NovelToon NovelToon
GIGOLO TAMPAN ITU TERNYATA ORANG TERKAYA DI MEXICO

GIGOLO TAMPAN ITU TERNYATA ORANG TERKAYA DI MEXICO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Moms Celina

Valerie bertemu Mario, pria tampan yang dikiranya gigolo di klub malam. Ia jatuh hati pada sosok sederhana itu, hingga kebenaran terungkap: Mario adalah orang terkaya dan paling berkuasa di Meksiko yang menyamar mencari cinta tulus. Dikhianati oleh kebohongan, Valerie ragu memberi maaf. Di tengah bahaya dan intrik kekuasaan, Mario berjuang membuktikan ketulusannya. Kini, keduanya harus memilih: melepaskan, atau mempertahankan cinta yang lahir dari kesalahpahaman di tengah kemewahan dan risiko nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Dua Dunia

Dua minggu berlalu sejak hari itu—hari di mana dunia Valerie terbalik sepenuhnya. Dua minggu di mana ia harus belajar berjalan di atas tali yang sangat tipis, menyeimbangkan antara peran profesionalnya sebagai penasihat hukum dan peran pribadinya sebagai wanita yang perasaannya sedang diaduk-aduk oleh pria paling berkuasa di negara ini.

Setiap hari, Valerie datang ke gedung Whashington, masuk ke lantai paling atas, dan berhadapan langsung dengan Mario. Di hadapan staf, mitra bisnis, atau siapa pun yang ada di ruangan itu, mereka adalah klien dan pengacara. Hubungan mereka formal, kaku, penuh perhitungan, dan sangat profesional. Mario bertindak sebagai bos besar yang dingin, tegas, dan menuntut—sosok yang ditakuti dan dihormati semua orang. Valerie pun berperan sesuai tempatnya: cerdas, tajam, tidak tersentuh, dan selalu berpegang pada aturan serta hukum. Tidak ada senyum berlebihan, tidak ada tatapan mata yang berlama-lama, apalagi sentuhan sekecil apa pun.

Namun, begitu pintu ruang kerja tertutup dan hanya ada mereka berdua di dalamnya, suasana berubah drastis. Topeng kekuasaan Mario luruh seketika, berganti menjadi sosok yang sama yang pernah ia temui di klub malam. Tatapan matanya menjadi lembut, nadanya berubah halus, dan perhatiannya tertuju penuh hanya pada Valerie. Di saat-saat seperti itulah, Valerie merasakan kebingungan terbesarnya. Ia melihat dua sisi dari satu koin yang sama: Mario sang raja bisnis, dan Mario pria biasa. Dan keduanya sama-sama memiliki daya tarik yang mematikan.

Siang itu, mereka sedang bekerja meninjau dokumen penting yang berkaitan dengan perizinan lahan di utara Meksiko. Ruangan itu hening, hanya terdengar suara halus kertas yang dibalik dan ketikan jarum jam di dinding. Valerie duduk di kursi seberang meja besar itu, matanya menelusuri baris demi baris tulisan hukum yang rumit, namun pikirannya melayang ke arah pria di hadapannya.

Mario sedang menulis catatan kecil di buku catatannya, wajahnya serius, alisnya sedikit berkerut tanda konsentrasi. Ia mengenakan kemeja biru tua dengan lengan digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang kekar dan kulitnya yang halus. Ada sesuatu yang sangat mempesona saat Mario sedang bekerja—kepintarannya, ketajaman analisisnya, dan wawasannya yang luas tentang segala hal. Valerie harus mengakui, meski dengan berat hati, bahwa pria ini tidak hanya kaya karena warisan semata. Ia cerdas. Sangat cerdas. Kekayaan besar itu tumbuh dan bertahan di bawah kendalinya karena ia memang layak memegangnya.

“Kau menatapku lagi, Valerie,” suara Mario memecah keheningan, tanpa mengangkat wajahnya dari tulisannya, namun sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum jahil yang samar. “Kalau kau terus menatapku seperti itu, aku akan berhenti bekerja dan kita bisa membicarakan hal lain yang lebih menyenangkan.”

Pipi Valerie memerah seketika. Ia buru-buru menundukkan wajahnya kembali ke dokumen, berusaha menyembunyikan rasa malunya yang mendalam.

“Aku sedang memeriksa tanda tanganmu, Tuan Whashington. Memastikan tidak ada kesalahan prosedur,” jawabnya ketus, meski nada suaranya tidak sekuat yang ia harapkan.

