NovelToon NovelToon
BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Eunoia Fashion

Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Sejak insiden pengusiran Valerie minggu lalu, statusku sebagai istri sang CEO tak terbantahkan lagi di seantero gedung pencakar langit ini. Padahal, jika mereka tahu bahwa akhir pekan ini aku dan Arkan baru akan melangsungkan akad nikah yang sesungguhnya di depan penghulu demi memenuhi tuntutan Om Surya yang mendambakan legalitas agama dan negara, mereka pasti akan tertawa guling-guling. Ya, secara teknis dan batiniah, aku masih manajer pemasaran yang sedang menunggu hari gajian.

Pagi itu, suasana ruang rapat Departemen Pemasaran sedang memanas. Kami kedatangan tim dari agensi kreatif eksternal untuk membahas peluncuran kampanye produk baru. Dan di sanalah sumber bencana hari ini bermula.

Namanya Bastian. Dia adalah Direktur Kreatif dari agensi tersebut. Usianya mungkin sebaya denganku, memiliki wajah blasteran yang tampan, senyum yang bisa membuat gula aren minder karena kalah manis, dan gaya bicara yang kelewat kasual untuk ukuran rapat korporat. Masalah utamanya bukan pada ketampanannya, melainkan pada kenyataan bahwa Bastian ini adalah tipe pria ekstrovert yang sama sekali tidak memedulikan hierarki atau gosip kantor.

"Jadi, Mbak Naura..." Bastian mencondongkan tubuhnya melintasi meja rapat, menatap layar laptopku dengan jarak yang, menurut standar normal, sedikit terlalu dekat. Aroma parfum *citrus*-nya menguar tajam. "Konsep *urban-lifestyle* yang kamu ajukan ini brilian sekali. Aku tidak menyangka istri seorang bos besar Mahardika Group masih mau turun tangan langsung menyusun kerangka iklan sedetail ini."

Aku memundurkan kursiku beberapa sentimeter, tersenyum profesional. "Terima kasih, Bastian. Tapi di ruangan ini, saya adalah Manajer Pemasaran. Status pernikahan saya tidak ada hubungannya dengan lembur dan revisi naskah iklan."

Bastian tertawa renyah, memperlihatkan deretan giginya yang putih rata. Tanpa diduga, tangannya terulur dan menunjuk layar laptopku, namun ujung jari telunjuknya tidak sengaja menyentuh punggung tanganku yang sedang memegang *mouse*.

"Justru itu yang membuatmu luar biasa menawan, Naura. Pekerja keras, cerdas, dan..." Bastian menurunkan suaranya sedikit, "...punya sorot mata yang sangat tajam saat sedang berdebat. Bos kalian ini sangat beruntung, ya."

Riko dan Siska, dua asistenku yang duduk di seberang meja, langsung menahan napas serentak. Wajah mereka pucat pasi seolah baru saja melihat hantu. Aku baru akan membuka mulut untuk memberikan teguran halus pada Bastian soal batasan profesional, ketika tiba-tiba suhu udara di dalam ruang rapat itu anjlok drastis hingga menyentuh titik beku.

Pintu kaca ruang rapat digeser terbuka dengan sangat kasar hingga menimbulkan bunyi benturan yang memekakkan telinga.

Di ambang pintu, berdiri sesosok pria berjas hitam kustom dengan aura gelap yang begitu pekat, menyerupai malaikat maut yang siap mencabut nyawa siapa pun yang berani bernapas di sekitarnya. Mata elang Arkan Mahendra menatap tajam bak pedang samurai yang baru diasah, dan sasaran utamanya adalah jari telunjuk Bastian yang masih berada di dekat tanganku.

"Saya tidak tahu kalau Mahardika Group sekarang membayar konsultan eksternal untuk mengajari manajer saya cara memegang *mouse* komputer."

Suara bariton Arkan menggema rendah, sarat akan ancaman mematikan. Seluruh isi ruangan sontak membeku. Riko bahkan secara refleks menyembunyikan wajahnya di balik map dokumen.

