NovelToon NovelToon
CEO Terjebak Cinta Perjodohan

CEO Terjebak Cinta Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Janda
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ica Marliani

Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Dilema

“Raka… Raka…”

Tubuhku terasa diguncang lembut. Kelopak mataku berat, seolah masih ditahan sisa mimpi yang belum tuntas. Aku menguceknya perlahan, hingga aroma parfum lembut menyusup ke indra penciumanku.

Tanpa melihat pun aku sudah tahu.

Itu pasti Mama.

“Ada apa, Ma?” tanyaku pelan setelah pandanganku benar-benar fokus padanya.

Mama menatapku sejenak, seolah menimbang kata, sebelum akhirnya mengeluarkan keluh kesahnya, lebih tepatnya permintaan yang tak bisa aku tolak.

“Papa dan Mama menunggu kamu di bawah. Mandi dulu, Nak.”

Jantungku berdetak lebih cepat. Pasti ada lagi sesuatu yang akan mereka bebankan kepadaku.

“Ada hal penting yang harus kita bicarakan… sebelum acara bajapuik besok malam.”

Aku mengumpulkan sisa kesadaran yang belum sepenuhnya kembali.

“Secepat ini, Ma?”

“Apa lagi yang ingin kamu tunda, Raka? Bulan depan usiamu sudah kepala tiga.” Suara Mama mulai meninggi.

Dadaku mengeras.

“Aku bahkan belum tahu, Ma. Seperti apa wanita pilihan Mama yang akan mendampingi hidupku.”

Mama menatapku tajam.

“Kamu masih ingin mengajukan Ningsih?”

Aku meremas bedcover di bawah jemariku.

“Terlambat, Raka. Semuanya sudah diatur kedua belah pihak. Besok kita menyambut keluarga calonmu. Dia wanita terhormat. Jelas asal-usul, bibit-bobotnya.”

Omelan itu berlanjut, sementara aku mengalihkan pandangan ke arah jendela. Dadaku tiba-tiba sesak.

“Ma, setidaknya kami diperkenalkan dulu. Tidak seharusnya langsung lamaran seperti ini.”

“Raka!” bentak Mama keras.

“Berapa kali Mama mengenalkan Laras padamu, tapi apa jawabanmu? Selalu ‘terserah’.”

Suaranya bergetar. Aku terdiam. Aku tak sanggup melihat Mama menangis di hadapanku.

“Namanya… Laras, Ma?”

Mama mengangguk singkat.

“Iya. Laras.”

Ia menatapku lurus, seolah memastikan aku mendengar baik-baik.

“Dia seorang pramugari di maskapai Garuda,”

Suara Mama mulai melembut. Namun tidak dengan ekspresi kagetku.

Aku menelan air ludah dengan kasar.

“Jangan-jangan…” desisku pelan. Mataku sedikit melotot kaget.

“Jangan-jangan apa, Raka?” balas Mama spontan. Aku terkejut mendengar pertanyaan Mama.

Aku melirik Mama, menarik sudut bibir memaksakan senyum kepadanya. Ingatanku kembali ke pesawat tadi pagi. Seorang pramugari cantik berhijab menegurku, dan saat di depan bandara ia juga sedang dijemput keluarganya pulang. Tapi ini hanya tebakan saja. Tidak mungkin, rasanya terlalu kebetulan. Ah, sudahlah, kepalaku mulai agak berisik sekarang. Aku memegang kepala yang mulai tidak karuan.

“Kamu kenapa, Raka?” Mama menepuk bahuku. Membuat aku terkaget.

Bodohnya aku, secepat ini aku melupakan masalahku dengan Ningsih. Tapi dibandingkan Ningsih, dia memang jauh lebih manis. Sayang sekali aku tak sempat melihat ID card-nya.

“Nggak ada apa-apa, Ma. Hanya sedikit pusing. Seminggu ini cuti, pasti banyak pekerjaan akan terbengkalai,” balasku sekenanya.

“Sudah di rumah kamu masih memikirkan pekerjaan. Asistenmu kan ada, Raka. Biarkan dia yang menyelesaikan.”

Mama menggerutu. Aku hanya menoleh sekilas. Tak ingin lagi berdebat.

“Sudahlah, mandi dulu. Mama tunggu di bawah. Kita harus bicarakan malam ini. Besok pasti sudah sangat sibuk.”

Setelah berbicara, Mama meninggalkanku sendirian di kamar. Beberapa menit termenung, aku memutuskan untuk membersihkan tubuh.

Selesai mandi, kubuka lemari jati yang berdiri tak jauh dari tempat tidurku. Baju-baju lamaku bahkan masih tertata rapi di sana.

Memang tak ada yang berubah di sini, hanya diriku sendiri yang banyak berubah sejak mengenal Ningsih.