Mario tertawa pelan, suara rendah yang bergema menyenangkan di telinga Valerie. Ia meletakkan pulpennya, lalu bersandar santai di kursi besarnya, menyilangkan tangan di dada dan menatap wanita itu dengan pandangan yang penuh kekaguman.

“Masih dengan panggilan formal itu? Sudah dua minggu, Val. Dan kau sudah tahu segalanya tentangku. Kau tahu aku pernah menyajikan minuman, menari, dan mendengarkan keluhan wanita lain demi mencari perhatianmu. Apakah status sosial masih penting di antara kita?”

Valerie menghela napas panjang, mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke mata cokelat itu.

“Penting. Sangat penting. Karena itu satu-satunya tembok yang aku punya untuk melindungi diriku darimu,” jawabnya jujur. “Semakin aku mengenalmu, Mario… semakin sulit bagiku untuk tetap berpikir jernih. Dulu, aku mengira kau pria biasa yang tidak punya apa-apa. Aku bisa merasa lebih unggul, aku bisa merasa aman karena aku yang memegang kendali. Tapi sekarang? Kau memiliki segalanya. Kau berkuasa atas segalanya. Termasuk atas diriku sendiri, tanpa kau minta pun.”

Pengakuan itu keluar begitu saja, mentah dan jujur. Mario terdiam. Senyum di bibirnya perlahan hilang, digantikan dengan ekspresi lembut dan serius. Ia bangkit berdiri, berjalan mengelilingi meja, dan berhenti tepat di samping kursi Valerie.

“Kau tidak pernah di bawah kendaliku, Valerie,” ucapnya pelan, suaranya rendah dan penuh penekanan. Ia menjulurkan tangan, perlahan menyentuh sisi wajah wanita itu, mengusap tulang pipinya dengan jempolnya yang hangat dan kasar. “Justru kaulah yang memegang kendali penuh atas diriku. Kau tidak tahu betapa sulitnya bagiku untuk menahan diri, untuk tidak menarikmu ke dalam pelukanku setiap kali kita berdua di ruangan ini. Kau tidak tahu betapa beratnya menahan keinginan untuk membuang semua pekerjaan ini dan membawamu pergi ke suatu tempat di mana hanya ada kita berdua.”

Jantung Valerie berdegup kencang, begitu keras hingga ia yakin Mario bisa merasakannya. Di dekat pria ini, pertahanan dirinya meleleh seolah lilin terkena api. Ia menatap bibir Mario, lalu kembali ke matanya yang dalam dan penuh gairah yang tertahan.

“Lalu kenapa tidak kau lakukan?” tanya Valerie berbisik, suaranya hampir tak terdengar. “Kau kan biasa mengambil apa pun yang kau inginkan. Kau kan orang paling berkuasa.”

Mario tersenyum sedih, matanya menatap lekat-lekat manik mata Valerie.

“Karena aku ingin kau menginginkanku juga. Aku sudah cukup hidup dengan hal-hal yang kupaksa atau kubeli. Aku tidak ingin cintamu didapatkan dengan cara itu. Aku ingin kau datang padaku dengan keinginanmu sendiri. Aku ingin kau mencintaiku bukan karena aku Whashington, bukan karena aku kaya atau berkuasa, tapi karena kau melihat pria yang sama seperti yang kau temui malam itu di klub. Pria yang sama yang membuatmu tertawa, yang mendengarkanmu, yang mengagumimu lebih dari apa pun di dunia ini.”

Sebelum Valerie sempat menjawab atau memproses perasaannya, ketukan keras terdengar di pintu. Keduanya tersentak, mundur perlahan dan kembali ke posisi semula secepat kilat. Mario kembali berdiri tegak, wajahnya berubah menjadi dingin dan berwibawa dalam sekejap. Valerie buru-buru merapikan kertas-kertas di meja, berusaha menenangkan napasnya yang memburu.

“Masuk,” ujar Mario dengan suara berat dan tegas, nada seorang bos besar.

Pintu terbuka, dan Camila Reyes masuk dengan wajah serius, diikuti oleh Ricardo De La Vega. Di belakang mereka, tampak aura ketegangan yang tidak biasa. Camila meletakkan sebuah berkas tebal berwarna merah di atas meja Mario. Warna merah adalah kode untuk hal-hal yang mendesak, berbahaya, dan sangat rahasia.

“Ada masalah, Tuan,” lapor Camila singkat, melirik sekilas ke arah Valerie seolah ragu apakah wanita itu boleh ada di sini saat pembahasan ini.