Bastian yang belum menyadari bahaya, menoleh ke arah pintu dengan santai. "Oh, selamat pagi, Pak Arkan. Kami sedang membahas detail visual untuk kampanye baru. Ide-ide Naura sangat segar dan brilian."

"Namanya Ibu Naura bagi Anda, Saudara Bastian. Dan saya tidak peduli seberapa brilian ide calon istri saya, Anda tidak dibayar untuk menginvasi ruang personalnya," desis Arkan. Dia melangkah masuk, setiap ketukan pantofel mahalnya di atas lantai seolah menjadi hitungan mundur menuju hari kiamat.

Arkan berhenti tepat di samping kursiku, menyelipkan tangannya dengan posesif di sandaran kursiku, mengurungku dalam dominasinya. Matanya menatap Bastian dengan tatapan merendahkan yang luar biasa arogan. "Dan satu hal lagi. Kalau saya melihat tangan Anda menyentuh calon istri saya lagi, baik sengaja maupun tidak, saya akan memastikan agensi Anda tidak akan pernah mendapatkan proyek apa pun di negara ini. Rapat bubar."

Bastian akhirnya menyadari bahwa aura membunuh bos besar ini bukanlah sekadar gertakan sambal. Dengan senyum canggung dan wajah sedikit memucat, Bastian dan timnya buru-buru membereskan laptop mereka dan pamit keluar secepat kilat.

Setelah ruangan kosong dan hanya menyisakan kami berdua, aku langsung berdiri dan menatap Arkan dengan berkacak pinggang. Rasa malu sekaligus kesal menguasai ubun-ubunku.

"Arkan Mahendra! Apa-apaan kamu ini?! Bastian itu konsultan agensi paling bergengsi yang sedang kita bayar mahal! Kamu baru saja mengacaukan rapatku dengan kecemburuanmu yang sangat tidak masuk akal!" protesku keras, menantang tatapan elangnya yang masih menyiratkan amarah.

Arkan menegakkan tubuhnya, merapikan letak dasinya dengan gerakan lambat yang dibuat-buat tenang. Ego dan gengsinya yang setinggi langit itu jelas menolak keras tuduhan cemburu dariku.

"Cemburu? Tolong jangan terlalu percaya diri, Naura. Saya bertindak atas nama protokol keamanan dan citra perusahaan," balas Arkan dengan nada suara sedingin es. "Sebagai calon istri sah CEO yang akan melangsungkan akad nikah tiga hari lagi, kelakuanmu yang membiarkan pria asing tersenyum-senyum dan menyentuh tanganmu itu sangat merusak nilai saham kita di mata publik."

Aku tertawa sinis, tidak percaya dengan alasan konyolnya. "Nilai saham? Di ruang rapat tertutup yang hanya berisi lima orang?! Jangan berlindung di balik alasan perusahaan, Mas Bos! Bilang saja kamu kesal karena ada pria tampan yang memujiku!"

Ujung telinga Arkan memerah samar, namun rahangnya semakin mengeras. Pria ini lebih rela terjun dari lantai lima puluh daripada harus mengakui bahwa dia cemburu buta.

"Pria tampan? Maksudmu si konsultan bermulut manis yang parfumnya berbau seperti cairan pembersih lantai itu?" Arkan mendengus meremehkan. "Dengar baik-baik, Naura. Mulai detik ini, saya menetapkan aturan baru untukmu. Aturan Jarak Pandang CEO. Kamu dilarang berada dalam radius kurang dari dua meter dari karyawan atau rekan bisnis pria mana pun. Jika harus rapat, pastikan ada meja selebar lapangan pingpong yang memisahkan kalian."

Aku melongo menatapnya. Otak jenius pria ini benar-benar sudah bergeser akibat terlalu banyak menghirup gengsi!

"Kamu sudah gila! Aturan macam apa itu?! Kita ini belum resmi akad, Arkan! Ingat ya, ikatan kita saat ini cuma berdasarkan kertas kontrak yang kamu ketik sendiri tempo hari. Kamu tidak punya hak untuk mengatur dengan siapa aku berinteraksi, apalagi dalam urusan pekerjaan kantorku!" balasku sengit, terpancing emosi akibat arogansinya.

