Blurb
"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"
Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.
Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."
Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.
Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.
Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.
Semuanya terlambat Alina sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 : HUJAN, JAKET, DAN LANGKAH KAKI
...BAB 5...
...HUJAN, JAKET, DAN LANGKAH KAKI...
Tiga hari setelah tamparan Papa, rumah ini rasanya seperti kuburan.
Papa berangkat pagi, pulang malam. Tidak pernah menatap mataku lagi. Kalau bicara, hanya seperlunya. "Lin, makanlah." "Lin, tugas sekolahmu?"
Bu Kirana juga berubah. Bukan karena marah. Tapi karena ia mulai menjaga jarak. Ia tidak lagi meletakkan nasi goreng di meja kamarku. Tidak lagi melipat bajuku. Tidak lagi tersenyum saat papasan di lorong.
Ia hanya menunduk. Sopan. Dingin. Seperti tamu.
Dan anehnya... Aku benci itu. Lebih benci dari saat ia tersenyum padaku.
"Kenapa dia berhenti peduli?" batinku setiap malam.
Jumat sore. Langit Jakarta mendadak gelap. Awan hitam menumpuk di atas Mahendra Mansion. Aku baru pulang sekolah, naik mobil sendiri. Supir Papa sudah kupecat minggu lalu karena "Kelihatannya terlalu dekat dengan Bu Kirana".
Jam 17.00. Hujan turun deras. Tidak seperti hujan biasa. Ini hujan badai. Angin kencang menghantam jendela kamar.
Ponselku bergetar. Grup sekolah.
Nayla : "Lin, kita nggak jadi ke cafe ya? Banjir semua jalan."
Keisha : "Fix di rumah aja. Mager."
Aku melempar ponsel ke kasur. Bosan.
Lalu aku ingat. Hari ini Dimas pulang sekolah jam 16.30. Sekolahnya 7 km dari sini. Jauh. Dan tidak ada jemputan.
Papa pasti lupa. Ia sedang rapat di kantor.
Bu Kirana... Motornya sudah dijual minggu lalu. Katanya untuk bantu bayar service laptop Papa.
Jadi siapa yang akan menjemput Dimas?
Aku berdiri di balkon. Menatap gerbang depan. Jalanan di depan mansion sudah jadi sungai kecil. Anak-anak SMP lewat berteduh di bawah warung, basah kuyup.
Jam 18.00. Dimas belum pulang.
Jam 18.30. Aku masih di balkon. Hujan tidak reda. Petir menyambar.
Jam 19.00. Tiba-tiba aku dengar suara pintu belakang dibuka.
Bu Kirana keluar. Ia hanya pakai gamis coklat yang sama dan kerudung segi empat. Tidak bawa payung. Tidak bawa jas hujan. Hanya sendal jepit.
Ia berjalan kaki keluar gerbang. Menyusuri jalan yang sudah banjir selutut.
"Bu!" teriakku dari atas. "Mau ke mana?"
Ia menoleh. Air hujan membasahi wajahnya. Tapi ia tetap senyum. Senyum yang sama seperti hari pertama.
"Jemput Dimas, Nak," katanya pelan. "Kasihan kalau dia kehujanan."
Aku menahan napas. "Naik taksi online. Alina bayar."
Bu Kirana menggeleng. "Nggak apa-apa, Nak. Ibu jalan kaki saja. Deket kok..."
Deket? 7 kilometer di tengah banjir dibilang deket?
Ia berbalik lagi. Langkahnya pelan tapi pasti. Punggungnya basah kuyup dalam hitungan detik. Gamisnya menempel di tubuh. Ia tidak peduli.
Aku mengepalkan tangan di pagar balkon. Dadaku sesak. Bukan karena kasihan. Karena marah.
Berhenti sok jadi pahlawan, batinku.
Tapi kakiku bergerak sendiri. Aku meraih jaket blazer Chanel warna hitam dari lemari. Harga 30 juta. Belum pernah kupakai.
Aku turun. Berlari keluar tanpa payung. Hujan langsung mengguyurku sampai ke tulang.
"BU!" teriakku lagi. Kali ini lebih keras.
Bu Kirana berhenti. Ia berbalik. Kaget melihatku basah kuyup.
"Lin? Ngapain kamu keluar? Nanti sakit!"
Aku menghampirinya. Tanpa kata, aku melepaskan jaket blazerku dan menyampirkannya ke bahunya.
Jaket itu terlalu besar untuknya. Tapi setidaknya bisa menghangatkannya sedikit.
"Pakai," kataku ketus. "Biar nggak mati kedinginan di jalan."
