Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
laci Itu
Neya menutup album foto tua itu dengan tangan yang gemetar ringan. Kepalanya terasa pening, bukan karena efek obat, melainkan karena hantaman kenyataan bahwa tidak ada satu pun rekam jejak digital atau cetakan fisik yang membuktikan keberadaan Aris di masa lalu mereka. Laki-laki yang kini berstatus sebagai suaminya itu seolah baru sengaja diciptakan masuk ke dalam hidupnya seminggu yang lalu saat ia terbangun di rumah sakit.
Neya tahu dia tidak bisa tinggal diam. Ia harus bertindak sekarang, selagi Aris sedang pergi bekerja di perusahaannya dan rumah dalam keadaan relatif sepi. Targetnya sudah jelas: laci terbawah di ruang kerja Aris yang terkunci rapat. Namun, dia membutuhkan sebuah kunci khusus untuk membukanya.
Sebuah ide mendadak melintas di benak Neya. Jika ada orang yang menyimpan kunci cadangan atau kunci rahasia dari setiap jengkal rumah ini, orang itu pastilah ibunya, Ibu Imelda.
Neya menarik napas dalam-dalam, menata kembali raut wajahnya di depan cermin agar terlihat tenang, lalu melangkah menuruni anak tangga menuju kamar utama ibunya di lantai bawah. Ia mengetuk pintu kayu itu pelan.
Bunda?" Panggil Neya dengan nada suara yang dibuat semanis mungkin.
Pintu terbuka, menampilkan sosok Ibu Imelda yang tampak terkejut namun langsung tersenyum hangat. "Eh, Neya? Ada apa, Sayang? Bukankah seharusnya kamu istirahat di kamar?"
Neya menggigit bibir bawahnya, berpura-pura malu dengan pipi yang sengaja dibuat merona merah. "Itu, Bun... Neya merasa belakangan ini terlalu kaku pada Kak Aris. Neya merasa bersalah karena selalu mendadak tegang kalau dekat dengannya. Jadi... Neya berniat ingin memberikan kejutan kecil untuk Kak Aris malam nanti. Neya ingin belajar menjadi istri yang baik dan bermesraan dengannya."
Mata Ibu Imelda seketika berbinar mendengar penuturan itu. Rasa curiga yang sempat hinggap di matanya lenyap digantikan oleh binar kelegaan yang amat besar. "Oh ya? Baguslah kalau begitu, Sayang! Aris pasti akan sangat senang sekali. Lalu, apa yang bisa Bunda bantu?"
Neya tidak membawa banyak baju ganti yang bagus dari rumah sakit, Bun. Apakah di lemari Bunda ada gaun tidur atau pakaian bagus yang cocok untuk Neya pakai malam nanti?" tanya Neya, menatap ibunya dengan pandangan memohon yang polos.
Ibu Imelda terkekeh pelan, benar-benar termakan oleh akting putrinya. "Tentu saja ada. Kemarin Bunda sempat membelikan beberapa gaun untukmu dan menyimpannya di lemari besar itu. Masuklah, pilih saja sendiri mana yang paling kamu sukai. Bunda mau ke dapur sebentar untuk melihat panggangan kue, ya."
"Terima kasih, Bunda," ucap Neya, menahan sorak kemenangan di dalam hatinya.
Begitu ibunya melangkah pergi menuju dapur, Neya segera masuk ke dalam kamar, menutup pintu, dan menguncinya dari dalam. Ia tidak punya banyak waktu. Dengan gerakan cepat namun senyap, Neya mendekati lemari pakaian ibunya. Namun, alih-alih mencari gaun, jemari Neya justru meraba-raba bagian atas lemari, menyisir sela-sela baju, hingga pandangannya tertuju pada sebuah kotak perhiasan beludru kecil yang tersembunyi di balik tumpukan kain sprei di rak paling bawah.
Neya membuka kotak tersebut. Di antara deretan cincin emas lama, matanya langsung terpaku pada sebuah kunci perak kuno yang berat dengan ukiran rumit berbentuk garis-garis rasi bintang yang saling bertautan. Instingnya menjerit kuat bahwa inilah kunci yang ia cari. Tanpa membuang waktu, Neya memasukkan kunci itu ke dalam saku bajunya, lalu dengan asal menyambar sebuah gaun satin tipis berwarna merah marun dari gantungan baju agar sandiwara ini tetap sempurna di mata sang bunda.
Setelah memastikan situasinya aman dan ibunya masih sibuk di dapur bawah, Neya kembali menyelinap ke lantai dua, bergerak lurus menuju ruang kerja Aris.
Pintu ruangan itu tidak dikunci. Neya masuk dan langsung berlutut di samping meja kerja kayu mahoni yang besar. Tangannya yang dingin dan gemetar memasukkan ujung kunci perak kuno itu ke dalam lubang kunci laci terbawah.
Klik.
