Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun dalam Cangkir Teh
Keheningan yang menyelimuti Kastil Blackiron setelah kepergian Kaelen berbeda dengan keheningan biasanya.
Jika sebelumnya keheningan kastil ini adalah jenis keheningan beku yang pasif—seperti danau yang tertutup es di musim dingin—kali ini keheningan itu memiliki gigi. Ia tajam, gelisah, dan penuh dengan bisikan tak terdengar.
Para pelayan berjalan dengan punggung membungkuk, mata mereka menatap lantai, takut menarik perhatian tamu di Sayap Barat atau nyonya rumah yang berdiri tegak di Aula Besar dengan wajah sekeras batu.
Elara berdiri di depan jendela tinggi di koridor utama, menatap keluar ke arah jalan setapak yang menghilang ke dalam Hutan Besi.
Jejak kaki kuda Obsidian sudah mulai tertutup oleh salju baru yang turun tipis-tipis. Kaelen sudah pergi selama lima jam. Tidak ada kabar. Tidak ada utusan. Hanya kekosongan yang menganga di tempat di mana suaminya seharusnya berdiri.
Elara menekan telapak tangannya ke kaca dingin. Rasa dingin itu merambat ke kulitnya, kontras dengan udara hangat di dalam koridor. Ia ingin sekali menyuruh Silas menyiapkan kuda. Ia ingin mengejar Kaelen, menyeretnya pulang, dan memukul kepalanya karena begitu bodoh membiarkan masa lalu mendikte masa depannya.
Tapi Elara tahu ia tidak bisa.
Jika ia pergi sekarang, ia akan meninggalkan kastil ini di tangan Vespera Blackwood. Dan Elara tahu, wanita itu tidak datang hanya untuk berkunjung. Dia datang untuk membakar sisa-sisa fondasi yang baru saja Elara bangun.
"Nyonya," suara Silas terdengar dari belakang, pelan dan sarat kecemasan.
Elara berbalik perlahan. Silas tampak sepuluh tahun lebih tua hari ini. Tangannya gemetar saat memegang nampan perak berisi teko teh.
"Lady Vespera menolak makan siang di kamarnya," lapor Silas, matanya menghindari tatapan Elara. "Beliau... beliau menuntut agar teh sore disajikan di Ruang Duduk Biru. Dan beliau meminta kehadiran Nyonya."
"Meminta?" ulang Elara, alisnya terangkat sedikit. "Atau memerintahkan?"
Silas menelan ludah. "Nadanya... terdengar seperti perintah, Nyonya."
Elara mendengus pelan, suara yang kering tanpa humor. Vespera sedang menguji batas kekuasaannya. Ruang Duduk Biru adalah ruang pribadi Duchess. Dengan menuntut pertemuan di sana, Vespera secara implisit menyatakan bahwa dia memiliki hak atas ruang itu—hak yang seharusnya milik kakaknya, Lyra.
"Baiklah," kata Elara. Ia membetulkan letak selendang wol di bahunya, memastikan setiap inci penampilannya sempurna. Ia tidak akan tampil berantakan di hadapan musuh. "Siapkan teh terbaik, Silas. Jangan beri dia celah untuk menghina keramahan House Draxos. Dan pastikan biskuitnya keras. Aku ingin melihatnya kesulitan mengunyah."
Silas berkedip, lalu senyum tipis dan gugup muncul di bibirnya. "Baik, Nyonya."
Ruang Duduk Biru terletak di lantai dua Sayap Timur, ruangan yang elegan dengan dinding berlapis sutra biru langit dan perabotan kayu mahogany yang dipoles mengkilap. Jendela-jendelanya besar, menghadap ke taman samping yang tertutup salju.
Saat Elara masuk, Vespera sudah ada di sana.
Wanita itu duduk di sofa utama—tempat Elara biasanya duduk—dengan pose yang begitu santai seolah ia telah tinggal di sana seumur hidupnya.
Gaun hitamnya terhampar di atas bantalan sofa yang cerah, menciptakan noda gelap yang merusak pemandangan. Vespera sedang memegang sebuah vas porselen kecil, memutarnya perlahan di tangan seolah sedang menilai harganya.
