NovelToon NovelToon
Not Our Time

Not Our Time

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Keluarga
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"

Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.

Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.

Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?

~~~~~~
Happy reading 🦋🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#19

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Laboratorium Robotika Utama itu mendadak menjelma menjadi ruang interogasi yang pengap, terlepas dari fakta bahwa pendingin ruangan di sana berembus konstan menyebarkan suhu sedingin es.

Jarak di antara Landon dan Vexana terkikis habis. Aroma mint dari tubuh pria itu bercampur dengan wangi mawar dari parfum Vexana, menciptakan keintiman paksa yang menyesakkan dada.

Cengkeraman kuat Landon pada pinggiran meja logam di kanan-kiri tubuh Vexana mengunci pergerakan wanita itu sepenuhnya.

"Kau menuntutku untuk tenang, Vexa? Setelah kau melemparkan bom itu ke wajahku?" bisik Landon, suaranya merendah, bergetar di sela deru napasnya yang menghantam permukaan kulit wajah Vexana.

"Setiap malam selama akhir pekan ini, aku terjaga. Otakku terus memutar kata-katamu di parkiran. Kau... kau tidak bisa pergi begitu saja setelah menuduhku sekejam itu."

Vexana memalingkan wajahnya ke samping, menolak tenggelam dalam tatapan mata legam Landon yang sarat akan luka dan obsesi.

"Lepaskan aku, Dosen Desmon. Kita sedang di lingkungan kampus. Jaga batasanmu."

"Batasan?" Landon tertawa hambar, sebuah tawa sinis yang menggetarkan dadanya. "Kau yang menghancurkan batasan itu saat tanganmu mendarat di pipiku, Vexana Valerio."

Bip.

Suara sensor pintu baja di ujung laboratorium berbunyi, disusul suara desis hidrolik yang bergeser terbuka. Sentakan itu membuat Landon secara refleks menegakkan tubuhnya, memutus kurungan intim di antara mereka.

Vexana langsung menarik napas dalam-dalam, membenarkan posisi blazer biru dongkernya yang sedikit bergeser dengan jemari yang masih bergetar.

"Landon! Sayang, kau di dalam?"

Sebuah suara merdu, manja, dan dipenuhi keceriaan khas wanita yang merasa memiliki hak penuh atas seorang pria terdengar menggema.

Dari balik pintu, melangkah masuk seorang gadis cantik dengan gaun kasual berbahan linen berwarna pastel. Di tangannya, ia membawa sebuah tas kertas kecil berlogo kedai kopi premium di dekat kampus.

Dia adalah Kimberly, mahasiswi tingkat akhir dari Fakultas Seni—anak kandung dari Dekan Fakultas Seni yang selama beberapa bulan ini dirumorkan memiliki hubungan spesial dengan sang dosen muda genius, Landon Desmon.

Kimberly berjalan dengan langkah ringan, mengabaikan atmosfer berat yang pekat di dalam ruangan.

Senyumannya merekah lebar saat matanya tertuju pada Landon, namun senyuman itu sedikit menyusut ketika ia menyadari keberadaan Vexana yang berdiri bersandar pada meja kerja logam.

"Oh, maaf. Aku tidak tahu kau sedang ada mahasiswa bimbingan, Lan," ucap Kimberly, melangkah mendekat dan langsung meletakkan tas kertas pembawa kopi itu di atas meja Landon tanpa ragu. Ia menatap Vexana dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang halus namun penuh intimidasi terselubung.

Landon tidak menunjukkan ekspresi terkejut ataupun senang. Wajah tegapnya kembali mengeras laksana es, kembali ke mode dosen muda yang tidak tersentuh. "Ada keperluan apa, Kimberly? Aku sedang ada kelas proyek."

"Aku hanya mengantarkan es americano kesukaanmu. Tadi aku lewat depan gedungmu dan ingat kau bilang ada proyek penelitian sampai sore," jawab Kimberly manja.

Tanpa memedulikan tatapan dingin Landon, tangan lentik gadis seni itu bergerak merapikan kerah kemeja hitam Landon yang sedikit kusut akibat konfrontasinya dengan Vexana tadi.

"Jangan terlalu lelah, Sayang. Malam ini Daddy mengajakmu makan malam di rumah, kau tidak lupa, kan?"

Landon tidak merespons. Dia tidak menepis tangan Kimberly, namun tubuhnya bergeming kaku, sama sekali tidak membalas sentuhan atau perhatian manis yang diberikan gadis itu.

Sepasang matanya justru melirik diam-diam ke arah sudut tempat Vexana berdiri.

Di sudut meja, Vexana merasakan ulu hatinya seperti diremas oleh tangan tak kasat mata. Sakit, sangat sakit, hingga membuatnya sulit untuk bernapas dengan benar.

