Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Kampus yang Berdarah
Malam puncak perayaan Dies Natalis Fakultas Hukum seharusnya menjadi malam pelepas penat bagi para mahasiswa. Aula besar universitas telah disulap menjadi ruang pesta dengan lampu-lampu neon warna-warni, dentuman musik EDM dari DJ lokal, dan deretan stan makanan yang memenuhi area parkir. Namun, bagi Vittorio Genovese, aroma yang tercium di udara bukan hanya aroma parfum mahal dan makanan cepat saji, melainkan aroma bahaya yang tajam.
Vittorio berdiri di balkon lantai dua yang menghadap langsung ke aula utama. Ia mengenakan kemeja hitam slim-fit yang lengannya digulung sedikit, menampakkan jam tangan taktis yang menyamar sebagai aksesoris mewah. Matanya bergerak lincah, memindai setiap wajah di kerumunan.
"Juna! Sini dong, jangan mojok mulu kayak satpam!" teriak Karin dari bawah.
Karin tampil sangat berbeda malam itu. Ia mengenakan gaun pendek berwarna perak metalik yang berkilauan di bawah lampu disko. Rambutnya diikat tinggi, dan di pergelangan tangannya, gelang platina pemberian Vittorio berkilau—sebuah perangkat yang diam-diam mengirimkan koordinat lokasinya ke ponsel Vittorio setiap sepuluh detik.
Vittorio turun menyusul Karin, langkahnya tetap waspada. "Aku sudah bilang, Karin. Kita tidak perlu berlama-lama di sini."
"Duh, Jun! Sesekali nikmatin hidup dong! Lu liat tuh, si Satya aja udah asyik joget," Karin menunjuk ke arah panggung di mana Satya sedang memimpin sorakan mahasiswa.
Vittorio hanya mendengus. Pikirannya tidak pada pesta itu. Sejak sore tadi, Tiger melaporkan adanya pergerakan mencurigakan dari dua mobil van tanpa plat nomor yang terparkir di radius lima ratus meter dari kampus. Lorenzo memang sudah setuju untuk mundur, namun sisa-sisa faksi garis keras Lupi di Mare yang tidak puas dengan keputusan Lorenzo mungkin saja sedang mencoba melakukan kudeta mandiri dengan cara melenyapkan "Sang Hantu" di tempat umum.
"Ghost, ada gangguan di sistem listrik gedung belakang," suara Tiger berbisik di telinga Vittorio melalui earpiece tersembunyi. "Dua orang berpakaian teknisi masuk lewat jalur kabel bawah tanah. Mereka membawa kotak yang terlalu berat untuk sekadar alat perbaikan."
"Penyabotase," desis Vittorio. Ia segera memegang lengan Karin. "Karin, ikuti aku. Sekarang."
"Eh, mau ke mana? Baru juga mau nyicipin fruit punch!"
"Tidak ada waktu. Ikuti saja!"
Vittorio menarik Karin menuju area tangga darurat di belakang panggung. Namun, tepat saat mereka sampai di pintu, musik yang tadinya berdentum keras mendadak mati total. Lampu aula padam, meninggalkan ribuan mahasiswa dalam kegelapan yang mencekam. Teriakan bingung mulai terdengar di sana-sini.
"Semuanya tenang! Ini mungkin cuma gangguan teknis!" suara Satya terdengar melalui megaphone manual, mencoba menenangkan massa.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Suara trak-trak-trak—rentetan tembakan senjata otomatis berperedam—terdengar dari arah pintu masuk utama. Kaca-kaca jendela pecah berantakan. Jeritan histeris pecah, dan dalam sekejap, pesta kampus itu berubah menjadi arena pembantaian yang kacau.
"Tunduk!" Vittorio menekan kepala Karin agar merunduk di balik beton tangga.
Dalam kegelapan, Vittorio melihat titik-titik laser merah menyapu ruangan. Ini bukan preman amatir. Ini adalah tim pembunuh terlatih. Mereka menggunakan kacamata night vision dan bergerak dalam formasi taktis.
"Target ditemukan di sektor tengah! Habisi!" teriak salah satu penyerang dalam bahasa Italia.