"Vas ini dari Dinasti Mingguan Selatan," komentar Vespera tanpa menoleh saat pintu tertutup di belakang Elara. "Lyra yang membelinya saat perjalanan ke pelabuhan dagang tujuh tahun lalu. Dia bilang warnanya mengingatkannya pada mata Kaelen saat sedang tidak marah."
Vespera meletakkan vas itu kembali dengan bunyi tak yang sedikit terlalu keras. Ia menoleh, mata abu-abunya menatap Elara dengan sorot tajam yang menusuk.
"Kau duduk di tempatku, Lady Vespera," kata Elara tenang, tidak terpancing untuk membahas Lyra. Ia berjalan menuju kursi berlengan di seberang sofa, duduk dengan punggung tegak.
"Tempatmu?" Vespera tertawa kecil, suara yang terdengar seperti lonceng retak. "Oh, Sayang. Kau hanya penyewa sementara di sini. Tempat ini... kastil ini, pria itu, kenangan di dinding ini... semuanya milik Lyra. Kau hanya mengisi kekosongan sampai Kaelen sadar bahwa dia tidak bisa mencintai siapa pun lagi."
Silas masuk membawa nampan teh, meletakkannya di meja rendah di antara mereka dengan tangan gemetar, lalu buru-buru mundur keluar, meninggalkan kedua wanita itu dalam medan perang sunyi mereka.
Elara menuangkan teh. Gerakannya lambat, terukur . Ia memastikan tidak ada setetes pun yang tumpah. Ia menyodorkan cangkir porselen itu ke arah Vespera.
"Silakan," kata Elara. "Teh Earl Grey dengan sedikit bergamot. Favorit di ibu kota."
Vespera tidak menyentuh cangkir itu. Ia menyandarkan punggungnya, menatap Elara dengan tatapan menilai.
"Kau punya nyali, aku akui itu," kata Vespera. "Berani menatap mataku setelah apa yang ayahmu lakukan pada Kaelen. Menjual putrinya demi hutang judi? Sungguh kelas bawah."
"Setidaknya ayahku menjualku untuk hidup," balas Elara, matanya berkilat dingin. "Bukan seperti kau, yang menjual duka kakakmu untuk membeli rasa kasihan dan kekuasaan."
Mata Vespera menyipit drastis. Senyum sinisnya lenyap. "Jaga mulutmu, Gadis Kecil. Kau tidak tahu apa-apa tentang duka. Kau tidak melihat mayat mereka hangus. Kau tidak mencium bau daging terbakar yang menempel di pakaian Kaelen saat dia kembali dari reruntuhan Blackwood."
"Aku tidak perlu melihatnya untuk merasakannya," kata Elara. "Aku hidup dengan dampaknya setiap hari. Aku tidur di samping pria yang berteriak dalam tidurnya karena memori itu. Dan aku berusaha menyembuhkannya, sementara kau... kau datang ke sini hanya untuk merobek lukanya lagi supaya berdarah."
Vespera condong ke depan, wajahnya berubah menjadi topeng kebencian murni.
"Menyembuhkannya?" desis Vespera. "Kau pikir kau bisa menyembuhkannya? Kaelen tidak butuh penyembuhan. Dia butuh penebusan dosa! Dia bersumpah melindungi Lyra, dan dia gagal. Hukuman untuk kegagalan itu adalah penderitaan seumur hidup. Dan aku di sini untuk memastikan dia tidak lupa."
"Kenapa?" tanya Elara, suaranya turun menjadi bisikan ngeri. "Dia calon kakak iparmu. Dia mencintai kakakmu. Kenapa kau begitu membencinya?"
Vespera terdiam sejenak. Tangannya mengepal di atas lututnya, meremas kain gaun hitamnya hingga kusut. Ada sesuatu yang gelap melintas di matanya—bukan hanya duka, tapi sesuatu yang lebih busuk. Kecemburuan? Kemarahan?
"Karena dia memilih pergi," jawab Vespera akhirnya, suaranya bergetar. "Dia memilih perang daripada tinggal dan menjaga kami. Jika dia tidak pergi ke perbatasan hari itu... jika dia tidak mengejar kejayaan sebagai pahlawan... Lyra akan masih hidup. Dia membunuh Lyra dengan ambisinya."