Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.
Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Ustadzah
Sang bocah terdiam sambil menyandarkan kepala pada dada sang ibu.
"Kalau dia menghargaimu, untuk apa dia harus berkali-kali mencoba kabur dari rumah, coba!?"
Hardyn malas berdebat dengan istri mudanya itu. Ia geram, karena baru kali ini Collins bisa kabur dari penjagaan ketat para bodyguard-nya. Padahal, ia sudah mengganti bodyguard-nya ini dengan yang lebih berpengalaman, tapi justru sang anak bisa lolos dengan mudah tanpa seorang pun tahu. Hardyn khawatir sesuatu terjadi pada anak kesayangannya itu karena sebelumnya Collins tak pernah lepas dari pengawasan.
Hardyn meninggalkan meja makan dengan pesimis. Ia lebih baik menyewa orang yang bisa mencarinya, sebelum ia jadi gila.
****
"... Baraa!"
'Siapa sih ini ... berisik banget dari tadi.' Collins menggeliat. Tiba-tiba ia merasakan air mengguyur wajahnya hingga ia gelagapan. Seketika ia terbangun dan duduk di atas ranjang dengan perasaan bingung.
Terdengar kekeh seorang wanita. "Bangun, sholat subuh! Bentar lagi lo pan kerja!" Ipah pergi melenggang membawa gayung sambil tersenyum lebar.
Collins pelan-pelan sadar sambil mengusap wajahnya yang basah disiram Ipah. 'Ah ... namaku 'kan Bara? Kenapa aku lupa?' Ia kemudian beringsut turun dari ranjang dan keluar membawa handuk. Ia bertemu Ipah lagi yang mencubit pipinya dengan kencang.
"Jingin molor terus, Sayang," ledek wanita itu dengan gemas sambil bicara dengan gigi dirapatkan dan memamerkannya di depan Bara.
"Ahh ... ck!" Collins menjerit kesakitan sambil menepis tangan Ipah lalu cemberut. Ipah yang lebih tua darinya, memang senang sekali menjahilinya karena senang melihat reaksi wajah pria itu saat kesal.
"Wajah kamu tuh lucu, kayak opah-opah Koreah!"
Collins bertelak pinggang dengan kesal. "He, aku bukan opah-opah Korea! Aku tuh ...." Ia menatap Enyak, Babe dan Ipah yang tengah memandanginya bicara. Nyalinya tiba-tiba ciut untuk marah-marah. "Orang Indonesia ...." Suaranya mengecil sambil menurunkan tangan dan melangkah ke kamar mandi. Collins cukup tahu diri, ia hanya menumpang di sana.
"Dia tuh ada turunan Koreah, kali yak?" tanya Enyak yang melirik Ipah.
"Sst ... mungkin Jepang." Babe terlihat serius sambil memiringkan kepalanya dan menyentuh dagu.
Ketiganya menatap ke arah pintu kamar mandi tempat Collins masuk.
****
Baru saja Collins memakai sepatu, Ipah kembali usil. Wanita itu bertelak pinggang di depannya. "Lu nyuri ya?"
"Apa?"
"Sepatu loh!" Ipah menunjuk sepatu pantofel Collins yang memang terlihat mahal.
Pria itu bingung, tak bisa bicara. Ia baru sadar, seharusnya ia mengganti sepatu itu agar tidak ada yang curiga.
"Paling kawe. Iya, pan?" timpal Enyak.
"Eh, iya." Collins langsung mengiyakan. Namun Babe yang sedang minum kopi hanya meliriknya.
"Tapi yang kawe juga mahal lho, yang merek enih," sahut Ipah lagi.
"Udah ... kamu usil banget sih, Pah!" timpal babe pada Ipah. "Kali aje die nabung buat belinye. Kayak elu sekarang, kursus menjahit. Semuanye pan hasil dari nabung. Mesin jahitnya juga."
Ipah terdiam.
"Dah, pegi sana, kerja! Ntar telat lagi. Nih, pake motor babe." Babe memberikan kunci motor pada Collins.
Collins melongo. Babe menatapnya. "Lu bisa ngendarain motor, pan?"
"Eh, bisa, Be." Collins mengambil kunci motor itu. "Tapi Babe gimana mau ke toko?"
"Ah, toko deket enih. Bisa jalan kaki. Tapi kalo lu pulang, lu jemput babe. Kita ke padepokan."
"Padepokan?" Collins memicing matanya.
"Iya. Babe ngajar di sono."
Collins tidak mengerti yang dimaksud dengan padepokan dan hanya mengangguk-angguk saja. "Iya, Be."
