Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.
Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.
Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
Langit sore mulai meredup, memantulkan warna jingga keemasan di kaca-kaca gedung tinggi milik perusahaan itu. Angin berhembus pelan di rooftop, membawa aroma kopi dan asap rokok yang bercampur menjadi satu. Di sudut atap gedung, dua pria berdiri santai seolah dunia di bawah sana tidak ada hubungannya dengan mereka.
Bima berdiri dengan satu tangan di saku celananya, sementara tangan lainnya memegang cangkir kopi yang masih mengepul. Di sampingnya, Pandu bersandar pada pagar pembatas, menghisap rokok dengan santai, seolah semua hal dalam hidupnya hanyalah permainan yang bisa dia menangkan kapan saja.
“Aku dengar ada pegawai baru di finance,” ujar Pandu tiba-tiba, memecah keheningan.
Bima tidak langsung menjawab. Dia hanya menyesap kopinya, seakan berusaha menahan sesuatu yang sebenarnya ingin dia katakan.
“Namanya Aira,” lanjut Pandu, kali ini dengan nada yang lebih tertarik. “Yang tubuhnya kecil itu. Wajahnya juga tidak biasa. Ada sesuatu yang beda.”
Bima akhirnya melirik ke arah sahabatnya itu. Tatapannya datar, namun ada sedikit ketegangan yang tersembunyi di baliknya.
“Kamu mulai lagi,” ucap Bima pelan.
Pandu tersenyum tipis, menghembuskan asap rokok ke udara. “Mulai lagi? Aku tidak pernah berhenti.”
Dia menoleh ke arah gedung seberang, seolah bisa melihat langsung ke lantai tempat Aira bekerja. Tatapannya berubah tajam, penuh ketertarikan.
“Dia menarik,” katanya pelan. “Aku suka yang seperti itu. Tidak terlalu mencolok, tapi justru bikin penasaran.”
Bima mendengus pelan. “Hati-hati. Kamu bisa ditangkap polisi.”
Pandu tertawa lepas, suara tawanya bergema ringan di rooftop. “Jangan lebay. Aku sudah cari tahu. Dia 27 tahun.”
“Terlihat seperti anak SMA,” balas Bima singkat.
“Itu justru poinnya,” jawab Pandu tanpa rasa bersalah. “Semakin polos terlihat, semakin menantang.”
Bima menggeleng pelan, kembali menyesap kopinya. Dia berusaha terlihat biasa saja, seolah percakapan ini tidak mengganggunya. Namun dalam hatinya, ada sesuatu yang terus bergerak, tidak nyaman.
Pandu menatapnya dengan penuh arti. “Kenapa? Kamu tidak suka?”
“Bukan urusanku,” jawab Bima cepat.
Pandu menyeringai. “Kalau bukan urusanmu, kenapa wajahmu seperti itu?”
Bima tidak menjawab. Dia hanya memalingkan wajahnya ke arah lain.
Pandu kembali menghisap rokoknya, lalu berkata dengan nada santai, “Aku rasa aku bisa mendapatkannya dalam waktu kurang dari seminggu.”
Kali ini Bima benar-benar menoleh. “Kamu terlalu percaya diri.”
“Aku selalu begitu. Dan sejauh ini, tidak pernah salah.”
Bima tersenyum tipis, tapi kali ini ada nada mengejek. “Ayunda tidak akan diam saja.”
Pandu terkekeh kecil. “Ayunda? Dia hanya pegawai biasa.”
“Pegawai biasa yang cukup berani untuk melawanmu,” balas Bima.
“Berani saja tidak cukup,” ujar Pandu tenang. “Aku manajer produksi. Aku bisa menyuruh siapa saja untuk tidak ikut campur.”
Bima tidak langsung membalas. Dia tahu Pandu tidak sepenuhnya salah. Dalam struktur perusahaan, posisi memang menentukan banyak hal. Dan Pandu tahu betul bagaimana memanfaatkan itu.
Namun sebelum percakapan mereka berlanjut, suara langkah kaki terdengar mendekat.
Keduanya menoleh bersamaan.
Seorang pria paruh baya berjalan santai ke arah mereka. Wajahnya tegas, namun tidak kaku. Tatapannya tajam, seolah bisa membaca situasi hanya dengan sekali pandang.
“Pak Rudi,” ucap Bima sedikit terkejut.
Direktur operasional itu hanya tersenyum tipis. “Kenapa? Tidak boleh ikut menikmati udara sore?”
Pandu segera berdiri lebih tegak, lalu mengulurkan kotak rokoknya. “Silakan, Pak.”
Pak Rudi mengambil satu batang, lalu menerima korek dari Pandu. Dia menyalakan rokoknya dengan tenang, lalu berdiri di antara mereka.
“Dari tadi saya dengar pembicaraan kalian,” katanya santai.
Pandu tersenyum ringan. “Kalau begitu, kami tidak perlu mengulang.”
Pak Rudi menghembuskan asap rokok perlahan. “Kamu ini, Pandu… tidak pernah berubah.”
“Dalam hal apa, Pak?” tanya Pandu pura-pura tidak mengerti.