“Akhirnya datang juga, susah ya kalau menunggu artis turun,”

Kania memberengut melihatku. Mama dan Papa sudah duduk rapi di meja makan.

“Kania, sudah. Abangmu capek!”

Mama membelaku. Aku tersenyum mengejeknya, Kania semakin sewot menatapku.

“Duduk, Raka,” timpal Papa kemudian.

Setelah itu, kami sama-sama menikmati santap malam bersama. Selama menikmati hidangan, tak ada suara yang keluar. Memang begitu aturan yang Mama dan Papa terapkan sejak kecil. Saat makan, berbicara tanpa izin dilarang.

“Oh iya, Ma, Bukde Ijah, mana?”

Aku membuka keheningan setelah makananku habis.

“Lah, lupa ya, Bang? Kan Bukde cuma bantu-bantu siang saja. Malam, dia balik ke rumahnya,”

lagi-lagi Kania yang menjawab. Sepertinya ia benar-benar kesal kepadaku.

Aku mendelik. Mencubit lalu memencet hidung mungil Kania.

“Aduh! Sakit, Bang!” pekiknya cukup keras.

Ia memukul tanganku, tapi aku menghindar, sehingga tangannya mengenai pinggir meja. Ia tampak meringis, mencubit pinggangku cukup halus. Cubitan itu terasa menyakitkan. Dan momen ini sudah lama aku rindukan.

Aku rindu kehangatan rumah seperti ini.

“Kalian kalau sudah dekat, seperti Tom dan Jerry. Kania, kalau abang nggak di rumah ditanyain mulu.”

Mama memandang Kania, tapi ucapannya lembut, tidak memarahi.

“Alah, abang pulang pasti karena Mama marah. Kalau nggak, mana lah pulang. Pacarnya kan di sana.”

Seloroh Kania, meninggalkan kami begitu saja di meja makan. Aku cukup kaget dengan ucapannya, untungnya Mama tak merespon.

“Oh, iya, Raka. Ada sesuatu yang Mama mau tunjukkan kepadamu. Tunggu Mama di ruang depan. Mama bereskan meja dulu.”

Aku sedikit penasaran, apalagi yang ingin Mama tunjukkan kepadaku.

Aku menyusul Kania ke ruang keluarga. Ia tampak sedang asyik menonton drama Korea. Aku sengaja menghampiri, hanya untuk mengganggunya.

“Abang mau nanya. Jawab jujur!” ucapku tiba-tiba. Ia mengerutkan kening sambil menatapku.

“Tiba-tiba aja, ada apa, Bang?”

“Kamu sudah pernah ketemu sama calon yang dibilang Mama?”

Kania terdiam beberapa detik. Ia menatapku tak berkedip.

“Kenapa, Bang? Penasaran?” ujarnya sambil terkekeh, membuat aku jengkel dengan reaksinya.

“Abang serius, Dek!” rengekku kemudian.

“Kenapa nggak nanya Mama aja, Bang. Mama punya fotonya.”

Darahku langsung berdesir mendengar jawaban Kania. Akhirnya rasa penasaran aku akan segera terjawab.

Tak lama kemudian, Mama dan Papa muncul dari ruang makan. Aku yang sudah diliputi penasaran, tak sabar menunggu Mama membuka perbincangan yang ia janjikan.

“Kenapa, Raka? Mama lihat kamu tampak gelisah sekali?”

Ucap Mama seraya mendekati aku dan Kania.

“Ya iyalah, Ma. Bukan gusar sih, abang penasaran. Penasaran sama calon istrinya,” sambung Kania tanpa aku pinta. Nada itu sangat mencemooh. Aku menepuk kepalanya.

Mama menyunggingkan tawa kecil. Tampak tulus dan hangat.

“Oh, Mama juga mau bahas itu ke kamu. Biar nggak kaget besok malam.”

Aku mulai resah. Entah kenapa tiba-tiba tanganku gemetar. Sedikit berkeringat.

“Raka, kenapa tidak ada kabar sama sekali? Semudah itukah kamu melupakanku?”

Ucap Kania sambil mengeja notifikasi pesan yang masuk ke ponselku. Aku lupa kalau ponsel aku taruh sembarangan. Kuambil dengan sigap ponsel di tangan Kania. Mukaku memanas. Mama dan Papa serentak menolehk. Aku menelan ludah dengan kasar, lalu mencubit bahu Kania sebab geram dengan tingkahnya.

“Ini fotonya!” ucap Mama mengalihkan fokusku. Ia menyodorkan selembar foto 4x6 kepadaku. Entah kenapa, saat pertama kali melihat wanita di foto itu, jantungku berdebar tak karuan. Mulutku tiba-tiba membeku, aliran darah terasa berhenti sejenak.

Wanita di foto itu…?

“Kenapa, Raka?” ucap Mama melihat aku terdiam lama. Aku hanya menggeleng.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!