Vittorio mencabut pistol Glock-nya. "Karin, masuk ke bawah meja kontrol panggung. Jangan keluar sampai aku memanggilmu. Aktifkan mode darurat di gelangmu!"
"Juna, lu jangan mati ya!" suara Karin bergetar, namun ia tetap bergerak cepat menuju tempat persembunyian.
Vittorio keluar dari bayangan seperti hantu yang bangkit dari kubur. Dalam kegelapan total, indranya bekerja di level maksimal. Ia tidak butuh lampu; ia mengenal aroma mesiu dan gerakan udara yang dihasilkan oleh orang-orang yang mendekat.
Dor! Dor!
Vittorio melepaskan dua tembakan presisi. Dua penyerang jatuh di dekat barisan kursi tamu. Ia segera berlari zig-zag, menggunakan pilar gedung sebagai tameng.
"Tiger, masuk! Blokir semua pintu keluar! Jangan biarkan mereka membawa sandera!" perintah Vittorio ke radionya.
"Siap, Ghost! Unit penyerbu sedang bergerak masuk lewat atap!"
Di tengah aula, Satya mencoba membantu beberapa mahasiswi yang terjepit di antara reruntuhan stan. Salah satu pembunuh mengarahkan moncong senjatanya ke arah Satya. Vittorio melihatnya. Tanpa ragu, ia melemparkan pisau kerambitnya. Pisau itu meluncur di udara dan menancap tepat di tenggorokan sang pembunuh sebelum ia sempat menarik pelatuk.
"Lari ke belakang panggung, Satya! Bawa mereka ke gudang!" teriak Vittorio.
Satya menoleh, matanya terbelalak melihat "Arjuna" yang biasanya pendiam kini memegang senjata dengan gaya seorang profesional. "Juna? Lu... siapa lu sebenernya?"
"Nanti saja bertanyanya! Lari sekarang!"
Vittorio terus merangsek maju. Ia menghadapi tiga orang sekaligus di dekat stan makanan. Dengan gerakan bela diri CQC (Close Quarters Combat) yang brutal, ia mematahkan tangan penyerang pertama, menggunakan tubuhnya sebagai tameng manusia untuk menahan peluru dari penyerang kedua, lalu memberikan tembakan di kepala kepada penyerang ketiga.
Lantai aula yang tadinya bersih kini mulai tergenang darah dan pecahan kaca. Aroma manis fruit punch bercampur dengan bau anyir darah yang menyengat. Pesta itu benar-benar telah menjadi pesta berdarah.
"Ghost! Mereka mengarah ke belakang panggung! Mereka tahu asistenmu ada di sana!" Tiger berteriak melalui radio.
Jantung Vittorio mencelos. Ia segera berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju arah Karin. Namun, jalannya dihadang oleh seorang pria bertubuh raksasa yang mengenakan rompi antipeluru tebal. Pria itu adalah salah satu letnan kepercayaan Lorenzo yang membangkang.
"Vittorio... akhirnya kita bertemu di tempat yang pantas," ucap pria itu sambil mencabut pedang pendek taktis.
"Aku tidak punya waktu untuk ini," geram Vittorio.
Pertarungan jarak dekat terjadi dengan sengit. Pria itu sangat kuat, serangannya berat dan menghancurkan. Vittorio sempat terlempar menabrak deretan alat musik hingga gitarnya hancur berkeping-keping. Namun, kecepatan Vittorio adalah kuncinya. Ia merunduk di bawah ayunan pedang, mengambil potongan kayu gitar yang tajam, dan menghujamkannya ke celah di bawah helm sang letnan.
Setelah melumpuhkan lawannya, Vittorio melompat ke belakang panggung. Ia melihat dua orang pembunuh sudah menarik Karin keluar dari bawah meja.
"Lepasin gue, setan! Bau badan lu bau keju basi!" teriak Karin sambil mencoba menendang dan mencakar.
"Diam, Jalang!" salah satu pembunuh hendak memukul wajah Karin dengan popor senjata.
BANG!
