Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.
Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa
Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.
Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inara 24
Dua hari kemudian, keadaan Inara sudah jauh lebih baik. Dan dia mulai bekerja.
Pukul tujuh pagi tepat, deru mesin mobil sedan mewah Mahesa sudah menderu di pelataran rumah. Inara juga sudah melangkah keluar untuk bersiap pergi ke kantor.
Belum sempat Inara melirik ke arah gerbang luar untuk mencari ojek daring, Mahesa sudah turun dari mobil, menghadang jalannya dengan tatapan yang sangat mengintimidasi.
"Masuk," perintah Mahesa pendek, nadanya dingin tanpa bantahan.
"Saya bisa pergi sendiri, Pak Mahesa. Anda tidak usah repot-repot!"
"Saya bilang masuk, Inara!" Mahesa mencengkeram pergelangan tangan Inara, membuka pintu kursi penumpang dengan kasar, dan setengah mendorong tubuh ringkih itu ke dalam kabin.
Mahesa segera memutari mobil dan masuk ke kursi kemudi. Dia mengunci semua pintu otomatis dari dasbor. Dia memaksa Inara ikut bersamanya bukan lagi sekadar memikirkan gengsi keluarga, melainkan karena ketakutan yang tak masuk akal. Dia takut pria bernama Arga itu akan kembali mencegat Inara di jalan dan menjadi pahlawan untuk istrinya.
Namun, begitu mobil mewah itu melaju mendekati distrik perkantoran. Sekitar dua blok sebelum gedung Dirgantara Group sifat bunglon Mahesa kembali berputar. Logikanya kembali diracuni oleh ego kediktatorannya. Dia melirik kaca spion, memastikan tidak ada mobil rekan bisnisnya, lalu menginjak rem dengan mendadak di tepi jalan yang sepi.
"Turun di sini," ujar Mahesa tanpa menoleh, suaranya kembali ketus dan kaku.
Dia tidak lagi memprotes atau memohon seperti kemarin. Dengan gerakan cepat, Inara membuka sabuk pengaman, menyambar tasnya, dan turun dari mobil.
Inara berjalan tanpa malu dan memusingkan sikap Mahesa yang berubah-ubah dan membuatnya pusing. Namun, sebuah klakson mobil mengagetkannya.
Tiiiinnn
"Bu Inara?!"
Pintu mobil SUV hitam itu terbuka. Arga kembali muncul bagaikan dejavu. Pria itu keluar dan menghampiri Inara.
"Ya ampun, Bu! Ayo ikut dengan saya!" Arga tidak sengaja melihat mobil Mahesa yang melesat di depan tadi.
Rasa iba dan marahnya campur aduk. Dia tak tahu ada hubungan apa antara Mahesa dan Inara. Namun yang pasti dia merasa iba dengan keadaan Inara yang selalu di perlakuan kasar oleh Mahesa baik di luar maupun di dalam kantor. Semua orang tahu bagaimana sikap kasar dan keras Mahesa kepada Inara.
"Terima kasih Pak Arga! Maaf merepotkan anda. Tapi saya bisa berjalan kaki saja. Tak jauh juga tiba di kantor. Saya khawatir nanti..." Inara sedikit khawatir dan takut dengan kemurkaan Mahesa kepada Arga yang bahkan datang secara tak sengaja dan hanya membantunya demi kemanusiaan.
Di lobi kantor, Mahesa yang baru saja menyelesaikan urusan di luar, berdiri di balik pilar besar lantai satu dengan dalih membaca tabletnya. Namun, matanya terus mengawasi pintu masuk lobi.
Dan pemandangan yang paling dia takuti kembali terjadi.
SUV hitam Arga berhenti di depan lobi. Arga turun dan membukakan pintu untuk Inara, bahkan dia melihat Inara tersenyum tipis sambil mengangguk kepada Arga.
Braaaaakkkk
Mahesa hampir saja meremukkan sudut tablet di tangannya. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menonjol, dan dadanya terasa seperti dibakar hidup-hidup oleh api cemburu yang teramat hebat. Dia mengira dengan memaksa Inara ikut di mobilnya tadi, dia bisa menjauhkan istrinya dari Arga. Tapi ternyata, Inara tetap berakhir di dalam mobil pria itu.
"Sekretaris Anna!" panggil Mahesa lewat ponselnya dengan suara bariton yang bergetar menahan amarah.
