“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”
Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Serangan Balik dan Penjaga Sangkar
Dampak dari penghentian kortikosteroid secara tiba-tiba, atau yang dikenal sebagai rebound effect, merupakan mimpi buruk medis yang sangat nyata. Bagi penderita autoimun, menghentikan dosis secara mendadak ibarat menjebol pintu bendungan, membiarkan sel-sel imun menyerbu balik dan menyerang tubuh dengan kemarahan yang berlipat ganda.
Dua hari setelah ketegangan di ruang kerja Narendra, bendungan itu benar-benar runtuh.
Tepat pukul tiga pagi, Alika terbangun dengan sekujur tubuh yang menggigil hebat hingga menusuk tulang. Giginya bergemeletuk tanpa kendali. Meski sudah menarik selimut bulu angsa yang tebal hingga ke leher, badannya tetap gemetar. Keringat dingin membasahi dahi dan lehernya, sementara suhu tubuhnya merayap naik hingga menyentuh angka 39 derajat Celsius.
Namun, bukan demam tinggi itu yang membuat Alika menangis dalam sunyi, melainkan rasa sakit yang luar biasa.
Seluruh persendiannya—mulai dari buku-buku jari, pergelangan tangan, lutut, hingga pergelangan kaki—terasa seakan sedang diremukkan perlahan oleh palu godam. Peradangan itu kembali dengan intensitas yang jauh lebih brutal. Ia bahkan tidak sanggup mengepalkan tangan karena jari-jarinya kaku dan bengkak kemerahan.
Di sisinya, Narendra masih terlelap dengan napas yang teratur dan tenang. Pria itu menguasai sisi ranjangnya dengan nyaman, sama sekali tidak menyadari bahwa perempuan di sebelahnya tengah bertaruh nyawa menahan nyeri yang menyiksa.
Alika menggigit bantal sekuat tenaga guna meredam erangan yang nyaris meledak dari tenggorokannya. Ia tidak memiliki keberanian untuk membangunkan suaminya. Peringatan terakhir Narendra masih terngiang jelas di benaknya: 'Jika kamu berani melawan lagi, saya akan hancurkan karier dokter muda itu.' Alika paham betul, mengeluh sakit saat ini hanya akan dianggap sebagai bentuk perlawanan atau sekadar drama murahan di mata suaminya.
Pagi menyapa saat cahaya matahari mulai mengintip dari celah jendela. Narendra sudah bangun dan sibuk bersiap dengan kemeja kerjanya. Alika memaksakan diri untuk duduk sambil menyembunyikan tangannya yang membengkak di balik selimut. Napasnya masih terasa pendek akibat sisa demam semalam.
Sambil mengenakan jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangannya, Narendra melirik sang istri melalui pantulan cermin.
"Wajahmu tampak kacau pagi ini, Alika. Ruam merah di pipimu muncul lagi," ujar Narendra dengan nada dingin. "Apa kamu diam-diam menangisi Murni semalaman? Atau meratapi obat dari dokter selingkuhanmu yang gagal kamu minum?"
"Aku... aku hanya kurang tidur, Mas," sahut Alika dengan suara serak yang nyaris hilang. Ia menunduk, membiarkan rambutnya yang kian menipis jatuh menutupi sebagian wajahnya.
Narendra berbalik dan melangkah mendekat ke sisi ranjang. Alih-alih memberikan sentuhan hangat, ia justru menatap Alika dengan sorot mata penuh kuasa.
"Saya sudah mengatur segalanya. Karena kamu terbukti tidak bisa dipercaya jika ditinggal sendirian di rumah, saya telah mempekerjakan orang baru," ucap Narendra tanpa bisa dibantah.
Ia kemudian menekan tombol intercom di atas nakas. "Rasti, masuk."
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Seorang perempuan berusia akhir tiga puluhan masuk dengan seragam asisten rumah tangga yang rapi. Wajahnya tampak tegas tanpa senyuman, dengan postur tubuh tegap yang mengesankan otoritas. Ia membungkuk hormat kepada Narendra.
"Ini Rasti," Narendra memperkenalkan perempuan itu layaknya memperkenalkan mesin pengawas. "Mulai hari ini, dia yang akan melayanimu. Dan mengawasimu. Dia akan memastikan kamu meminum vitamin dari dr. Hendrawan tepat waktu. Dia juga yang akan memegang akses ponselmu selama saya berada di kantor."
Alika menatap Rasti dengan pandangan nanar. Baginya, perempuan itu bukan asisten, melainkan seorang sipir penjara.
"Ponselku?" Alika memberanikan diri untuk mendongak, menatap Narendra dengan sisa keberanian di tengah kepanikannya. "Mas, bagaimana kalau ada keadaan darurat? Bagaimana jika keluargaku menghubungi—"
"Jika keluargamu menelepon, Rasti yang akan mengangkatnya dan memberi tahu bahwa kamu sedang istirahat total," potong Narendra cepat. Ia mencondongkan tubuh, menumpukan kedua tangannya di atas kasur tepat di sisi tubuh Alika, seolah memenjarakan perempuan itu dengan kehadirannya yang dominan.
"Kamu tidak memiliki keadaan darurat apa pun, Alika, selain kewajiban untuk patuh kepada saya. Tidak ada lagi pesan rahasia, tidak ada lagi kurir obat ilegal, dan tidak ada lagi dr. Raditya."
Narendra kembali menegakkan tubuhnya dan merapikan kerah kemeja. "Rasti, pastikan Nyonya menghabiskan sarapannya, lalu berikan vitamin zat besinya. Jika ada dokter atau siapa pun dari Rumah Sakit Medika Utama yang mencoba datang ke sini, panggil petugas keamanan dan usir mereka segera."
"Baik, Tuan," jawab Rasti singkat tanpa ekspresi.
Narendra melangkah keluar kamar, meninggalkan Alika yang kini benar-benar terputus dari dunia luar.
Begitu pintu tertutup, Rasti melangkah maju membawa nampan berisi bubur dan segelas air, lengkap dengan sebutir pil vitamin dari dr. Hendrawan yang sebenarnya tidak berguna untuk mengatasi penyakit autoimun Alika.
"Silakan dimakan, Nyonya," ucap Rasti datar.
Alika memandangi bubur itu, lalu beralih menatap tangannya yang masih tersembunyi di balik selimut. Buku-buku jarinya terasa begitu kaku dan ngilu, hingga untuk sekadar memegang sendok pun rasanya mustahil. Air mata keputusasaan yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah juga. Ia terperangkap; tubuhnya hancur oleh sistem imunnya sendiri, sementara pria yang seharusnya melindunginya justru menjelma menjadi algojo yang paling kejam.