NovelToon NovelToon
Rahim Bayaran Mafia Kaya

Rahim Bayaran Mafia Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: I'ts Roomie

Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.

Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.

Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.

Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Pintu utama tertutup rapat menyisakan keheningan yang mencekam dan menyakitkan di seluruh ruangan. Punggung Aluna yang gemetar telah menghilang dari pandangan, membawa serta hati dan nyawa dari kehidupan Arka.

Nyonya Soraya yang tadinya merasa menang dan puas karena "penyebab masalah" sudah pergi, kini tiba-tiba sadar akan satu hal penting. Ia berteriak histeris menatap putranya yang masih berdiri mematung dengan tatapan kosong.

"ARKA! GILA KAU YA?!" teriak Nyonya Soraya sambil memukul lengan putranya kuat-kuat.

"KENAPA KAU BIARKAN DIA BAWA ARFAN?! ITU CUCUKU! ITU AHLI WARIS KELUARGA KITA! BUKAN MILIKNYA SENDIRI!"

"KEJAR SEKARANG! AMBIL ANAK ITU KEMBALI! BIARKAN PEREMPUAN ITU PERGI TAPI ANAK TIDAK BOLEH! JANGAN BIARKAN DIA BAWA WARISAN KITA KEMANA-MANA!"

Nyonya Soraya terus meracau, menuntut, dan marah-marah tak jelas. Namun telinga Arka seakan tuli. Ia tidak mendengar sepatah kata pun yang keluar dari mulut ibunya. Pikirannya masih melayang pada sosok Aluna yang pergi dengan air mata.

Tanpa menjawab ocehan ibunya, tanpa mempedulikan siapa pun, Arka berbalik badan dan berjalan kaku menaiki tangga menuju kamar mereka. Langkahnya berat, sangat berat.

Sesampainya di kamar, Arka menutup pintu perlahan, menyisakan kesunyian yang mendalam.

Matanya langsung menyapu seluruh ruangan. Dan apa yang dilihatnya membuat dadanya makin sesak. Semua barang masih ada di tempatnya.

Baju-baju Aluna masih tergantung rapi di lemari, perlengkapan mandi, tas, dan bahkan pakaian ganti pun tidak ada yang hilang.

Yang paling membuat Arka terpukul adalah melihat tumpukan baju bayi, popok, dan selimut Arfan yang masih tersusun rapi di atas meja ganti.

Aluna pergi, tapi dia tidak membawa apa-apa.

Dia pergi dengan tangan kosong, hanya menggendong bayi mungil itu, tanpa bekal, tanpa baju ganti, tanpa perlindungan apa pun.

Arka menjatuhkan tubuhnya ke tepi ranjang, lalu menengadahkan wajahnya ke langit-langit. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Perlahan tapi pasti, bayangan kejadian tadi kembali berputar di kepalanya. Wajah Aluna yang pucat, suara isak tangisnya, dan kata-kata perpisahan yang menyayat hati.

"Maaf kalau Aluna belum bisa jadi istri yang sempurna buat Tuan..."

Dada Arka terasa sesak luar biasa, seolah ada batu besar yang menghimpitnya hingga sulit bernapas. Rasa marah dan gengsi yang tadi memuncak perlahan sirna, digantikan oleh rasa hampa dan perasaan bersalah yang mulai menggerogoti hatinya.

"Apa aku sudah terlalu jauh?" gumam Arka pelan, suaranya terdengar serak dan berat.

"Apa kata-kataku terlalu menyakitkan sampai dia rela pergi meninggalkan segalanya... bahkan dia tidak sempat atau tidak sanggup mengambil barang-barang sendiri dan anaknya?"

"Ya Tuhan... aku benar-benar kejam ya..."

Arka memejamkan matanya rapat-rapat. Penyesalan muncul perlahan namun terasa sangat menyiksa. Ia ingat semua kebaikan Aluna, kesabarannya, ketulusannya, dan bagaimana wanita itu rela melakukan apa saja demi dia.

"Kau bukan pembawa sial sayang... Justru kaulah satu-satunya cahaya di hidupku yang gelap ini..." bisik Arka, air mata mulai menetes tanpa sadar.

"Dan aku bodoh... aku sangat bodoh karena menyia-nyikanmu hanya karena gengsi dan egoku sendiri."

