Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.
Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.
Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.
Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?
"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.
"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.
Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Janda? Siapa Takut? 11
"Dek, kamu yakin akan pergi bekerja subuh-subuh begini? kamu kan sedang mual-mual Dek? lebih baik kamu izin dulu saja hari ini, istirahat dulu di rumah!" Fathur mencoba mencegah istrinya pergi bekerja.
Semalaman bahkan Rumi kesulitan untuk tidur karena merasa tidak enak badan. Mungkin karena perutnya kosong dan sulit untuk makan apa-apa. Sedangkan sekarang menjelang subuh istrinya harus pergi bekerja. Katanya hari ini dia harus membantu salah satu temannya di rumah pemilik toko roti.
"Insyaallah aku baik-baik aja Mas, lagian nanti sore kita akan ke bidan untuk periksa juga. Nanti akan dikasih obat mual sama lemasnya. Ini aku juga udah bawa teh lemon, minum ini perut aku rasanya jauh lebih baik!" Jawab Rumi.
"Ya sudah kalau begitu, tapi kalau ada apa-apa kamu kabari Mas ya!" Fathur memeluk dan mencium kepala Rumi.
"Iya mas, aku pergi dulu, nggak enak sama Mbak Yuli udah nunggu di depan," pamit Rumi.
Fathur mengantar Rumi sampai depan, dan masih berdiri di teras. Memastikan jika istrinya dan Yuli sudah pergi. Dia kembali ke dalam dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Pagi ini Dia terpaksa sarapan dengan ceplok telor, karena Rumi memang belum sempat memasak sarapan untuknya.
"Fathur! Kenapa kamu semalam tidak datang ke rumah? Ibu kelelahan harus menyiapkan segala sesuatunya sendiri. Bahkan sekarang cucian piring dan gelas kotor di rumah juga masih banyak! ke mana Rumi? Setidaknya dia harus membantu ibu sesekali di rumah! Jangan mentang-mentang karena sudah bekerja dia tidak mau lagi mengerjakan pekerjaan di rumah ibu!" Bu Sri menerobos masuk ke dalam rumah Fathur.
"Bu, kemarin umi sedang tidak enak badan. Makanya kami tidak pergi ke rumah ibu,"
"Halah, kamu selalu saja membela dia. Ibu yakin kalau itu alasan dia saja! Agar dia tidak membantu dan mengerjakan pekerjaan di rumah ibu! Apa kamu mau membuat ibu cepat-cepat sakit dan ma-ti? tanah harus mengerjakan pekerjaan rumah sendiri?" kesal Bu Sri karena akhir-akhir ini Fathur sering membela Rumi.
"Ibu di rumah kan ada Elisa, minta dia untuk membantu ibu. Untuk hanya sekedar mencuci piring atau gelas. Elisa juga sudah besar dan sudah seharusnya belajar untuk beres-beres rumah sendiri!" Fathur tak bisa membiarkan istrinya bekerja di ruang sang ibu. Apalagi saat ini Rumi sedang hamil muda.
"heh enak saja! Ibu tidak akan membiarkan Elisa mengerjakan pekerjaan rumah seperti itu! Karena dia sekarang sudah memiliki pacar orang kaya! Tangan Elisa tidak boleh kotor apalagi kapalan, akan memalukan saja nanti di depan keluarga pacarnya itu!"
"Bu, tetap saja kan menikah dengan orang kaya juga nanti Elisa harus melayani suaminya. Setidaknya kalau Elisa tahu cara mengurus rumah akan membuat Ibu mertuanya juga sayang sama dia. Bukankah Ibu juga menekankan Rumi untuk bisa melakukan semua pekerjaan rumah?" Fathur sedikit kesal.
"Elisa dan Rumi berbeda ya, Fathur! Rumi itu anak orang miskin! Dan dia itu memang hanya pantas untuk melakukan pekerjaan kasar dan juga berat di dapur dan di rumah. Sudahlah sekarang mana istrimu itu! Lebih baik hari ini dia libur dan bersihkan rumah ibu sekarang juga!"
"Rumi sudah pergi kerja Bu," jawab Fathur beranjak dari duduknya dan bersiap berangkat bekerja.
