Lin Xiu returned to civilization confident and proud after training with a master who cannot be named on a celestial island cut off from the real world. In his quest to uphold justice, he courageously picks fights with elites in the community wreaking havoc among the rich and the powerful. Be it ghosts, spirits, or seniors of the daoist association, he is fearless. Will the little girl Xiao Tong stay a little girl as she accompanies him on his journey to track down the rest of his friends from the orphanage they once shared?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7.pembantaian Kuil Anggrek Hitam
Malam berikutnya tiba dengan atmosfer yang terasa lebih mencekam dari hari-hari sebelumnya. Pinggiran barat Kota Jiangnan adalah kawasan perbukitan yang jarang tersentuh oleh gemerlap lampu neon metropolitan. Di balik kabut tebal yang menyelimuti hutan pinus tua, berdiri sebuah bangunan kuno yang dikenal sebagai **Kuil Anggrek Hitam**.
Kuil ini telah lama ditinggalkan oleh penduduk lokal karena reputasinya yang angker. Namun, di bawah kendali Asosiasi Daoist Jiangnan, tempat ini diubah menjadi markas rahasia untuk ritual-ritual terlarang. Malam ini, puluhan obor menyala di sepanjang pelataran kuil, memancarkan cahaya merah temaram yang memantulkan bayangan-bayangan hitam yang bergerak gelisah.
Di dalam aula utama kuil, puluhan praktisi mistis berbaju zirah kulit hitam dan jubah abu-abu telah berbaris rapi. Mereka adalah pasukan elite dari Asosiasi Daoist, masing-masing memegang senjata pusaka atau jimat mantra yang memancarkan energi negatif yang pekat.
Di tengah aula, berdiri sebuah altar batu besar yang diukir dengan simbol-simbol kuno penjebak jiwa. Dan di atas altar itu, sesosok pemuda berusia sekitar dua puluh dua tahun tampak terikat oleh rantai besi mantra yang berpendar merah. Pemuda itu adalah **Da Xiao**, kakak tertua dari panti asuhan tempat Lin Xiu dibesarkan. Wajahnya sangat pucat, napasnya tersengal-sengal, tetapi matanya tetap memancarkan tatapan menolak menyerah meskipun tubuhnya telah disiksa selama berbulan-bulan.
Di depan altar, seorang pria tua bertubuh jangkung dengan rambut putih panjang yang dikuncir kuda berdiri tegak. Dia mengenakan jubah hitam kebesaran dengan sulaman naga perak yang melingkari tubuhnya—dia adalah **Penatua Mo**, salah satu dari tiga pilar utama Asosiasi Daoist Jiangnan. Energinya begitu masif, setiap kali dia menarik napas, hawa spiritual di sekitarnya seolah-olah tersedot masuk ke dalam tubuhnya.
"Penatua Mo, apakah bocah bernama Lin Xiu itu benar-benar akan datang?" tanya salah seorang instruktur faksi di sebelahnya dengan nada agak cemas. "Kabar tentang dia yang menghancurkan kediaman Keluarga Wang dan membunuh Master Gui Ji dalam satu gerakan sudah tersebar luas. Dia bukan kultivator biasa."
Penatua Mo menyunggingkan senyum sinis, matanya yang sedingin es menatap ke arah pintu gerbang kuil yang tertutup kabut. "Gui Ji hanyalah seorang praktisi luar yang lemah. Dia mati karena dia bodoh. Malam ini, aku sengaja memancing Lin Xiu ke sini bukan hanya untuk membunuhnya, tetapi untuk menjadikannya tumbal tambahan bagi formasi gerhana bulanku. Kuil Anggrek Hitam ini telah dipasangi **Formasi Sembilan Pengunci Jiwa**. Sekuat apa pun dia, begitu melangkah masuk, kekuatannya akan ditekan hingga setengahnya!"
Da Xiao yang mendengar nama Lin Xiu disebut langsung menggerakkan tubuhnya yang lemah, membuat rantai besinya bergemerincing keras. "Lin... Lin Xiu... Jangan datang... Ini jebakan..." suaranya terdengar sangat parau, hampir habis karena tenggorokannya yang kering.
"Diam, komoditas sialan!" bentak salah satu penjaga sambil mencambuk punggung Da Xiao, membuat pemuda itu mengerang kesakitan.
