King Stone (27 tahun) bisa dengan mudah melupakan ratusan wanita yang pernah singgah di hidupnya selama menjadi playboy.
Namun, gadis di hadapannya ini adalah pengecualian mutlak.
Olivier Martinez merupakan cinta pertama sekaligus mantan kekasih King selama tiga tahun di masa high school—gadis yang dulu ia tinggalkan begitu saja demi ego remaja agar tidak terikat oleh seorang wanita di masa depan.
Kini, roda kehidupan berputar. Di dalam rumah sakit mewah miliknya sendiri, King sama sekali tidak memiliki kuasa atas Olivier.
Di hadapan sang mantan kekasih yang menatapnya penuh kebencian dan kini bersenjatakan sumpah medis sebagai dokter residen, King harus menghadapi kenyataan pahit. Ia sadar bahwa luka penyesalan di hatinya jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka sayatan parah di perutnya.
Pertemuan tak terduga ini menjadi awal dari karma masa lalu yang siap menghancurkan keangkuhannya.
~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Rembesan darah di kemeja hitam King Stone kini telah mencapai batas yang mengkhawatirkan. Warna merah pekat itu terus meluas, menembus kain sutra mahal yang ia kenakan, menjadi bukti fisik dari kegilaan batin yang ia lakukan sejak tengah malam.
Namun, pria tegap itu seolah kehilangan seluruh reseptor rasa sakit di tubuhnya. Sepasang mata elangnya hanya terkunci pada satu objek: Olivier Martinez, yang saat ini masih berdiri tegak memeluk erat Nora Amelie di bawah perlindungan tak terduga dari Lavender Lynn dan Freya Lynn.
Mendengar segala cemoohan dan kalimat tajam yang dilayangkan oleh Lavender untuk memojokkannya, King tidak membantah sedikit pun. Ia tidak menggunakan otoritasnya sebagai pangeran sulung klan Stone untuk membungkam adik iparnya.
Di depan dua singa betina yang sedang memasang badan untuk melindungi Olivier, sang serigala Chicago itu justru melangkah maju dengan sisa-sisa kekuatannya.
Langkah kaki King tampak sedikit berat, gurat pucat di wajah tampannya kian kentara akibat kehilangan terlalu banyak darah. Ia berhenti tepat dua langkah di depan Olivier.
Tanpa memedulikan tatapan tajam dan defensif dari wanita itu, King sekali lagi menurunkan tubuh tegapnya. Di atas lantai marmer mansion mewah Kaelix, King Stone menjatuhkan lututnya untuk kedua kali dalam dua hari berturut-turut.
BRUK!!!
Pemandangan itu membuat seisi ruangan mendadak hening seketika.
Kendrick menghentikan tawa kecilnya, Kaelix menyipitkan mata dengan pandangan intens, sementara Freya dan Lavender saling berpandangan dengan riak keterkejutan yang nyata.
Seorang King Stone, yang tidak pernah tunduk bahkan di bawah ancaman Grandmaman juga dari klan musuh, kini berlutut pasrah di bawah kaki seorang dokter residen.
"El..." panggil King, suaranya terdengar begitu parau, bergetar oleh tumpukan penyesalan yang selama sepuluh tahun ini mengendap di dasar jiwanya.
Ia mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata bulat Olivier yang mulai kembali berkaca-kaca. "Aku tahu aku berengsek. Aku tahu semua tuduhanmu dan Lynn tentang masa laluku adalah kebenaran yang tidak bisa kuhapus. Tapi demi Tuhan, El... kumohon. Kasih aku kesempatan sekali lagi."
King menarik napas pendek yang terasa sangat sesak di dadanya. Tangan kekarnya yang gemetar perlahan terangkat, tidak berani menyentuh jubah putih Olivier, hanya menggantung di udara sebagai bentuk kepasrahan mutlak.
"Demi Tuhan, aku berjanji... aku menyerahkan seluruh hidupku, kekuasaanku, dan sisa nafasku padamu, El. Ambil semuanya. Hukum aku dengan cara apa pun yang kau mau, tapi kumohon jangan pergi lagi."