"Padahal semalam Dona datang ke rumah. ibu dan dia sangat berharap kamu datang semalam. Tapi Ibu yakin jika istrimu itu yang melarangmu kan? Lebih baik ceraikan Rumi dan kembali kepada Dona! dia juga rahimnya sehat dan tidak akan pernah keguguran seperti Rumi. Walau dia sudah punya anak satu, tapi setidaknya pekerjaan Dona sudah sangat bagus. Bahkan dia juga punya mobil yang bagus!"
"Bu ..."
"Kamu dan ibu juga tidak akan kesusahan lagi untuk makan! Karena gaji dia juga besar, gaji Dia sangat cukup bahkan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan kalian. Nantinya gaji kamu berikan kepada ibu! Karena anak Dona beda lagi ya bukan anak kamu! Dona juga sudah punya rumah sendiri. Kamu tinggal tinggal di sana dengan enak dan menikmati segala fasilitasnya. Hari ini Ibu dan Elisa juga akan main ke rumah Dona! Rumah baru yang ditempati di perumahan yang mewah di perumahan yang baru itu!"
"Bu, Dona itu masa lalu aku! Lagi pula aku mencintai Rumi, aku tidak mungkin menceraikan, Rumi Bu! Lebih baik aku hidup susah bersama dengan Rumi seperti ini Bu! Daripada aku harus kembali direndahkan oleh keluarga Dona! Apalagi mendengar pekerjaan dan juga semua pencapaian Dona jauh lebih dari aku. Pada akhirnya aku tidak akan pernah dihargai oleh mereka baik sebagai menantu maupun sebagai seorang suami!" jawab Fathur.
"Aku tidak mau kalau sampai mendapatkan karma dari perbuatan ibu kepada Rumi selama ini!" tambah Fatur membuat kedua bola mata Bu Sri rasanya mau copot mendengar ucapan berani dari anaknya.
"Apa maksud kamu hah? Kenapa kamu bicara seperti itu kepada ibumu sendiri? Kamu benar-benar sudah terpengaruh oleh wanita miskin itu, Fathur! Sampai-sampai sekarang bicaramu juga menjadi kurang ajar kepada ibumu! Kamu mau menjadi anak durhaka, Fathur?" emosi Bu Sri.
"Bukan begitu maksud Fathur Bu. Dona adalah masa lalu, dan Rumi adalah masa depan Fathur. Jadi cukup, Ibu jangan lagi mencoba untuk menjodohkan Fathur dengan Dona. Walau Rumi orang miskin, tapi dia sangat menghargai aku dan juga Ibu. Maaf Fathur harus berangkat kerja, Bu!" pamit Fathur.
"Kurang ajar sekali anak miskin yang tidak jelas siapa kedua orang tuanya itu! Sekarang anakku sudah berubah! Bahkan dia sudah berani membantah keinginanku! Awas saja kau Rumi! jika Fathur tidak mau meninggalkan kamu, maka aku yang akan membuat kamu meninggalkan Fathur! Fathur harus menikah dengan Dona, apalagi dia memiliki karir dan juga keuangan yang bagus! Dona juga bisa menjamin aku nantinya, di saat kedua anak dan menantuku yang lain tidak bisa memberikan apa-apa!" Mata Bu Sri memicing dan tangannya terkepal.
Entah setan apa sudah merasuki hati Bu Sri ini. Sepertinya bukan setan lagi yang berada di dalam hatinya, melainkan sudah tahap demit. Karena dia bahkan berani untuk memisahkan rumah tangga anaknya sendiri.
Rumah tangga yang sedang adem ayem, namun malah mertua yang terlalu ikut campur ini menjadi sumber api dalam rumah tangga mereka. Semuanya kembali kepada Fathur, mampukan dia mempertahankan rumah tangganya? Ataukah dia lebih menurut dengan keinginan ibunya untuk melepaskan rumah tangganya bersama Rumi dan membina rumah tangga baru dengan Dona?
nnti penyesalan akn tiba tempat pda waktu ny ,, disaat semua terjadii mungkin Rumi udh pergiii atau udh menjadi sosok yg gx mereka kiraa sebelum ny ,, 😒😒😒😒
bukan sama manusia ,, bner kata Rumi ,, rencana manusia tu baik ,, tp rencana Tuhan tu luar biasa ,,, semangat trus rumii ,, Tuhan tu tdak tidur ,, /Smile//Smile//Smile/