NovelToon NovelToon
Satu Bulan Menunda Cerai

Satu Bulan Menunda Cerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.

Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 10: Sisi Lain Adrian Arthur

Malam semakin larut, namun debaran di dada Gisella pasca-interaksi di depan piano tadi belum juga sepenuhnya reda.

Kalimat Adrian yang menyebut dirinya

"berbahaya bagi ketenangan pikiran" terus berputar-putar seperti piringan hitam yang rusak di dalam kepalanya.

Gisella melirik jam dinding di ruang tengah—pukul sepuluh malam lewat empat puluh lima menit.

"Ah, batas waktu sebelas malam,"

gumam Gisella teringat akan ancamannya sendiri di ruang kerja Adrian kemarin.

Dia berjanji akan mengganti menu sarapan Adrian dengan sesuatu yang "ekstrem" jika pria itu nekat begadang lagi.

Berniat untuk memastikan apakah sang profesor mematuhi peringatannya atau tidak, Gisella melangkah pelan menuju ruang kerja lantai bawah.

Lorong rumah sudah sangat sepi. Ketika dia berdiri di depan pintu kayu ek tersebut, dia melihat seberkas cahaya lampu yang masih mengintip dari celah bawah pintu.

"Dia masih bekerja,"

batin Gisella dengan helaan napas panjang.

Gisella mengetuk pintu dua kali secara ritmis, lalu membukanya perlahan tanpa menunggu jawaban.

 "Profesor Adrian, ini sudah hampir jam sebelas malam. Apakah kau lupa dengan ancaman sarapan ekstr—"

Kata-kata Gisella mendadak terhenti di tenggorokan.

Pemandangan di dalam ruang kerja malam ini sama sekali berbeda dari biasanya.

Tidak ada ketikan cepat pada papan ketik komputer, tidak ada gumaman rumus kimia, dan tidak ada aura profesor kaku yang mengintimidasi.

Adrian sedang duduk di lantai marmer, bersandar pada kaki sofa kulitnya.

Kacamata berbingkai perak yang biasa bertengger kokoh di hidungnya kini tergeletak di atas meja.

Kedua matanya terpejam erat, sementara satu tangannya mencengkeram sisi kepalanya sendiri dengan sangat kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol.

Napasnya terdengar berat, pendek-pendek, dan terputus-putus.

 Di keningnya, bulir-bulir keringat dingin sebesar biji jagung mengalir deras membasahi pelipisnya.

Di dekat kakinya, sebuah botol obat kecil terguling dalam keadaan terbuka. Isinya kosong.

"Adrian?!"

Gisella kehilangan seluruh ketenangannya. Dia menjatuhkan genggaman tangannya pada gagang pintu dan langsung berlari menghampiri pria itu, berlutut di atas lantai marmer yang dingin di samping tubuh Adrian.

"Adrian! Kau mendengarku? Apa yang terjadi?!"

Gisella memegang bahu tegap Adrian, merasakan tubuh pria itu bergetar hebat. Kulitnya terasa dingin sekaligus lembap.

Adrian perlahan membuka matanya. Sepasang mata elang yang biasanya memancarkan kecerdasan tajam itu kini tampak sayu, dipenuhi oleh bayang-bayang rasa sakit yang teramat sangat, serta... kerapuhan yang mendalam.

Sisi dominan dan angkuh yang selama ini dia tunjukkan di depan dunia seolah runtuh total dalam keheningan malam ini.

"Gisella..."

suara Adrian terdengar sangat serak, nyaris menyerupai bisikan yang tercekik.

"Obatku... habis. Di laci kedua... lemari buku."

Gisella tidak membuang waktu.

Dia langsung bangkit berdiri, melesat menuju lemari buku besar di sudut ruangan.

Dengan tangan yang sedikit gemetar karena panik, dia menarik laci kedua.

Di sana terdapat beberapa berkas medis dan satu kotak obat berisi botol penurun tekanan darah dan stabilizer glukosa.

Dia menyambar satu botol baru dan segera kembali ke sisi Adrian.

Gisella membuka tutup botol, mengeluarkan satu tablet, lalu mengambil gelas air putih yang untungnya masih terisi penuh di atas meja kerja Adrian.

"Ini, minum ini perlahan,"

ucap Gisella lembut namun cekatan.

Dia menopang bagian belakang kepala Adrian dengan tangan kirinya, membantu pria itu untuk menegakkan tubuh agar bisa menelan obat tersebut tanpa tersedak.

Adrian meminum obatnya dengan susah payah.

Setelah beberapa tegukan air, dia menyandarkan kembali kepalanya pada sofa, membiarkan obat itu bekerja meredakan badai di dalam sistem tubuhnya.

Gisella tetap berada di sisinya, tidak beranjak satu inci pun.

Dengan refleks keibuan dan empati yang murni, Gisella mengambil saputangan bersih dari saku jaketnya dan perlahan-lahan menyeka keringat dingin di dahi serta leher Adrian.

"Maaf..."

 bisik Adrian setelah beberapa menit berlalu, suaranya mulai terdengar sedikit lebih stabil, meskipun matanya masih terpejam.