Melihat bagaimana jemari Kimberly menyentuh kerah kemeja Landon... melihat bagaimana nama panggilan 'Sayang' keluar begitu mudah dari bibir gadis lain untuk pria yang dulu memeluknya sepanjang malam... menyalakan sebentuk api cemburu yang luar biasa besar di dalam dada Vexana.

Logikanya tahu bahwa hubungan Landon dan Kimberly hanyalah formalitas belaka—seperti yang disimpulkannya dari gosip kampus. Namun, melihat kedekatan fisik mereka secara langsung tetap saja bertindak sebagai racun yang membakar kewarasannya.

Sepasang mata bulat Vexana mendadak menggelap. Kilatan cemburu, kemarahan yang membuncah, dan rasa kepemilikan purba yang belum mati terpancar jelas dari tatapan matanya yang menghujam ke arah Kimberly. Vexana mencengkeram map kulit di tangannya begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih.

Dan kilatan mata itu... dilihat dengan sangat jelas oleh Landon Desmon.

Landon yang menangkap basah ekspresi cemburu buta di wajah pucat Vexana mendadak merasakan sebuah kepuasan batin yang aneh sekaligus gairah tersembunyi yang menggelitik egonya.

Pria itu menarik kesimpulan, wanita di depannya ini masih menggilainya. Topeng sedingin es yang dipasang Vexana hancur berantakan hanya karena kehadiran selembar tameng formalitas bernama Kimberly.

Sebuah ide gila, nakal, dan cenderung mesum mendadak melintas di otak genius Landon yang sedang frustrasi.

Jika Vexana ingin bermain, maka Landon akan menarik wanita itu ke dalam pusaran permainan verbal yang akan menguji batas pertahanan mereka di depan orang ketiga.

Landon melangkah satu tapak mundur, menjauh dari jangkauan Kimberly, namun matanya tetap terkunci pada Vexana dengan binar jenaka yang berbahaya.

"Terima kasih kopinya, Kimberly. Tapi kau mengganggu diskusi strategis kami," ucap Landon, suaranya terdengar datar namun nadanya mulai berubah dinamis.

"Mahasiswi Vexana di sini... sedang menanyakan hal yang sangat spesifik mengenai kegagalan manajemen portofolio masa lalu saya. Sesuatu yang sangat personal."

Kimberly mengernyitkan keningnya bingung, menatap Landon lalu beralih ke Vexana. "Hal personal? Tentang bisnis Desmon Group?"

"Bukan," potong Landon cepat. Pria itu berjalan mendekati Vexana kembali, mengabaikan Kimberly yang berdiri termangu di tengah ruangan.

Landon bersandar di samping Vexana, melipat tangannya, lalu menoleh menatap samping wajah Vexana yang menegang.

"Dia sedang menuntut jawaban... mengapa sebuah 'proyek masa depan' yang ku rancang enam tahun lalu bisa bocor dan gagal di tengah jalan," lanjut Landon dengan nada suara yang mendadak terdengar sangat romantis, berat, dan sensual, seolah mereka sedang berbisik di atas ranjang, bukan di dalam laboratorium.

Vexana membelalakkan matanya, menoleh patah-patah menatap Landon. "Dosen Desmon, apa yang kau—"

"Kau tahu, Kimberly?" Landon kembali memotong, kali ini suaranya naik satu oktav, memastikan gadis seni itu mendengar setiap patah katanya dengan jelas.

"Mahasiswi Valerio ini menuduh saya sebagai pihak yang tidak bertanggung jawab atas kebocoran portofolio itu. Padahal... malam itu, sistem pengaman yang biasa aku gunakan ternyata... bocor."

"Bocor?" Kimberly mengulangi kata itu dengan polos. "Sistem pengaman laboratorium maksudmu, Lan? Ada peretasan?"

Landon tertawa kecil, sebuah tawa maskulin yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Vexana.

"Bukan pengaman siber, Kim. Tapi pengaman berbahan lateks. Malam itu aku terlalu bersemangat mengeksplorasi... 'teori'. Sayangnya, saya keliru menghitung kalkulasi ketahanan merek pengaman yang aku pakai saat itu. Dan tebak apa? Akibat pengaman yang bocor itu, sepotong portofolio baru sempat tertanam di dalam rahimnya sebelum dia memilih untuk menghilangkannya."

Deg.

Dunia seolah runtuh seketika di dalam Laboratorium itu.

Mendengar rentetan kata-kata mesum, namun dibalut dengan istilah akademis yang keluar dengan begitu santai dan gamblang dari mulut seorang dosen muda terhormat, Kimberly langsung tersentak di tempatnya berdiri.

Sepasang matanya membelalak sempurna, dan mulut cantiknya menganga lebar, tidak mampu mempercayai apa yang baru saja didengarnya.