Penatua Mo tertawa puas. "Berteriaklah sekeras mungkin, karena besok malam, jiwamu yang murni akan menyatu dengan tubuhku!"
*BOOOM!!!*
Tepat saat kata-kata Penatua Mo selesai terucap, sebuah ledakan dahsyat mengguncang seluruh area Kuil Anggrek Hitam. Gerbang batu kuil seberat beberapa ton di bagian depan meledak menjadi jutaan serpihan kerikil yang melesat seperti peluru, menghantam beberapa penjaga luar hingga tewas seketika di tempat.
Asap tebal berhamburan ke udara, membelah kabut malam. Dan dari balik puing-puing gerbang yang hancur, sesosok pemuda dengan langkah kaki yang tenang dan ritmis melangkah masuk.
Lin Xiu telah tiba.
Malam ini, dia kembali mengenakan pakaian sederhananya—kaus oblong putih dan celana jins pudar, lengkap dengan tas kain usang di pundaknya. Penampilannya tampak sangat santai, seolah-olah dia sedang berjalan-jalan di taman kota, bukan sedang memasuki sarang monster yang mematikan. Namun, siapa pun yang menatap langsung ke matanya akan merasakan kengerian yang teramat sangat—sepasang mata itu memancarkan kilatan emas kemerahan yang seolah-olah siap membakar seluruh dunia.
"Siapa yang memberimu izin untuk menyentuh kakakku?" suara Lin Xiu terdengar sangat jernih dan tenang, namun getarannya membuat tiang-tiang kayu kuil kuno itu berderit keras.
"Lin Xiu!" Da Xiao mendongak, matanya melebar melihat adik panti asuhannya yang dulu kecil kini telah tumbuh menjadi sosok yang begitu luar biasa dan memancarkan aura dewa perang. "Pergi dari sini! Tempat ini... tempat ini dipasangi formasi jebakan!"
Penatua Mo melangkah maju, tangannya bersedekap di dada saat menatap Lin Xiu dengan pandangan penuh kemenangan. "Hahaha! Jadi kau yang bernama Lin Xiu? Nyalimu benar-benar patut dipuji, bocah ingusan! Kau tahu ini jebakan, tapi kau tetap mengantarkan nyawamu sendiri ke sini!"
Lin Xiu menghentikan langkahnya di tengah pelataran kuil, berhadapan dengan puluhan praktisi yang sudah mengepungnya dari segala arah. Dia mendongak sebentar, menatap ke arah langit malam di atas kuil.
"Formasi Sembilan Pengunci Jiwa, ya?" Lin Xiu bergumam sendiri dengan nada meremehkan. "Kalian menggunakan darah bayi harimau dan energi kuburan untuk menekan aliran darah target. Teknik tingkat rendah seperti ini bahkan tidak layak disebut sebagai formasi di hadapan guruku."
Mendengar Lin Xiu bisa langsung mengenali formasi rahasianya hanya dalam hitungan detik, wajah Penatua Mo sedikit berubah drastis. Namun, dia dengan cepat memulihkan ketenangannya dan berteriak, "Sombong! Aktifkan formasinya! Hancurkan dia!"
*WUSH!!!*
Sembilan pilar batu di sekeliling kuil mendadak memancarkan cahaya merah darah yang pekat. Sebuah kubah energi tak kasat mata langsung turun dari langit, mengunci seluruh area kuil dan memberikan tekanan gravitasi yang luar biasa berat di dalam area pelataran. Para penjaga faksi bisa merasakan energi Lin Xiu mulai fluktuatif, tanda bahwa formasinya sedang bekerja menekan kekuatannya.
"Serang!!!" teriak kepala instruktur pasukan hitam.
Lebih dari lima puluh praktisi elite Asosiasi Daoist melesat maju secara serempak. Senjata-senjata mereka yang telah dilapisi oleh energi negatif memancarkan hawa dingin yang mematikan, siap mencabik-cabik tubuh Lin Xiu dari berbagai sudut tanpa ampun.
"Kalian ingin melihat kekuatan asliku?" Lin Xiu tersenyum sinis. Dia menarik napas dalam-dalam, dan detik berikutnya, aura di sekeliling tubuhnya meledak dengan gila.
