NovelToon NovelToon
Dibeli Seharga 1 Miliar

Dibeli Seharga 1 Miliar

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota Milan

Pesawat jet pribadi Surya Corp meluncur mulus menembus awan putih, membawa mereka menjauh dari tanah kelahiran yang baru saja berlumur darah. Di dalam kabin mewah sebesar rumah itu, suasana tenang namun penuh kecemasan halus.

Alex bersandar malas di kursi kulit yang bisa berbaring penuh, luka tembak di bahu kirinya sudah bersih dan terjahit rapi hasil kerja tim medis pribadi Alex yang diam-diam menunggu di landasan pacu. Meski wajah pucat dan sedikit keringat dingin masih membasahi pelipisnya, aura dominan sang Raja tidak pernah pudar. Ia tetap Alex: kuat, tak terkalahkan, dan menakutkan bagi siapa pun kecuali satu orang.

Aulia duduk di tepi tempat tidur pesawat, jarinya halus menyeka keringat di dahi Alex, matanya tak lepas dari wajah pria itu. Sepanjang penerbangan yang memakan waktu belasan jam ia tak pernah tidur lebih dari lima menit, terus memantau kondisi Alex, mengganti perban, dan memastikan suhu tubuhnya stabil. Baginya, rasa sakit Alex adalah rasa sakitnya sendiri.

“Berhenti menatapku seperti aku sedang sekarat, Sayang,” bisik Alex parau, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang lembut. Ia mengangkat tangan kanannya yang bebas luka, menyentuh pipi halus Aulia. “Aku sudah bilang, peluru kecil begini tidak bisa membunuhku. Belum saatnya aku belum membuatmu menjadi istriku resmi, belum saatnya aku belum membuatmu hidup dalam kemewahan seumur hidup.”

Aulia menepis pelan tangan itu, wajahnya cemberut namun matanya berkaca-kaca. “Kau bicara seolah itu cuma goresan kecil, Alex! Itu peluru! Kalau posisinya sedikit saja bergeser… aku… aku…” Suaranya pecah, ketakutan yang ditahannya sejak kejadian di jalan akhirnya meluap. Ia menunduk, menyembunyikan wajah di dada Alex yang masih utuh, tubuhnya bergetar menahan isak tangis.

Alex menghela napas panjang. Ia menarik tubuh kecil itu masuk ke dalam pelukannya dengan hati-hati agar lukanya tidak sakit, membiarkan Aulia menangis melepaskan semua ketegangan. Ia tahu, menjadi pasangannya berarti membawa risiko mati setiap hari, dan beban itu berat bagi gadis polos seperti Aulia.

“Maaf…” gumam Alex di telinga gadis itu, suaranya terdengar hampir menyesal sesuatu yang tak pernah diucapkannya pada siapa pun selain Aulia. “Maaf karena membuatmu takut. Maaf karena membawamu ke dalam dunia neraka milikku ini. Tapi percayalah, Aulia… setiap luka di tubuhku, setiap tetes darahku, semuanya aku korbankan agar kau tetap aman, tetap bersih, dan tetap menjadi dirimu yang manis ini. Selama aku bernapas, tidak ada satu pun setan di dunia ini yang berani menyentuhmu. Aku janji.”

Aulia mengangguk kuat di dada bidang itu, memeluk pinggang Alex erat seolah takut pria itu lenyap jika dilepas. “Aku tidak menyesal bersamamu, Alex. Aku hanya takut kehilanganmu. Dan selama kau ada di sisiku… aku siap menghadapi setan apa pun. Kita hadapi semuanya bersama-sama, ingat?”

Alex mengecup puncak kepala Aulia lama, menanamkan rasa syukur yang tak bisa diungkapkan kata-kata. Gadis ini bukan sekadar pasangan. Ia adalah rumah, kedamaian, dan satu-satunya alasan Alex bertahan dari segala kegilaan hidupnya.

Jam dinding menunjukkan pukul 8 malam waktu setempat saat pesawat mereka mendarat di Bandara Malpensa, Milan. Langit malam Italia bersih, berbintang indah, udaranya sejuk dan segar.

Keluarkan dari tangga pesawat, pemandangan yang menyambut mereka bukan sekadar mobil biasa. Empat unit limosin hitam panjang, dikawal mobil pengawal lapis baja, sudah berbaris rapi dengan lampu menyala, sementara staf Maison Rossi mitra mereka sudah menunggu dengan hormat di barisan depan. Luca Rossi sendiri berdiri tegak, wajahnya penuh hormat, tak ada lagi tatapan genit seperti dulu. Kabar tentang pembantaian sisa Macan Hitam dan bagaimana Alex menangkis peluru demi wanitanya, sudah sampai ke telinga seluruh elit Eropa. Semua orang tahu: Aulia Permata adalah wanita paling terlarang sekaligus paling dilindungi di muka bumi.

