Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Penghianatan
Malam semakin larut di kediaman keluarga besar itu. Suasana hening dan tegang memenuhi ruang kerja. Di atas meja, bukan lagi peta tua peninggalan nenek moyang yang terbentang, melainkan berkas-berkas rahasia militer dan dokumen resmi yang diambil dari markas komando. Putra berdiri tegak di depan jendela, wajahnya kaku dan penuh amarah tertahan. Di sebelahnya, Citra duduk diam, tangannya erat menggenggam lengan suaminya, berusaha memberi kekuatan di tengah badai yang datang dari sisi pekerjaan Putra sendiri.
"Mas... kau yakin dengan apa yang kau temukan ini?" tanya Citra pelan, suaranya berhati-hati namun jelas. "Kalau benar apa yang tertulis di sini, berarti musuh kita bukan hanya ada di luar, tapi ada di dalam tubuh militer itu sendiri. Orang-orang yang kau percayai, orang-orang yang bertugas bersamamu selama ini..."
Putra menghela napas panjang, lalu berbalik menatap istrinya dengan sorot mata tajam seorang prajurit. Ia mengambil satu lembar dokumen yang ditandai merah, lalu meletakkannya di depan Citra.
"Aku yakin seratus persen, Citra. Awalnya aku juga tidak percaya. Aku pikir masalah ini hanya soal dendam pribadi Bu Ratih dan keserakahan Wijaya. Tapi lihat ini. Data pengiriman pasukan, rute patroli rahasia, hingga jadwal pergerakan Kolonel Bayu... semuanya bocor persis ke tangan musuh. Dan jejak akses datanya mengarah langsung ke satu nama: Mayor Danu. Rekan kerjaku sendiri, orang yang selama ini selalu ada di sampingku, orang yang aku anggap saudara seperjuangan."
Citra terkejut, matanya membelalak. Ia ingat betul sosok Mayor Danu. Pria itu sering datang ke rumah, sopan, ramah, dan selalu terlihat setia kawan. Bagaimana mungkin seseorang yang terlihat begitu berdedikasi bisa berkhianat?
"Danu..." gumam Citra. "Tapi kenapa, Mas? Apa motifnya? Dia punya pangkat, jabatan, dan kehormatan. Apa yang membuatnya rela menjual negaranya dan mencelakai rekan-rekannya sendiri?"
Kolonel Bayu yang sejak tadi diam di sudut ruangan, akhirnya angkat bicara. Wajahnya tampak tua dan sedih, beban kekecewaan tergambar jelas di sana.
"Motifnya sama seperti pengkhianat pada umumnya, Nak. Uang dan kekuasaan. Ratih dan Wijaya memang dalang di balik layar, tapi mereka butuh orang dalam untuk menjalankan aksinya di tubuh militer. Danu terjebak. Dia punya banyak hutang judi, keluarganya di luar kota juga ditekan dan dijadikan sandera. Ratih memanfaatkan kelemahannya, menyuapnya dengan uang besar, dan mengancam nyawa orang yang dia sayangi jika menolak bekerja sama."
Kolonel Bayu menunjuk satu foto di meja, foto pertemuan rahasia yang berhasil didapatkan tim intelijen. Di sana terlihat jelas Mayor Danu sedang berbicara tertutup dengan Bu Ratih di sebuah rumah kosong pinggir kota, tempat yang sama di mana jejak keberadaan Kak Dinda sempat terdeteksi.
"Dia bukan sekadar pembocor rahasia," lanjut Kolonel Bayu dengan nada kecewa. "Dialah yang memberi tahu Wijaya saat ayahmu melakukan inspeksi ke tambang dulu, hingga kecelakaan itu bisa direncanakan dengan sempurna. Dialah yang mengubah laporan hasil penyelidikan kematian ayahmu menjadi kecelakaan biasa. Dan sekarang... dialah satu-satunya orang yang tahu persis di mana Ratih menyembunyikan Dinda, karena dialah yang mengawasi keamanan tempat itu atas perintah Ratih."