****
Siang itu hujan. Collins terpaksa menggunakan jas hujan yang ada di pos untuk bekerja. Walau hujan, pasar tetap ramai karena orang datang untuk membeli barang kebutuhan. Yang bermotor kebanyakan berteduh dan bajaj serta angkot adalah kendaraan paling laris saat hujan.
Pekerjaan Collins tak banyak hingga ia memperhatikan jalan di depan yang mulai becek karena genangan hujan.
Apa wanita itu tak ke pasar lagi? Saat berpikir begitu, ia menoleh pada deretan orang-orang yang berdiri menatap ke arah jalan, menunggu angkot atau bajaj lewat. Matanya terhenti pada raut wajah seorang wanita berkerudung abu-abu yang sedang memegang tongkat. Wanita itu membawa plastik belanjaan di tangan yang satunya.
'Ah! Dia lagi ... apa dia menunggu bajaj?' Collins langsung berdiri dan memakai jas hujan sambil menutup kepala. Ia mendatangi wanita itu dan berhenti di depannya. Ia bicara hati-hati. "Kamu mau dicariin bajaj?"
Wanita itu terkejut dan matanya bergerak ke arah datangnya suara. Ia mengenali suara Collins. "Ah, iya, Bang."
Seorang ibu-ibu muda yang berada di samping wanita itu, melirik Collins. Ia memegangi belanjaan dan seorang anak kecil. "Saya juga ya, Bang. Tolong."
"Ah, iya, Bu. Satu-satu ya?" Collins mengiyakan. Dengan semangat penuh, ia melangkah ke pinggir jalan. Dalam hujan deras, ia menunggu bajaj lewat. Tak lama, ia mendapatkan satu. Segera ia kembali mendatangi wanita bertongkat itu. Ia melepas jas hujannya untuk menaungi sang wanita. "Udah ada, Mbak. Ayo!"
Wanita itu merasakan kepala dan bahunya tersentuh bahan plastik. Ia tahu Collins menaunginya dengan sesuatu. "Ah, terima kasih." Dengan senyum lebar, ia berjalan dengan tongkat ke depan.
Collins takjub, wanita itu tahu ke mana ia melangkah hanya dengan meraba-raba lewat tongkatnya. Ia terus mengiringi wanita itu hingga sampai ke tempat bajaj berada. Padahal dia sendiri juga terguyur hujan karena menaungi sang wanita dengan jas hujannya.
"Oh, Ustadzah ...," sahut supir bajaj yang mengenali wanita itu.
"Ustadzah?" Collins terkejut mendengar sebutan itu dan menoleh pada sang wanita.
"Ah, Abang lagi. Jalan Mawar ya, Bang," sahut sang wanita yang mengenali supir itu dari suaranya.
"Beres, Neng." Supir itu membukakan pintu dan penutup jendela.
Wanita itu masuk. Collins masih melongo. 'Ustadzah?'
"Eh, Bang. Makasih." Ustadzah itu mengulurkan tangan dan memberi uang yang dilipat-lipat pada Collins. Pria itu menerimanya dengan masih melongo.
Tak lama, bajaj itu pergi. Collins masih termangu sambil menatap uang kertas di tangan. Padahal hujan deras membasahi tubuhnya tapi ia seperti tak merasakan. 'Ustadzah? Dia ... Ustadzah?'
****
"Haciuuh!"
Enyak langsung melirik ke arah luar. Ia sudah tahu siapa yang datang. Wanita itu menyambut Collins di depan. "Lah, kenape pulang basah kuyup begini, dah!" Ia melihat Collins yang basah dari ujung kepala sampai kaki.
"Kerjaan, Nyak."
"Ya, udah. Lu mandi sono. Jangan lupa solat. Udah solat dzuhur belum?"
"Belum, Nyak. Hujan terus dari tadi."
"Ya udah, sono-sono." Enyak mengusirnya. "Ntar nyak sediain air jahe sama makan siang. Belum makan, pan lu?"
"Belum, Nyak." Collins beranjak ke kamar. Ia sengaja pulang cepat karena ingin makan di rumah. Lagipula, pasar tutup lebih cepat karena hujan yang lama.
Entah kenapa ia nyaman berada di dalam keluarga Betawi ini. Walaupun berisik, mereka saling peduli. Itu yang tidak ia rasakan di rumahnya dulu. Selain sepi, bila bertemu anggota keluarga yang lain, selalu timbul percekcokan dan saling curiga. Ia tak tahan tinggal di sana.
"Nyak, jemput Babe jam berapa?" Collins muncul di meja makan sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Bajunya telah berganti kaos yang baru.
"Elu gak ke pasar lagi?" Enyak meletakkan gelas yang berisi air jahe beserta piring kosong ke atas meja.
Bersambung ....