Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.
Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.
Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahat Batu Bintang Jatuh
Matahari kembar di atas Benua Awan Surgawi memancarkan hawa panas yang seakan ingin mengeringkan seluruh lautan di dunia. Cahaya jingga kemerahan itu memanggang lereng gunung tanpa ampun, menciptakan gelombang fatamorgana di atas tanah merah yang mulai retak.
Angin siang yang biasanya membawa kesejukan kini terasa seperti hembusan napas naga api dari dasar kawah vulkanik terdalam. Udara kering itu menyapu debu-debu hitam kosmik yang beterbangan liar di halaman paviliun mewah berbahan Kayu Besi Seribu Tahun tersebut.
Debu-debu tajam yang menyesakkan dada itu berasal dari pengikisan sebuah Batu Meteorit Bintang Jatuh raksasa yang sedang dipahat secara paksa. Bongkahan batu angkasa berwarna hitam pekat itu memancarkan aura kuno yang dengan keras menolak segala bentuk energi spiritual dari luar.
Suara dentingan logam pusaka yang berbenturan kuat dengan batu keras itu terdengar bagaikan jeritan ratusan roh penasaran di medan perang. Percikan api berwarna keemasan dan kebiruan melompat tinggi ke udara setiap kali pedang-pedang sakti itu menghantam permukaan meteorit secara membabi buta.
Kepala Sekte Zhao Wuji memegang pedang emasnya dengan kedua telapak tangan yang sudah mati rasa dan dipenuhi oleh lecet berdarah. Pria paruh baya yang biasanya duduk di atas takhta tertinggi itu kini memaksakan setiap tetes energi terakhirnya hanya untuk mengayunkan pedang.
Dia harus menekan ujung bilah pedang pusakanya ke permukaan batu keras itu, berusaha keras mencungkil sepotong demi sepotong fragmen meteorit. Korset baja di balik jubah emasnya kini terasa memanas seperti bara api yang menempel langsung pada kulit perutnya yang sudah melepuh.
Zhao Wuji terbatuk keras hingga dadanya berguncang, memuntahkan sedikit cairan empedu pahit karena lambungnya terus tertekan secara brutal akibat posisi membungkuknya. Keringat dingin bercucuran deras membasahi alis tebalnya, menetes perih masuk ke dalam matanya yang sudah merah dan sangat kelelahan.
"Jangan berhenti, kita harus menyelesaikan ukiran bak mandi ini sebelum matahari menyentuh ufuk barat!" raung Zhao Wuji dengan suara yang sangat serak. Peringatan itu terdengar lebih mirip seperti ancaman kematian bagi dirinya sendiri daripada motivasi untuk rekan-rekannya yang sudah setengah sadar.
Di sisi lain batu raksasa itu, Tetua Lin sedang menangis terisak sambil menggosok bagian dalam meteorit yang sudah mulai membentuk cekungan besar. Pria tua berjubah putih itu harus memoles permukaan batu yang setajam pisau itu menggunakan telapak tangannya sendiri agar menjadi sehalus kain sutra.
Gesekan konstan antara kulit manusianya dan batu angkasa itu membuat telapak tangannya terkelupas parah hingga meneteskan darah segar. Setiap usapannya pada batu hitam itu meninggalkan noda merah yang mengerikan, sebuah bukti penderitaan fisik yang sangat menyayat hati sanubari.
Tetua Lin sesekali melirik panik ke arah janggut palsunya yang sudah miring dan hampir terlepas karena terlalu banyak terkena keringat. Namun, tangannya yang gemetar sama sekali tidak berani berhenti memoles batu tersebut, takut pemuda iblis di dalam paviliun akan keluar memberikan hukuman.
Sementara itu, di dalam ruang utama paviliun yang sejuk, Li Zhen sedang duduk dengan sangat santai di atas kursi beludru merahnya. Pemuda kurus itu menyilangkan kakinya dengan angkuh, sangat menikmati pemandangan penyiksaan fisik massal yang terpampang jelas dari balik jendela gioknya.
Sebuah botol sampo merah muda fana tergenggam erat di tangan kanannya, memancarkan aroma bunga mawar sintetis yang sangat kuat dan menyengat. Li Zhen memutar-mutar botol plastik itu di depan wajahnya, membaca deretan komposisi bahan kimianya dengan senyum licik yang merendahkan.