Air mata setitik luruh melewati pipi pucat King, berbaur dengan peluh dingin yang membasahi keningnya. Ia menoleh sekilas ke arah Nora yang berada di belakang tubuh Olivier, menatap wajah suci putrinya dengan binar cinta seorang ayah yang begitu murni.
"Dan juga... kasihan sama Nora, anak kita, Sayang..." bisik King, suaranya pecah di ujung kalimat.
"Dia sudah tumbuh selama sepuluh tahun tanpa tahu siapa ayahnya. Dia berhak mendapatkan perlindungan terbaik yang tidak bisa diberikan oleh siapa pun di dunia ini selain aku. Dia perlu tahu kalau aku adalah Daddy-nya, El. Tolong... demi anak kita, sekali ini saja, maafkan aku."
Olivier Martinez mematung di tempatnya. Kalimat "anak kita" yang keluar dari bibir King seolah meledakkan seluruh dinding pertahanan yang ia bangun selama satu dekade terakhir.
Dadanya berdenyut dengan rasa sakit yang teramat luar biasa. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mengalir deras membasahi pipinya. Ia menatap pria yang dulu sangat ia cintai—dan ternyata masih memiliki tempat paling besar di hatinya—sedang berlutut bersimbah darah di depannya.
Lavender Lynn, yang sejak tadi berdiri di samping Olivier, perlahan menurunkan kedua tangan yang bersedekap di dadanya.
Nyonya mansion itu menatap King dengan pandangan yang tidak lagi sedingin tadi.
Sebagai seorang istri dan seorang ibu dari Xavier, Lavender tahu betul kapan seorang pria klan Stone sedang berbohong dan kapan mereka sedang menyerahkan seluruh jiwanya.
Kegilaan dan kepasrahan yang ditunjukkan King saat ini adalah bukti bahwa pria itu telah bertekuk lutut sepenuhnya di bawah kaki Olivier.
Lavender perlahan melangkah mendekat, meletakkan sepasang tangan anggunnya di atas bahu Olivier yang bergetar karena tangis.
"Dokter Martinez...," panggil Lavender dengan nada suara yang kini terdengar sangat lembut, tak ubahnya seperti seorang kakak perempuan yang sedang memberikan petunjuk arah.
"Pria klan Stone adalah makhluk yang mengerikan jika mereka dilepaskan tanpa kendali. Mereka egois dan arogan. Tapi... ada satu hukum mutlak di dalam darah mereka yang tidak akan pernah bisa diubah oleh siapa pun."
Lavender melirik Kaelix suaminya, lalu kembali menatap Olivier. "Sekali pria Stone menjatuhkan lututnya dan menyerahkan hidupnya pada satu wanita, maka wanita itu akan menjadi penguasa mutlak atas hidupnya sampai mati. King sudah hancur, Olivier. Dia sudah menyerahkan tahtanya padamu. Jika kau menolaknya sekarang, dia mungkin akan membiarkan dirinya mati kehabisan darah di lantai ini. Pikirkan masa depan Nora. Anak secerdas dia tidak akan bisa bersembunyi selamanya dari radar dunia luar. Dia membutuhkan nama Stone di belakang namanya untuk memastikan tidak ada satu pun bajingan di dunia ini yang berani menyentuh selembar rambutnya."
Kata-kata dari Lavender Lynn menghantam logika Olivier dengan hantaman yang luar biasa telak. Olivier menunduk, menatap Nora yang juga sedang menatapnya dengan pandangan mata bulatnya yang cerdas, seolah menyerahkan seluruh keputusan besar ini ke tangan sang ibu.
Olivier tahu, pelariannya telah berakhir. Menyembunyikan Nora di Lincoln Park tidak lagi menjadi opsi yang aman setelah hari ini.
Dengan sisa-sisa harga diri dan kekuatan yang ia miliki sebagai seorang ibu, Olivier menarik napas panjang, mengusap air matanya dengan kasar, lalu menatap lurus ke arah King yang masih menanti vonisnya dengan napas yang kian melemah.