“Kamu terlalu sering bermain-main dengan wanita.”
Pandu tertawa kecil. “Itu bukan bermain, Pak. Itu petualangan.”
“Petualangan yang tidak ada ujungnya,” balas Pak Rudi.
Bima hanya diam, memperhatikan percakapan mereka.
“Kalian sudah dewasa,” lanjut Pak Rudi. “Sudah saatnya berpikir tentang masa depan. Bukan terus seperti ini.”
Pandu mengangkat bahu. “Saya masih ingin menikmati hidup.”
“Menikmati atau menghindari tanggung jawab?” tanya Pak Rudi tajam.
Pandu tidak langsung menjawab. Dia hanya tersenyum tipis, lalu mengalihkan pembicaraan.
“Kalau Bima bagaimana, Pak? Sepertinya dia sudah mulai serius.”
Pak Rudi menoleh ke arah Bima. “Nah, itu yang ingin saya tanyakan.”
Bima sedikit menghela napas. Dia tahu pertanyaan itu akan datang.
“Bagaimana dengan keponakan saya?” tanya Pak Rudi.
Bima tersenyum sopan. “Saya sudah bertemu dengannya beberapa kali.”
“Dan?”
“Saya sedang mencoba mengenalnya lebih jauh.”
Pandu menyeringai. “Bahasa halusnya: belum yakin.”
Bima meliriknya tajam. “Setidaknya saya mencoba.”
Pak Rudi tersenyum. “Itu sudah cukup. Cinta tidak selalu datang langsung. Kadang butuh waktu.”
Bima mengangguk pelan. “Saya mengerti.”
“Komunikasi itu penting,” lanjut Pak Rudi. “Walaupun perjodohan, kalau dijalani dengan baik, bisa berhasil.”
Bima kembali mengangguk, meskipun dalam hatinya tidak sepenuhnya yakin.
“Kalau kamu, Pandu?” tanya Pak Rudi.
Pandu tertawa ringan. “Saya? Saya masih ingin memperbanyak pengalaman.”
“Pengalaman atau koleksi?” tanya Bima menyindir.
Pandu tidak menyangkal. “Kenapa tidak dua-duanya?”
Pak Rudi menggeleng pelan. “Kamu ini…”
“Saya hanya ingin memilih yang terbaik nanti,” lanjut Pandu santai. “Semakin banyak pilihan, semakin mudah menentukan.”
“Logika yang aneh,” gumam Bima.
“Logika yang realistis,” balas Pandu.
Bima menatapnya beberapa detik, lalu berkata, “Atau mungkin kamu hanya takut untuk benar-benar serius.”
Untuk pertama kalinya, Pandu terdiam sesaat.
Namun hanya sesaat.
Dia kembali tersenyum. “Aku tidak takut. Aku hanya belum menemukan alasan untuk berhenti.”
Pak Rudi menghela napas panjang. “Semoga kamu segera menemukannya.”
Suasana kembali hening sejenak. Angin sore berhembus lebih dingin.
Bima menatap langit yang mulai gelap. Pikirannya melayang, jauh dari percakapan di sekitarnya.
Tanpa sadar, bayangan Aira muncul di benaknya.
Wajahnya.
Senyumnya.
Cara dia berbicara.
Dan semua kenangan yang seharusnya sudah lama dia tinggalkan.
“Ada yang mengganggumu?” tanya Pak Rudi tiba-tiba.
Bima tersadar. “Tidak, Pak.”
“Wajahmu tidak seperti itu.”
Bima tersenyum tipis. “Saya hanya berpikir.”
“Pikirkan yang jelas,” ujar Pandu. “Jangan setengah-setengah seperti ini.”
Bima menatapnya. “Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan cara yang sama sepertimu.”
Pandu mengangkat alis. “Maksudmu?”
Bima tidak langsung menjawab. Dia hanya berkata pelan, “Ada hal yang tidak bisa dipaksakan.”
Pandu menatapnya lebih dalam kali ini, seolah mencoba membaca sesuatu yang disembunyikan.
Namun Bima sudah kembali menyesap kopinya, menutup ekspresinya.
Pak Rudi menepuk bahu Bima pelan. “Apa pun yang kamu pilih, pastikan itu bukan karena terpaksa.”
Bima mengangguk. “Saya akan mencoba.”
Namun dalam hatinya, dia tahu satu hal.
Dia belum benar-benar bisa melepaskan masa lalu.
Dan selama itu belum selesai, semua pilihan di depannya akan selalu terasa setengah.
Di sisi lain, Pandu kembali tersenyum kecil, seolah dunia berjalan sesuai rencananya.
“Aira,” gumamnya pelan.
Nama itu terasa seperti tantangan baru.
Dan bagi seseorang seperti Pandu, tantangan adalah sesuatu yang tidak pernah dia tolak.
Sementara itu, di antara angin sore dan bayangan yang mulai memanjang, tiga pria itu berdiri dengan pikiran masing-masing.
Satu bermain.
Satu mengawasi.
Dan satu lagi… terjebak di antara masa lalu dan masa depan.