"Sodium laureth sulfate, dimethicone, pewangi buatan... bahan-bahan kimia rendahan ini ternyata jauh lebih jujur daripada wibawa palsu para kultivator di luar sana," gumamnya sinis. Dia menghirup aroma sabun fana itu dalam-dalam, merasa sangat merindukan bau peradaban modern yang tidak pernah ada di dunia persilatan ini.
Pemuda bermulut sampah itu kemudian bangkit berdiri dari kursi nyamannya, meregangkan tubuhnya yang kaku setelah terlalu lama duduk bermalas-malasan. Langkah sepatunya yang bolong sengaja diseret-seret di atas lantai Giok Putih Kutub Utara, menciptakan suara decitan menyebalkan yang memecah keheningan ruangan.
Dia mendorong pintu kayu jati itu hingga terbuka lebar, membiarkan cahaya matahari siang yang terik langsung menerpa wajah pucatnya. Kehadiran sosok Li Zhen di ambang beranda paviliun seketika membuat seluruh aktivitas pemahatan batu meteorit di halaman terhenti total.
Puluhan tetua elit itu serempak menahan napas mereka di dada, tubuh mereka menegang kaku layaknya sekawanan rusa yang dikepung oleh kawanan serigala lapar. Suasana halaman yang tadinya dipenuhi suara dentingan pedang kini berubah menjadi sangat sunyi dan mencekam hingga suara detak jantung bisa terdengar.
Li Zhen berjalan menuruni anak tangga giok dengan gerakan yang sangat lambat, matanya menyipit tajam menatap bongkahan batu meteorit hitam tersebut. Dia berhenti tepat di depan hasil ukiran Kepala Sekte Zhao Wuji, melipat kedua lengannya di dada dengan postur yang sangat menghakimi.
Dia mengetuk pinggiran batu hitam itu menggunakan kuku jari telunjuknya, menyapu sisa debu kosmik yang menutupi motif ukiran awan di sana. Hembusan napas yang sangat meremehkan keluar dari mulut Li Zhen, membuat Zhao Wuji langsung menelan ludah dengan susah payah karena firasat buruk.
"Kepala Sekte Zhao, apakah matamu sudah mulai rabun karena usia tua atau kau memang tidak memiliki bakat seni sama sekali?" kritik Li Zhen dingin. Suaranya terdengar sangat datar tanpa emosi, namun mampu menembus pertahanan mental pria paruh baya itu layaknya ribuan jarum beracun.
Zhao Wuji langsung menjatuhkan pedang emasnya ke tanah, membiarkan senjata pusaka itu berdenting pelan saat membentur batu kerikil. Dia menjatuhkan dirinya ke atas lututnya yang gemetar, menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menghindari kontak mata dengan sang penindas mutlak.
"H-hamba mohon petunjuk dari Senior Agung, apakah ada yang salah dengan ukiran awan surgawi yang hamba buat ini?" tanya Zhao Wuji terbata-bata. Pria itu meremas tanah merah dengan jari-jarinya yang berdarah, air mata keputusasaan mulai menggenang di pelupuk matanya yang lelah.
Li Zhen mendecakkan lidahnya keras-keras, menunjuk ukiran di batu meteorit itu dengan raut wajah yang penuh dengan rasa jijik. "Ini kau sebut awan surgawi? Ukiran berantakan ini lebih terlihat seperti gumpalan asap dapur dari kuali yang masakannya gosong total."
Pukulan mental itu membuat bahu Zhao Wuji berguncang keras, rasa malu yang membakar jiwanya jauh lebih menyakitkan daripada korset baja di perutnya. Dia merasa seluruh kehormatannya sebagai seorang pendekar pedang nomor satu di benua ini telah diinjak-injak hingga menjadi debu jalanan.
"Seorang penguasa sekte yang bahkan tidak bisa mengukir awan dengan benar sungguh adalah sebuah lelucon yang sangat memalukan," tambah Li Zhen semakin kejam. "Tidak heran kau harus menggunakan korset baja pembentuk perut setiap hari hanya untuk menjaga wibawamu yang rapuh dan palsu itu."