Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Takhta Sang Naga
Stasiun Gambir menjadi saksi bisu pijakan pertama Guntur Hidayat kembali ke tanah aspal Jakarta yang keras. Namun, kali ini ia bukan lagi Guntur si tukang ojek yang kumal. Ia mengenakan kemeja slim-fit warna navy dengan lengan yang digulung sampai siku, memperlihatkan otot lengannya yang padat.
Langkah kakinya yang tegap membuat orang-orang di peron menyingkir secara otomatis, seolah-olah ada energi tak kasat mata yang mendorong mereka untuk memberi jalan bagi sang jagoan.
"Bismillah... Bismillah... Bismillah..." Guntur merapalkan doa itu pelan untuk menyamarkan hawa membunuhnya saat ia menaiki taksi menuju Kuningan, lokasi kantor pusat PT Naga Properti yang dulu ia jaga dengan nyawanya.
Sesampainya di lobi gedung pencakar langit itu, Guntur mendapati suasana sudah berubah total. Foto almarhum Bang Soni sudah dicopot, digantikan oleh poster besar wajah Rian yang tersenyum sombong sebagai CEO baru.
"Maaf Pak, sudah ada janji? Ini area terbatas, kurir atau ojek dilarang masuk lewat pintu depan," ucap seorang satpam bertubuh besar dengan nada meremehkan.
Guntur tidak berhenti, ia terus melangkah menuju lift VIP. Sang satpam mencoba mencengkeram pundak Guntur, namun baru saja tangannya menyentuh kain baju Guntur, ia merasakan sengatan listrik yang sangat kuat hingga terpental dua meter ke belakang dan jatuh tersungkur di atas lantai marmer.
"Ya Qowiyyu Ya Matiin..." bisik Guntur pelan.
Seluruh ruangan lobi mendadak terasa dingin. Kaca-kaca besar gedung bergetar halus. Guntur menatap satpam itu dengan sorot mata yang tajam seperti elang. "Katakan pada bosmu yang pengkhianat itu, pemilik sebenarnya sudah datang untuk mengambil apa yang seharusnya milik dia."
Guntur menekan tombol lift menuju lantai paling atas, lantai tempat ruangan CEO berada. Begitu pintu lift terbuka, ia langsung disambut oleh barisan anak buah Rian yang sudah berjaga-jaga dengan tongkat besi di tangan mereka.
"Guntur?! Kamu masih berani datang ke sini? Habisi dia!" teriak kepala keamanan yang dulu adalah teman seangkatan Guntur.
Guntur hanya tersenyum dingin, senyum yang sangat "sengklek" namun mematikan. Ia tidak menghindar, malah maju menantang arus. Saat tongkat besi itu mengayun ke arah kepalanya, Guntur hanya menangkisnya dengan lengan kosong.
BRAKKKK!
Tongkat besi itu bengkok seketika, sementara tangan Guntur tidak lecet sedikit pun. Dengan satu gerakan memutar yang sangat cepat, Guntur melayangkan pukulan beruntun ke dada dan perut mereka. Gerakannya sangat taktis, efektif, dan penuh tenaga rahasia dari sang Resi.
Hanya dalam hitungan detik, lima orang berbadan besar tergeletak di koridor, mengerang kesakitan karena tulang mereka terasa seperti habis dihantam palu godam seberat satu ton. Guntur terus melangkah, menendang pintu ruangan CEO hingga hancur berkeping-keping.
Di dalam ruangan, Rian dan Amanda sedang merayakan keberhasilan mereka menipu investor. Mereka berdua tersentak kaget sampai gelas sampanye di tangan Rian jatuh pecah berantakan.
"Guntur?! Kamu... bagaimana bisa kamu masuk ke sini tanpa luka?!" teriak Rian dengan wajah yang mendadak pucat pasi.
"Rian, Rian... kamu ini sudah curi perusahaan orang, tapi sistem keamananmu tetap payah. Sama payahnya dengan nyalimu," ucap Guntur sambil menarik kursi kebesaran CEO dan duduk di depan mereka dengan santai, seolah ia adalah pemilik sah gedung itu.
Amanda mencoba memberanikan diri, ia mendekat ke arah Guntur dengan gaya menggoda yang menjijikkan. "Guntur sayang, ayolah... jangan emosi. Kalau kamu mau, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Rian bisa kasih kamu posisi manajer, asal kamu jangan ganggu kami lagi."
Guntur tertawa terbahak-bahak, suara tawanya menggetarkan ruangan itu. "Manajer? Maaf Amel, seleraku sudah naik. Aku ke sini bukan cari kerjaan, aku ke sini mau ambil semua aset Bang Soni, sekaligus mau kasih tahu kalian..."
Guntur berdiri, auranya meledak hebat hingga meja kayu jati di depannya retak rambut. "Aku butuh modal buat nikah sama Sekar dan kasih cucu buat Ibuku di kampung. Jadi, silakan angkat kaki dari gedung ini dalam waktu sepuluh menit, atau aku akan pastikan kalian berdua keluar lewat jendela lantai tiga puluh ini tanpa parasut!"
Rian gemetaran, ia mencoba merogoh laci meja untuk mengambil pistol, namun dengan kecepatan kilat, Guntur sudah mencengkeram pergelangan tangan Rian hingga terdengar bunyi krak! yang sangat nyaring.
"AAARRGGHHH! Ampun Guntur! Ampun!" jerit Rian sambil berlutut di lantai.