"Begitu Bu Inara sampai di lantai akuntansi, suruh dia ke ruangan saya detik ini juga. JANGAN BANTAH!"
"Baaaik Pak!"
Pintu ruang kerja Direktur Utama didorong perlahan oleh Inara yang mendapatkan informasi harus segera menghadap Mahesa. Inara yakin Mahesa melihatnya di antar Arga. Suruh siapa dia meninggalkannya kembali.
Ckleeekk
Mahesa mengunci pintu ruangan dari dalam, lalu berbalik dan menyudutkan tubuh Inara ke daun pintu kayu yang keras. Kedua tangannya mengunci pergerakan Inara di kiri dan kanan.
"Mas... Mas Mahesa, apa-apaan ini?!" Inara terkejut, mencoba mendorong dada Mahesa.
"Kamu yang apa-apaan, Inara!" desis Mahesa, wajahnya hanya berjarak beberapa senti, matanya merah memancarkan kemarahan yang liar.
"Kamu sengaja, kan?! Kamu menghubungi Arga setelah saya turunkan tadi? Kamu mengirim pesan padanya agar dia menjemputmu di tempat yang sama?!"
Inara menatap Mahesa dengan pandangan tidak percaya.
"Saya tidak menghubungi siapa pun! Ponsel saya mati sejak semalam! Pak Arga hanya kebetulan lewat..."
"Jangan bohong!" bentak Mahesa, suaranya tertahan namun sarat akan tekanan yang mengerikan.
"Kebetulan tidak terjadi dua kali, Inara! Kamu sengaja mengemis perhatian dari pria lain karena kamu merasa saya abaikan, kan? Kamu mau membalas dendam pada saya atas kehadiran Clarissa?!"
"Kalau iya, kenapa?!" tantang Inara, air matanya menetes karena rasa sakit di punggungnya yang terbentur pintu.
"Pak Arga jauh lebih baik dari Anda! Dia memperlakukan saya seperti manusia, bukan seperti barang yang bisa Anda buang dan ambil sesuka hati Anda!"
Mendengar Inara memuji Arga secara terang-terangan di depan wajahnya, sisa kewarasan Mahesa runtuh seutuhnya. Rasa cemburu yang membakarnya berubah menjadi kegilaan untuk mengklaim kembali miliknya.
"Kalau begitu, saya akan ingatkan kamu lagi siapa pemilik kamu sebenarnya," bisik Mahesa kejam.
Mahesa langsung menunduk, meredam teriakan Inara dengan ciuman yang jauh lebih brutal, posesif, dan penuh dominasi. Dia mencium Inara sebagai bentuk hukuman mutlak atas cemburu yang menyiksa dadanya seharian ini.
Inara memberontak kencang, memukul pundak Mahesa, namun Mahesa justru mempererat pelukannya, mengangkat tubuh ringkih Inara hingga menempel erat pada dada bidangnya. Pagutan Mahesa kali ini terasa begitu menuntut. Dia melumat bibir Inara dengan rasa frustrasi yang mendalam, mencoba menghapus bayangan Arga yang membalas senyuman Inara.
Bagi Mahesa, bibir Inara telah menjadi candu yang paling berbahaya. Sebuah pelarian di mana dia bisa merasakan detak jantung Inara yang menggila, membuktikan bahwa wanita ini, dalam suka maupun duka, dalam benci maupun sakit, masih berada di bawah kuasanya dan tidak akan pernah dia biarkan lepas ke tangan pria lain.
Di dalam ruang kerja yang terkunci rapat itu, pemberontakan Inara perlahan melemah. Bukan karena dia menikmati ciuman kasar suaminya, melainkan karena pasokan oksigen di paru-parunya menipis drastis, berpadu dengan rasa pening akibat demam yang kembali menyerang kesadarannya.
Mahesa, yang merasakan tubuh di pelukannya mendadak berbobot berat dan lemas, perlahan mengakhiri lumatan kasarnya. Dia melepaskan pautan bibir mereka, namun tidak menjauhkan wajahnya. Napasnya memburu, memapar kulit wajah Inara yang kini dihiasi rona merah semu akibat sesak napas dan suhu tubuh yang tinggi.
"Lepas..." lirih Inara, suaranya nyaris tak terdengar. Matanya menatap Mahesa dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki.
"Anda... baji-ngan egois, Pak Mahesa."
sana bawa tuh cewek benalu...
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
pengen tau yg terjadi di gedung enoh, bawa dah tuh Mahesa mantan terindah loe😛