Tangan Putra mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Rasa marah, kecewa, dan rasa bersalah bercampur menjadi satu. Sebagai seorang tentara, pengkhianatan adalah dosa terbesar. Dan kenyataan bahwa dia begitu buta hingga tidak menyadari hal itu selama bertahun-tahun membuat harga dirinya terasa terinjak.
"Aku harus menangkapnya sendiri," ucap Putra tegas, suaranya rendah namun berisi tekad baja. "Dia memakai seragam yang sama denganku, bersumpah setia pada hal yang sama, tapi dia menusuk kami dari belakang. Semua bahaya yang menimpamu, Citra, semua penderitaan Andi, semua rasa sakit keluarga kita... sebagian besar terjadi karena informasi yang dia berikan."
Citra bangkit berdiri, berdiri sejajar di samping suaminya. Sebagai dokter, ia melihat situasi ini dengan kepala dingin namun hatinya ikut terluka. Ia menyadari bahwa perjodohan yang dulu dianggap terpaksa ini kini menjadi kekuatan utama mereka. Tanpa Citra yang membantu meneliti data dan melacak jejak dari sisi lain, kemungkinan besar kebenaran ini akan tertutup selamanya.
"Mas, dengarkan aku," ucap Citra lembut namun tegas, memegang bahu suaminya agar menatapnya. "Ini bukan salahmu. Pengkhianat pandai menyembunyikan wajah aslinya. Tapi sekarang kita tahu kebenarannya. Dan ini justru jadi keuntungan kita. Jika Danu yang menjaga tempat penyimpanan Kak Dinda, berarti dia punya akses, dia punya kunci, dan dia tahu titik lemah pertahanan Ratih. Kita bisa memanfaatkannya."
"Memanfaatkannya bagaimana?" tanya Putra, matanya menyala mencari jalan keluar.
"Dia khianat karena tertekan dan butuh pertolongan, bukan karena dia jahat sepenuhnya," jawab Citra cerdas. "Kita berikan dia pilihan. Bantu kami menyelamatkan Dinda dan membongkar semua kejahatan Ratih, atau dia akan diadili sebagai pengkhianat berat dan kehilangan segalanya selamanya. Keselamatan keluarganya pun ada di tangan kita sekarang. Dia pasti lebih memilih bekerja sama daripada hancur habis."
Kolonel Bayu mengangguk setuju. "Ide bagus. Kita tidak perlu kekuatan besar yang bisa diketahui musuh. Kita cukup ambil Danu diam-diam malam ini, sebelum Ratih menyadari identitasnya terbongkar. Gunakan dia sebagai jalan masuk. Dia akan membawa kita tepat ke lokasi Dinda, dan tepat ke hadapan Ratih."
Rencana itu langsung disusun. Waktu tidak banyak tersisa. Ancaman Ratih untuk membunuh Dinda masih berlaku, dan setiap detik yang berlalu nyawa wanita itu makin terancam.
Dini hari buta, Putra dan beberapa pasukan khusus pilihannya bergerak senyap menuju kediaman Mayor Danu. Seperti dugaan mereka, pria itu belum tidur, terlihat gelisah mondar-mandir di teras rumahnya, seolah sudah menunggu kedatangan ini. Saat Putra muncul dari kegelapan, Danu tidak berusaha melarikan diri atau melawan. Ia hanya menunduk lemas, tahu bahwa hari pembalasan telah tiba.
"Aku tahu kau akan datang, Putra," ucap Danu lirih, suaranya parau penuh penyesalan. Ia tidak berani menatap mata rekannya itu. "Aku bukan orang jahat. Aku terjebak. Mereka menyandera istri dan anakku. Mereka mengancam akan membunuh mereka jika aku tidak menurut. Aku tidak punya pilihan lain."
