Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Bersama Dian
Malem itu setelah antar Dian pulang, gue langsung chat dia.
Bram: Di, malam ini ke apartemen gue yuk.
Dian bales cepet, cuma emoji malu-malu tapi langsung setuju. Gue jemput dia di kosan. Sepanjang jalan dia diem, tangannya gemeteran pegang tangan gue. Sampai apartemen, suasana langsung panas begitu pintu nutup.
Dian peluk gue erat, ciumannya ragu tapi penuh rasa. Gue angkat badannya pelan, bawa ke kamar. Malam itu kami tidur bareng untuk pertama kalinya. Dian ternyata tipe yang lambat panas. Badannya gemeteran tiap gue sentuh, desahannya kecil tapi bikin gue ketagihan. Kami saling menikmati dengan lembut tapi dalam, saling peluk erat seolah takut lepas. Dian bisik, “Kak… aku suka banget sama Kakak,” berulang-ulang. Kami habiskan malam dengan intim yang panjang, sampai akhirnya lelah dan tertidur saling pelukan.
Pagi harinya, Dian bangun lebih dulu. Gue liat dia lagi siap-siap di depan cermin. Dia pakai baju kerja yang gue beliin , kemeja putih yang pas di badan, rok pensil hitam yang ketat. Bra yang gue pilih bikin bentuk dadanya tercetak jelas, roknya juga nunjukin garis celana dalam yang tipis. Rambutnya digerai, make up tipis, keliatan menawan, menggoda, dan dewasa banget. Jauh dari Dian yang biasa pendiam dan polos.
“Gimana Kak?” tanyanya malu-malu sambil muter badan.
“Gila… lo cantik banget Di. Bikin konsentrasi gue buyar seharian,” gue jawab sambil peluk dari belakang, cium lehernya pelan.
Kami berangkat bareng ke kantor. Di lobby, Marita udah nunggu dengan senyum lebar. Dia pakai blazer abu-abu, tank top hitam ketat di dalam yang nunjukin lekuk tubuhnya, bawahan celana panjang hitam yang nempel di pinggulnya yang lebar. Marita keliatan seksi dan percaya diri.
“Wah… Dian hari ini beda banget! Kak Bram pasti seneng ya,” goda Marita sambil kedip ke gue.
Dian salting, tapi senyumnya manis. Marita puas banget liat mata gue yang sering melirik Dian sepanjang pagi. Tiap Dian lewat meja gue, dada depannya yang tercetak jelas bikin gue susah fokus.
Pagi itu Dian berlari kecil ke ruang meeting buat ambil dokumen yang ketinggalan. Pas lewat meja gue, dia tepuk bahu gue pelan dan bisik, “Kak, susul aku yuk…”
Gue langsung berdiri, ikut ke ruang meeting. Begitu masuk, gue tutup pintu dan kunci. Dian lagi berdiri di depan meja, ngeliat gue dengan mata yang sudah penuh gairah.
Gue langsung peluk dia erat, cium bibirnya dengan ganas. Dian kaget sebentar, tapi langsung balas seperti dua orang kekasih yang lama tak bertemu. Ciuman kami panas dan dalam, lidah saling bertaut. Tangan gue turun, raba belahan dada Dian yang tercetak jelas di balik kemeja. Gue remas pelan, berat dan kenyal. Dian mendesah di mulut gue, badannya menempel erat.
Entah berapa lama kami berciuman dan saling raba. Tangan gue masuk ke dalam kemeja, mainin bra yang gue beliin sendiri. Dian gemeteran, tangannya pegang punggung gue kuat-kuat.
Tiba-tiba pintu diketuk pelan. Marita yang buka dari luar.
“Eh… kalian berdua, udah mulai banyak yang dateng. Kerja dulu yuk,” kata Marita sambil nyengir nakal, tapi suaranya pelan.
Kami berhenti dengan napas ngos-ngosan. Gue rapihin baju Dian, gandeng tangannya keluar ruang meeting. Pas lewat koridor, gue bisik di telinganya, “Malam ini pulang ke apartemen gue lagi ya. Besok libur akhir pekan.”
