NovelToon NovelToon
Penjahat Kelas Tertinggi

Penjahat Kelas Tertinggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:815
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Di dunia di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, di mana kemampuan dan kekuasaan menjadi ukuran keberhasilan, ada seorang pemuda yang namanya perlahan mulai menancapkan akarnya dan menimbulkan getaran di seluruh wilayah. Dia adalah Xiao Xuan—pria yang tenang, penuh perhitungan, dengan tatapan mata yang tajam yang bisa menilai setiap situasi dalam sekejap, namun menyimpan kelembutan dan perlindungan yang hanya terlihat bagi orang-orang yang dia sayangi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10.Siasat sang Rubah dan Murka sang Kakek

Setelah menempuh penerbangan semalam suntuk membelah kegelapan gurun es, kepakan sayap api spiritual Burung Bersayap Merah perlahan membawa Xiao Xuan dan Kakek Ye Mo mendarat di batas luar Kota Glory.

Dari ketinggian, lambaian lampu-lampu kota memantulkan gurat kehidupan yang hangat di atas hamparan salju abadi. Kota Glory adalah simbol harapan, benteng pertahanan terakhir umat manusia yang paling terpelihara pasca meletusnya Zaman Kegelapan. Pria dewasa seperti Xiao Xuan, yang memiliki pemahaman tajam tentang takdir dunia ini, tahu betul bahwa dalam proyeksi masa depan yang kelam, tempat ini ditakdirkan hancur lebur oleh sapuan gelombang jutaan binatang iblis. Menatap denyut nadi kehidupan yang ramai di bawahnya, sepasang mata elang Xiao Xuan menyipit, menyiratkan tekad sedingin es. *Aku telah menapakkan kakiku di tanah ini. Tragedi berdarah itu tidak akan pernah kuizinkan terulang kembali.*

"Apa yang sedang kau lamunkan, Anak Muda? Gerbang kota sudah di depan mata," suara bariton Ye Mo memecah keheningan, menepuk pundak Xiao Xuan dengan akrab.

Namun, ketenangan Xiao Xuan tidak bertahan lama. Begitu mereka melewati pos penjagaan utama, Kakek Ye Mo melakukan pergerakan yang sama sekali di luar kalkulasi taktis sang pemuda. Tanpa aba-aba, tangan tua yang bertenaga raksasa itu mencengkeram tengkuk jubah Xiao Xuan, mengangkatnya dengan mudah seumpama induk ayam membawa anaknya, lalu melesat bagai kilat perak menuju kompleks Istana Penguasa Kota. Sebelum Xiao Xuan sempat menyusun respons, mereka telah menyelinap masuk ke dalam sebuah Ruang Rahasia yang terisolasi ketat, bahkan tanpa memicu deteksi dari sang Penguasa Kota, Ye Zong.

Xiao Xuan merapikan kembali jubah sutra hitamnya yang agak kusut, menatap sang legenda dengan dahi berkerut samar. Tindakan impulsif orang tua ini benar-benar membingungkan intuisi matangnya. "Kakek Ye Mo, gerangan apa yang membuat Anda terburu-buru seperti ini?"

Ye Mo berbalik, wajah tuanya tampak teramat serius, mengunci tatapan Xiao Xuan dengan intensitas tinggi. "Katakan padaku dengan jujur, Xiao Muda. Bagaimana mungkin kau bisa mengurai dan memanifestasikan kekuatan Hukum dalam hitungan napas pendek?"

Melihat riak kegelisahan yang sarat akan rasa ingin tahu dari sang tetua, Xiao Xuan justru mengulas senyum tipis yang penuh arti. Umpan yang ia tebar di atas punggung gunung akhirnya membuahkan hasil yang presisi. "Mengapa Senior begitu penasaran? Apakah rahasia ini memiliki arti yang besar bagi Anda?"

"Tentu saja!" sahut Ye Mo tanpa ragu, suaranya bergetar oleh dedikasi seorang pelindung. "Jika orang tua ini bisa mendalami esensi kekuatan Hukum dengan lebih sempurna, fondasi pertahanan Kota Glory akan semakin kokoh menahan badai luar."