Alex turun lebih dulu, meski sedikit menahan sakit, ia tetap berdiri tegak, gagah, dan berwibawa. Ia membalikkan badan, menyodorkan tangan lebarnya ke atas untuk membantu Aulia turun.

Malam ini, Aulia tampak mempesona luar biasa. Ia mengenakan gaun panjang warna midnight blue biru malam pekat dengan kilau seperti bintang rancangannya sendiri. Potongan simpel namun elegan, jatuh mengalir sampai lantai, menonjolkan kulitnya yang putih bersih dan aura anggunnya. Rambutnya diurai bergelombang lembut, dibiarkan jatuh indah di punggung.

Saat tangan halus itu menyentuh telapak tangan Alex, pria itu menggenggamnya erat, menatap Aulia dengan pandangan tak percaya. Di tengah landasan pacu yang dingin dan sibuk ini, baginya, Aulia adalah satu-satunya cahaya yang paling bersinar.

“Kau terlihat seperti Ratu yang turun dari surga, Sayang,” bisik Alex rendah, hanya terdengar oleh mereka berdua, sebelum mengecup punggung tangan Aulia di depan semua orang sebuah deklarasi hormat yang kental. “Siap menaklukkan dunia mode, Ratu Kecilku?”

Aulia tersenyum malu namun percaya diri, meremas balik tangan Alex. “Selama kau di sampingku… aku siap menaklukkan apa saja, Rajaku.”

Perjalanan menuju pusat kota Milan terasa seperti masuk ke dalam lukisan. Bangunan-bangunan tua bergaya arsitektur Eropa klasik berdiri megah, lampu jalan berwarna keemasan menerangi trotoar berbatu, dan suasana romantis kota itu merasuk sampai ke tulang. Mereka tidak menginap di hotel biasa; Luca sudah menyiapkan Suite Presiden di Hotel Excelsior Gallia hotel paling mewah dan bersejarah di jantung kota, dengan pemandangan langsung ke Duomo di Milano yang ikonik.

Sesampainya di kamar seluas rumah mewah itu, Alex langsung menarik Aulia mendekat ke arah jendela kaca raksasa yang terbuka. Angin malam Milan yang sejuk bertiup masuk, menerpa wajah mereka. Di depan mata mereka, Katedral Duomo yang megah dengan ribuan patung di menaranya bersinar diterangi lampu, tampak sakral dan indah sekali.

Aulia terpana, mulutnya sedikit terbuka takjub. “Indah sekali… Alex, ini sungguhan? Kita benar-benar ada di sini?”

Alex melingkarkan kedua lengannya ke pinggang ramping Aulia dari belakang, meletakkan dagunya di bahu gadis itu, menatap pemandangan yang sama namun pikirannya hanya tertuju pada satu hal: wanita di pelukannya.

“Ini baru permulaan, Sayang,” bisik Alex parau, bibirnya menyapu kulit leher Aulia yang halus, membuat gadis itu merinding seketika. “Dunia ini luas, indah, dan penuh keajaiban. Dan aku akan membawa kamu keliling ke setiap sudut terbaik di dunia ini. Setiap kota, setiap negara, setiap benua… kita akan taklukkan bersama. Karena tempat paling indah di dunia mana pun… hanyalah tempat di mana kita berdiri berdampingan.”

Aulia memutar tubuhnya perlahan di dalam pelukan Alex, menatap mata hitam yang kini memancarkan kelembutan tanpa batas. Ia melingkarkan tangannya ke leher Alex, menarik wajah pria itu mendekat. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena rasa cinta yang meluap-luap, terlalu besar untuk ditampung dadanya.

“Kau membuat segalanya jadi indah, Alex,” bisik Aulia dengan suara bergetar penuh emosi. “Tempat ini indah, tapi bersamamu… semuanya jadi sempurna. Aku tidak butuh melihat seluruh dunia. Aku cukup hanya melihatmu, dan aku sudah merasa memiliki segalanya.”

Tanpa kata lain, Alex menunduk, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang lembut, dalam, dan penuh rasa syukur. Di bawah langit Milan, di hadapan katedral megah sakral itu, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara dan gadis sederhana yang pernah dibelinya seharga 1 Miliar Rupiah, saling mengikat janji batin yang tak tertulis namun abadi: Tak ada yang bisa memisahkan mereka, baik manusia, peluru, darah, maupun maut sekalipun.

Namun, keindahan dan romansa itu harus berbagi tempat dengan tekanan. Esok harinya, saat Aulia tiba di gedung Maison Rossi untuk sesi latihan panggung dan fitting gaun, realita menampar keras.

