Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Berangkat ke Jogja
Pagi itu langit Jakarta tampak cerah bersih, awan putih berarak pelan di bawah sinar matahari yang mulai menyapa bumi dengan hangat namun tidak menyengat.
Angin pagi yang sejuk berhembus pelan masuk lewat celah ventilasi kamar kost Rima, seolah turut mengantar kepergian gadis itu.
Sejak pukul empat pagi Rima sudah terbangun, matanya terbuka lebar menatap langit-langit kamar yang sudah ia hafal betul bentuknya selama tiga bulan ini.
Ia tidak bisa tidur lagi. Rasanya ada kegelisahan campur senang yang menyelimuti dadanya, bercampur dengan rasa berat karena harus berpisah dari kota tempat ia belajar banyak hal, dan terutama berpisah dari orang yang kini mulai mengisi ruang teristimewa di hatinya.
Perlahan Rima bangkit dari tempat tidur, merapikan sprei dan bantal dengan teliti seolah ingin meninggalkan kesan yang baik di kamar ini.
Ia kemudian mulai memeriksa barang-barangnya satu per satu. Dua koper besar berwarna biru tua sudah tertutup rapat, berisi pakaian, buku-buku, dan kenang-kenangan dari kantor.
Tas ranselnya memuat barang-barang berharga, dompet, kartu identitas, tiket kereta, lukisan kecil buatan sendiri, dan oleh-oleh kesukaan Ayah serta Ibu yang ia beli kemarin sore untuk dibawa pulang ke desa.
Setelah memastikan tidak ada satu pun barang yang tertinggal, Rima menyeka meja belajarnya, lalu menatap sejenak sketsa gambar yang belum selesai.
Gambar gedung kantor dengan langit biru cerah di atasnya, dan ada sosok kecil berjas hitam berdiri di depan pintu gerbang.
Ia tersenyum tipis, mengingat semua kejadian yang tak terlupakan.
Mulai dari kesalahan konyol masuk mobil Andre saat hujan deras, hari-hari canggung di kantor, hingga momen di teras kost kemarin sore yang mengubah seluruh pandangannya tentang cinta dan masa depan.
Tak lama kemudian terdengar ketukan pelan di pintu depan. Rima segera berjalan cepat membukanya, dan jantungnya seketika berdegup kencang tak menentu saat melihat siapa yang berdiri di sana.
"Mas Andre?" serunya hampir berbisik, matanya membelalak tak percaya.
"Kok Mas sudah datang sepagi ini? Bukannya jam kerja di kantor sudah mau dimulai? Nanti Mas terlambat."
Andre tersenyum hangat, senyum yang selalu berhasil membuat rasa cemas di hati Rima perlahan hilang.
Pria itu mengenakan kemeja krem lengan panjang yang rapi, namun kancing kerahnya dibuka sedikit dan lengan bajunya disingkat sebatas siku, memberikan kesan lebih santai namun tetap berwibawa.
Di tangan kirinya ia membawa sebuah kotak makan plastik tebal bermotif bunga, dan di tangan kanannya ada botol minum berkapasitas besar yang sudah terisi penuh air putih dingin.
"Aku tidak mungkin membiarkanmu berangkat sendirian ke stasiun membawa barang seberat ini," jawab Andre lembut sambil melangkah masuk sebentar hanya untuk membantu mengangkat salah satu koper besar yang terlihat berat.
"Aku sudah menelepon Bu Tia dan memberitahu kalau aku akan datang agak terlambat hari ini.''
''Tidak ada rapat penting di jam pertama, jadi aku punya waktu cukup untuk mengantarmu sampai ke stasiun."
Rima tersipu malu, pipinya memerah merona. "Terima kasih ya Mas. Aku jadi merasa tidak enak hati karena menyusahkanmu."
"Kamu tidak pernah menyusahkan aku Rima," potong Andre pelan namun tegas, menatapnya lekat-lekat. "Melakukan hal kecil seperti ini buatmu justru yang membuat hariku terasa lebih berarti."
Perjalanan menuju Stasiun Gambir berlangsung nyaman dan tenang. Di dalam mobil hanya terdengar suara musik instrumen yang lembut.
Mereka berdua bercerita tentang hal-hal sederhana.
Tentang kebiasaan Rima yang suka berjalan kaki sore di sekitar kampus nanti, tentang pantai di desanya yang airnya jernih dan ombaknya tenang saat musim kemarau, serta hal-hal kecil yang harus diperhatikan selama perjalanan kereta yang memakan waktu berjam-jam.
Andre juga memberitahunya bahwa ia sudah memastikan kursi Rima berada di gerbong tengah yang paling aman, dekat dengan ruang petugas, dan tidak terlalu bergetar saat melaju kencang.
Sesampainya di area lobi stasiun yang sudah ramai dengan calon penumpang dan keluarga yang mengantar, Andre berhenti tepat di depan gerbang pemeriksaan tiket dan keamanan.