Tiba-tiba...

SUARRRR!!! BDRRRUUUUUGGG!!!

Langit di luar sana seakan pecah. Hujan turun dengan sangat deras disertai sambaran petir yang menyilaukan dan gemuruh yang menggelegar keras memecah keheningan malam.

Arka tersentak kaget, matanya terbuka lebar dan membelalak. Dua hal sekaligus menghantam pikirannya secara bersamaan dan membuat jantungnya serasa mau copot.

Pertama Aluna takut petir. Wanita itu sangat phobia dengan suara guntur dan kilat. Dulu saat hujan badai seperti ini, Aluna akan selalu memeluknya erat-erat, bersembunyi di balik dadanya dan menutup telinga karena ketakutan.

Dan yang kedua, mereka tidak membawa apa-apa. Aluna dan Arfan di luar sana hanya bermodalkan baju yang melekat di badan. Tidak ada jaket, tidak ada payung, tidak ada selimut, dan bahkan popok untuk bayinya pun tidak dibawa.

Hujan deras, angin kencang, petir yang mengerikan, dan tubuh kecil yang pasti kedinginan. Mereka tidak tahu harus berlindung di mana.

"ALLAHHH!!" Arka bangkit berdiri panik bukan main. Wajahnya pucat pasi.

"ALUNA!! ARFAN!!"

Rasa khawatir yang luar biasa bercampur penyesalan yang mendalam membuatnya tidak bisa diam lagi. Membayangkan istrinya gemetar ketakutan dan anaknya kedinginan di tengah badai membuatnya hampir gila.

Tanpa mempedulikan apa pun lagi, Arka berlari kencang turun tangga, melewati ibunya yang masih ternganga, dan langsung menuju garasi.

Ia menyalakan mobil keluarga tua itu dengan tangan gemetar. Mesin dinyalakan dan mobil melaju kencang meninggalkan halaman rumah secepat kilat menembus hujan badai yang sangat lebat.

"Dimana kalian sayang... Dimana..." gumam Arka terus memandang ke kiri dan ke kanan dengan mata yang tajam meski pandangan terbatas oleh air hujan.

Arka mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menyusuri jalanan kota yang mulai sepi dan becek. Ia mencari ke setiap sudut, di halte bus, di bawah jembatan, di depan toko-toko yang tutup, bahkan sampai ke terminal dan stasiun terdekat.

"Aluna! SAYANG!" teriak Arka dari dalam mobil, walau tahu suaranya pasti tertelan oleh deru hujan.

Waktu terus berlalu, sudah hampir dua jam Arka berkeliling, memutari jalanan, mencari sampai ke pinggiran kota. Namun hasilnya nihil. Tidak ada sosok wanita yang menggendong bayi yang ia cari.

Mereka hilang lenyap ditelan malam dan badai.

Hati Arka hancur berkeping-keping. Ia berhenti di pinggir jalan, mematikan mesin, lalu memukul setir mobilnya berkali-kali dengan frustrasi dan tangis yang pecah.

"HAAAAAA!!!! MAAFKAN AKKUUUU!!!!" teriak Arka melampiaskan rasa bersalahnya di dalam mobil yang gelap itu.

"ALUNAAAA... MAAF KAN SUAMIMU YANG BODOH INI SAYANGGG...!! KALIAN PASTI DINGIN... PASTI TAKUT... MAAF KAN AKU YANG TELAH MENYAKITIMU DAN MENGEJARMU KELUAR DALAM KEADAAN SEPERTI INI...AKU JANJI AKU GAK AKAN BENTAK LAGI... AKU JANJI AKU SAYANG KAMU LEBIH DARI APA PUN..."

"DIMANA KALIAN... JANGAN KENAPA-NAPA YAA... TOLONG SELAMATKAN ISTRI DAN ANAKKU YA ALLAH..."

Air mata Arka bercampur dengan air hujan yang membasahi kaca mobil. Pria kejam dan dingin itu kini hancur lebur hanya karena satu wanita. Ia sadar betapa cintanya ia pada Aluna, cinta yang lebih besar dari rasa cintanya pada bayangan Aira atau cinta pada harta duniawi.

1
Xiao Juan
ni orang tua mulutnya pen gua tampar, nyolot bet anying, manaa ada dimana-mana lagii, ikut campur bangett
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!