*BOOOM!!!*
Bukankah kekuatannya tertekan? Gak sama sekali! Di hadapan kapasitas dantian Lin Xiu yang telah dilatih dengan energi murni Pulau Surgawi, Formasi Sembilan Pengunci Jiwa itu langsung retak berantakan dalam waktu satu detik karena tidak mampu menahan gelombang *Zhenqi* Sembilan Matahari milik Lin Xiu yang terlalu masif!
Sembilan pilar batu di sekeliling kuil meledak hancur menjadi debu secara bersamaan. Kubah energi merah darah itu pecah berkeping-keping seperti kaca yang dihantam palu raksasa.
"Apa?! Formasinya hancur?!" Penatua Mo terbelalak horor, langkah kakinya terhuyung mundur satu langkah karena syok yang teramat sangat.
Namun, kejutan untuk mereka belum selesai. Lin Xiu yang telah melepaskan kekuatannya bergerak seperti kilat yang menyambar di siang bolong. Tubuhnya lenyap dari pandangan mata manusia, hanya menyisakan jalur cahaya emas murni yang meliuk-liuk di antara kerumunan pasukan hitam.
*PLAK! PLAK! BUM! CRASH!*
Bunyi hantaman fisik dan patah tulang terdengar beruntun seperti suara petasan. Lin Xiu tidak menggunakan senjata apa pun—dia hanya menggunakan telapak tangan dan sapuan kakinya dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Setiap kali tangannya bergerak, satu atau dua praktisi elite akan terbang puluhan meter ke udara dengan dada yang amblas ke dalam sebelum jatuh ke tanah tanpa nyawa.
Zirah kulit hitam yang mereka banggakan hancur berkeping-keping di hadapan pukulan Lin Xiu yang membawa hawa panas membakar. Dalam waktu kurang dari dua menit, lima puluh lebih pasukan elite Asosiasi Daoist yang sangat ditakuti di Jiangnan telah tumbang sepenuhnya, menjadi tumpukan mayat yang berserakan di atas tanah pelataran kuil yang kini menghitam akibat suhu panas energi Lin Xiu.
Hanya dalam waktu dua menit, Lin Xiu meratakan satu faksi elite sendirian tanpa luka sedikit pun!
Pelataran kuil kembali sunyi, hanya menyisakan suara deru angin malam dan rintik api dari obor-obor yang tumbang. Lin Xiu berdiri di tengah-tengah tumpukan mayat, pakaian putihnya anehnya tetap bersih tanpa ternoda setetes darah pun. Dia mengibaskan tangan kanannya dengan santai, lalu menatap lurus ke arah Penatua Mo yang kini seluruh tubuhnya sudah dibasahi oleh keringat dingin.
"Sekarang, tinggal tersisa kau, bajingan tua," kata Lin Xiu dingin, langkah kakinya kembali bergerak mendekati aula utama.
Penatua Mo yang melihat seluruh pasukannya habis dalam sekejap mata menyadari bahwa dia telah memancing dewa kematian yang sesungguhnya ke tempat ini. Rasa sombong dan percaya dirinya siang tadi kini menguap sepenuhnya, digantikan oleh ketakutan yang mendalam. Namun, sebagai seorang penatua tingkat atas, dia masih memiliki kartu as terakhirnya.
"Bocah keparat... Kau memaksa aku untuk menggunakan ini!" Penatua Mo berteriak histeris dengan wajah yang terdistorsi oleh kegilaan. Dia meraba dadanya dan mengeluarkan sebuah jimat giok hitam legendaris—*Jimat Pemanggil Dewa Kematian*.
Penatua Mo menggigit ujung lidahnya sendiri dan menyemburkan darah segar ke atas jimat giok tersebut. "Dengan darahku sebagai bayaran, panggillah **Jiwa Jenderal Kematian Asura**!!!"
*RUMBLE!!!*
Tanah di bawah kuil berguncang hebat. Aula utama kuil retak membelah, dan dari dalam tanah, keluar pusaran kabut hitam pekat yang memancarkan bau darah yang sangat menyengat. Dari dalam pusaran itu, muncul sesosok mahluk bayangan raksasa setinggi empat meter yang mengenakan zirah perang kuno hancur dengan memegang sebilah pedang besar yang berkarat. Mata mahluk bayangan itu menyala merah darah, memancarkan aura membunuh yang begitu pekat hingga membuat Da Xiao yang terikat di altar hampir pingsan karena tekanan mentalnya.