Ia menggenggam koper Rima , lalu menatap gerbang tertutup itu sebentar dengan wajah yang terlihat berat.
"Aku hanya bisa menemanimu sampai sini," ucapnya pelan sambil menghela napas.
"Harusnya aku membeli juga tiket perjalanan, supaya aku juga bisa masuk ke area dalam maupun peron."
"Tidak apa-apa Mas," jawab Rima cepat-cepat, menyentuh lengan Andre dengan lembut.
"Aku sudah sangat berterima kasih kamu mau bangun pagi-pagi dan mengantarku sampai sejauh ini. Itu sudah lebih dari cukup buatku. Jangan merasa bersalah begitu."
Andre mengangguk pelan, lalu menyerahkan kotak makan dan botol minum yang dibawanya sedari tadi.
"Ini bekal buat kamu di perjalanan nanti. Di dalamnya ada kue-kue basah yang masih hangat.''
''Tadi aku beli di toko kue dekat rumahku dan juga ini ada nasi uduk dengan telur balado dan ayam yang sudah disuir.''
''Ada juga pisang dan air putih dingin di tumbler supaya kamu tidak haus. Jangan lupa dimakan ya, jangan sampai kamu lupa makan seperti dulu kalau lagi asyik melamun atau menggambar."
"Makasih banyak ya Mas," ucap Rima pelan, matanya mulai berkaca-kaca menerima bungkusan itu dengan hati-hati. "Kamu perhatian sekali. Rasanya aku tidak pantas diperlakukan seistimewa ini."
Andre tersenyum lembut, ''Kapan pun kamu butuh bantuan, kapan pun kamu merasa kesepian, kapan pun kamu rindu, langsung hubungi aku. Jangan ragu, jangan sungkan, dan jangan merasa mengganggu. Aku akan selalu ada waktu buat kamu."
"Aku janji Mas. Tapi kamu juga harus berjanji sama aku ya. Jangan terlalu lelah bekerja, jangan sering begadang mengerjakan laporan, jangan lupa beristirahat, dan makanlah makanan yang bergizi, bukan sekadar kopi dan roti saja."
"Aku janji," jawab Andre mantap, lalu perlahan tangannya yang besar dan hangat menyentuh pipi Rima dengan lembut, menghapus butiran air mata yang mulai menetes di sana.
"Kamu yang harus berjanji lebih keras lagi ya. Di Jogja nanti fokuslah belajarmu, nikmati harimu, dan bahagiakan dirimu sendiri. Aku akan menunggumu dengan sabar di sini, menunggu waktu yang tepat buat kita bertemu lagi.''
''Tidak peduli seberapa jauh jaraknya, tidak peduli berapa lama waktunya, hatiku tetap di sini buatmu."
Tiba-tiba suara pengumuman lewat pengeras suara terdengar lantang, memanggil penumpang kereta api tujuan Jogja untuk segera menuju ke peron.
Rima menarik napas panjang, berusaha menahan tangis agar tidak semakin deras.
"Aku masuk dulu ya Mas Andre," pamitnya dengan suara bergetar.
"Hati-hati di jalan ya Rima," jawab Andre lembut, lalu menggenggam kedua tangan Rima erat sejenak sebelum melepaskannya perlahan.
"Sampai jumpa nanti. Ingat, jarak ini hanya sementara."
Rima mengangguk kuat, lalu berbalik perlahan melangkah masuk melewati pemeriksaan tiket.
Sesekali ia menoleh ke belakang, melihat Andre masih berdiri tegak di tempatnya, melambaikan tangan dan tersenyum hangat hingga tubuh Rima perlahan hilang di balik kerumunan orang.
Setelah melewati pemeriksaan keamanan, Rima berjalan menuju peron dengan langkah pelan.
Saat akhirnya ia melihat kereta panjang yang akan membawanya pergi, hatinya terasa campur aduk. Sedih harus berpisah, namun penuh harapan akan masa depan yang cerah.
Ia naik ke gerbong, menemukan kursinya di dekat jendela, dan menaruh barang-barangnya dengan rapi.
Tidak lama kemudian kereta mulai bergerak perlahan, meninggalkan stasiun, menjauh dari Jakarta, menjauh dari Andre, namun membawa serta kasih sayang dan janji setia yang tidak akan pernah pudar di hatinya.
Di dalam kereta, saat pemandangan kota mulai berganti menjadi persawahan hijau, Rima membuka kotak bekal pemberian Andre.
Di antara makanan yang masih terlihat menggugah selera, terselip secarik kertas kecil bertuliskan tulisan tangan yang rapi dan tegas: "Aku akan selalu menunggumu, sampai kamu siap untuk pulang ke pelukanku. Love, Andre."
Rima menempelkan kertas itu di dadanya, tersenyum lebar di sela air mata bahagia yang mengalir di pipinya. Meski kini mereka terpisah jarak ratusan kilometer, hatinya tidak pernah merasa sedekat ini dengan siapa pun.