Mendengar kata-kata 'kertas kontrak' dan 'belum resmi', kilat di mata Arkan berubah drastis. Ada kilatan kekecewaan dan harga diri yang terluka di sana. Bagi Arkan yang sudah berjuang mati-matian menyingkirkan mantan tunangannya dan mengamankan posisi kami, diingatkan bahwa aku menganggap hubungan ini belum sepenuhnya mengikat jelas merupakan pukulan telak untuk ego besarnya.

"Oh, jadi kamu masih menganggap ini sekadar kontrak?" suara Arkan merendah, kehilangan nada meledak-ledaknya, digantikan oleh kedinginan absolut yang membekukan darah. "Baiklah kalau begitu, Manajer Naura. Jika itu yang kamu yakini. Lakukan apa pun yang kamu mau. Rapatlah dengan pria berparfum pembersih lantai itu sesukamu. Saya tidak akan ikut campur lagi."

Tanpa menoleh lagi, Arkan membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari ruang rapat dengan langkah panjang dan cepat. Suara bantingan pintu kaca kali ini tidak terlalu keras, namun efeknya jauh lebih menghancurkan daripada sebelumnya.

Aku berdiri mematung di dalam ruangan yang mendadak terasa hampa. Jantungku berdenyut nyeri. Sialan. Kenapa mulutku harus secepat itu membalas omongannya? Aku tahu Arkan itu sangat menjunjung tinggi gengsinya, dan kata-kataku tadi pasti telah menyinggung harga dirinya sebagai seorang pria. Tapi dia juga salah! Mengapa dia harus berlindung di balik citra perusahaan alih-alih mengatakan jujur kalau dia memang tidak suka melihatku dekat dengan pria lain?

Gengsiku sendiri pun meronta, menolak untuk mengalah. Jika Arkan ingin bermain api dengan sikap dinginnya, maka aku akan meladeninya. Bukankah wanita tidak boleh terlihat terlalu lemah?

Hari itu menjadi awal mula pecahnya Perang Dingin Pra-Akad di Mahardika Group.

Menjelang jam istirahat makan siang, biasanya Hadi akan turun ke lantaiku untuk mengantarkan kotak bekal dari restoran mewah titipan si bos, atau Arkan sendiri yang memaksaku makan bersamanya di ruangannya dengan alasan 'menjaga gizi produk unggulan'.

Namun hari ini, tidak ada Hadi. Tidak ada pesan teks berisi perintah arogan. Ponselku sepi bagaikan kuburan tua.

Dengan perasaan kesal yang menggunung, aku sengaja menerima ajakan makan siang dari Riko dan Siska di kantin karyawan lantai dasar. Sebagai bentuk pemberontakan, aku bahkan memanggil Bastian yang kebetulan sedang berada di lobi, mengajaknya bergabung bersama tim kami.

Kami duduk di meja bundar di tengah kantin yang ramai. Bastian kembali bercerita dengan gaya humorisnya, membuat Siska tertawa terbahak-bahak. Aku ikut tersenyum, namun pikiranku melayang jauh ke lantai lima puluh. Sesekali aku melirik ponselku yang tergeletak bisu di sebelah piring siomayku.

Di tengah percakapan, aku merasakan bulu kudukku meremang. Insting bertahanku mendadak aktif. Aku mendongakkan kepala, mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin. Tepat di balkon kaca lantai *mezzanine* yang menghadap langsung ke arah kantin karyawan, berdiri sosok tegap Arkan Mahendra.

Pria itu sedang memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan hitamnya. Dia berdiri mematung di sana, menatap lurus ke arah mejaku dengan tatapan mata elangnya yang luar biasa gelap dan tidak terbaca. Tidak ada kemarahan yang meledak, namun intensitas tatapannya mampu membuat suhu di sekitarku terasa membekukan.