"Kau punya pilihan saat kau memutuskan menjual nyawa ayahku, menjual nyawa Kolonel Bayu, dan menjual kehormatan seragam ini!" bentak Putra dingin, namun ia menahan emosinya. Ia mendekat, menatap tajam ke wajah Danu. "Tapi aku tidak datang untuk menghakimimu sekarang. Aku datang untuk memberimu satu kesempatan terakhir menebus segala dosamu. Bantu kami. Bawa kami ke tempat Ratih menahan Dinda. Bongkar semua bukti kejahatan mereka. Jika kau lakukan itu, aku jamin keselamatan keluargamu, dan aku akan berusaha meringankan hukumanmu."
Danu mengangkat wajahnya, air mata penyesalan mulai mengalir. Ada kilatan harapan di matanya yang sempat redup. Ia mengangguk mantap.
"Aku akan lakukan apa saja, Putra. Aku sudah terlalu lama menjadi boneka wanita jahat itu. Aku ingin semuanya selesai. Ikut aku... tempat itu ada di gudang penyimpanan logistik tua di pinggir kota, tempat yang seharusnya sudah ditutup resmi, tapi dia kuasai diam-diam. Di situlah Dinda ditahan, dan di situlah Ratih bersembunyi sambil menyusun rencana terakhirnya."
Dalam perjalanan menuju lokasi itu, duduk di dalam mobil militer yang melaju cepat, Citra merasakan ketegangan yang luar biasa. Di satu sisi, ia berharap bisa segera bertemu kakaknya. Di sisi lain, ia menyadari betapa rumitnya dunia pekerjaan suaminya, di mana teman bisa berubah jadi musuh, dan kepercayaan adalah hal yang paling mahal dan berbahaya.
Putra menggenggam tangan istrinya erat. "Kau lihat, Citra? Bahaya tidak hanya datang dari luar. Tapi berkat ketajaman dan ketenanganmu, kita bisa melihat apa yang tersembunyi. Pengkhianatan ini adalah ujian berat bagiku sebagai tentara, tapi kehadiranmu membuatku punya alasan lebih kuat untuk berjuang demi kebenaran."
Mobil berhenti di depan bangunan gudang luas yang gelap dan sunyi. Hanya ada sedikit lampu redup yang menyala di sudut bangunan. Danu memberi isyarat bahwa ini tempatnya. Pasukan bersiap mengelilingi gedung. Putra, Citra, dan Kolonel Bayu bergerak mendekati pintu utama di bawah panduan Danu.
Namun, saat Danu hendak memutar kunci gerbang besi itu, pintu itu terbuka sendiri dari dalam. Di sana, berdiri Bu Ratih dengan senyum kemenangan yang mengerikan. Di belakangnya, terlihat Dinda yang terikat dan ditodong senjata oleh anak buahnya.
Ratih bertepuk tangan pelan, matanya berkilat kejam menatap Danu.
"Bagus... bagus sekali. Aku sudah menduga kau akan menjatuhkan pilihanmu, Danu. Kau memang lemah, sama seperti ayah mereka dulu. Kau pikir aku tidak tahu kau mulai goyah? Kau pikir aku tidak menduga rencana bodoh ini?"
Ratih mengangkat senjata pendek di tangannya, mengarahkannya bergantian ke arah mereka.
"Kalian pikir dengan mengetahui ada pengkhianat di dalam barisan, kalian sudah menang? Wah, kalian masih terlalu naif. Pengkhianatan itu baru permulaan. Seluruh jaringan yang aku bangun sudah menembus jauh lebih dalam dari yang kalian bayangkan. Gudang ini sudah dikepung anak buahku, dan tidak ada jalan keluar bagi kalian malam ini."
Ia menatap tajam ke arah Putra dan Citra.
"Kalian berdua... perjodohan terpaksa itu memang menyusahkan rencanaku, tapi ternyata juga membawaku ke titik akhir ini. Malam ini, di sini, kita selesaikan semuanya. Kau, Putra, sang tentara setia, akan mati bersama istrimu, dan aku akan menguasai sepenuhnya apa yang selama ini jadi hakku, termasuk kekuasaan yang seharusnya milikku di tubuh militer ini."
Bersambung...