"Waktu kalian tinggal sembilan menit lima puluh detik. Cepat!" bentak Guntur dengan suara yang sangat berwibawa.
Amanda dan Rian lari terbirit-birit keluar dari ruangan tanpa sempat membawa barang-barang mewah mereka. Guntur berdiri di dekat jendela besar, menatap pemandangan Jakarta dari atas. Ia mengeluarkan sebatang rokok kretek murah sisa dari Sidoarjo tadi pagi, menyalakannya, dan menghisapnya dengan nikmat.
"Ssshhh... huffff... Dadar jagung sudah habis, kopi sudah dingin, sekarang saatnya Jakarta yang panas ini saya buat sejuk kembali," gumam Guntur sambil tersenyum puas.
Ia mengambil ponselnya, menghubungi nomor di Sidoarjo. "Halo, Buk? Aset pertama sudah di tangan. Doakan ya Buk, modal buat bikin cucunya sebentar lagi terkumpul!"
Guntur berdiri di tengah ruangan CEO yang luasnya hampir seluas lapangan voli itu. Ia berjalan perlahan menuju kursi kebesaran milik almarhum Bang Soni. Sebelum duduk, ia mengusap sandaran kursi kulit itu dengan takzim.
"Bang Soni, saya kembali. Amanah Abang akan saya jaga dengan nyawa saya," bisik Guntur lirih sambil merapalkan Bismillahirrahmanirrahim tiga kali agar hatinya tetap dingin dan tidak dikuasai amarah.
Tak lama kemudian, pintu ruangan diketuk. Masuklah Pak Broto bersama beberapa staf inti yang wajahnya masih terlihat pucat karena kaget melihat perubahan drastis pada diri Guntur.
"Pak Guntur, ini berkas-berkas aset yang sempat dipindahkan secara ilegal oleh Rian ke perusahaan bayangannya di luar negeri. Nilainya hampir mencapai dua ratus miliar rupiah," ucap Pak Broto sambil menyerahkan map tebal.
Guntur menerima map itu, tapi ia tidak langsung membacanya. Ia malah mengambil korek dan menyulut rokok kretek murahnya. Asap tebal beraroma cengkeh desa memenuhi ruangan mewah yang biasanya hanya berbau parfum mahal itu.
"Dua ratus miliar ya? Kecil itu buat menebus rasa sakit hati Mbak Sekar dan Ibu Ratna. Pak Broto, tolong segera hubungi pihak bank. Blokir semua akses keluar masuk dana yang berkaitan dengan tanda tangan Rian. Gunakan surat kuasa dari Mbak Sekar yang sudah saya bawa ini," perintah Guntur dengan suara berat yang sangat berwibawa.
Salah satu staf muda yang merasa lebih pintar karena lulusan luar negeri mencoba menyela. "Tapi Pak Guntur, secara prosedur hukum kita butuh waktu minimal satu minggu untuk proses blokir itu. Tidak bisa sembarangan."
Guntur menatap staf muda itu dengan sorot mata yang tajam. Ia mengembuskan asap rokoknya pelan ke arah langit-langit.
"Prosedur itu untuk orang biasa. Untuk saya, prosedurnya adalah sekarang. Pahami itu, atau silakan angkut barang-barangmu sekarang juga."
Staf itu langsung tertunduk lesu, nyalinya menciut seketika melihat aura Ya Qowiyyu Ya Matiin yang terpancar dari ketegasan suara Guntur. Di Jakarta, Guntur belajar satu hal: jika kau terlalu baik, orang-orang berdasi ini akan menginjakmu.
"Satu lagi Pak Broto, kirim sepuluh orang keamanan paling setia ke Sidoarjo. Jaga rumah orang tua saya dua puluh empat jam. Jangan sampai ada satu pun lalat dari Jakarta yang berani hinggap di sana," tambah Guntur.
Selesai rapat singkat itu, Guntur berjalan menuju balkon ruangan. Dari lantai paling atas, ia bisa melihat kemacetan Jakarta yang gila. Ia teringat saat dulu masih narik ojek, kena panas dan debu di bawah sana, dihina oleh orang-orang yang sekarang justru menyembah-nyembah padanya.
Ia mengeluarkan ponselnya, melihat foto Sekar yang dikirimkan Ibunya tadi pagi. Di foto itu Sekar sedang membantu menggoreng dadar jagung dengan wajah yang cemong kena tepung tapi tetap terlihat cantik luar biasa.
Guntur tersenyum sendiri, wajah "sengklek"-nya muncul lagi sebentar. "Aduh Mbak Sekar... Mbak kalau begitu malah makin mirip calon menantu idaman Ibuk. Sabar ya Mbak, modal buat resepsinya sudah di depan mata. Sebentar lagi saya pulang buat penuhi janji punya cucu itu."
Guntur mematikan rokoknya di asbak kristal yang mahal. Ia merasa tenaganya kembali pulih. Baginya, Jakarta hanyalah tempat kerja, tapi hatinya tetap di Sidoarjo, di rumah sederhana dengan aroma dadar jagung dan kopi hitam buatan orang tuanya.
"Besok kita ambil kembali gudang di pelabuhan. Itu jantung bisnis Bang Soni yang sebenarnya. Dan kalau Rian masih berani muncul... akan saya buat dia lupa cara caranya jalan tegak!" gumam Guntur sambil mengepalkan tangannya hingga urat-uratnya menonjol kuat.