Mario mengangguk, memberi isyarat agar ia tetap bicara. “Lanjutkan. Nona Smith adalah penasihat hukum resmiku. Apa pun yang dibicarakan di sini, ada di bawah tanggung jawabnya juga.”

Ricardo maju selangkah, wajahnya tegang. “Alejandro Vargas bergerak. Dia tahu tentang rencana penggabungan kita. Dan lebih buruk lagi… dia mulai menggalang kekuatan untuk menjatuhkanmu, Mario. Dia tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan. Dia sedang menggali masa lalumu, mencari celah untuk meruntuhkan reputasimu dan mengambil alih aset perusahaan.”

Nama itu—Alejandro Vargas—tidak asing bagi Valerie. Ia sering mendengarnya di lingkaran bisnis. Vargas adalah saingan terbesar Mario, pria yang kejam, ambisius, dan tidak segan-segan menggunakan cara kotor untuk mencapai tujuannya. Ia sudah lama mengincar kekuasaan Mario.

“Dan ada lagi,” tambah Camila, suaranya sedikit pelan namun penuh makna. Ia melirik Valerie lagi, kali ini dengan tatapan yang lebih tajam. “Vargas tahu… atau setidaknya dia menduga… tentang aktivitas Tuan di Vela Nera. Ada desas-desus yang mulai beredar. Dan dia berniat menggunakan itu untuk merusak nama baik Tuan Whashington. Bagaimana kalau orang terkaya di Meksiko ternyata pernah bekerja sebagai pendamping bayaran? Itu akan menjadi skandal terbesar dalam sejarah bisnis negara ini. Itu bisa menghancurkan segalanya yang telah Tuan bangun.”

Udara di ruangan itu terasa mendadak lebih berat. Valerie menatap Mario. Ia melihat rahang pria itu mengeras, matanya yang tadi lembut kini berkilat dingin dan berbahaya. Ia tahu risiko ini. Ia tahu apa yang dipertaruhkan Mario saat memulai penyamaran gila itu. Jika kebenaran terungkap bukan dari mulut Mario sendiri, tapi dari mulut musuhnya, dampaknya akan sangat fatal. Reputasi, bisnis, kekuasaan, semuanya bisa runtuh seketika. Dan bukan hanya itu… Valerie sendiri pun terseret ke dalam bahaya. Hubungan mereka, pertemuan pertama mereka, semuanya bisa diputarbalikkan menjadi berita buruk, skandal kotor yang bisa mencoreng nama baik Valerie sebagai pengacara.

“Dia juga tahu tentangmu, Nona Smith,” kata Ricardo tiba-tiba, menatap Valerie dengan tatapan serius. “Dia tahu kau terlibat, dia tahu kau adalah penasihat hukum yang baru saja ditunjuk secara khusus oleh Mario. Dia berpikir ada sesuatu yang lebih di balik hubungan kalian berdua. Dan Vargas tidak akan ragu menyerang siapa saja yang dianggap menjadi kelemahan Mario. Termasuk kau.”

Valerie menelan ludah. Bahaya yang selama ini hanya ia baca di novel atau tonton di film kini ada tepat di depan matanya. Ia tidak lagi hanya berurusan dengan hukum dan kertas-kertas. Ia berurusan dengan kekuasaan, persaingan hidup dan mati, dan musuh yang tidak segan-segan melukai orang lain demi tujuannya.

Namun, saat ia menatap Mario, rasa takut itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Mario menatapnya, dan di mata itu, Valerie tidak melihat kepanikan atau penyesalan. Ia melihat tekad yang kuat, perlindungan yang mutlak, dan rasa tanggung jawab yang besar. Mario berjalan mendekatinya, berdiri di samping kursinya, seolah menjadi perisai fisik sekaligus batin bagi wanita itu.

“Jangan khawatir, Valerie,” ucap Mario tegas, suaranya tenang namun berwibawa, ditujukan padanya maupun pada kedua orang di ruangan itu. “Selama aku berdiri di sini, tidak ada siapa pun yang bisa menyakitimu. Vargas mau apa pun, dia berani melakukan apa pun… aku akan pastikan dia menyesal pernah berniat buruk padamu.”

Ia berbalik menghadap Ricardo dan Camila. Aura pemimpin mutlak kembali menguasai dirinya.