Vittorio melepaskan tembakan tepat di pergelangan tangan pria itu. Senjatanya jatuh. Vittorio menerjang seperti badai, menghantamkan kepalanya ke arah pembunuh kedua hingga jatuh pingsan, lalu menangkap Karin dalam pelukannya.
"Kau tidak apa-apa?" suara Vittorio parau karena adrenalin dan amarah.
Karin langsung menangis kencang, memeluk leher Vittorio. "Juna! Mereka mau bawa gue ke van! Mereka bilang mau potong-potong gue!"
Vittorio mempererat pelukannya sejenak, lalu menatap tajam ke arah sisa-sisa penyerang yang mulai terdesak oleh kedatangan tim Tiger. "Tidak akan ada yang menyentuhmu selama aku masih bernapas."
Operasi pembersihan berlangsung cepat. Tiger dan timnya berhasil melumpuhkan seluruh penyusup dalam waktu kurang dari lima belas menit. Polisi mulai berdatangan dengan sirine yang menderu di kejauhan.
Vittorio segera membawa Karin keluar melalui jalur tikus di belakang laboratorium hukum, menghindari kerumunan wartawan dan petugas medis yang mulai memenuhi area kampus.
"Tiger, bersihkan semua rekaman CCTV. Jangan biarkan ada satu pun frame yang menunjukkan wajahku memegang senjata," perintah Vittorio sebelum mematikan radionya.
Mereka sampai di mobil sedan hitam yang sudah disiapkan. Vittorio mendudukkan Karin di kursi penumpang, memberinya air mineral dan selimut tipis. Karin masih gemetar hebat, gaun peraknya kini dipenuhi noda debu dan sedikit percikan darah orang lain.
"Juna... ini semua gara-gara gue ya? Kalau gue nggak maksa dateng ke pesta, ini nggak bakal kejadian," isak Karin.
Vittorio duduk di kursi pengemudi, ia memegang tangan Karin yang dingin. "Bukan, Karin. Ini adalah sisa-sisa masa laluku yang menolak untuk mati. Seharusnya aku yang minta maaf karena membawamu ke dalam lingkaran setan ini."
Vittorio menatap gedung kampus yang kini dikelilingi garis polisi. Malam itu, pesta kampus yang seharusnya menjadi kenangan manis masa muda, telah berubah menjadi pengingat pahit bahwa identitas "Arjuna si Mahasiswa" tidak akan pernah bisa benar-benar lepas dari bayang-bayang Vittorio sang Raja Mafia.
"Jun," panggil Karin setelah mereka sampai di depan ruko yang kini dijaga ketat oleh sepuluh orang bersenjata lengkap.
"Ya?"
"Tadi lu keren banget. Kayak di film John Wick, tapi versi gantengnya," Karin mencoba tersenyum meskipun bibirnya masih bergetar.
Vittorio tersenyum tipis, ia mencium kening Karin—sebuah tindakan yang jarang ia lakukan. "Tidurlah, Karin. Besok kita tidak akan pergi ke kampus. Aku sudah memutuskan untuk membawa kita ke tempat yang lebih aman untuk sementara waktu."
"Ke mana?"
"Ke sebuah villa di pegunungan. Tempat di mana tidak ada yang tahu siapa kita."
Malam itu, di tengah sunyinya ruko, Vittorio duduk terjaga di samping tempat tidur Karin. Di tangannya, ia memegang daftar nama orang-orang yang merancang serangan malam ini. Pesta berdarah itu adalah peringatan terakhir. Dan Vittorio sudah memutuskan, besok pagi, ia tidak akan lagi hanya bertahan. Ia akan mengirimkan serangan balasan yang akan membuat duni bawah Italia bergetar hingga ke fondasinya.
Karin tertidur lelap di bawah perlindungan "Rajanya". Meskipun pesta telah usai dengan tragis, di dalam ruangan itu, ada sebuah janji yang lebih kuat dari peluru mana pun: bahwa di tengah dunia yang berdarah, mereka akan tetap memiliki satu sama lain.
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
kocak bnget,,,,👍
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭
tp gak ap lah, klu vittrio penguasa italia, aq penguasa komen d cerita kk ini🤭👍