Dian ngangguk malu, pipinya merah.
Di meja kerja, gue dan Marita saling goda. Marita sengaja condong ke gue, dada depannya senggol lengan gue berkali-kali.
“Kak Bram, Dian hari ini hot banget ya? Berkat aku loh yang ajarin,” godanya sambil ketawa kecil.
Gue nyengir. “Lo juga ga kalah seksi Mar. Tank top hitam lo bikin gue susah konsen.”
Tiba-tiba Ria lewat dengan muka marah banget. Matanya langsung tajam ke arah kami bertiga.
“Marita! Kamu ke ruangan aku sekarang!” perintah Ria dengan suara dingin.
Marita melirik gue sekilas, lalu melangkah ke ruangan Ria dengan tenang. Gue liat dari kejauhan, Dian lagi duduk di mejanya sambil melamun, senyum kecil di bibirnya, tangannya nyentuh bibir seperti masih ngerasain ciuman tadi. Ciuman yang menggetarkan rasanya untuk pertama kali.
Ga lama kemudian Bu Sita lewat dan memanggil gue ke ruangannya.
“Bram, duduk,” kata Bu Sita dengan muka serius. Dia nunjukin surat di meja. “Gue dapat surat ancaman dari nama tak dikenal. Isinya minta gue cek rekaman CCTV satu bulan terakhir, ada yang mencurigakan soal hubungan karyawan. Lo tahu apa-apa soal ini?”
Gue diam saja, pura-pura kaget. “Ga tahu Bu. Mungkin gosip kantor biasa.”
Bu Sita ngeliat gue dari atas sampai bawah, matanya berhenti di bagian bawah gue yang lagi agak menonjol karena belum pakai celana dalam.
“Bram… kamu tidak pakai celana dalam?” tanyanya tiba-tiba dengan suara rendah.
“Maaf Bu… belum sempat cuci semua baju,” gue jawab lantang, pura-pura biasa.
Bu Sita berdiri, mendekat, tangannya langsung meremas punya gue dari luar celana dengan tegas. Gue kaget, tapi diam saja.
“Hari ini kumaafkan. Lain kali saya beri surat peringatan. Lo gak pakai itu,” tegas Bu Sita sambil melepas remasannya. “Keluar sana.” Gue bergegas meninggalkan ruangan dan turun ke lobby.
Gue keluar ruangan dengan perasaan campur aduk. Hari ini penuh drama ancaman Angga, Marita yang usil, Dian yang makin deket, dan sekarang Bu Sita yang nakal.
Siang harinya Marita balik dari ruangan Ria dengan muka biasa aja. “Bu Ria cuma marah-marah doang. Katanya gue terlalu deket sama Kakak,” bisiknya sambil ketawa kecil. Tak ada ini gue bisa yang lain . Laras tak mau , ada Nina . Ada Ulfa atau bahkan Bu Sita juga mau.
Gue senyum. Besok weekend, gue rencana habiskan waktu sama Dian di apartemen. Tapi ancaman Angga masih bayang-bayangin. Ria pasti lagi panik di ruangannya.
Malem harinya gue chat Dian.
Bram: Malam ini ke apartemen gue ya. Gue tunggu.
Dian bales dengan emoji hati. Marita juga chat, godain, “Kak Bram happy banget ya sama Dian. Jangan lupa aku juga loh 😉”
Hidup gue makin ramai. Tapi entah berapa lama gue bisa atur semuanya tanpa meledak. Gue merasa segalanya itu enak dinikmati tapi pahit dirasakan. Ria yang kesepian. Dian yang pendiam dan naksir tanpa kata. Laras yang gue kagumi tapi belum bisa dimiliki. Aprilia yang terlalu sempurna buat Gue. Icha atau Marita yang menyelingi kehidupan gue. Vera yang selalu memberikan angin surga. Sinta yang selalu meramaikan dunia.
btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