percaya.

Gymora mengangguk.

"Kamu bisa jalan dan makai baju sendiri gak? Kalau nggak bisa, biar aku bantu pakaikan!" Kata Draka dengan nada santai.

Akhirnya Gymora menyadari, kalau dirinya belum berbusana.

Wajahnya sedikit memerah. "Aku bisa sendiri!!"

Draka mengangguk.

Gymora berusaha bangkit, sekarang otaknya sudah kembali jernih bahkan hatinya juga tidak sesakit tadi saat ingin bunuh diri.

Dirinya sekarang ini lebih bersemangat.

Saat akan berdiri, wajah Gymora sedikit merasa kesakitan.

Ia belum pernah melakukannya sebelumnya, sekarang area bawa peruthnya terasa begitu sakit.

Draka yang sudah selesai memakai baju juga melihat ekspresi kesakitan Gymora.

Dengan suara yang terdengar sedikit menyesal, ia berkata, "Maafkan aku! Aku janji tidak akan melakukannya lagi kalau kamu nggak minta!! Ini hanya untuk pembuktian saja."

Gymora ingin marah, tapi semuanya sudah terlanjur terjadi.

Sebenarnya sekarang ia sedikit menyesal, demi membuat Draka percaya ia harus merelakan kesuciannya.

Tapi nasi sudah menjadi bubur, marah pun tidak akan ada gunanya.

"Nggak papa, semuanya sudah terlanjur terjadi!" Kata Gymora dengan ekspresi tenang.

Sedangkan Draka malah semakin kagum dengan sosok Gymora yang pendiam, kuat dan juga tenang.

Gymora memunguti pakaiannya, ia berjalan perlahan menahan sakit.

Draka ingin membantu, tapi melihat tubuh Gymora yang tanpa sehelai benang dari cahaya remang-remang hasratnya malah kembali bangkit.

"Lampu kamar mandi yang mana?" tanya Gymora.

Draka menjawb asal. "Yang sebelah kanan."

Ctek, setelah saklar lampu dihidupkan.

Yang hidup malah lampu utama kamar. Hasrat Draka yang melihat tubuh Gymora seketika lenyap.

Gymora tertawa kecil tanpa menoleh ke arah Draka, "mungkin kamu lupa, ternyata lampu kamar mandi yang sebelah kiri."

Tanpa menunggu jawaban dari Draka, Gymora masuk ke dalam kamar mandi setelah menghidupkan lampu kamar mandi.

Draka terpaku menatap bekas luka yang yang sudah mengering dijagain dalam tubuh Gymora. Seperti dibagian punggung, lengan, bahu.

Gymora, garis-garis merah dan ungu yang seolah menyimpan cerita kelam yang tak pernah terucap.

Matanya yang biasanya tajam kini berkaca-kaca, dada sesak memikirkan betapa dalamnya luka itu bukan sekadar fisik, tapi juga jiwa yang tersayat lama.

"Apakah selama ini hidupnya yang terlihat bahagia hanyalah topeng?" gumamnya dalam hati, seolah berusaha merangkai potongan-potongan kenyataan yang selama ini tersembunyi di balik senyum tenang Gymora.

Draka teringat, saat pelantikan Alan Timoti ayah Gymora menjadi pejabat.

Saat itu keluarga mereka sedang diwawancarai, mereka bertiga terlihat sangat bahagia dan tatapan Gwen terlihat begitu tulus pada Gymora.

Tapi ... Saat sedang berpikir.  Tiba-tiba, ketukan halus di pintu memecah lamunannya.

Draka bangkit dan membuka pintu.

Dylan, asistennya, berdiri dengan senyum profesional sambil menyerahkan sebuah paperbag. "Tuan Draka, ini pakaian nona Gymora yang Anda pesan," ucap Dylan. Draka menerima tas itu dengan tangan gemetar.

Saat membuka, sepasang gaun dan dress cantik terpampang rapi, kain halus berwarna lembut yang kontras dengan kenyataan pahit di balik bekas luka itu.