"Kau harus melihatku dalam kondisi menyedihkan seperti ini."

Gisella menghentikan gerakan tangannya yang sedang menyeka pipi Adrian.

 Dia menatap wajah tampan yang kini tampak begitu pucat di bawah temaram lampu kerja.

"Mengapa kau harus meminta maaf untuk sesuatu yang menjadi hak tubuhmu?"

tanya Gisella dengan nada yang sangat lembut, sarat akan pengertian.

"Kau manusia, Adrian. Bukan mesin pengolah data. Mengapa kau memaksakan diri bekerja sampai seperti ini jika kau tahu tubuhmu sudah mencapai batasnya?"

Adrian membuka matanya perlahan, menatap langit-langit ruang kerja yang gelap. Sebuah tawa hambar dan getir lolos dari bibirnya.

"Karena aku tidak punya pilihan, Gisella,"

ucap Adrian, menyandarkan sisi kepalanya ke arah Gisella, membuat tatapan mereka bertemu dalam jarak yang begitu dekat.

Kehangatan tubuh Gisella dan aroma segar yang menguar dari wanita itu anehnya menjadi jangkar yang menahan kesadarannya agar tidak tumbang.

"Kakek menyerahkan seluruh harapan masa depan keluarga Arthur kepadaku. Ayah menderita penyakit jantung kronis dan tidak bisa memimpin perusahaan atau mempertahankan posisi akademik keluarga. Valerie masih terlalu muda dan emosional. Jika aku lengah satu hari saja, jika riset ini gagal atau posisiku di universitas goyah, para pesaing bisnis dan akademisi di luar sana akan langsung mencabik-cabik keluarga kita,"

lanjut Adrian, mengungkapkan beban berat yang selama ini dia kunci rapat-rapat di balik topeng profesornya yang dingin.

"Semua orang bergantung padaku untuk tetap menjadi 'si jenius yang sempurna'. Jadi, aku tidak boleh sakit. Aku tidak boleh menunjukkan kelemahan."

Mendengar pengakuan jujur yang emosional itu, hati Gisella terasa seperti diremas.

Dia teringat pada jalan cerita novel aslinya. Adrian memang digambarkan sebagai sosok jenius yang dingin dan protektif, namun novel tidak pernah secara mendalam mengeksplorasi betapa kesepian dan tertekannya pria ini di balik layar.

Dia menanggung beban seluruh keluarga sendirian, sementara istrinya yang asli justru menambah beban itu dengan pertengkaran dan skandal finansial bersama Julian.

Gisella mengulurkan tangannya, ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya meletakkan telapak tangannya yang hangat di atas punggung tangan Adrian yang masih terasa dingin.

"Kau tidak harus selalu sempurna untuk melindungi orang lain, Adrian,"

kata Gisella tulus, sepasang mata bulatnya memancarkan ketenangan yang menghanyutkan.

"Mulai hari ini, kau tidak sendirian lagi menanggung beban ini di rumah. Ada aku. Setidaknya, di dalam rumah ini, di dapur, dan di ruang makan, biarkan aku yang mengatur dan menjagamu. Kau bisa melepaskan topeng 'Profesor Sempurna' itu sejenak saat bersamaku."

Adrian tertegun.

Genggaman tangan Gisella yang hangat seolah menyalurkan aliran energi baru yang menenangkan debar jantungnya yang tidak beraturan.

Dia menatap wanita di hadapannya dengan tatapan yang sepenuhnya berubah.

Tidak ada lagi kecurigaan analitis di matanya; yang tersisa hanyalah rasa takjub dan getaran asing yang mendalam.

"Kau... benar-benar bukan Gisella yang kukenal,"

bisik Adrian, tangannya perlahan membalikkan posisi, berganti menggenggam erat jemari lentik Gisella.

"Tapi, entah mengapa, aku bersyukur kau ada di sini malam ini."

Gisella tersenyum tipis, membiarkan tangannya tetap berada dalam genggaman hangat Adrian.

 "Sekarang, bisakah kau berdiri? Kau harus naik ke kamar dan beristirahat. Ini sudah lewat jam sebelas malam."

"Bantu aku,"

sahut Adrian, seulas senyuman tipis dan tulus—bukan senyuman sinis—terukir di wajahnya yang mulai kembali berwarna.

Dengan perlahan, Gisella membantu Adrian berdiri.

 Pria itu menyandarkan sebagian berat tubuhnya pada bahu Gisella saat mereka melangkah keluar dari ruang kerja dan menaiki tangga lantai dua bersama-sama dalam keheningan malam yang hangat.

Malam itu, di bawah pendar lampu koridor yang temaram, Gisella tidak hanya melihat sisi lain dari seorang Adrian Arthur yang rapuh.

Dia juga menyadari bahwa misinya di dunia ini telah bergeser—bukan lagi sekadar bertahan hidup demi dirinya sendiri, melainkan juga untuk menyembuhkan jiwa kesepian dari pria yang seharusnya dia ceraikan dalam waktu tiga puluh hari ke depan.

1
Mar lina
lanjut Thor ceritanya
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...
Mar lina
Aku mampir, Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!