Ini adalah jiwa jenderal perang kuno yang telah dikultivasi oleh faksi mistis selama ratusan tahun, mahluk yang setara dengan kekuatan seorang *Grandmaster bela diri puncak*!
"Hahaha! Mati kau, Lin Xiu! Di hadapan Jenderal Asura, kau tak lebih dari makanan jiwanya!" Penatua Mo tertawa liar, merasa nyawanya telah terselamatkan oleh mahluk raksasa ini.
Mahluk bayangan raksasa itu menggerung keras, memotong udara dengan pedang besarnya yang memancarkan gelombang tebasan hitam pekat ke arah Lin Xiu, menghancurkan apa pun yang dilewatinya.
Menghadapi serangan yang bisa membelah sebuah gedung ini, Lin Xiu hanya mendengus remeh. Dia memasukkan tangan kanannya ke dalam tas kain usangnya, lalu mengeluarkan selembar jarum akupunktur yang berbeda dari sebelumnya—jarum ini lebih panjang, berwarna emas murni, dan memancarkan pendaran cahaya suci yang begitu bersih. Itu adalah **Jarum Emas Pembasmi Dewa**.
"Mahluk mati yang seharusnya sudah membusuk di tanah, berani pamer kekuatan di depanku?" Lin Xiu berkata datar.
Lin Xiu memegang jarum emas itu dengan dua jarinya, lalu menyentilnya maju dengan teknik *Jari Penembus Langit*.
*SWISS!!!*
Jarum emas itu melesat dengan kecepatan yang melampaui kecepatan suara, berubah menjadi seberkas cahaya emas raksasa berbentuk naga surgawi yang terbang membelah kegelapan malam. Tebasan hitam dari pedang raksasa mahluk bayangan itu hancur berantakan menjadi serpihan begitu bersentuhan dengan naga emas tersebut.
*ROAAAR!!!*
Naga cahaya emas itu menembus tepat di tengah dada mahluk bayangan raksasa tersebut. Mahluk itu menjerit kesakitan yang teramat sangat saat cahaya murni mulai membakar tubuh bayangannya dari dalam ke luar. Dalam hitungan detik, Jenderal Asura raksasa itu meledak hancur menjadi partikel cahaya putih yang tersucikan, lenyap tanpa sisa dari muka bumi.
*PANG!!!*
Jimat giok hitam di tangan Penatua Mo hancur berkeping-keping menjadi abu. Akibat hancurnya mahluk peliharaannya, Penatua Mo menerima serangan balik energi yang sangat masif. Dia memuntahkan tiga teguk darah segar berturut-turut, tubuhnya lemas dan langsung jatuh berlutut di atas lantai marmer dengan wajah yang mendadak menua puluhan tahun karena energi kehidupannya terkuras habis.
"T-tidak... tidak mungkin... Kartu as tertinggiku... dihancurkan hanya dengan satu jarum?!" Penatua Mo menatap Lin Xiu dengan pandangan kosong yang dipenuhi oleh horor mutlak. Ego, kekuasaan, dan kesombongannya sebagai penatua hancur total malam ini di bawah kaki pemuda biasa ini.
Lin Xiu berjalan melewati Penatua Mo tanpa memandangnya terlebih dahulu. Dia mendekati altar batu, lalu dengan satu lambaian tangan kosong, rantai besi mantra yang mengikat tubuh Da Xiao langsung hancur berantakan menjadi potongan-potongan kecil. Lin Xiu menangkap tubuh Da Xiao yang lemas dengan sigap.
"Kak Da Xiao, maaf aku telat menjemputmu," kata Lin Xiu, suaranya kembali dipenuhi kehangatan persaudaraan.
Da Xiao menatap Lin Xiu dengan air mata mengalir di wajahnya yang kotor. "Lin... Lin Xiu... Kau... Kau sekarang sudah menjadi sangat kuat... Ibu panti di surga pasti akan sangat bangga melihatmu..."
Lin Xiu tersenyum lembut, lalu mengeluarkan sebuah botol giok kecil dan meneteskan beberapa tetes *Embun Penyembuh Surgawi* ke dalam mulut Da Xiao. Dalam hitungan detik, luka-luka di tubuh Da Xiao mulai menutup dengan kecepatan luar biasa, warnanya kembali segar dan energinya yang terkuras mulai pulih perlahan.