Dunia mode internasional jauh lebih kejam, kompetitif, dan kritis daripada yang pernah Aulia bayangkan. Di sini, kesalahan sekecil benang kusut pun bisa menjadi berita buruk besar. Desainer-desainer ternama dari berbagai negara, kritikus mode terkenal, hingga model papan atas dunia ada di sana. Tatapan mereka tajam, penilaian mereka dingin, dan standar mereka setinggi langit.

Saat Aulia menunjukkan koleksi “Eternal Empire”, beberapa desainer senior terutama dari Eropa yang merasa budaya mereka paling unggul mulai menyeringai meremehkan.

“Motif etnik Asia campur klasik Eropa? Kedengarannya seperti percampuran yang kacau, bukan elegan,” bisik salah satu desainer Prancis dengan nada sinis, cukup keras agar Aulia mendengar. “Dia masih terlalu muda, mungkin hanya jadi hiasan cantik Tuan Surya saja.”

“Benar. Fashion Week Milan bukan tempat main-main gadis kampungan. Dia akan hancur di panggung nanti,” sahut yang lain, tertawa kecil.

Aulia berhenti berjalan, tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. Rasa rendah diri yang dulu, rasa takut dianggap tidak pantas, perlahan mulai merayap masuk. Keraguan mulai meracuni pikirannya. Apakah aku cukup baik? Apakah aku hanya beban bagi Alex? Bagaimana jika aku gagal dan mempermalukan nama Surya Corp di depan dunia?

Namun, sebelum keraguan itu makin dalam, sebuah tangan besar dan hangat mendarat di bahu Aulia, menekan lembut namun tegas.

Alex berdiri di sampingnya, auranya begitu kuat hingga seluruh ruangan yang tadinya riuh rendah seketika hening mutlak. Ia tidak menatap Aulia, ia menatap seluruh ruangan dengan tatapan dingin, membunuh, dan penuh peringatan nyata. Suhu ruangan turun drastis.

“Maaf suara saya agak keras,” ucap Alex pelan namun bergema, setiap kata tertimbang ancaman yang nyata. “Tapi saya ingin semua orang di ruangan ini paham satu hal paling dasar. Nona Aulia Permata tidak ada di sini karena dia cantik. Dia tidak ada di sini karena dia pacar saya. Dia ada di sini, berdiri di depan kalian semua, memimpin kolaborasi bernilai ratusan juta Euro… karena dia adalah GENIUS, dan kalian semua… hanya orang biasa yang beruntung bisa melihat karya agungnya secara langsung.”

Alex memutar wajahnya perlahan ke arah Aulia, tatapan matanya yang mengerikan seketika berubah menjadi samudra kelembutan dan keyakinan mutlak. Ia mengangkat dagu gadis itu sedikit.

“Jangan pernah dengar suara orang bodoh, Sayang,” bisik Alex hanya untuk telinga Aulia, jempolnya mengusap rahang gadis itu menenangkan. “Kau adalah yang terbaik. Kau lebih hebat dari mereka semua digabungkan. Ingat siapa kau. Ingat bahwa kau adalah Ratu. Dan Ratu tidak perlu membuktikan apa pun pada semut.”

Kata-kata itu seperti obat mujarab yang menyuntikkan kembali kepercayaan diri ke dalam nadi Aulia. Rasa takutnya hilang, digantikan api semangat yang menyala kembali. Ia menarik napas panjang, menegakkan punggungnya, dan menatap kerumunan desainer itu dengan sorot mata tajam, cerdas, dan berani sorot mata seorang calon Legenda.

“Terima kasih, Tuan Surya,” ucap Aulia lantang, suaranya jernih dan mantap, terdengar ke seluruh penjuru ruangan. Lalu ia menatap para kritikus itu satu per satu, senyum tipis namun penuh wibawa terukir di bibirnya. “Dan untuk rekan-rekan semua… silakan lihat baik-baik. Karena di panggung besar nanti malam, kalian akan menyaksikan sejarah baru dimulai. Selamat menyaksikan bagaimana budaya Timur dan Barat bersatu menciptakan keindahan yang tak tertandingi.”

Alex tersenyum bangga, menatap punggung Aulia yang mulai berjalan kembali ke meja kerjanya dengan kepala tegak. Ia tahu, malam puncak nanti bukan hanya tentang mode. Itu akan menjadi malam di mana dunia menyadari satu kebenaran mutlak: Wanita di sisinya bukanlah beban. Ia adalah kekuatan terbesar Alex, dan bersama-sama, mereka tak terkalahkan.

Di Milan, tekanan makin berat, persaingan makin tajam, dan musuh dalam selimut masih bersembunyi di balik senyum palsu. Tapi Aulia sudah siap. Dan Alex? Ia akan berdiri di barisan paling depan, siap menghancurkan siapa saja yang berani menggoreskan sedikit pun bayangan kesedihan di wajah wanitanya.

Panggung telah siap. Pertunjukan baru saja akan dimulai.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!