Suara mekanisme logam yang berputar membuat jantung Neya berdegup gila. Ia menarik gagang laci itu hingga terbuka sepenuhnya. Berkas cahaya matahari yang menembus celah gorden siang itu langsung menyinari isi di dalamnya
Benda pertama yang ia ambil adalah sebuah buku nikah berkover cokelat tua. Tangan Neya gemetar saat membuka halaman pertama. Ia mengingat dengan jelas prosesi akad nikah kemarin siang; ibunya meyakinkan Neya bahwa itu hanyalah acara "nikah ulang" demi membuang sial setelah kecelakaan tragis yang menimpa mereka, sekaligus memperbarui janji suci pernikahan mereka yang katanya sudah berjalan satu tahun.
Neya menahan napas, menyipitkan mata untuk membaca detail data di dalam buku tersebut, mencari tanggal pernikahan mereka yang pertama.
Namun, jantung Neya seketika mencelos.
Di lembar dokumen resmi KUA itu, sama sekali tidak ada catatan tentang pernikahan terdahulu. Tidak ada nomor registrasi lama, tidak ada keterangan pembaharuan akad, dan tidak ada lampiran surat nikah setahun lalu seperti skenario yang diceritakan ibunya. Buku itu adalah dokumen pernikahan yang murni baru dibuat, mencatat bahwa Neya dan Aris baru resmi menjadi suami istri secara hukum dan agama untuk pertama kalinya pada tanggal 15 Mei 2026—tepat kemarin siang.
Neya membekap mulutnya sendiri, menahan pekikan syok yang hampir lolos dari bibirnya. Air matanya seketika merebak panas.
Nikah ulang? Membuang sial? Semuanya bohong. Kemarin siang bukanlah sebuah pembaharuan janji, melainkan awal dari sebuah jebakan. Aris tidak pernah menjadi suaminya di masa lalu. Laki-laki itu baru dimasukkan ke dalam hidupnya secara resmi kemarin siang, memanfaatkan otaknya yang kosong dan tak berdaya setelah koma.
Dengan air mata yang mulai mengalir bebas, Neya mengembalikan buku itu dan meraih selembar dokumen medis di bawahnya. Dokumen itu memuat resep obat saraf yang rutin ia konsumsi setiap hari dari ibunya. Di sana tertera catatan kaki bertinta merah dari dokter: Dosis psikotropika golongan penekan saraf jangka panjang. Dapat memicu distorsi memori dan memblokir ingatan masa lalu secara permanen.
"Obat itu... sengaja membuatku lupa?" bisik Neya pilu. Ibunya sendiri bersekongkol untuk meracuni pikirannya agar ia tidak bisa mengingat masa lalu yang sebenarnya.
Tepat saat itu, matanya menangkap sebuah benda logam kecil yang tergeletak di sudut paling dalam laci yang gelap. Sebuah pemantik api silver yang sangat mahal dan elegan dengan ukiran inisial huruf kapital yang tegas: "K".
Begitu jemari Neya menyentuh permukaan logam pemantik itu, sebuah kilasan memori mendadak terlempar kasar ke dalam benaknya seperti hantaman ombak yang pecah. Suara tawa seorang laki-laki di bawah rintik hujan... pelukan hangat yang begitu familier... aroma maskulin perpaduan kayu cedar yang sangat ia kenal... lalu suara letusan senjata api yang memekakkan telinga, disusul jeritan histeris memanggil namanya: "Neya!!!"
Kepala Neya mendadak berdenyut sangat hebat. Laki-laki berinisial K itu... bukan Aris. Siapa pun dia, dialah pemilik sah dari seluruh rasa rindu dan memori yang selama ini terkunci di dalam hatinya.
Klek.
Bunyi halus dari arah pintu ruang kerja seketika memutus paksa pusaran emosi Neya. Seseorang sedang memutar kenop pintu dari luar!
Jantung Neya mendadak berhenti berdetak. Di siang bolong seperti ini, dia tidak boleh tertangkap basah. Dengan gerakan secepat kilat, ia mendorong laci meja Aris hingga menutup kembali, memasukkan pemantik api inisial K dan kunci perak itu ke dalam sakunya, lalu merosot masuk ke bawah kolong meja kayu mahoni yang besar. Ia menekuk lututnya erat-erat dan membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan demi menyembunyikan deru napasnya yang memburu gila.
Krieeet...
Pintu ruang kerja terbuka. Langkah kaki seseorang terdengar berjalan lambat namun pasti di atas lantai, bergerak masuk ke dalam ruangan. Dari balik kolong meja yang gelap, Neya hanya bisa melihat sepasang kaki berdiri tepat hanya beberapa senti di depan meja kerja tempatnya bersembunyi.
Orang itu berdiri diam selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian bagi Neya. Tiba-tiba, tangan orang tersebut bergerak menyentuh permukaan meja tepat di atas kepala Neya, membuat kayu meja berderit halus.
Neya memejamkan matanya rapat-rapat, air matanya menetes dalam keheningan yang mencekam. Siapa yang berdiri di sana? Apakah Aris yang mendadak pulang lebih cepat dari kantornya? Ataukah Bundanya yang menyadari kuncinya telah hilang dari kamar?
lalu Kinan ?