"Demi Tuhan, King..." ucap Olivier, suaranya terdengar bergetar namun sarat akan ketegasan yang dingin. "Aku menerimamu kembali. Aku setuju untuk kembali ke dalam hidupmu."
Mendengar kalimat itu, binar kebahagiaan yang teramat instan seketika terpancar dari sepasang mata elang King. Namun, belum sempat pria itu mengulas senyuman, kalimat lanjutan dari Olivier seketika mengunci sisa egonya.
"Tapi ingat ini baik-baik, Tuan Stone," lanjut Olivier dengan tatapan sekeras baja. "Aku kembali bukan untuk diriku. Aku kembali bukan karena aku memaafkan perbuatan berengsekmu sepuluh tahun lalu. Aku kembali... semata-mata hanya untuk putriku, Nora Amelie. Aku kembali agar dia mendapatkan haknya sebagai keturunan Stone, dan agar kau bisa membayar setiap detik waktu yang telah kau hilangkan darinya. Jika sekali saja kau membuat anakku menangis atau merasa tidak aman, aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa melihat wajah kami lagi seumur hidupmu."
Meskipun syarat itu terdengar begitu ketat dan dingin, bagi King Stone, itu adalah anugerah terbesar yang menyelamatkan jiwanya dari kematian batin.
Sebuah senyuman murni yang teramat lega akhirnya terukir di wajah pucatnya.
"Terima kasih... terima kasih, El. Terima kasih, Sayang..." bisik King. Tanpa membuang waktu lagi, ia bangkit berdiri dengan sisa tenaganya, lalu merengkuh tubuh Olivier dan Nora sekaligus ke dalam satu dekapan besar yang protektif.
King tidak memedulikan rasa sakit di perut jahitannya yang kini benar-benar telah terbuka; rasa hangat dari tubuh anak dan wanita yang dicintainya jauh lebih menguasai seluruh kesadarannya.
Bruk!
Sebuah hantaman pelukan yang sangat keras mendadak mendarat di punggung tegap King, disusul oleh suara tawa menggila yang sangat familier.
Kendrick Stone merangsek maju, merangkul leher kakak sulungnya dari belakang dengan gaya heboh yang langsung memecah seluruh ketegangan dramatis di dalam ruangan tersebut.
"Wah!!! Selamat, Brother! Akhirnya si bujang tua Chicago resmi turun tahta!" sorak Kendrick dengan suara nyaring, menepuk-nepuk bahu King dengan sangat puas hingga membuat King sedikit meringis menahan perih di perutnya.
Kendrick kemudian melepaskan pelukannya, melangkah mundur dua blok sembari melipat tangan di dada dengan senyuman miring yang penuh intrik jenaka.
"Tapi ingat, King... perjuanganmu belum selesai. Ujian sesungguhnya baru saja dimulai setelah ini. Tinggal Mommy Emmeline saja yang harus kau hadapi sekarang!"
Kendrick terkekeh menggila, menunjuk wajah King di depan semua orang, termasuk di depan dua singa betina, Lavender dan Freya, yang kini ikut tersenyum geli.
"Bayangkan saja bagaimana reaksi Mommy nanti saat tahu anak sulungnya yang selama sepuluh tahun ini bertingkah paling suci, dan paling menjaga ranjang pribadinya... ternyata sudah tidak perjaka sejak masih di usia high school! Wah, wah, kau benar-benar menyembunyikan mahakarya sebesar Nora dari mommy!"
"Diam kau, Kendrick!" gertak King, wajahnya mendadak memerah sempurna akibat malu yang luar biasa, terutama karena sekarang Nora sedang menatapnya dengan sebelah alis terangkat, meniru gaya khas ibunya saat sedang menilai sesuatu yang konyol.
Kaelix Stone yang sejak tadi berdiri diam di sudut ruangan akhirnya hanya bisa menggelengkan kepala, memberikan instruksi taktis pada tim medis internal klan yang sudah bersiap di luar mansion sejak tadi untuk segera mengurus robekan jahitan di perut sang kakak sulung yang kini tampaknya sudah harus kalah telak di bawah kendali Olivier Martinez.
mudah2an si Nora tiap malem minta tidur sm emak bapaknya 🤣🤣🤣