"Lan... Landon... kau... apa yang kau bicarakan?!" suara Kimberly memekik horor, wajahnya memerah sempurna karena syok tingkat tinggi.

"Pengaman... lateks?! Rahim?! Kalian... kalian pernah—"

Vexana sendiri merasa seluruh darah di tubuhnya naik ke kepala.

Wajahnya memerah padam antara rasa malu yang luar biasa, amarah, dan keterkejutan atas kegilaan verbal Landon.

Pria ini benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya! Bagaimana mungkin putra mahkota Desmon Group membahas tentang pengaman bocor di depan anak seorang dekan?!

"Landon Desmon!!! Tutup mulutmu, bajingan!" teriak Vexana, melupakan seluruh tata krama kampus dan status mereka sebagai dosen dan mahasiswa. Dia mengangkat map kulitnya, bersiap untuk menghantamkannya ke dada Landon lagi.

Namun dengan gerakan kilat, Landon menangkap pergelangan tangan Vexana, menarik tubuh wanita itu hingga dada mereka saling bertabrakan dengan keras di depan mata Kimberly yang masih membeku karena syok.

"Kenapa, Vexa? Bukankah itu fakta yang kau teriakkan padaku di parkiran kemarin?" bisik Landon dengan suara rendah yang mengintimidasi tepat di depan bibir Vexana.

"Kau yang memulai permainan ini dengan tamparanmu. Sekarang, mari kita tunjukkan pada dunia seberapa dalam pengaman yang bocor itu telah menghancurkan hidup kita."

1
Mei TResna Rahmatika
ngakak bangett🤣dady maximilian ada aja idenya ngerjain landon🤣
Ros 🍂: susuai reques pembaca 🤭😭😭😭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
satu kata buat pak Desmon"MAMPUSSS" ketawa jahat dulu aku Thor hahahahaha aduh sampai kering ini gigi ketawa Mulu dari tadi🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: huhuhu terharu loh aku kak, Kalo Cerita bikin ketawa 🤭🤣🤣🤣
btw ini kenapa pada musuhan sama bapak Desmon 😭
total 1 replies
nayla tsaqif
Baru bogem daddy max nihh,,, mana nih grandpa kensingtone,, gk mau kasih salam bogem jg,, 😌
Ros 🍂: entah kenapa Saya sulit menghadirkan para Tetua kak 🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
belum puas cuma tiga kali doang harusnya sampai masuk UGD🤭🤣🤣
Ros 🍂: kak astagaaa 🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Vibesnya kayak ketemu musuh bebuyutan waktu masa kcil lihat mommy Eleanor dan daddy max,, 🤣
Ros 🍂: Udahlah kak Author nggak tanggung-jawab sama mereka 🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Hukumannya ringan itu,, harusnya larinya pake baju balet warna pink,,,!!
Ros 🍂: kak😭 ngakak aku kak🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
aaah cuma sepuluh kali doang harusnya hukumannya yg lebih berat misal nyapu halaman mansion,nyabutin rumput mansion🤭🤣🤣🤣🤣🤣 itu terlalu ringan Thor mohon tambahkan hukuman pak Desmon🤭🤣
Ros 🍂: hahaha sesuai request para Reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
emaknya Mr. Desmon kocak asli🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Reader suka nggak ?🤭😅
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
akhirnya😍 gak sia" perjuangan landon🤣
Ros 🍂: Wkwkw 🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Nunggu daddy max ngasih bogem dan khotbah sama landon,, 😌
Ros 🍂: wah ide bagus itu kak🤭 sesuai request 🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
wahh landon siap bertarung ngadepin daddy max
Ros 🍂: semangatin kak🤭🤣
total 1 replies
Agus Hidayat
jreng jreenngggg akhirnya pak Desmon bisa liat jagoannya juga😍😍😍
Ros 🍂: Yahoooo🤭🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
akhirnya bomnya meledak juga
Ros 🍂: wkwkwk🤭
total 1 replies
Yunie
akhirnya mulai terungkap
Ros 🍂: iya kak🫶
total 1 replies
Yunie
ada apa selama 2 tahun?
Vanni Sr: ohh Aj ank ny vexa dn london , tp daddy ny nutupin seolah itu makam ank mereka , mkny london benci vexa.
total 2 replies
Mei TResna Rahmatika
pliss thorr abis ini bkin mereka sama" mengakui masih cinta😭 nyesek bangett baca dr bab 1 nangisin mereka mulu
Ros 🍂: huhuhu Maafkan author yaa kak 🤭🙏🏻 nanti dibuat sesuai request 😅
total 1 replies
N I S
kak ceritamu bagus banget😍
Ros 🍂: ma'aciww ya Kak 🫶🥰
total 1 replies
Thee-na Tooth
ayoo kak up maraton 🤭
Ros 🍂: siap ya kak🫶
total 1 replies
Kristina NellaWara
semngt up thorrr
Ros 🍂: ma'aciww kak🫶🥰
total 1 replies
Kristina NellaWara
lnjut thor
Ros 🍂: siap kak 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!