“Kita tidak akan mundur. Kita tidak akan membiarkan Vargas mengatur langkah kita. Dia ingin bermain kotor? Bagus. Aku sudah lama bosan dengan permainannya yang membosankan. Camila, kumpulkan semua data tentang gerak-gerik Vargas. Cari setiap kesalahan, setiap jejak kotor yang dia tinggalkan. Ricardo, amankan semua dokumen penting, dan pastikan tim hukum kita bersiap. Dan yang paling penting…”

Mario berhenti sejenak, menatap Valerie dalam-dalam, matanya penuh perhatian.

“Amankan Valerie. Dia adalah prioritas utama. Mulai sekarang, dia akan dikawal. Di kantor, di rumah, di mana pun dia pergi. Aku tidak mau ada satu rambut pun darinya yang hilang karena ulah Vargas atau anak buahnya.”

“Tapi Mario,” potong Valerie cepat, berdiri dari kursinya dan menatap pria itu berani. “Aku bukan boneka yang perlu dikurung atau dijaga seperti anak kecil. Aku pengacara, dan aku bagian dari tim ini. Jika Vargas menyerangku, itu berarti dia menyerang kita semua. Dan aku tidak akan lari bersembunyi.”

Mario tersenyum tipis, bangga dengan keberanian wanita itu, namun tangannya menggenggam lengan Valerie dengan lembut namun tegas.

“Aku tahu kau kuat, Val. Kau wanita yang paling berani yang pernah aku kenal. Tapi aku tidak mau mengambil risiko sedikit pun. Tidak dengan nyawamu. Vargas berbahaya, dia tidak mengikuti aturan main apa pun. Dan aku sudah terlalu lama berjuang, sudah terlalu jauh melangkah untuk mendapatkan kepercayaanmu… aku tidak akan membiarkan siapa pun, atau apa pun, merusak ini. Mengerti?”

Nada suaranya lembut namun tidak bisa dibantah. Valerie mengangguk pelan, menyadari bahwa pertarungan mereka baru saja dimulai. Kebohongan masa lalu Mario telah membawa mereka ke titik ini. Identitas gandanya yang dulu menjadi jembatan pertemuan mereka, kini menjadi senjata tajam di tangan musuh.

Malam itu, saat Valerie pulang, ia tidak sendirian. Dua orang pengawal berpakaian santai namun berwajah tegas mengikutinya dari jarak dekat, perintah langsung dari Mario. Saat ia masuk ke dalam mobilnya, ia melihat mobil hitam besar terparkir di seberang jalan. Jendela kaca turun sedikit, dan ia melihat wajah Mario di sana. Pria itu hanya menatapnya, mengangguk pelan memberi isyarat agar hati-hati, sebelum mobilnya bergerak perlahan mengikuti di belakang hingga Valerie sampai aman di apartemennya.

Dari jendela lantai tinggi apartemennya, Valerie menatap ke bawah, melihat mobil itu masih berdiam diri di sana, menjaga jarak namun tetap ada. Jantungnya berdebar bukan lagi karena marah atau bingung, tapi karena perasaan yang mulai tumbuh dan mengakar kuat. Di tengah bahaya, intrik, dan kebohongan masa lalu itu, Mario membuktikan satu hal yang nyata: ia rela mempertaruhkan segalanya—kekayaannya, kekuasaannya, bahkan nyawanya—hanya untuk melindunginya.

Valerie menyandarkan punggungnya ke dinding kaca, tersenyum samar di tengah keremangan kamar. Meskipun awalnya penuh dengan kepalsuan, meskipun jalan yang mereka lalui penuh dengan duri dan bahaya, ia mulai menyadari satu kebenaran yang tak terbantahkan:

Mario Whashington, baik sebagai gigolo sederhana maupun sebagai orang terkaya di Meksiko, adalah pria yang sama. Dan ia telah mencuri hatinya sepenuhnya. Sekarang, Valerie tahu ia harus berjuang juga. Bukan hanya untuk pekerjaannya, tapi untuk pria itu, untuk cinta yang rumit namun tulus ini, dan untuk masa depan yang berbahaya namun penuh harapan.

Di bawah sana, di dalam mobil hitamnya, Mario menatap jendela kamar yang menyala itu. Ia mengusap dadanya, tempat di mana hatinya berdebar kencang karena rasa cinta dan rasa khawatir yang bercampur jadi satu.

"Tunggu aku, Valerie," bisiknya pelan ke dalam keheningan malam. "Aku akan pastikan semua bahaya ini berlalu. Dan saat itu tiba, aku akan bertanya padamu satu hal lagi... kali ini tanpa topeng, tanpa kebohongan, dan dengan segala yang aku miliki: maukah kau menjadi milikku selamanya?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!