"Baiklah, karena Kakek Ye Mo telah memperlakukanku seperti keluarga sendiri, aku tidak akan menyembunyikannya," ucap Xiao Xuan santai, mulai mengeluarkan ekor rubah dewasanya dari balik topeng santun. "Berdasarkan pengamatanku, inti terdalam dari struktur kekuatan Hukum sebenarnya tersusun dari jalinan untaian Prasasti Kuno. Aku tidak keberatan mengajarimu metode deduksi ini, namun... Senior harus menyetujui satu syarat dariku."

Ye Mo mengibaskan lengannya dengan tawa lebar, merasa berada di atas angin. "Hanya satu syarat? Tidak masalah! Selama Istana Penguasa Kota memilikinya, kau boleh memilih apa saja sesuka hatimu. Orang tua ini bukanlah orang yang pelit. Katakan, apa maumu?"

"Jangan terburu-buru, Senior. Ada baiknya kita menyelaraskan pemahaman terlebih dahulu," tutur Xiao Xuan tenang.

Ia mengangkat tangan kanan, membiarkan Kekuatan Jiwanya mengalir membentuk kilatan cahaya keemasan di udara ruang rahasia. Dengan jari sebagai kuas, Xiao Xuan mulai menggambar struktur Prasasti murni di depan mata Ye Mo. "Lihatlah, formasi prasasti untuk Hukum Api seharusnya saling mengunci di titik ini, sedangkan untuk Hukum Angin dan Salju..."

Satu demi satu, jalinan kode alam semesta dijabarkan Xiao Xuan dengan logika yang teramat tajam. Ye Mo adalah seorang jenius alami; begitu matanya menangkap korelasi antara prasasti dan aliran Hukum, pemahaman kultivasinya yang sempat tertahan selama puluhan tahun mendadak mengalami lonjakan yang drastis. Riak energinya bergolak, menjadi jauh lebih padat dan murni.

"Luar biasa! Benar-benar membuka mata tuaku!" seru Ye Mo dengan mata berbinar penuh gairah bertarung yang baru. Ia menepuk dada Xiao Xuan dengan mantap. "Nak, sekarang katakan apa syaratmu. Orang tua ini memegang teguh kata-katanya—apa pun permintaanmu akan kukabulkan!"

Xiao Xuan menarik kembali energinya, memperbaiki posisi berdirinya dengan pembawaan pria dewasa yang tenang, namun ada kilat jenaka sekaligus protektif yang melintas di matanya. "Syaratku teramat sederhana, Senior. Aku menginginkan cucu perempuanmu, Ye Ziyun—"

*Plak!*

Belum sempat Xiao Xuan menyelesaikan kalimatnya, atmosfer hangat di ruang rahasia menguap seketika. Wajah Kakek Ye Mo berubah menjadi mendung yang teramat pekat. Sebuah pukulan telak mendarat dengan sukses di bagian belakang kepala Xiao Xuan, menimbulkan bunyi benturan yang cukup nyaring.

"Aduh... Senior, ada apa denganmu?" gumam Xiao Xuan sambil mengusap kepalanya, wajah tegasnya memasang ekspresi datar yang menyiratkan rasa tidak adil yang dibuat-buat. "Baru saja kita bicara dengan penuh kehangatan, mengapa Anda mengubah raut wajah lebih cepat daripada membalik lembaran kitab?"

Pendengaran seorang ahli peringkat Legenda tentu tidak bisa diremehkan. Mendengar gumaman santai Xiao Xuan yang terkesan tanpa dosa, sisa-sisa kesabaran Ye Mo runtuh seutuhnya. Di matanya, pemuda bajingan ini baru saja menunjukkan niat terselubung untuk menggali fondasi kebahagiaan keluarganya.

*Bocah licik ini... berani-beraninya dia mengincar mutiara hatiku bahkan sebelum menetap di kota ini? Hari ini aku akan mengajarimu arti dari menghormati orang tua!* batin Ye Mo murka.

Tanpa membuang kata, Ye Mo merangsek maju. Dengan lambaian tangan yang dilapisi energi es murni, ia menyegel aliran Kekuatan Jiwa di dalam tubuh Xiao Xuan secara mutlak, memangkas seluruh kemampuan pertahanan sang pemuda. Sebelum Xiao Xuan yang kehilangan kekuatannya sempat mengeluarkan analisis taktis, Ye Mo telah membalikkan tubuh pemuda itu ke atas lututnya.

*Plak! Plak! Plak!*

Suara hantaman telapak tangan yang mendarat telak di bagian belakang tubuh Xiao Xuan bergema konstan di dalam ruang rahasia.