Ketika mata kami beradu pandang selama beberapa detik, Arkan tidak mengalihkan pandangannya. Dia hanya diam, membiarkan tatapan posesif dan kekecewaan itu berbicara dalam bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh kami berdua. Lalu, dengan gerakan yang teramat sangat pelan, dia membalikkan badan dan menghilang dari balik pintu kaca.

Hatiku mencelos. Nafsu makanku seketika menguap entah ke mana. Pemberontakanku yang awalnya terasa seperti kemenangan kecil, kini berubah menjadi rasa bersalah yang menggerogoti ulu hati.

Sore harinya, Hadi datang menemuiku di ruangan dengan wajah luar biasa lelah dan kantung mata yang menghitam.

"Bu Naura... tolong saya, Bu," keluh Hadi melas, bersandar pada pintu ruanganku seolah kakinya sudah tidak bertulang.

"Ada apa, Hadi? Pak Arkan mengamuk memecahkan barang?" tanyaku cemas.

Hadi menggeleng lemah. "Bukan mengamuk, Bu. Ini lebih parah dari mengamuk. Sejak jam makan siang tadi, Bapak memanggil seluruh manajer divisi untuk evaluasi dadakan. Bapak memeriksa setiap lembar laporan pengeluaran dari tiga tahun yang lalu! Beliau menemukan kesalahan hitung sebesar lima ratus perak di laporan divisi logistik dan langsung menceramahi kepala divisinya selama dua jam penuh tanpa henti. Seluruh lantai lima puluh sekarang terasa seperti zona perang nuklir, Bu!"

Aku meringis pelan. Arkan memang memiliki cara pelampiasan yang sangat destruktif jika sedang cemburu berbalut gengsi. Alih-alih marah padaku, dia menyiksa seluruh jajaran eksekutif perusahaan dengan perfeksionismenya yang gila.

"Ibu sedang bertengkar dengan Bapak, kan?" tebak Hadi dengan tatapan memohon. "Tolonglah, Bu. Kalau perang dingin ini terus berlanjut sampai hari akad nikah kalian akhir pekan ini, saya khawatir saya akan terkena tipes sebelum sempat menikmati rendang katering pernikahan kalian."

Aku memutar bola mataku, berusaha menutupi rasa peduli yang mendesak-desak ingin keluar. Gengsiku masih tegak berdiri di garis depan pertahanan.

"Bukan salahku, Hadi. Bosmu itu yang memulai duluan dengan aturan konyolnya. Biarkan saja dia sibuk dengan laporan lima ratus peraknya itu. Aku tidak mau mengalah kalau dia tidak minta maaf lebih dulu karena sudah mengacaukan rapatku!" balasku keras kepala.

Hadi menghela napas panjang, meratapi nasib buruknya sebagai tameng hidup rumah tangga bos besarnya.

Malam itu, saat aku pulang ke apartemen, suasana terasa sangat asing. Ruang tengah gelap gulita. Tidak ada aroma kopi pekat atau sisa kehangatan dari mesin pemanas. Kamar utama terkunci rapat, sementara barang-barangku dan koper lamaku sudah tersusun rapi di dalam kamar tamu. Guling stroberiku tergeletak mengenaskan di atas ranjang kamar tamu, seolah menandakan bahwa perbatasan wilayah telah kembali didirikan.

Arkan benar-benar serius dengan perang dingin ini. Pria arogan itu telah membangun dinding gengsi yang lebih tinggi dari Tembok Ratapan, mengunci dirinya bersama kecemburuan yang enggan diakuinya, meninggalkanku sendiri bersama kebodohan egoku yang menolak untuk mengalah.

Aku memeluk guling stroberiku erat-erat, menatap langit-langit kamar tamu yang dingin. Tiga hari menuju hari ijab kabul, kami justru bertingkah seperti dua anak kecil yang berebut mainan.

1
Maya Sari
Semangat💪
Eunoia Fashion: Terimakasih 🥰
total 1 replies
Read_Forever👄
bagus kak novelnya, semangat sampai tamat
Eunoia Fashion: terimakasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!