Tujuh tahun pernikahan, tak pernah terbayangkan dirinya akan menjumpai hal yang paling menyakitkan dalam perjalanan hidupnya.
Arimbi, ia menemukan jejak wanita lain dalam biduk rumah tangganya. Bahkan wanita tersebut telah memiliki anak yang usianya sudah lebih dari setahun.
"Kita masih merintis usaha, jadi kita jangan punya anak dulu ya."
Ucapan sang suami terngiang begitu jelas di telinganya. Arimbi yang naif menyetujui. Namun itu jadi bumerang bagi dirinya karena oleh keluarga suami Arimbi di cap mandul.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, nama perusahaan yang didirikan suaminya ternyata ada unsur dari nama wanita itu.
Apakah Arimbi akan terpuruk? Atau dia akan bangkit dan membalas rasa sakit hatinya dan menemukan cinta lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Handphone 06
"Aku pulang dulu. Kalian sore datang lah ke rumah untuk memberi laporannya. Ah iya bener, rumah. Kalian jangan ke rumah yang biasanya ya, karena aku udah nggak tinggal di sana lagi. Kalian bisa datang ke alamat ini."
Arimbi menuliskan alamat dimana dia akan tinggal sekarang. Itu adalah alamat milik kedua orangtuanya. Ia tak perlu menunggu Amar untuk mengantarkannya pulang, karena Arimbi merasa masih punya kaki untuk berjalan kembali ke tempat dirinya awalnya berada.
"Baik, Bu," ucap Tasya di susul oleh Surya dan Dina.
Suasana di dalam ruangan itu sungguh sangat tegang. Terlebih setelah Amar mengucapkan nama Arimbi dengan berteriak.
Tanpa ada penjelasan, bisa dilihat secara singkat bahwa saat ini dua atasan mereka tengah dalam situasi yang tidak baik. Akan tetapi baik Tasya, Surya dan Dina tidak perlu ikut tahu tentang hal tersebut. Bagi mereka yang hanya karyawan, tugas mereka adalah bekerja bukan ikut campur urusan atasan.
Arimbi segera pergi. Dia berjalan melewati Amar begitu saja, menganggap pria itu tidak ada.
Meski tampak tegar dan seolah tidak terjadi apa-apa, tak bisa dipungkiri hatinya hancur. Dia yang menangis sejadi-jadinya karena mengetahui bahwa suaminya berselingkuh, seolah dunianya runtuh. Namun lihatlah, pria itu berdiri tegak dengan wajah yang begitu segar. Seolah dirinya tidak melakukan kesalahan apapun.
"Ternyata selama ini aku cinta sendirian. Kenapa, kenapa dia tega ngelakuin ini ke aku. Semua kata cinta yang pernah diucapkannya ternyata hanya kebohongan semata,"ucap Arimbi lirih.
Mau tidak mau, suka tidak suka, air mata itu kembali luruh. Rasa sakit yang luar bisa terperangkap dalam dadanya. Sampai-sampai nafasnya terasa sangat sesak.
Arimbi berdiam sejenak di mobil. Ia tidak bisa menjalankan mobilnya dengan kondisi seperti ini.
Seharusnya, malam ini adalah malam yang membahagiakan baginya yakni tepat tujuh tahun pernikahannya bersama Amar. Arimbi ingin memberi sesuatu yang Amar inginkan dengan melihat ponsel milik suaminya.
Biasanya Amar akan memasukkan barang yang ia inginkan di keranjang belanja online. Niat hati Arimbi adalah untuk melihat dan membelikannya secara diam-diam.
Ketika Amar tengah berada di kamar mandi, Arimbi melakukan aksinya. Dia mengambil tas Amar yang diletakkan di lemari karena memang begitu biasanya. Saat ia membuka tas dan memasukkan tangannya ke dalam, Arimbi terkejut menjumpai dua ponsel di dalam sana.
Setahunya selama ini, Amar tidak menggunakan dua ponsel meskipun itu untuk pekerjaan. Amar juga tidak pernah mengunci ponselnya sehingga Arimbi bebas membuka.
Akan tetapi apa yang ditemukannya membuat perasaan Arimbi sangat tidak nyaman. Tiba-tiba jantungnya berdetak dengan sangat cepat.
Ia lantas mengambil kedua ponsel tersebut dan membuka salah satunya. Tentu saja ponsel yang Arimbi buka adalah ponsel yang sama sekali tidak dikenalnya.
Sangat mudah untuk membukanya karena sama sekali tidak menggunakan kunci apapun. Dengan tangan yang sangat gemetaran Arimbi mulai membuka aplikasi perpesanan lebih dulu.
Cintaku, itu adalah nama kontak di urutan paling atas yang ada di aplikasi tersebut. Arimbi membukanya, dia lalu membaca satu persatu pesan yang ada di sana.
Jantungnya seolah meledak. Pikirannya kacau, dan tangannya semakin gemetaran.
Banyak kata-kata mesra di sana. Banyak ungkapan sayang dan rindu. Dan yang lebih mengejutkan, banyak kiriman seoang bayi.