"Orang tua bangka!" seru Xiao Xuan, ketenangannya pecah berganti menjadi amarah seorang pria dewasa yang harga dirinya diinjak-injak. Ia tidak lagi memedulikan sebutan formal. "Seorang ksatria boleh ditumpas darahnya, namun tidak untuk dipermalukan seperti ini! Mengapa kau memukul bokongku?!"

"Mengapa, kau tanya?!" raung Ye Mo, tangannya tetap berayun dengan ritme yang stabil dan penuh tenaga. "Karena Ziyun adalah cucu kesayanganku! Kau baru saja menginjakkan kaki di kota ini dan sudah berani memasang jerat untuk mutiaraku? Kakek tua ini akan memastikan pantatmu mekar sebelum kau sempat melihat wajahnya!"

"Kau... Kau tidak menepati janji seorang tetua!" protes Xiao Xuan, mencoba membalikkan tubuhnya namun cengkeraman Ye Mo sekeras jepitan gunung baja.

"Lalu kenapa jika aku melanggar janji kali ini?!" sahut Ye Mo dengan tawa gusar yang kian bersemangat setiap kali tangannya mendarat. "Ingat ini, Xiao Muda! Di wilayah Kota Glory ini, sekalipun kau adalah harimau ganas dari pegunungan, kau harus tiarap di hadapanku; dan sekalipun kau adalah naga langit, kau wajib melingkar patuh di bawah kakiku!"

Setengah jam kemudian, pintu gerbang belakang Istana Penguasa Kota terbuka perlahan. Dengan langkah yang agak pincang dan canggung, Xiao Xuan melangkah keluar menembus dinginnya angin sore. Wajah tampannya yang biasa sedingin es kini tampak sedikit merah padam menahan rasa dongkol yang teramat dalam.

"Tua bangka sialan..." desis Xiao Xuan rendah, tangannya secara refleks mengusap bagian belakang tubuhnya yang terasa panas membaur. "Pukulannya benar-benar tidak mengenal rasa kemanusiaan. Tunggu saja... hutang rasa sakit sang kakek, kelak akan kubuat cucunya yang membayar semuanya hingga lunas! Tua bangka, urusan kita belum selesai!"

Menepis sisa kejengkelannya dengan mentalitas dewasa yang pragmatis, Xiao Xuan mengarahkan langkah kakinya menuju sebuah kompleks halaman luas yang terletak tepat di sebelah perimeter Istana Penguasa Kota—wilayah yang kini telah terdaftar secara sah sebagai kediaman resmi **Keluarga Xiao**.

Begitu sosok tegapnya melintasi pintu gerbang kediaman, riak spiritual yang teramat masif mendadak bergetar di udara. Tiga sosok pria tua dengan jubah kebesaran mewah muncul secara simultan dari balik bayangan ruang hampa. Mereka adalah Tiga Leluhur Peringkat Legenda milik Keluarga Xiao yang dipanggil melalui sistem.

Ketiga ahli tertinggi itu menatap Xiao Xuan dengan tatapan mata yang sarat akan rasa ingin tahu yang menggelitik. Sang Leluhur Agung, dengan janggut panjangnya yang menjuntai, bahkan mengacungkan jempol kanannya tinggi-tinggi ke arah Xiao Xuan, sementara dua leluhur lainnya memasang senyuman penuh arti seolah berkata: *'Kami semua memahami perjuanganmu di dalam sana, Tuan Muda'*.

Melihat respons dari para bawahannya yang justru tampak terhibur dengan kepulangannya yang pincang, garis-garis hitam imajiner mendadak memenuhi dahi Xiao Xuan. Ia hanya bisa mendengus dingin dan melangkah masuk ke dalam aula utama tanpa membalas gurauan mereka.

Sementara itu, di sudut lain Istana Penguasa Kota, ruang pertemuan utama Keluarga Angin Salju mendadak dipenuhi oleh kehadiran para petinggi faksi tingkat tinggi. Kakek Ye Mo duduk di kursi utama dengan wajah ketat, memimpin sebuah diskusi yang teramat sengit dan mendalam mengenai implikasi serta syarat mutlak yang diajukan oleh pemuda misterius bernama Xiao Xuan tersebut. Sebuah babak baru intrik politik dan asmara dewasa di Kota Glory resmi dimulai.

1
HiaTus
amazing
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!