Namun, tanpa ragu, Draka berkata tegas, "Kembalikan saja. Ganti dengan setelan baju panjang yang nyaman. Jangan lupa beli salep untuk lukanya." Dylan mengangguk cepat, menangkap nada suara Draka yang tak biasa lembut tapi penuh perhatian itu.

Draka menutup pintu dengan ekspresi wajah rumit.

Gymora keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi milik Dylan.

"Maaf, bajuku kotor. Aku lihat ada handuk walaupun sedikit bau ... " Ucapan Gymora terhenti.

"Jangan dipakai, buang saja!!" Draka mendorong Gymora dengan lembut untuk masuk kembali ke kamar mandi.

"Tunggu, sebenar. Habis ini aku antarkan baju untukmu!"

Gymora tidak bisa protes, bagaimana pun ia hanya menumpang. "Oke terimakasih."

Dalam hatinya, ia berharap Draka yang mesum tidak memanfaatkan ketidakberdayaan dirinya dengan memberikan baju kurang bahan seperti lingerie.

Tak berselang lama Dylan kembali dengan menyerahkan paperbag sesuai keinginan Draka.

"Tuan, warna ini pasti nona Gymora suka." Setelah mengatakan itu, Dylan buru-buru pergi.

Draka ingin bertanya lebih lanjut, tapi ia memilih untuk segera menyarankan baju itu pada Gymora.

Draka berdiri di depan pintu kamar mandi, tangan kanannya menekan pelan pintu yang setengah tertutup.

Suaranya terdengar lembut namun tegas, "Gymora, ini baju untukmu!"

Pintu itu terbuka sedikit, memperlihatkan sosok Gymora yang masih mengenakan kimono mandi dengan rambut yang menetes.

Dengan ragu, dia mengulurkan tangan menerima sebuah paperbag dari Draka. Draka melanjutkan, suaranya penuh perhatian, "Di dalam ada salep. Oleskan di beberapa bekas luka yang ada di tubuhmu."

Ada nada khawatir yang tak bisa disembunyikan, membuat kata-katanya terasa lebih hangat dari biasanya. Setelah pintu tertutup kembali, Gymora duduk di tepi bak mandi.

Tangannya gemetar saat membuka paperbag itu.

Terlihat setelan piyama panjang bermerek dengan bahan halus dan salep dalam kemasan rapi.

Matanya membelalak sejenak, lalu bibirnya mengerut membentuk senyum tipis yang tak pernah ia duga akan muncul. Hatinya menghangat, perlahan rasa curiga dan pikiran buruk tentang Draka yang sempat terlintas—bahwa lelaki itu mesum atau punya niat tersembunyi—menghilang.

Kini yang tersisa hanya kehangatan dan rasa terima kasih yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Gymora menatap piyama itu seolah menemukan secercah harapan di tengah luka yang masih membekas.

"Semoga kamu beneran bisa aku percaya Draka," kata Gymora.

Lalu ia segera mengoleskan salep dibagian tubuhnya yang bisa tersentuh tangannya, lalu ia memakai piyama itu.

Setelah keluar dari dalam kamar mandi. Draka berdiri dengan bersandar didinding tak jauh dari kamar mandi.

"Kamu pasti lapar kan? Kita cari makan yuk!!" Titah Draka.

Gymora hanya bisa menjawab dengan anggukan.

Lalu keduanya berjalan bersama keluar apartemen.

"Masih sakit nggak? Kalau masih sakit aku gendong!!"

Gymora menggeleng, "tadi bagian itu juga sudah aku kasih salep. Jadi nggak sakit." Katanya bohong.

Draka mengangguk tak berdaya.

Keduanya masuk ke dalam parkiran VVIP, Gymora memilih tidak banyak bertanya tentang status sebenarnya Draka.

Setelah masuk ke dalam mobil mewah Draka, Draka membawa Gymora ke restoran yang ada ditepi pantai.

Gymora menatap pemandangan air laut dengan mata berkaca-kaca.

1
Mia Camelia
lanjut thor 😄
cerita nya seruuu👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!