Bu Kirana menatapku. Matanya berkaca. "Lin... ini mahal. Nanti kotor kena hujan..."
"Peduli apa," potongku. "Aku punya banyak. Itu jaket bekas."
Itu bohong. Itu jaket yang Papa belikan khusus untuk ulang tahunku. Tapi aku tidak peduli.
Bu Kirana memegang ujung jaket itu erat. Seperti memegang sesuatu yang berharga.
"Terima kasih, Nak," bisiknya. Suaranya hampir hilang ditelan hujan.
Kami berjalan berdampingan. Tidak ada payung. Tidak ada kata. Hanya suara hujan dan langkah kaki kami yang menerobos genangan.
Aku jalan di sebelah kanannya. Sengaja. Supaya badanku yang lebih tinggi bisa menghalangi angin untuknya.
Setiap kali ada mobil lewat, aku menarik tangannya sedikit ke pinggir. Refleks. Seperti yang dulu Papa lakukan untuk Mama.
Bu Kirana melirik tanganku yang menggenggam lengannya. Tapi ia tidak melepaskannya.
30 menit terasa seperti 3 jam. Kami sampai di depan gerbang SMP Dimas. Anak itu duduk di pos satpam, memeluk tas, menggigil kedinginan.
"Ibu!" Dimas langsung berlari memeluk Bu Kirana. "Ibu kenapa jalan kaki? Banjir begini..."
Bu Kirana memeluk anaknya erat. Tangannya yang dingin mengusap kepala Dimas.
"Nggak apa-apa, Nak. Tuh, Kak Alina juga ikut jemput kamu," katanya sambil menoleh padaku.
Dimas menatapku kaget. Lalu menunduk lagi. "Maaf, Kak... bikin repot..."
Aku tidak jawab. Aku hanya membuka pintu mobil yang ku pesan tadi "Masuk. Kedinginan."
Di perjalanan pulang, suasana canggung. Dimas duduk di belakang, bersin kecil. Bu Kirana duduk di depan, masih memakai jaketku. Ia memeluk dirinya sendiri, berusaha menghangat.
AC mobil grab sengaja kuputar ke arahnya.
"Kenapa jalan kaki, Bu?" tanyaku akhirnya. Suaraku masih ketus.
Bu Kirana menunduk. "Motor Ibu sudah Ibu jual, Nak. Untuk bantu bayar service laptop Papa..."
Laptop yang aku rusak.
Dadaku perih. Tapi aku tetap memasang wajah datar.
"Besok naik angkot. Alina nggak mau jadi supir repot jemput anak orang."
"Iya, Nak," jawabnya pelan. "Ibu mengerti."
Sampai di rumah, aku langsung masuk ke kamar tanpa menoleh. Mengganti baju basah. Mengeringkan rambut.
Tapi jaket itu... tidak aku ambil kembali.
Aku tahu Bu Kirana masih memakainya. Aku bisa lihat dari celah pintu. Ia duduk di sofa ruang tamu, menyelimuti Dimas yang sudah tertidur dengan jaket Chanel hitam itu.
Tangannya sesekali mengusap lengan jaket, seperti anak kecil dapat mainan baru.
Jam 23.00. Aku tidak bisa tidur.
Aku turun diam-diam. Bersembunyi di balik pilar lagi.
Bu Kirana masih di sana. Ia belum tidur. Di pangkuannya ada diary lusuh, sampulnya sudah mengelupas. Ia menulis sesuatu dengan pulpen yang tintanya hampir habis.
Aku tidak bisa baca dari jauh. Tapi aku dengar ia berbisik pelan sambil menulis:
"Ya Allah... hari ini anakku meminjamkan jaketnya kepadaku. Hari ini ia menahan angin untukku. Ya Allah, terima kasih banyak atas kebaikanMu telah membuka sedikit hatinya untukku dan Dimas. Ini sudah lebih dari cukup buatku ... Alhamdulillah ..."
Air matanya jatuh ke kertas. Mengotori tulisan itu.
Aku buru-buru naik lagi. Jantungku berdegup kencang.
Anakku? Dia bilang "Anakku"?
Aku Alina Mahendra. Aku bukan anaknya. Aku tidak pernah mengakuinya.
Tapi malam itu, untuk pertama kali, aku tidak bisa bilang "Maaf Bu, aku bukan anakmu" di depan cermin.
Kata itu tercekat di tenggorokan, yang ada hanya dinginnya jaket Chanel yang sudah tidak ada di lemari, dan hangatnya tatapan Bu Kirana saat ia bilang "Terima kasih, Nak".
Sial. Kenapa perempuan itu tidak pernah berhenti baik padaku?
Bersambung...
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