Setelah memastikan Da Xiao aman dan bisa duduk bersandar di altar, Lin Xiu berbalik. Wajah hangatnya lenyap seketika, digantikan oleh rahang yang mengencang saat dia melangkah mendekati Penatua Mo yang masih terduduk lemas di lantai.
"Sekarang, mari kita selesaikan urusan kita, Penatua Mo," kata Lin Xiu, suaranya sedingin es dari neraka terdalam.
"Ampun... Ampun, Tuan Lin Xiu!" Penatua Mo merayap di lantai, membenturkan kepalanya berkali-kali ke marmer hingga berdarah, kehilangan seluruh sisa harga dirinya. "Saya hanya menjalankan perintah! Yang mengincar anak-anak panti asuhan kalian bukan cuma saya! Ada **Konsorsium Empat Besar Jiangnan** dan **Ketua Agung Asosiasi Daoist pusat**! Saya hanya bidak kecil!"
"Bidak kecil atau bukan, tanganmu sudah ternoda oleh darah Ibu panti kami," Lin Xiu berdiri tegak di depan Penatua Mo, tatapan matanya mengintimidasi dari atas. "Dan siapa pun yang menyentuh keluargaku... hukumannya hanya satu."
Lin Xiu mengangkat tangan kanannya, mengarahkan jari telunjuk dan jari tengahnya tepat ke arah dahi Penatua Mo. Energi murni Sembilan Matahari berkumpul di ujung jarinya, membentuk sebutir cahaya emas kecil yang memancarkan suhu panas yang sangat ekstrem.
"K-kau... jika kau membunuhku... Ketua Agung tidak akan melepaskanmu! Seluruh faksi mistis di negara ini akan memburumu!" ancam Penatua Mo dengan sisa kekuatannya, matanya membelalak melihat kematian yang sudah berada tepat di depan hidungnya.
"Biarkan mereka datang," jawab Lin Xiu arogan. "Aku akan membersihkan mereka semua bersama dengan kota korup ini."
*WUSH!!!*
Lin Xiu menyentuhkan jarinya ke dahi Penatua Mo. Cahaya emas murni itu langsung masuk ke dalam kepala sang penatua, menghancurkan seluruh sistem meridian, dantian, dan memutus aliran energi kehidupannya seketika dari dalam tanpa merusak kulit luarnya sedikit pun. Penatua Mo kaku seketika, matanya memutih, lalu tubuhnya ambruk ke samping dalam keadaan tidak bernyawa lagi.
Salah satu penguasa terbesar di bawah tanah Jiangnan telah tewas mengenaskan di sebuah kuil kuno yang terpencil.
Lin Xiu berbalik, melangkah kembali ke arah Da Xiao dan membantunya berdiri. Sambil memapah kakak tertuanya keluar dari aula kuil yang hancur, Lin Xiu menatap ke arah langit malam di mana awan hitam perlahan mulai terbuka, menampilkan rembulan yang bersinar terang kembali.
Tiga dari empat saudaranya dari panti asuhan kini telah berhasil dia kumpulkan dan selamatkan. Namun, Lin Xiu tahu bahwa konspirasi yang sesungguhnya jauh lebih besar dari sekadar seorang penatua faksi. Ketua Agung Asosiasi Daoist pusat dan Konsorsium Empat Besar Jiangnan masih berdiri kokoh di puncak kekuasaan kota ini.
"Kak Da Xiao, ayo kita pulang. Xiao Tong, Er Gou, dan Mei Mei sudah menunggu di rumah kita yang baru," kata Lin Xiu dengan senyum tipis.
Perburuan belum selesai, dan badai yang diciptakan oleh sang Dokter Surgawi di Kota Jiangnan ini justru baru saja resmi memasuki babak yang paling mengerikan bagi para kaum elite yang korup.
Mau lanjut ke **Bab 8**, di mana Lin Xiu membawa Da Xiao kembali ke vila untuk berkumpul kembali dengan adik-adiknya, namun di saat yang sama, Konsorsium Empat Besar mulai mengirimkan pembunuh bayaran tingkat internasional.