Air mata Arimbi langsung mengucur deras. Jelas sudah bahwa suaminya berselingkuh. Ia lalu melihat nama yang lain. Disana tertulis Amara dan Ibu. Ketika ia membuka dan membacanya, sebuah kesimpulan diambil bahwa ternyata keluarga Amar mengetahui perselingkuhan tersebut.
Arimbi lari ke aplikasi galeri. Fakta terpampang jelas. Bukti foto-foto kebersamaan Amar bahkan foto pernikahan Amar bersama wanita itu ada di sana.
Ada hal yang paling mengejutkan diantara semua. Sebuah foto tanpa busana, dan hanya berbelit selimut putih khas hotel, diambil pada waktu mereka belum melakukan pernikahan. Dan itu tak hanya sekali saja.
"Astagfirullah. Nauzubillah min dzalik."
Seketika Arimbi merasa jijik dengan dirinya sendiri. Dia jijik karena bersetubuhh dengan pria yang juga bersetubuhh dengan wanita lain.
Tubuhnya langsung merinding saat mengetahui bahwa pria yang tidur dengannya juga tidur dengan wanita lain.
"Ya Allah, apa yang hendak Engkau berikan kepadaku dengan semua rasa sakit ini."
Tangis Arimbi masih belum juga berhenti ketika kembali mengingat semua penemuannya tadi malam. Dan setiap mengingat itu, dia benar-benar merasa harus menyucikan tubuhnya.
Arimbi menghapus air matanya. Dia harus segera pulang dan membersihkan tubuh. Dia tak ingin larut dalam kesedihannya, meski entah apakah dirinya mampu untuk tidak menangis lagi nanti.
Bagaimanapun waktu tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar untuk melupakan dan merelakan. Namun Ia bertekad untuk mencoba melepaskan semuanya.
Bruuuum
Akhirnya Arimbi menyalakan mobil dan menjalankannya. Tujuannya adalah rumah kedua orangtuanya. Ya sudah saatnya dia pulang kembali ke tempat asalnya.
Sesampainya di rumah, Arimbi tidak langsung masuk. Dia lebih dulu mengeluarkan barang bawaannya dan menaruhkan di depan pintu.
"Assalamualaikum,"ucapnya sambil mengetuk pintu. Arimbi bisa saja langsung masuk tanpa harus dibukakan pintu lebih dulu. Namun dia tak ingin melakukannya. Arimbi ingin kembali masuk dengan cara disambut oleh kedua orangtuanya.
"Waalaikum salam, kenapa nggak langsung masuk aja Rimbi,"ucap Aliya yang merupakan ibu dari Arimbi. Awalanya Aliya tampak senang, namun saat melihat wajah putrinya yang sembab, ia pun merasa tidak tenang.
"Rimbi, ada apa?" tanyanya. "Pak!!" imbuhnya memanggil sang suami.
Arga bergegas menghampiri sang istri ketika mendengar teriakan. Pria paruh baya itu kini berdiri tepat di samping istrinya. Wajahnya penuh tanya dan kekhawatiran melihat ekspresi sang putri.
"Rimbi pulang, boleh kan? Rimbi kembali ke rumah ini, Pak, Bu."
Air mata Arimbi tak bisa ditahan, dan ya akhirnya luruh lagi. Aliya lansung memeluk putrinya dengan erat. Tangis Arimbi pecah, dan kali ini sangat keras.
Aliya membawa Arimbi masuk, sedangkan Arga membawa semua barang Arimbi yang ada di depan pintu.
Aliya dan Arga tak langsung bertanya tentang apa yang terjadi. Mereka berdua memilih diam, membiarkan Arimbi melepas semua rasa di hatinya.
Setelah beberapa saat, Arimbi pun tenang. Segelas air putih hangat diberikan Arga agar tenggorokan Arimbi basah.
"Ada apa, Nak? Kenapa kamu kayak gini hmmm? Kamu mau pulang kapan aja silakan. Rumah ini adalah rumah kamu. Jadi kamu nggak perlu izin ke Bapak atau Ibu buat bisa pulang,"ucap Arga lembut diikuti Aliya yang menganggukkan kepalanya tanda ia setuju dengan perkataan sang suami.
"Aku ingin tinggal di sini lagi, Pak, Bu. Aku akan bercerai sama Mas Amar. Dia selingkuh, dan punya istri lagi. Bahkan mereka sudah punya anak. Anak mereka usianya satu setengah tahun. Nggak ada tempat bagiku lagi selain rumah Bapak dan Ibu."
APA??
TBC
mbak mbi yg sabar ....mak lakor tu anggap j angin kentut ...bau..jd lebih baik menjauh..
datang tp di maki diam saja buat apa, ya maki balik lah. sekalian viral nya kl mbales jng setengh setengh.
mampus si amar nyesel ternyata bukan ibu peri yg didapat mak Lampir 🤭🤭🤭
kasian JD korban dari orang tua tapi hati hati Arimbi mnt km mlh disalahkan m orang picik